Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Monthly Archives: August 2012

Leak Itu Menyakiti?


Seperti yang kita ketahui Leak merupakan ilmu kuno yang diwariskan oleh leluhur di Bali. Pada jaman sekarang orang bertanya-tanya, benarkah leak itu ada? benarkah leak itu menyakiti?. Secara umum leak itu tidak menyakiti, leak itu proses ilmu yang cukup bagus bagi yang berminat, ilmu leak mempunya etika-etika sendiri, tidak gampang dipelajari dan dibutuhkan kemampuan yang prima untuk mempelajarinya. Di masyarakat Bali leak sering dianggap menyakiti bahkan bisa membunuh manusia, padahal tidaknya seperti itu. Ilmu leak juga seperti halnya ilmu kebathinan yang lain yang terdapat di lontar-lontar kuno Bali.

Image by: Bali Wisdom

Dahulu leak tidak semua orang boleh mempelajari ilmu leak, karena ilmu leak leak merupakan ilmu yang cukup rahasia sebagai pertahanan serangan dari musuh. Biasanya ilmu leak dipelajari oleh raja-raja dan para petinggi raja disertai bawahannya untuk tujuan sebagai pertahanan dari musuh-musuh. Orang-orang yang belajar ilmu leak memilih tempat rahasia karena sifat dan cara belajar ilmu leak ini memang rahasia. Jadi tidak sembarangan orang yang mempelajari. Saat ini ilmu leak telah berkembang sesuai jaman esensinya dalam penerapan, jelas ilmu leak tidak menyakiti. Yang menyakiti itu ilmu teluh atau nerangjana, inilah ilmu yang bersifat negatif, khusus untuk menyakiti orang karena beberapa hal seperti balas dendam, iri hati, ingin lebih unggul, inilah ilmu yang disebut pengiwa. Ilmu pengiwa yang berkembang dimasyarakat inilah yang sering dicap sebagai ilmu leak.

Jadi leak memang ada sesuai dengan tingkatan ilmunya termasuk dengan endih leak. Endih leak muncul pada saat mereka(yang belajar ilmu leak) sedang latihan atau bercengkrama dengan leak lainnya, biasanya endih(nyala) leak muncul saat tengah malam dan pada hari tertentu saja. Endih leak bisa berupa fisik atau jnananya(rohnya) sendiri, bagi orang yang baru belajar leak endih itu biasanya lidah. Dalam menjalankan ilmu leak dibutuhkan upacara namun bagi orang yang menggunakan sukma atau intisari jiwa ilmu leak.

Bentuk endih leak bermacam-macam sesuai dengan tingkatannya ada yang seperti bola, kurungan ayam tergantung pakem(etika) yang dipakai. Endih leak tidak sama dengan sinar penerangan lainnya, kalau endih leak biasanya berjalan sesuai dengan arah mata angin, kelap-kelip tidak seperti sinar/penerangan lainnya. Endih leak juga lebih dari satu warna, memiliki sifat gelombang elektromagnetik mempunyai daya magnet.

Dengan demikian leak tidak menyakiti orang yang kebetulan melihatnya, tidak perlu was-was, bersikap sewajarnya saja, ucapkanlah nama-nama Tuhan, endih leak tidak menyebabkan panas karena bersifat niskala(maya) dan tidak dapat dijamah/disentuh.

Artikel terkait:

  1. Ilmu Leak dapat diwariskan
  2. Tentang Ilmu Leak
  3. Leak dan Kuburan

Tentang Ilmu Leak


Dalam mitologi Bali, Leak adalah penyihir jahat. Le artinya penyihir dan ak artinya jahat. Untuk memperoleh apapun di dunia ini, diperlukan suatu cara. Demikian juga mengenai sihir ilmu hitam. Dari berbagai sumber dapat diidentifikasi bahwa untuk mempelajari sihir ilmu hitam khas Bali diperlukan seorang guru yang akan memberikan petunjuk kepada calon sisya(murid) dengan tanpa menghadap pada dewi pemujaan, yakni Dewi Durga. Namun, bagi orang yang sudah menguasai ilmu hitam(leak) tentu saja seorang guru nge-leak tidak diperlukan lagi, ia dapat langsung melakukan di kuburan dengan memberikan persembahan, serta memohon anugerah dari penguasa kuburan. Menurut petunjuk lontar “pengeleakan” milik Griya Sangket, Sidemen Karangasem, ada jenis pengeleakan tertentu yang dapat dilaksanakan di perempatan jalan.

Image by: Bali Wisdom

Leak hanya bisa dilihat di malam hari oleh para dukun pemburu leak. Di siang hari ia tampak seperti manusia biasa, sedangkan pada malam hari ia berada di kuburan untuk mencari organ-organ dalam tubuh manusia yang digunakannya untuk membuat ramuan sihir. Ramuan sihir itu dapat mengubah bentuk leak menjadi seekor harimau, kera, babi atau menjadi seperti Rangda. Bila perlu ia juga dapat mengambil organ dari orang hidup.

Bukan hal yang mudah untuk mengetahui bagaimana orang mempelajari ilmu leak, banyak balian yang enggan bicara soal leak. Leak dianggap suatu kejahatan dan masyarakat atau seseorang yang menjadi korban ilmu pengeleakan lebih sering menempuh caranya sendiri untuk menghukum bagi orang-orang yang dianggap melakukan sihir misal dengan cara dikucilkan, dianiaya, diteror bahkan dibunuh.

Umumnya yang sering terjadi, setiap orang sakit disekitar rumah orang yang dianggap bisa/memiliki ilmu leak dan pernah disapa, dipegang oleh orang tersebut maka dianggap penyakit yang diderita adalah disebabkan oleh orang tersebut. Begitu mudahnya tuduhan ditujukan kepada orang yang mempunyai ilmu leak padahal bisa saja penyakit atau kematian tidak disebabkan orang yang dituduh bisa nge-leak tersebut.

Mungkin karena resiko menjadi tuduhan masyarakat itulah orang yang mempelajari ilmu leak atau yang telah menguasai ilmu leak enggan untuk menceritakan kepada masyarakat umum. Pada umumnya para balian agak tertutup bicara soal leak.

Tips Berpenampilan ke Pura


girl-sudi wadani

Image by: Sejarah Hari Raya Hindu; Ilustrasi

Menjaga penampilan cantik, rapi dan bersih pada saat melakukan persembahyangan bertujuan agar perasaan nyaman, sehingga persembahyangan pun bisa dilakukan dengan baik. Untuk bisa tampil cantik, tentu tidak harus menggunakan pakaian kebaya, make-up dan aksesori serba mahal. Semua harus disesuaikan dengan keperluan saja, jangan sampai berlebih yang bisa menimbulkan kesan pamer. Mulai dari pakaian atau kebaya, pilih yang tepat untuk acara persembahyangan, make-up dan rambut sewajarnya, demikian juga aksesori.

Semua umat harus bisa menyesuaikan dandanan ke pura. Terutama wanita remaja dan dewasa, harus benar-benar memperhatikan dadanan mulai dari kebaya, rambut dan make-up. Untuk kebaya gunakan kebaya berbahan kain, jika memilih bahan brokat usahakan menggunakan lapisan atau angkin agar tampilan terlihat lebih rapi dan nyaman dilihat. Sesuaikan pilihan kamen untuk ke pura atau ke acara lainnya. Gunakan kain atau kamen tenun dan batik untuk ke pura atau persembahyangan.

Sementara untuk acara pernikahan atau resepsi boleh menggunakan songket. Jangan memaksakan diri menggunakan pakaian serba mahal atau serba baru, agar terlihat lebih di antara yang lain. Justru hal ini akan membuat pikiran lebih tertuju pada penampilan daripada acara persembahyangan.

Untuk make-up gunakan seperlunya saja, sesuaikan dengan kebutuhan, padanan dengan pakaian dan aksesori. Kebaya atau pakaian yang digunakan ke pura biasanya dominan putih sehingga warna make-up yang digunakan usahakan warna-warna alami.

Dandanan rambut ke pura untuk gadis dan sudah menikah tentu berbeda. Wanita yang sudah menikah harus menggunakan sanggul yang bermakna bahwa wanita ini sudah diikat perkawinan. Sedangkan gadis remaja harus menata rambutnya dengan rapi tidak boleh diurai lepas. Akan lebih rapi lagi jika rambut ditata dengan pusungan gonjer, yang menandakan belum menikah atau masih bebas mencari pasangan hidup.

Dalam hal penampilan dan dandanan ke pura tidak perlu merasa berlomba-lomba menggunakan pakaian, atau aksesori terbaru. Terpenting dandanan rapi, bersih dan sesuai dengan situasi karena dalam sembahyang diperlukan ketenangan dan hati yang tulus melaksanakannya.

**Dari berbagai sumber. Artikel terkait : Etika Berbusana ke Pura