Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Category Archives: Hindu

Pura Giri Natha Semarang


paduarsana.com 21/10/2016 – Perjalanan tugas(nguli) kali ini adalah Kota Semarang. Dari awal saya sudah memiliki rencana untuk menyempatkan diri untuk mampir (nangkil) ke Pura Giri Natha Semarang, Mumpung ada kesempatan ke Semarang (pikir saya). Setibanya di Bandara Ahmad Yani Semarang, saya pun memesan Go-Jek. Inilah keuntungannya ojek berbasis teknologi kita terbantu dalam urusan bepergian.

Tak berapa lama, Driver Go-Jek pun datang kami pun meluncur ke Jl. Sumbing No. 12 melewati jalan Pamularsih kemudian melewati rumah sakit kariadi Semarang. Jarak tempuh dari Bandara menuju Jalan Sumbing kurang lebih 5.2 KM waktu tempuh kurang lebih 15 Menit dan ongkos hanya Rp. 11.000. Pura Agung Giri Natha merupakan sebuah tempat ibadah atau tempat suci bagi umat Hindu. Pura yang terletak di Jalan Gunung Sumbing Nomor 12 Kelurahan Bendungan Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang ini merupakan salah satu dari lima pura yang ada di kota Semarang memiliki luas kurang lebih 2.000 m2.

Pura Agung Giri Natha dibangun sekitar tahun 1968 oleh umat Hindu yang berdomisili di Kota Semarang. Namun baru diresmikan sekitar tahun 2004 yang lalu oleh Gubernur Jawa Tengah Mardianto. Secara bertahap pura ditata, mulai dari membangun Padmasana, bale pesandekan, tembok penyengker, candi dan sarana pendukung lainnya. Pura Giri Natha Semarang merupakan Pura terbesar di kota Semarang. Masyarakat Hindu pengempon Pura ini kurang lebih 200 KK atau sekitar 2000 jiwa.

Setiap hari selalu ada saja umat Hindu yang sembahyang disana, bahkan beberapa diantaranya melakukan Yoga bersama pada saat Purnama atau Tilem (bulan mati). Piodalan Pura Giri Natha semarang jatuh setiap tahun yaitu setiap Purnama Sasih Kadasa.

Image by: Peradah Jateng

Image by: Peradah Jateng

Sesampainya di Pura Giti Natha Semarang terlihat beberapa anak muda sedang berlatih menari tarian Penyembrama, wahh suasana seperti di Banjar-banjar di Bali. Jadi pengen cepat pulang (lho…) saya pun bergegas menuju Utama mandala, tidak lupa saya meminjam senteng pada tempat yang telah disediakan.

Sembahyang dengan iringan suara gamelan memang luar biasa nikmatnya. Suksma Hyang Widhi perjalanan saya ke kota ini sangat menyenangkan semoga kesulitan pekerjaan senantiasa ada jalan keluarnya atas petunjukMu.

Selamat berjumpa pada perjalanan tugas(nguli) dan spiritual lainnya.

Advertisements

Tujuan Pernikahan Menurut Hindu


Beberapa waktu lalu sempat heboh foto upacara diduga pernikahan sesama jenis disebuah hotel di ubud dengan seorang pemangku nampak sebagai saksi. Sebagai masyarakat umum kita tentu berpikir bahwa ada yang “tidak beres” dengan foto-foto tersebut sebagian dari kita bahkan berpendapat bahwa ini “tidak benar”.

sloka

Image by:Masadi

Pada dasarnya manusia selain sebagai mahluk individu juga sebagai mahluk sosial, sehingga mereka harus hidup bersama-sama untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Tuhan telah menciptakan manusia dengan berlainan jenis kelamin, yaitu pria dan wanita yang masing-masing telah menyadari perannya masing-masing. Telah menjadi kodratnya sebagai mahluk sosial bahwa setiap pria dan wanita mempunyai naluri untuk saling mencintai dan saling membutuhkan dalam segala bidang. Sebagai tanda seseorang menginjak masa ini diawali dengan proses perkawinan. Perkawinan merupakan peristiwa suci dan kewajiban bagi umat Hindu karena Tuhan telah bersabda dalam Manava dharmasastra IX. 96 sebagai berikut:
“Prnja nartha striyah srstah samtarnartham ca manavah 

Tasmat sadahrano dharmah crutam patnya sahaditah”

Artinya: Untuk menjadi Ibu, wanita diciptakan dan untuk menjadi ayah, laki-laki itu diciptakan.

Upacara keagamaan karena itu ditetapkan di dalam Veda untuk dilakukan oleh suami dengan istrinya.

Adapun 3 tujuan pernikahan menurut ajaran Hindu menurut kitab kitab Manavadharmasastra yaitu:

  1. Dharmasampati, kedua mempelai secara bersama-sama melaksanakan Dharma yang meliputi semua aktivitas dan kewajiban agama seperti melaksanakan Yajña , sebab di dalam grhastalah aktivitas Yajña dapat dilaksanakan secara sempurna.
  2. Praja, kedua mempelai mampu melahirkan keturunan yang akan melanjutkan amanat dan kewajiban kepada leluhur. Melalui Yajña dan lahirnya putra yang suputra seorang anak akan dapat melunasi hutang jasa kepada leluhur (Pitra rna), kepada Deva (Deva rna) dan kepada para guru (Rsi rna).
  3. Rati, kedua mempelai dapat menikmati kepuasan seksual dan kepuasan-kepuasan lainnya (Artha dan kama) yang tidak bertentangan dan berlandaskan Dharma.

Tujuan lain dari pernikahan menurut ajaran Hindu adalah membentuk keluarga ( rumah tangga) yang bahagia dan kekal maka dalam agama Hindu sebagaimana diutarakan dalam kitab suci Veda perkawinan adalah terbentuknya sebuah keluarga yang berlangsung sekali dalam hidup manusia. Hal tersebut disebutkan dalam kitab Manava Dharmasastra IX. 101-102 sebagai berikut:
“Anyonyasyawayabhicaroghaweamarnantikah,

Esa dharmah samasenajneyah stripumsayoh parah”

Artinya: Hendaknya supaya hubungan yang setia berlangsung sampai mati, singkatnya ini harus dianggap sebagai hukum tertinggi sebagai suami istri.

“Tatha nityam yateyam stripumsau tu kritakriyau,

Jatha nabhicaretam tau wiyuktawitaretaram”

Artinya: Hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan, mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya supaya mereka tidak bercerai dan jangan hendaknya melanggar kesetiaan antara satu dengan yang lain.

“Samtusto bharyaya bharta bharta tathaiva ca,

Yasminnewa kule nityam kalyanam tatra wai dhruwam”

Artinya: Pada keluarga dimana suami berbahagia dengan istrinya dan demikian pula sang istri terhadap suaminya, kebahagiaan pasti kekal
Tujuan dari sebuah pernikahan adalah untuk membentuk sebuah keluarga yang bahagia. Keluarga yang berbahagia kekal abadi dapat dicapai bilamana di dalam rumah tangga terjadi keharmonisan serta keseimbangan hak dan kewajiban antara suami dan istri, masing-masing dengan swadharma mereka. Keduanya (suami-istri) haruslah saling isi mengisi, bahu membahu membina rumah tangganya serta mempertahankan keutuhan cintanya dengan berbagai “seni” berumah tangga, antara lain saling menyayangi, saling tenggang rasa, dan saling memperhatikan kehendak masing-masing. Mempersatukan dua pribadi yang berbeda tidaklah gampang, namun jika didasari oleh cinta kasih yang tulus, itu akan mudah dapat dilaksanakan.

Turus Lumbung


Beberapa waktu yang lalu sebelum menempati sebuah rumah kontrakan di Denpasar saya memesan banten prayascita, karena tidak ada sanggah dan pelangkiran tukang banten menyarankan untuk membuat Turus Lumbung (sanggah sementara). Mengingat tuan rumah bukan orang Hindu sayapun meminta ijin untuk membuat Turus Lumbung, Bersyukur yang punya rumah tidak keberatan untuk itu.

Turus lumbung terbuat dari batang pohon dapdap berjumlah 4 sebagai penyangga(turus) bale-bale kecil tempat canang aturan.
Turus lumbung biasanya dibuat bersifat sementara sebelum sanggah permanen dibuat. Mengenai batasan waktu penggunaan turus lumbung memang secara mutlak tidak ada ketentuannya. sebab sesuai dengan sifat ajaran agama hindu yang luwes, pengalamannya selalu dikembalikan kepada umat yang bersangkutan, Terutama masalah kemampuan umat untuk membuat sanggah yang permanen atau tidak. Sebagaimana disebutkan, sanggah ini juga merupakan salah satu tempat suci dalam pekarangan rumah.

Perkembangan sanggah turus lumbung ini, dalam Esensi & Konsepsi Pura Sebagai Tempat Suci Di Bali, disebutkan bahwa Bangunan ini dibuat dari ”turus pohon dapdap” sebagai tiangnya dan dibuatkan sebuah ruangan dengan balai-­balai yang dibuat dari bambu untuk tempat meletakkan bebantenan. Bangunan suci jenis ini disebut ”turus lumbung”.

Turus lumbung mengandung arti kias “melindungi dan menghidupi pemujanya”. Turus dapdap merupakan tameng atau perisai, yakni alat untuk melindungi diri ; dan lumbung, yakni tempat untuk menyimpan padi untuk penghidupan. Bangunan ini sifatnya sementara yang nantinya akan diganti dengan bangunan yang agak permanen menurut kemampuan penghuninya.

Setelah penghuninya agak mampu, barulah mereka membuat bangunan untuk mengganti turus lumbung itu. Bangunan pelinggih ini dibuat dari kayu dan bambu serta memakai satu ruangan (me-rong tunggal) yang digunakan untuk tempat sajian. Bangunan rong tunggal inilah yang disebut ” kemulan atau sanggah kemulan”. Peninggalan-peninggalan bangunan ini dijumpai di desa­-desa Bali Kuno, seperti di Julah, Sembiran, Lateng, Dausa, dan tempat kuno lainnya.

Lama kelamaan oleh karena kebudayaan manusia makin maju, maka dalam perkembangan sejarah bangunan rong tunggal berkembang menjadi dua ruangan (merong dua). Dalam perkembangan selanjutnya bangunan rong dua berkembang menjadi Bali yang beragama Hindu.

Bangunan seperti ini merupakan tempat untuk menghormati atau memuja leluhur-leluhur mereka yang telah disucikan. Selanjutnya, dalam perkembangan kemudian, bangunan yang memakai ruangan tiga (rong telu) disesuaikan dengan konsep Trimurti sebagai sanggah kemulan, sebagai tempat pemujaan leluhur.