Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Pura Luhur Poten Bromo


Jika kebetulan melancong ke Gunung Bromo Probolinggo jangan lupa untuk sembahyang ke Pura Luhur Poten Bromo. Pura ini memiliki pesona yang memikat bagi pengunjung Gunung Bromo. Hamparan lautan pasir yang begitu luas dengan Gunung Batok yang tinggi menjulang, Gunung Bromo yang indah, dan dikelilingi pegunungan dan perbukitan, menjadi pesona luar biasa di Gunung Bromo, yang berada di kawasan Tengger, Jawa Timur. Di tengah lautan pasir tersebut, berdiri sebuah Pura Luhur Poten yang menjadi tempat beristananya Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang dipuja oleh umat Hindu.  Pura ini menjadi tempat pemujaan bagi masyarakat Tengger yang beragama Hindu.

Image by: Travelifetrips.Net.tc

Pura Luhur Poten berdiri tahun 2000. Pura ini menjadi tempat pemujaan Dewa Brohmo (Dewa Brahma), yang menjadi manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Sang Pencipta. Nama Bromo sendiri diambil dari nama Dewa Brohmo.

Pura Luhur Poten terdiri dari beberapa bangunan yang ditata dalam suatu susunan komposisi di pekarangan yang dibagi menjadi tiga mandala/zone. Masing-masing Mandala Utama yaitu tempat pelaksanaan pemujaan persembahyangan yang di dalamnya sebuah Padma (tempat pemujaan), Mandala Madya (tengah) sebagai tempat persiapan dan pengiring upacara persembahyangan, Mandala Nista (depan) yaitu tempat peralihan dari luar ke dalam pura.

Tiap mandala/zona memiliki bangunan candi bentar yang menjadi pintu masuk dengan arsitektur jawa dan bali. Pekarangan pura dibatasi oleh tembok penyengker dengan
kreasinya sesuai dengan keindahan arsitekturnya.

Bangunan pura pada umumnya menghadap ke barat, memasuki pura menuju ke arah timur demikian pula pemujaan dan persembahyangan menghadap ke arah timur ke arah terbitnya matahari.

Matahari mulai memperlihatkan kekuatan sinarnya. Hembusan angin menerbangkan debu-debu pasir yang terhampar luas. Saat itu, waktu masih menunjukkan pukul 08.00 WIB. Namun sinar matahari sudah terasa sangat terik. Suhu udara sekitar 35-38 derajat celcius.

Rombongan dari Rawamangun tiba dengan menumpangi lima mobil Hardtop. Debu-debu pasir bertebangan saat mobil-mobil tersebut memasuki kawasan Bromo, mirip seperti arena reli Paris-Dakar. Kacamata dan masker pun menjadi “pengaman” wajib pakai.

Meski di bawah terik sinar matahari yang menyengat disertai debu-debu pasir yang bertebangan, tak menyurutkan semangat peserta Tirta Yatra mengikuti setiap tahapan persembahyangan. Upacara yang dipimpin seorang Pinandita (orang suci Agama Hindu) pun berjalan dengan khusyuk.

Sampai di Sukapura, wisatawan/pengunjung yang ingin datang ke Bromo harus naik taxi Bromo atau disebut Bison (mobil ELF). Untuk diketahui, mobil besar atau bus tidak bisa naik ke kawasan Bromo karena medan jalannya yang sempit, berkelok, dan menanjak. Biaya sewa Bison antara 150-200 dengan kapasitas 15 orang.

Bison akan mengantar sampai di terminal di Desa Ngadas, yang sekaligus menjadi terminal terakhir untuk mobil pribadi, dengan waktu tempuh satu jam. Untuk menuju kawasan Bromo, wisatawan/pengunjung kembali berganti kendaraan. Kali ini harus naik mobil Hardtop yang banyak disewakan oleh penduduk lokal.

Mobil Hardtop yang bertarif Rp 300-350 akan mengantar wisatawan/pengunjung ke kawasan Bromo, dengan rute jalan yang lebih ekstrem lalu menembus lautan pasir. Tujuan wisata utama adalah Penanjakan I, yang menjadi tempat paling eksotik untuk menyaksikan matahari terbit (sunrise) dari balik pegunungan.

Tak heran, para wisatawan/pengunjung lebih banyak yang datang pada pagi-pagi buta untuk bisa melihat sunrise yang begitu indah. Tapi Anda harus menyiapkan baju tebal, sarung tangan, penutup kepala, dan kaos kaki mengingat suhu udara yang sangat dingin.

Selanjutnya wisatawan/pengunjung bisa menikmati wisata di kawasan Gunung Bromo. Di sini kita bisa menyaksikan Gunung Bromo yang “berselimutkan” pasir-pasir. Warnanya putih kehitam-hitaman. Wisatawan/pengunjung bisa naik ke atas gunung yang sudah beberapa kali meletus ini dengan jalan kaki dan melewati tangga. Dari bibir puncak gunung, kita akan dimanjakan dengan pemandangan kawah belerang yang indah.

Untuk menjelajah hamparan pasir laut di Bromo, selain naik Hardtop, wisatawan/pengunjung siap diantar kuda-kuda yang disiapkan warga lokal. Sewanya hanya 50 ribu. Ada juga motor jenis trail.

Tak ketinggalan, kawasan Pura
Luhur Poten yang juga menjadi daya tarik wisatawan/pengunjung. Dengan arsitektur dan tempatnya yang strategis di kaki Gunung Bromo dan Gunung Batok, Pura Luhur Poten memberikan kesan keindahan dan suasana religius tersendiri.

Apalagi saat digelarnya upacara Yadnya Kasada, upacara kurban yang dilakukan umat Hindu Tengger pada malam ke-14 Bulan Kasada dengan membawa ongkek yang berisi sesaji dari berbagai hasil pertanian, ternak dan sebagainya, lalu dilemparkan ke kawah Gunung Bromo sebagai sesaji kepada Dewa Brohmo yang dipercayainya bersemayam di Gunung Bromo.

Terima kasih: travelifetrips.net.tc, tribun dll.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: