Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Daily Archives: August 16, 2012

Merdeka Menurut Hindu


Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kemerdekaan adalah sebuah kebebasan, tidak ada penindasan dari bangsa lain, tidak berada dibawah kekuasaan bangsa lain dan tidak ada campur tangan bangsa lain. Kini kemerdekaan memiliki arti yang lebih luas mencangkup segala aspek kehidupan; politik, sosial, hukum dan budaya. Mari kita mencoba merenungkan apakah bangsa indonesia telah merdeka jika kita melihat masih banyaknya orang-orang dinegeri ini yang bicara soal Ras. Bagaimana dengan kebebasan setiap pemeluk agama untuk melakukan ibadahnya membangun tempat ibadahnya? Apakah sudah merasa nyaman dan aman? Lalu bagaimana soal pendidikan, aspek hukum dan perekonomian apakah bangsa indonesia telah merdeka untuk semua itu? Kemerdekaan dari tahun ke tahun masih belum terlihat adanya kemerdekaan secara individual dan sosial di bangsa ini.

Kemerdekaan menurut Hindu adalah kemerdekaan seseorang untuk mengatasi/melawan tujuh hal yang menyebabkan orang mabuk, lupa daratan. Lalu apa hubungan dengan kemerdekaan dalam kehidupan berbangsa? Ketut Wiana, seorang tokoh Hindu Nasional dan Dosen Institut Hindu Dharma Negeri menjabarkan tentang hal itu.

Merdeka berasal dari bahasa Sansekerta dari kata ”maharddhika’‘ yang artinya berkuasa, bijaksana, orang berilmu. Dalam Kekawin Nitisastra IV.19 dijelaskan konsep ”mahardhika” amat nyata. Ada tujuh penyebab orang bisa mabuk. Tetapi barang siapa yang tidak mabuk atau dapat menguasai tujuh penyebab mabuk itu dialah yang disebut hidupnya ”merdeka”. Dialah orang bijaksana bagaikan Sang Pinandita. Ini artinya perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan itu adalah perjuangan untuk membangun tujuh hal yaitu surupa, guna, dhana, kula, kulina, yowana, sura, kasuran. Yang penting ketujuh hal itu tidak membuat mabuk atau dapat menguasai tujuh penyebab mabuk itu.

Didalam Nitisastra IV. 18 disebutkan:

Lwirning mangdadi madaning jana sur pa guna dhana kula kulina yowana lawan tang sura len kas aran agawe wereh manahikang sarat kabeh, yang wwanten wang sira sang dhanewsara sur apa guna dhana kula yowana yan ta mada maharddhikeka panggarannia sira putusi sang pinandita.

Artinya: Hal yang dapat membikin orang mabuk adalah keindahan rupa, kepandaian, kekayaan, kemudahan, kebangsawanan, keberanian dan air nira. Barang siapa tidak mabuk karena semuanya itu dialah yang dapat disebut merdeka (mahardika), bijaksana bagaikan Sang Pinandita.

Adapun tujuh hal penyebab mabuk adalah:

  1. Surupa yaitu keindahan rupa seperti cantik bagi mereka yang perempuan dan ganteng bagi mereka yang laki-laki. Cantik dan ganteng ini tentunya tidak ada artinya dalam hidup ini kalau tidak disertai dengan sehat dan bugar. Kalau kebetulan berhasil lahir cantik atau ganteng tentunya amat membahagiakan. Ini artinya hidup ini boleh dan semestinya berusaha untuk menguatkan eksistensi cantik dan ganteng tersebut dengan usaha membina kesehatan diri yang bugar dan segar. Yang penting hal itu tidak menyebabkan orang itu mabuk. Ada sementara fakta sosial yang kita jumpai bahwa ada orang yang cantik atau ganteng tetapi sulit mendapatkan pasangan yang ideal karena sering tampil sombong atau gelap hati karena kecantikan atau kegantengannya itu. Ini artinya dia dijajah oleh kecantikan atau kegantengannya.
  2. Guna artinya ilmu terapan yang telah memberikan makna pada kehidupan. Dalam Nitisastra II.5 ada dinyatakan: Norana mitra mengelewihaning wara guna maruhur. Artinya tidak ada sahabat yang melebihi bersahabat dengan ilmu pengetahuan yang luhur. Ilmu itu adalah tongkat penunjang kehidupan. Dalam susastra Hindu di Bali disebut: matungked tutur utama. Ini artinya ilmu itu adalah sarana untuk mensukseskan tujuan hidup. Kalau tongkat ilmu pengetahuan itu telah dimiliki, selanjutnya mereka tidak sombong atau mabuk karena ilmu pengetahuan itu, dialah yang disebut merdeka. Kalau mereka itu sombong bersikap ekslusif karena memiliki ilmu pengetahuan itu artinya mereka belumlah merdeka. Bahkan bisa menjadi budaknya ilmu pengetahuan.
  3. Dhana artinya memiliki kekayaan berupa harta benda. Hubungan kekayaan dengan manusia ibarat air dengan perahu. Perahu tidak bisa berlayar tanpa air. Tujuan perahu berlayar bukan mencari air, tetapi, mencari pantai tujuan. Kalau salah caranya perahu berlayar, air itulah yang menenggelamkan perahu tersebut. Ini artinya harta benda itu adalah sarana hidup untuk menyelenggarakan kehidupan. Janganlah sampai harta benda itu menenggelamkan hidup ini sehingga justru menggagalkan usaha mencapai tujuan hidup. Orang yang sombong dan mabuk karena merasa memiliki harta benda itu artinya mereka belum merdeka.
  4. Kula kulina artinya memiliki keturunan yang mulia. Lahir dalam keluarga yang mulia artinya dari keluarga orang suci, orang berjasa pada bangsa atau orang yang kaya dermawan adalah suatu karunia yang patut disyukuri. Yang penting tidak mabuk karena merasa memiliki wansga yang mulia itu. Apa lagi Bhagawad Gita menyatakan bahwa membangga-banggakan wangsa (abhijana) itu salah satu sifat manusia yang keraksasaan atau asuri sampad.
  5. Yowana artinya senantiasa punya semangat muda. Semangat muda didukung oleh kesehatan yang prima dan wawasan yang luas tentunya karunia yang amat utama. Apa lagi delapan sistem ajaran Ayurveda itu salah satu adalah Rasayana Tantra yaitu ilmu kesehatan untuk membina hidup sehat bugar awet muda. Yang penting tidak sombong karena kemudaan dan segalanya itu. Kalau sombong dan mabuk karena kemudaannya itu artinya ia belum juga merdeka.
  6. Sura artinya nira atau di Bali disebut tuak. Minuman itu mengandung alkohol. Memang ada obat tertentu yang membutuhkan alkohol sebagai salah satu unsur yang membentuk obat tersebut. Yang penting jangan sampai alkohol itu diminum di luar fungsinya sebagai obat sampai kecanduan. Kalau sampau mabuk-mabukan itu artinya mereka itu belum juga merdeka.
  7. Kasuran artinya pemberani karena memiliki kesaktian artinya memiliki ilmu dan kemampuan untuk mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan empiris. Mereka yang sakti itu tentunya menjadi dambaan masyarakat pada umumnya. Yang penting mereka tidak sombong dan mabuk karena semuanya itu. Kalau mabuk artinya mereka belum merdeka.

Setiap tahun kemerdekaan selalu diperingati dengan ajakan mari isi kemerdekaan dengan pembangunan, tidak perlu terlalu muluk-muluk. Pembangunan diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Menghargai perbedaan, menjunjung tinggi persatuan. Dirgahayu Bangasaku! Santhi.

 

 

 

Advertisements

Memulai Yoga


Welas asih dan kebaikan adalah titik berangkat yang terbaik untuk semua jalan yoga. Apapun jalan yoga yang kita rasa paling sesuai untuk diri kita sendiri [bhakti yoga, raja yoga, shakti yoga, dll] kita harus memulainya dengan dasar welas asih dan kebaikan. Karena tanpa pondasi dasar welas asih dan kebaikan kepada semua mahluk, semua jalan yoga bisa menyesatkan dan berbahaya.

BHAKTI YOGA
Kalau kita sering-sering bertengkar dengan orang tua, tidak cocok dengan tetangga, konflik dengan keluarga, suka bikin ribut, suka menyalah-nyalahkan orang lain, serakah, dll, itu pertanda kita “sakit” secara spiritual. Dan obat penyembuhan terbaik di jalan dharma adalah welas asih dan kebaikan kita untuk orang lain dan mahluk lain.

RAJA YOGA – Asana
Sehingga mengawali yoga, kita mulai dengan suatu tekad, kita melaksanakan yoga tidak hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga melaksanakan yoga untuk semua mahluk. Dengan yoga bathin kita menjadi damai, tenang-seimbang dan bahagia, serta kecenderungan negatif kita seperti kemarahan, kebencian, kesombongan, dll, akan jauh berkurang.

Yoga, The goal of practicing yoga is to achieve good physical health and to attain inner peace both mentally and spiritually.

Dengan lebih sedikit marah dan benci, kita lebih sedikit melukai hati dan perasaan mahluk lain. Dengan lebih rendah hati, kita bisa menghormati orang lain dan menghormati perbedaan secara lebih baik. Dengan lebih sedikit serakah, kita lebih sedikit membuat orang lain menderita. Dengan lebih tenang-seimbang, kita lebih sedikit membunuh nyamuk dan serangga, dll-nya. Dengan kata lain, kembali ke awal, yoga kita mulai dengan suatu tekad, kita melaksanakan yoga tidak hanya untuk diri kita sendiri tapi sekaligus juga untuk semua mahluk.

SHAKTI YOGA – Avadhuta Digambara
Kapan saja kita akan memulai yoga : melakukan asana dan duduk meditasi [raja yoga], sembahyang dan upakara [bhakti yoga], melaksanakan svadharma [karma yoga], menjadi pengendali energi [shakti yoga], dll, ingat baik-baik, kita melaksanakan yoga tidak hanya untuk diri kita sendiri tapi sekaligus juga untuk semua mahluk. Tidak saja untuk kedamaian diri kita sendiri, tapi juga kedamaian mahluk lain.

Dengan mempraktekkan yoga, istri, anak, pembantu, dan bawahan di kantor, lebih sedikit kena marah oleh kita. Dengan mempraktekkan yoga, kita bisa menolong, membantu dan melayani orang lain dengan lebih baik.

RAJA YOGA – Dhyana [meditasi]
Jangan mempraktekkan yoga dengan tujuan untuk memperoleh uang, dikagumi, dihormati, disegani, orang nurut sama kita, mendapat pengalaman hebat atau menjadi yang hebat-hebat, dll. Karena dengan demikian semua jalan yoga bisa menyesatkan dan berbahaya.

Praktekkan-lah yoga agar kita menjadi sabar, rendah hati, penuh welas asih, dll. Karena dengan demikian kita bisa melakukan banyak kebaikan-kebaikan dan bisa membuat orang lain bahagia. Kita bisa mengurangi penderitaan para mahluk. Tidak membalas bentakan orang tua, tidak marah pada suami-istri yang marah, tidak menyakiti anak yang nakal, tidak melawan pada yang merendahkan kita, dll, itu semua sudah mengurangi penderitaan orang lain.

Karena di puncak yoga, tidak ada hal yang lain selain bathin yang tenang-seimbang, bathin yang bebas dari sad ripu serta sikap yang penuh welas asih dan kebaikan.

Terima kasih kepada:

  1. Rumah Dharma Indonesia

Artikel Terkait:

  1. Memahami Yoga
  2. Mengenal Kundalini

Mengapa Saya Masih Hindu


Oleh: Made K. Kurniawan

Why I am still A Hindu (Mengapa Saya Masih Hindu) ?

Aum Svastiastu,

Saya ada cerita sedikit tentang pengalaman saya waktu baru beberapa hari tiba di Kuwait. Pada sebuah kesempatan, salah seorang teman baik muslim dari Indonesia bertanya, “Made, kamu sudah tahu banyak tentang Islam dan paham ajaran Islam tapi kenapa kamu masih Hindu?

Pertanyaan sensitif yang perlu jawaban extra hati2 karena saya satu2nya orang yang berasal dari Bali dan beragama Hindu di negara arab (kandang Islam). Salah2 saya bisa pulang tinggal nama. Dia bertanya demikian setelah saya menceritakan latar belakang saya yaitu orang bali yang lahir dan besar di lingkungan muslim di Lampung dan ikut pelajaran agama islam dari SD sampai perguruan tinggi. Saya juga menceritakan pengalaman saya ketika kecil saya ikut teman2 sepermainan belajar mengaji (membaca quran) di sebuah surau ( Langgar ) dekat rumah saya tinggal. Tak pelak lingkungan yang demikian membuat saya fasih dan hafal surah2 utama dalam shalat khususnya surah Al-Fatiha.

Kebetulan yang bertanya ini adalah teman baik saya. Saya sering menginap dan makan di flat nya. Demi menjaga persahabatan dan tidak menyinggung perasaan dia, meskipun saya kritis terhadap Islam dan militan Hindu, saya hanya menjawab secara diplomatis, ‘mungkin saya belum mendapat hidayah dari Allah. Doakan saja supaya saya cepat mendapat hidayah dan segera masuk Islam. Insyalla, Allah Karim.’

Sambil tersenyum teman saya menimpali, ‘Bagus, Insyalla, Allah Karim.’

Setelah percakapan tsb, teman2 muslim yg lain memberi saya banyak buku2 referensi Islam dan bahkan ada yang menyarankan saya untuk meminta buku2 tentang Islam secara gratis di kantor Islam Presentation Committee ( IPC ) cabang Kuwait, sebuah organisasi syiar Islam yang memberikan informasi dan dakwah Islam secara gratis kepada para calon mualaf di Middle East.

Ya, saya memang sempat ke kantor IPC dan mendapat buku2 Islam gratis dan membacanya. Saya juga berdialog dan bertanya kepada teman2 muslim, ustad, mullah dari India, Pakistan, Bangladesh, Iran, Syria, Palestine, Jordania dll. Secara garis besar pandangan mereka dan umat muslim seluruh dunia tentang islam adalah sama yaitu Islam adalah satu2nya agama yg paling benar dan satu2nya paspor menuju surga karena memang demikianlah yg diajarkan oleh nabinya dan tercantum dalam kitab suci mereka.

Namun anehnya semakin byk saya membaca referensi Islam dan semakin byk yg saya ketahui tentang Islam khususnya riwayat Nabi Islam, justru saya malah semakin mantab memeluk Hindu. Tentu ini berbeda dengan kasus2 mualaf yang mengaku masuk Islam dan menjadi muslim setelah membaca dan mempelajari Islam.

Sekedar selingan, ada cerita menarik tentang teman saya dari Filipina yang sama2 bekerja di Kuwait. Dia pindah agama dari Kristen ke Islam. Kepada saya dia mengaku mempelajari islam selama kurang lebih 7 thn sebelum akhirnya memutuskan utk pindah menjadi muslimah. Saya tanya, “kamu tahu berapa jumlah isteri Nabi Muhammad?.” Dia jawab, tiga. Saya cuma tersenyum. Besoknya saya bawakan dia buku biografi Muhammad. Dia hampir tidak percaya bahwa Muhammad beristrikan 12 orang (ini yg resmi) tdk termasuk gundik (concubine tawanan perang). Saya bilang ke dia, nurani dan akal sehat saya sulit menerima dan mengakui org semacam itu sbg org suci apalagi sebagai nabi (utusan tuhan). Dia cuma bisa senyum sambil menelan ludah pahit.

Kembali ke cerita saya semula. Di bawah ini adalah bbrp alasan saya pribadi mengapa sampai sekarang saya masih beragama Hindu dan selamanya akan tetap Hindu.

  1. Merenungi karakteristik ajaran Veda yang begitu profound dan inklusif, saya berpendapat bahwa ajaran Veda diterima oleh orang2 suci (enlightened seers) yang benar2 suci dan qualified dibidang spiritual dan bebas dari dominasi triguna. Para Rsi2 agung ini mengajarkan ajaran suci Veda kepada manusia dari generasi ke generasi tanpa dilandasi motif self interest atau political interest sebagaimana yg terjadi pada agama2 semitik.
  2. Kalau pada agama2 semitik sang nabi naik ke bukit dan memproklamirkan diri (self proclaim) di hadapan orang2 mengaku sebagai nabi utusan tuhan dan bisa menerima wahyu pada saat kapan dan dimana saja termasuk di kasur, sumur dan dapur. Sedangkan Rsi2 Veda mendapat dan menerima wahyu Veda pada saat menjalani laku dan disiplin spiritual yg ketat dan lama sehingga mencapai tahapan samadhi, sebuah fase manunggaling dg Paramatma sehingga bisa memahami rahasia alam semesta termasuk Tuhan dan mentransformasinya ke dalam bahasa dan tulisan manusia. Pada tradisi Veda justru orang2 (publik) yang haus akan pelajaran spiritual lah yg datang ke Rsi untuk belajar spiritual dan bukan Rsi yang secara aktif pergi kesana kemari mencari pengikut sebanyak2nya sebagaimana yg kita lihat pada tradisi agama2 abrahamik.
  3. Saya meyakini letak geografis sangat menentukan karakteristik ajaran sebuah agama. Mengapa ajaran agama abrahamik terkesan keras dan barbar tidak lain disebabkan karena faktor alamnya yg keras dan suhu panas yg ektrim di daerah gurun pasir arabia menentukan aspek emosional inhabitannya. Berbeda dengan alam India tempat para Rsi Agung bertapa dan menerima wahyu Veda yaitu alam pepohonan yg hijau, gunung, bukit yg hijau, sungai dg air yg jernih dan menyejukkan, maka ajaran Veda pun menyejukkan.
  4. Hanya di Hindu saya menemukan ajaran persaudaraan yg menyejukkan yaitu konsep persaudaraan universal yg dikenal dg Vasudaiva Kutumbakam, sebuah mahavakya yg mengakui bahwa umat manusia terlepas dari apapun latar belakangnya (suku, agama, bahasa, bangsa, budaya, tradisi, warna kulit) diseluruh dunia bersaudara. Ini berbeda dg konsep agama semitik yang hanya mengakui org2 internal agamanya saja sbg saudara sedangkan org2 di luar agamanya sebagai musuh.
  5. Konsep Tuhan, Atman, Moksa, Reinkarnasi, Karma, Rta, Dharma (exclude the Puranas) bagi saya lebih appealing daripada konsep Tuhan, Surga, Neraka, Nabi, Pahala, Kiamat, alam kubur, hari pengadilan (judgement day) dan kebangkitan (resurrection) nya agama semitik. Note: I am not a big fan of Purana.
  6. Overall, kedalaman spiritual Veda lebih memuaskan kebutuhan spiritual saya ketimbang ajaran agama semitik yg dangkal dan kering. Bagi saya ajaran agama semitik hanya cocok utk anak2 TK (taman kanak2) dimana Tuhan bertindak seperti guru TK yg menakuti2 siswa dg hukuman jika tdk mengerjakan PR dan memberi hadiah jika mengerjakan PR.
  7. Nurani dan akal sehat saya menolak sifat2 Tuhan antropomorfik dalam ajaran agama2 semitik (pencemburu, pendendam, senang kalo disembah, marah dan murka kalau tdk disembah, bahkan yg lucu Tuhan menyesatkan manusia karena manusia menolak dan menentang nabinya).
  8. Nurani dan akal sehat saya menolak seseorang yg mengawini 12 wanita (blm termasuk gundik tawanan perang) sebagai org suci apalagi sebagai utusan tuhan, terlebih salah seorang isterinya adalah anak kecil umur 6 thn, anak ingusan yg blm paham bagaimana mengurus kerjaan di kasur, dapur dan sumur. Kualitas spt ini tentu sangat jauh dari kualifikasi org suci.
  9. Membaca biografi nabi Islam, artikel2 tulisan murtadin Anwar Shaikh (Islam: Arab Imperialism), the Nature of Prophethood, buku2 Ali Dasti, Ali Sina dll, saya mantab dan yakin akan kebenaran ajaran Veda.
  10. Kebenaran ajaran Veda adalah ‘self-evident dan experential” dan bersumber serta berdasarkan pengalaman spiritual langsung org2 yg tercerahkan (come, see, learn and experience the truth) dan bukan dogmatic yg berpusat pada satu orang nabi (listen and believe) yang mengeluarkan ayat semaunya kapan dan dimana saja termasuk saat di kasur, sumur dan dapur dan mengubah atau membatalkan ayat2 yg diterima sblmnya dg alasan ayat2 tsb datang dari bisikan setan dan bukan dari Tuhan.. (hahaha.. what a joke….?

Aum santih, santih, santih Aum.

%d bloggers like this: