Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Pitra Puja Mantram


Dalam agama Hindu kematian bukan hal yang harus ditangisi. Kematian bukan hal yang harus ditakuti, setiap makhluk hidup akan menjemput kematian pada waktunya dan kita tidak pernah kapan waktu itu akan datang. Sebagai manusia kita hanya bisa mempersiapkan diri untuk menyambut saat kematian menjemput.

INDONESIA-BALI-CULTURE-NGABEN

ngaben

Kematian adalah proses perjalanan lanjutan atman kita menuju Brahman (Hyang Widhi Wasa) setelah persinggahan kita didunia fana ini dengan media jasad kita.

Seperti yang kita ketahui perjalanan atman menuju Brahman hanya berbekal kebajikan dan dibantu oleh doa dari orang-orang yang kita cintai.

Doa tersebut biasa disebut Pitra Puja. Dilakukan oleh sanak keluarga untuk mempermudah perjalanan menuju nirwana. Pitra Puja biasanya dilakukan saat dilakukan ngaben atau dapat pula dilakukan setelahnya.

Berikut adalah prosesi Pitra Puja:

1. Ambil sikap Asana : Om Prasada sthiti sarira siva suci nirmalaya namah svaha
2. Pranayama : Om ang namah, Om ung namah, Om mang namah.
3. Karasodana : (tangan kanan) : Om Suddhamam svah
(tangan kiri) : Om ati suddhamam svaha
PITRA PUJA MANTRAM

Om svargantu Pitaro devah
Svargantu pitara ganam

Svargantu pitarah sarvaya

Namah svada

 

Artinya: Om HyangWiddhi semoga atmanya mendapat tempat disurga
Semoga semua atma yang suci mendapat tempat disurga
Sembah hamba hanyalah kepada HyangWiddhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om moksantu pitaro devah
Moksantu pitara ganam
Moksantu pitarah sarvaya
Namah svada

Artinya: Om Hyang Widdhi semoga atmanya mencapai moksa
Semoga semua atma yang suci mencapai moksa
Sembah hamba hanyalah kepada HyangWiddhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om sunyantu pitaro devah
Sunyantu pitara ganam
Sunyantu pitarah sarvaya
Namah svada

Artinya: Om Hyang Widdhi semoga atmanya mendapat ketenangan
Semoga semua atma yang suci mendapat ketenangan
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widdhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om bagyantu pitaro devah
Bagyantu pitara ganam
Bagyantu pitarah sarvaya
Namah svada

Artinya: Om Hyang Widdhi semoga atmanya mendapat kebahagian sejati
Semoga semua atma yang suci mendapat kebahagiaan sejati
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widdhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om ksamantu pitaro devah
Ksamantu pitara ganam
Ksamantu pitarah sarvaya
Namah

Artinya: Om Hyang Widdhi, semoga atmanya mendapat pengampunan
Semoga semua atma yang suci dibebaskan segala dosa nya
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widdhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Pitra Puja merupakan japa mantram yang hendaknya diulang 108 kali. diakhiri dengan pamara santih.

 

 

Advertisements

Pura Giri Natha Semarang


paduarsana.com 21/10/2016 – Perjalanan tugas(nguli) kali ini adalah Kota Semarang. Dari awal saya sudah memiliki rencana untuk menyempatkan diri untuk mampir (nangkil) ke Pura Giri Natha Semarang, Mumpung ada kesempatan ke Semarang (pikir saya). Setibanya di Bandara Ahmad Yani Semarang, saya pun memesan Go-Jek. Inilah keuntungannya ojek berbasis teknologi kita terbantu dalam urusan bepergian.

Tak berapa lama, Driver Go-Jek pun datang kami pun meluncur ke Jl. Sumbing No. 12 melewati jalan Pamularsih kemudian melewati rumah sakit kariadi Semarang. Jarak tempuh dari Bandara menuju Jalan Sumbing kurang lebih 5.2 KM waktu tempuh kurang lebih 15 Menit dan ongkos hanya Rp. 11.000. Pura Agung Giri Natha merupakan sebuah tempat ibadah atau tempat suci bagi umat Hindu. Pura yang terletak di Jalan Gunung Sumbing Nomor 12 Kelurahan Bendungan Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang ini merupakan salah satu dari lima pura yang ada di kota Semarang memiliki luas kurang lebih 2.000 m2.

Pura Agung Giri Natha dibangun sekitar tahun 1968 oleh umat Hindu yang berdomisili di Kota Semarang. Namun baru diresmikan sekitar tahun 2004 yang lalu oleh Gubernur Jawa Tengah Mardianto. Secara bertahap pura ditata, mulai dari membangun Padmasana, bale pesandekan, tembok penyengker, candi dan sarana pendukung lainnya. Pura Giri Natha Semarang merupakan Pura terbesar di kota Semarang. Masyarakat Hindu pengempon Pura ini kurang lebih 200 KK atau sekitar 2000 jiwa.

Setiap hari selalu ada saja umat Hindu yang sembahyang disana, bahkan beberapa diantaranya melakukan Yoga bersama pada saat Purnama atau Tilem (bulan mati). Piodalan Pura Giri Natha semarang jatuh setiap tahun yaitu setiap Purnama Sasih Kadasa.

Image by: Peradah Jateng

Image by: Peradah Jateng

Sesampainya di Pura Giti Natha Semarang terlihat beberapa anak muda sedang berlatih menari tarian Penyembrama, wahh suasana seperti di Banjar-banjar di Bali. Jadi pengen cepat pulang (lho…) saya pun bergegas menuju Utama mandala, tidak lupa saya meminjam senteng pada tempat yang telah disediakan.

Sembahyang dengan iringan suara gamelan memang luar biasa nikmatnya. Suksma Hyang Widhi perjalanan saya ke kota ini sangat menyenangkan semoga kesulitan pekerjaan senantiasa ada jalan keluarnya atas petunjukMu.

Selamat berjumpa pada perjalanan tugas(nguli) dan spiritual lainnya.

Buda Cemeng Kelawu


Hari ini Buda Wage Wuku Kelawu merupakan hari pemujaan kepada Sang Hyang Rambut sedana manifestasi Hyang Widhi sebagai Dewa Kesejahteraan atau Dewa Uang.

Image by: anommanikagung

Image by: anom manik agung

Hari suci ini dilaksanakan dalam hitungan pawukon (wuku) dimana perhintungannya jatuh setiap 210 hari atau 6 bulan sekali. Pemujaan terhadap Sang Hyang Rambut Sedana pada rangkaian hari suci buda kliwon kelawu dilaksanakan dipemerajan keluarga, pura kahyangan tiga desa pakraman maupun pura kahyangan jagat.

Pemujaan pada Ida Batara Rambut Sedana mengacu pada lontar sundarigama dimana disebutkan kata buda wage, cara khusus ditujukan kepada Sang Hyang manik Galih yang merupakan adalah simbol kemakmuran atau kesejahteraan atau dengan kata lain Dewi uang yang memberikan kesejahteraan kepada pemujanya. Dengan memuja Tuhan dalam manifestinya sebagai Manik Galih berarti telah menghormati keberadaan uang itu sendiri sebagai simbul kesejahteraan manusia.

“Bude wage, ngaraning Bude cemeng, kalingania adnyane sukseme pegating indria, betari manik galih sire mayoge, nurunaken Sang Hyang Ongkare mertha ring sanggar, muang ring luwuring aturu, astawe kene ring seri nini kunang duluring diane semadi ring latri kale”

Artinya: Buda wage bernama buda cemeng, memusatkan pikiran jiwa untuk memutus indra, Betari Manik Galih beryoga, menurunkan Sang Hyang Ongkara Merta di sanggah, maupun diatas pemujaan, pemujaan kepada Dewi Seri dengan diawali dengan melakukan Diana dan semedi di sore menjelang malam”.

Jadi inti dari pemujaan pada hari suci buda wage klawu “buda cemeng’ tiada lain adalah memuja Tuhan sebagai manifestasinya sebagai dewa kesejahteraan atau kemakmuran dalam hal ini, di Bali kawasan timur seseorang yang memiliki usaha ekonomi akan senantiasa menghaturkan bebanten pada tempat usahanya yang khusus ditujukan kehadapan Ida Sang Hyang Rambut Sedana, sebagai harapan segala usahanya akan lancar dan memperoleh anugrah untung dalam segi penjualan.

Bahkan dalam memaknai hari suci buda wage klawu “buda cemeng” ini umat Hindu melaksanakan pemujaan dengan menghaturkan banten pada tempat penyimpanan uang. Arta yang berupa uang kemudian dihaturkan banten yang dengan harapannya adalah sebagai perwujudan rasa syukur atas pencapaiannya dalam memperoleh arta(kekayaan), khususnya uang yang diperoleh itu.

Inilah wujud syukur bagi kita umat Hindu Bali atas uang yang kita punya berapapun jumlahnya. Hari ini hari yang baik untuk mensyukuri atas uang(artha) yang kita miliki. Berdana punia dan menyumbangkan uang pada kegiatan kemanusiaan juga bentuk syukur atas apa yang kita punya. Semoga kita semua diberikan jalan (kebaikan) untuk mendapatkan uang (artha).

Buda Cemeng Kelawu juga bertepatan dengan Piodalan di Pura Dalem Ped dan beberapa pura lainnya di Indonesia.

**dari berbagai sumber