Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Buda Cemeng Kelawu


Hari ini Buda Wage Wuku Kelawu merupakan hari pemujaan kepada Sang Hyang Rambut sedana manifestasi Hyang Widhi sebagai Dewa Kesejahteraan atau Dewa Uang.

Image by: anommanikagung

Image by: anom manik agung

Hari suci ini dilaksanakan dalam hitungan pawukon (wuku) dimana perhintungannya jatuh setiap 210 hari atau 6 bulan sekali. Pemujaan terhadap Sang Hyang Rambut Sedana pada rangkaian hari suci buda kliwon kelawu dilaksanakan dipemerajan keluarga, pura kahyangan tiga desa pakraman maupun pura kahyangan jagat.

Pemujaan pada Ida Batara Rambut Sedana mengacu pada lontar sundarigama dimana disebutkan kata buda wage, cara khusus ditujukan kepada Sang Hyang manik Galih yang merupakan adalah simbol kemakmuran atau kesejahteraan atau dengan kata lain Dewi uang yang memberikan kesejahteraan kepada pemujanya. Dengan memuja Tuhan dalam manifestinya sebagai Manik Galih berarti telah menghormati keberadaan uang itu sendiri sebagai simbul kesejahteraan manusia.

“Bude wage, ngaraning Bude cemeng, kalingania adnyane sukseme pegating indria, betari manik galih sire mayoge, nurunaken Sang Hyang Ongkare mertha ring sanggar, muang ring luwuring aturu, astawe kene ring seri nini kunang duluring diane semadi ring latri kale”

Artinya: Buda wage bernama buda cemeng, memusatkan pikiran jiwa untuk memutus indra, Betari Manik Galih beryoga, menurunkan Sang Hyang Ongkara Merta di sanggah, maupun diatas pemujaan, pemujaan kepada Dewi Seri dengan diawali dengan melakukan Diana dan semedi di sore menjelang malam”.

Jadi inti dari pemujaan pada hari suci buda wage klawu “buda cemeng’ tiada lain adalah memuja Tuhan sebagai manifestasinya sebagai dewa kesejahteraan atau kemakmuran dalam hal ini, di Bali kawasan timur seseorang yang memiliki usaha ekonomi akan senantiasa menghaturkan bebanten pada tempat usahanya yang khusus ditujukan kehadapan Ida Sang Hyang Rambut Sedana, sebagai harapan segala usahanya akan lancar dan memperoleh anugrah untung dalam segi penjualan.

Bahkan dalam memaknai hari suci buda wage klawu “buda cemeng” ini umat Hindu melaksanakan pemujaan dengan menghaturkan banten pada tempat penyimpanan uang. Arta yang berupa uang kemudian dihaturkan banten yang dengan harapannya adalah sebagai perwujudan rasa syukur atas pencapaiannya dalam memperoleh arta(kekayaan), khususnya uang yang diperoleh itu.

Inilah wujud syukur bagi kita umat Hindu Bali atas uang yang kita punya berapapun jumlahnya. Hari ini hari yang baik untuk mensyukuri atas uang(artha) yang kita miliki. Berdana punia dan menyumbangkan uang pada kegiatan kemanusiaan juga bentuk syukur atas apa yang kita punya. Semoga kita semua diberikan jalan (kebaikan) untuk mendapatkan uang (artha).

Buda Cemeng Kelawu juga bertepatan dengan Piodalan di Pura Dalem Ped dan beberapa pura lainnya di Indonesia.

**dari berbagai sumber

Profil Ida Pedanda Gede Made Gunung


Salah satu sulinggih (pendeta Hindu) yang tidak asing bagi kita semua adalah Ida Pedanda Gede Made Gunung, Sosok beliau  belakangan banyak diperbincangkan umat Hindu. Tokoh Hindu yang satu ini dinilai banyak kalangan memiliki pemikiran yang jauh kedepan, trampil dalam “menerjemahkan” tatwa agama dengan bahasa yang jelas dan lugas serta memiliki rasa humor yang tinggi. Pedanda yang dilahirkan di Gria Gede Kemenuh Purnawati ini, seolah – olah mengubah citra Pedanda (Pendeta Hindu) dari sekedar muput karya (memimpin pelaksanaan upacara), menjadi pemberi Dharma Wacana, disamping tentunya juga muput karya. Tidak mengherankan jika wajah beliau acapkali muncul di berbagai media, baik media elektronik maupun media cetak, untuk memberikan dharma wacana wejangan suci) kepada umat Hindu. Beliau memberikan dharma wacana tidak hanya di Bali, tetapi juga di luar bali seperti Jakarta hingga ke Kalimantan. Beliau juga sempat matirta yatra ke India bersama Dr.Somvir.

Ida Pedanda Gede Made Gunung

Ida Pedanda Gede Made Gunung

Setelah menamatkan SD (1965) di Blahbatuh dan SMPN (1968) di Gianyar, beliau lalu melanjutkan pendidikan ke Taman Guru Atas (1971) di Sukawati. Beliau kemudian bekerja sebagai Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Gianyar (1972 – 1974), lalu menjadi guru SD di mawang Ubud (1975 – 1983) dan selajutnya pindah ke SD 7 Saba (1987 – 1994). Tahun1992 beliau sempat mendapat peringkat sebagai guru teladan Kecamatan Blahbatuh. Disela -sela kesibukan sebagai guru, beliau melanjutkan pendidikan di Institut Hindu Dharma (IHD) hingga memperoleh gelar Sarjana Muda pada tahun 1986. Beliau Madiksa atau menjadi pedanda pada tahun 1994 dan sejak tahun 2002 sampai sekarang beliau menjadi dosen luar biasa di almamaternya di Fakultas Usada Universitas Hindu Indonesia, sebutan IHD sekarang.
Selain itu beliau juga aktif dalam kegiatan organisasi sejak akhir tahun 1960- an. Mula – mula dibidang olah raga, menjadi pemain voli seleksi PON Bali, menjadi pelatih karate (sabuk hitam), dan kemudian organisasi keagamaan. Mula – mula beliau aktif di Parisada Hindu Dharma Indonesia ( PHDI) kecamatan Blahbatuh, PHDI Gianyar (1989-1994) PHDI Bali (1994-2001) dan PHDI Bali versi Campuhan (2001-2006) Catatan Sebelum Madiksa Dua tahun sebelum madiksa (menjadi pendeta), beliau sudah mulai membenahi pola pikir, perkataan dan perbuatan sebagai persiapan memasuki dunia kependetaan. Suatu hari, kira-kira 4 bulan sebelum madiksa, beliau pergi mengunjungi Rumah Sakit Sanglah untuk melihat mereka yang dirawat disana, beliau ingin merasakan bagaimana kondisi dan penderitaan mereka yang sedang sakit, beliau juga berjalan mengunjungi UGD, mengunjung bangsal- bangsal yang lain hingga berakhir di depan kamar mayat. Setelah itu beliau mengunjungi Rumah Sakit Wangaya untuk tujuan yang sama. Beliau juga mengunjungi Super Market, sekedar untuk melihat bagaimana anak -anak bermain dan menikmati santapan. Disana beliau sempat diikuti oleh satpam, yang barangkali merasa agak janggal karena melihat beliau yang berjenggot, berambut panjang dan menggunakan destar datang ke tempat seperti itu dan seperti dengan tujuan yang tidak jelas. Setelah itu beliau mengunjungi super market yang lain yang baru saja di buka. Beliau tidak mengunjungi diskotik atau tempat hiburan yang lain karena untuk mengunjungi tempat seperti itu harus membayar terlebih dahulu. Setelah itu beliau melanjutkan perjalanan kepasar burung, mendengarkan kicauan burung dan melihat berbagai jenis peliharaan yang dijual disana. Disamping itu beliau juga pernah ikut menjadi sopir truk mengikut teman beliau yang menjadi sopir truk untuk mengirim pasir dari Klungkung ke daerah lain di Bali. Beliau melakukan itu untuk mengetahui bagaimana rasanya menjadi sopir truk. Setelah beliau merasa sudah cukup,mulailah beliau menyusun program tangkil (menemui) para sulinggih (pendeta) se-Bali. Dalam buku harian beliau, tercatat beliau pernah tangkil kepada 325 sulinggih.
Untuk apa beliau melakukan semua itu?
Beliau mengatakan semua itu sebagai persiapan mental untuk memasuki dunia kependetaan. Seperti merintis sebuah bangunan, sebelum memulai membangun seseorang perlu melihat berbagai model bangunan yang ada sebagai perbandingan dalam merencanakan bangunan yang baru. Unsur-unsur yang cocok ditiru, yang kurang cocok dipelajari dan seterusnya. Dan ternyata semua yang beliau dapat dari pengalaman tersebut sangat mendukung tugas- tugas yang harus beliau emban sekarang. Semua bobotnya dari sana. Sebuah contoh sederhana, begitu menjadi Pedanda, banyak orang yang tangkil dan semuanya bermacam-macam. Ada yang halus dan adakalanya agak emosional. Semua harus dihadapi dengan sabar. Tidak mungkin dihadapi dengan kekerasan dan main pukul seperti sewaktu beliau menjadi pelatih karate dulu. Kalupun sekarang beliau memukul, tidak menggunakan pukulan fisik tetapi pukulan rohani. Tingkat kerohanian akan berjalan baik apabila didukung oleh pengalaman, mental dan fisik yang kuat.Beliau mengatakan bahwa tujuan utama beliau untuk menjadi Pedanda bukat semata hanya untuk muput yadnya, melainkan senantiasa meningkatkan kualitas kerohanian atau Dharma Agama. Muput yadnya baru dilaksanakan kalau ada orang yang ngaturang, dalam arti kalau ada yang datang diterima kalu tidak ada tidak apa-apa. Seperti air pancuran, ada atau tidak orang yang datang untuk mengambil air, pancurannya tetap akan mengalir.

Biodata Ida Pedanda Gede Made Gunung
Nama (Walaka) : Ida Bagus Gede Suamem
Nama (Diksa) : Ida Pedanda Gede Made Gunung

Tempat/Tanggal Lahir : Geria Gede Kemenuh Purnawati Blahbatuh / 1952

Pendidikan

  • Sekolah Rakyat, Blahbatuh (1965)
  • SMPN Gianyar (1968)
  • TGA Saraswati, Sukawati (1971)
  • IHD Denpasar (sarjana Muda) (1986)

Pengalaman Organisasi

  • GSNI Blahbatuh (1967)
  • Persatuan Bola Volly Blabatuh (1969)
  • DPD Gojukai (Dewan Sabuk Hitam) tahun 1988-1991
  • PHDI Kecamatan Blahbatuh (1974-1989)
  • PHDI Kabupaten Giayar (1989-1994)
  • PHDI Bali (1994-2001)
  • PHDI Bali Campuhan (2001-2006)

Pengalam Kerja

  • PLKB Gianyar (1972-1974)
  • Guru SD 3 Mawang Ubud (1972-1974)
  • Guru SD 3 Pering Blahbatuh (1983-1985)
  • Koordinator Penyuluh Lapangan Agama Hindu Kecamatah Blahbatuh (1985-1987
  • Guru SD Saba, Blahbatuh (1987-1994)
  • Dosen Luar Biasa Fakultas Usada IHD (2000-sekarang)

Keluarga :
Istri : Ida Pedanda Istri Raka

Anak

  • Ida Ayu Gede Padmawati Suamem
  • Ida Bagus Made Purwita Suamem
  • Ida Ayu Ketut Puspitawati Suamem
  • Ida Ayu Putu Purnawati Suamem
  • Ida Bagus Made Eka Palguna

Orang Tua :

  • Ida Pedanda Putu Gunung (Ayah)
  • Ida Pedanda Istri Raka (Ibu)

Nama Saudara :

  • Ida Ayu Putu Sari
  • Ida Ayu Putu Kendran
  • Ida Ayu Ketut Raka
  • Ida Bagus Made Mahardika
  • Ida Ayu Gede Suprabawati

Sumber: Bali Post, Bali Tempo Doeloe.

Pemerkosaan dan Zina Dalam Hindu


Beberapa minggu lalu jagad berita tanah air dikejutkan dengan kasus perkosaan yang menimpa Yuyun(14) siswi SMP di Bengkulu. Kasus Yuyun adalah satu dari banyak kasus pemerkosaan dan kekerasan terhadap anak(perempuan) dinegeri yang katanya Agamis ini.

Apa yang salah? apakah agama-agama di Indonesia tidak cukup jelas memberikan tuntunan bahwa pemerkosaan itu akan mendapatkan hukuman yang berat?

Ilustrasi-Pemerkosaan-Dibawah-Umur1-770x577

Image: kaltim online

Dalam ajaran Sad Atatayi disebutkan : Dratikrama artinya memperkosa. Memperkosa adalah perbuatan yang dilakukan tanpa adanya persetujuan antara kedua belah pihak. Perbuatan memperkosa sama dengan perbuatan binatang, karena binatang melakukan kehendaknya hanya berdasarkan nafsu jahatnya saja. Manusia yang terlibat dalam perbuatan itu, berarti kesadaran pikirannya sudah hilang karena pengaruh nafsu yang tak terkendalikan lagi. Ia lupa dengan rasa malu, harga diri, nama baik keluarganya, karena apa yang dikehendaki oleh nafsunya itulah yang ingin dilakssanakan.

Perbuatan seemacam ini tidak mungkin akan membahagiakan, bahkan sebaliknya seringkali menimbulkan kesengsaraan. Oleh sebab itu ajaran agama melarang untuk melakukan perbuatan buruk ini karena mengakibatkan kericuhan di kalangan masyarakat.
Sloka 153-155 Sarasamuscaya
(MEMPERKOSA)
153. Perbuatan memperkosa jangan hendaknya dilakukan oleh orang yang tidak ingin hidupnya berumur pendek.
154. Orang yang ingin menjadi arif bijaksana, berkesusilaan, berilmu pengetahuan utama, dan bagi mereka yang ingin berumur panjang, jangan pernah berpikir untuk melakukan pemerkosaan.
155. Mereka yang tidak takut bencana boleh memikirkan untuk bersenggama dengan istri orang; namun bagi yang takut akan datangnya bencana jangan sekali-kali berpikir untuk bersetubuh dengan istri oang lain.

Bagaimana dengan zina, berikut adalah beberapa kutipan sloka tentang larangan zina dalam Hindu.

Kuwiwahaih kriya lopair
wedanadhyayanena ca
kulanya kulam tamyanti
brahmanati kramena ca.
(Veda Smerti, Manawa Dharmasastra III. 63)
Artinya:
Dengan berhubungan sex secara rendah diluar cara-cara perkawinan (brahmana wiwaha, prajapati wiwaha dan daiwa wiwaha), dengan mengabaikan upacara pawiwahan, dengan mengabaikan weda, dengan tingkah laku hina, tidak memperhatikan nasihat Sulinggih (Brahmana,orang-orang suci) maka keluarga-keluarga besar, kaya dan berpengaruh akan hancur berantakan.

Catur varnamsya sarva trahiyam prokta tu niskrtih,
agamyagamate ca iva suddhau candrayanam caret.
(Veda smerti. Parasara Dharmasastra X.1)
Artinya:
Aku telah menguraikan tentang upacara penebusan dosa bagi keempat golongan sosial; seorang laki-laki setelah menggauli seorang wanita yang dilarang untuknya harus melakukan penebusan dosa candrayanam.

Jarena janayed garbhe tyakte mrte patau,
tam tyajed apare rastre patitam papa karinim”
(Veda Smerti, Parasara Dharmasastra X.30)
Artinya:
Wanita yang memperoleh kehamilan dengan kekasih gelapnya (tidak melalui upacara pawiwahan), atau setelah ditinggal suaminya atau selama ketidakhadiran suaminya di negeri jauh, harus diusir kesebuah kerajaan asing (keluar wilayah).

**Dari berbagai sumber

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 84 other followers