Advertisements

Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Daily Archives: August 1, 2012

Apakah Hindu Mengenal Puasa?


Ada pertanyaan menggelitik dari sahabat non-Hindu tentang puasa dalam Hindu, Bukan persoalan siapa penanya dan beragama apa, yang terpenting adalah jawaban atas pertanyaan itu dapat sebagai pengetahuan kita.

Puasa Hindu

Image by: PHDI

Pak, apa agama Hindu mengenal puasa? Seperti agama kami yang bisa untuk menebus dosa? . . .”. Saya menjawab ; “ Ah, anda bercanda, bagaimana mungkin Hindu tidak mengenal puasa. Sedangkan puasa itu sendiri berasal dari bahasa Sansekerta., Bahasanya kitab Weda.

PUASA SEBAGAI SARANAMWRAJA
Dalam Bhagawad Gita tertulis tentang Bakti:
“ Sarwadharma partityaja, mam ekam saranamwraja”
Artinya: lakukanlah kewajibanmu dengan sungguh-sungguh, anggaplah itu sebagai bentuk pemujaan terhadap Tuhan.
Kalimat diatas jelas seharusnya menuntun langkah hidup kita dalam keseharian. Kita sering kali terjebak dalam rakusnya kehidupan. Terperosok bahwa uang dan materi merupakan satu-satunya jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan. Kita terpedaya oleh keinginan yang tak terbatas. Kita hidup dalam mimpi dan melupakan kesadaran tertinggi ( Paratattva).
Keinginan dalam hidup sebenarnya adalah penjara ( ikatan duniawi) yang menjauhkan kita dari kebahagiaan. Banyak tokoh-tokoh suci dan orang ternama mengatakan “ Kebahagiaan akan mudah tercapai jika keinginan kita tidak banyak “ . Jadi manusia hanya dapat dibebaskan dengan membatasi keinginan-keinginannya. Jadi bagaimana umat Hindu mengurangi aneka keinginan itu ?
Mulailah dari makanan, Jangan Rakus, jangan mengambil lebih dari kebutuhan, jangan mengambil hak orang, dan jika terdapat hal berlebih, sumbangkanlah ! Maka umat Hindu mengenal jenis makanan yang Satvik.
Puasa adalah salah satu cara yang efektif untuk mengatasi itu. Puasa untuk terapi spiritual kerap dapat mengatasi kelemahan manusia karena egoisme. Puasa yang baik menurut Hindu yaitu pada saat Purnama dan tilem dimana terjadi perubahan gravitasi bumi akibat gravitasi bulan dan itu sering mengganggu manusia secara emosional. Selain itu puasa sering diyakini untuk mengistirahatkan tubuh dan mengeluarkan racun, Jadi dapat pula dilihat dari aspek kesehatan.
Akhirnya apapun yang dilakukan dan diyakini terhadap puasa itu, akan menjadi bermakna tinggi jika berpuasa adalah sebagai pemujaan kepada Hyang Widhi (`saranamwraja ), bukan dengan embel-embel menghapus dosa apalagi untuk publisitas!
PUASA DAN KEBAHAGIAAN HIDUP
Puasa dan kebahagiaan jika dipikirkan , mungkin merupakan sesuatu yang sedikit bertentangan. Bagaimana mungkin kita merasa bahagia jika keinginan kita (untuk makan) tertahan !
Gede Prama dalam bukunya memberikan penjelasan yang sangat logis tentang kebahagiaan; Dijelaskan bahwa jika kita ingin mencontoh wajah kebahagiaan (bukan kesenangan), lihatlah pada wajah anak-anak, begitu polos , riang dan benar-benar bahagia. Kebahagiaan pada anak-anak ini ternyata mudah didapat karena keinginan mereka masih sedikit ! Jadi dalam penjelasannya dikatakan bahwa semakin sedikit keinginan kita makin dekat kita dengan kebahagiaan. Aturlah keinginanmu maka kebahagiaan akan semakin dekat ! Mengatur itu keinginan dapat kita latih dengan berpuasa.
Tuhan adalah Sat Chit Ananda (sumber dari kebahagiaan), jadi makna Upawasa (puasa) yang berarti mendekatkan diri dengan Tuhan, adalah juga berarti mendekatkan (mendapatkan) kebahagiaan tertinggi itu.
**dari berbagai sumber.
Advertisements

Mengenal Seorang Bhakta


Advesa sarva bhuutanam
Maitrah karuna eva ca
Nirmamo nirhamkarah
Sama duhkha sukhah ksami (Bhagawad Gita XII.13)

Artinya: Dia yang tidak membenci semua makhluk, selalu bersahabat, memancarkan cinta kasih, tidak serakah, tidak egois, seimbang dalam keadaan duka dan suka serta pemaaf. Dialah dapat disebut bhakta.

Orang yang berbhakti pada Tuhan disebut bhakta. Orang yang layak dapat disebut penyembah Tuhan yang disebut bhakta itu dinyatakan dalam pustaka suci Bhagawad Gita XII sloka 13 dan 14. Dalam Bhagawad Gita tersebut penyembah Tuhan yang baik disebut bhakta.
Istilah bhakta ini dinyatakan dalam Bhagawad Gita XII. 14 baris ke 4
Yo mad bhaktah sa me priyah.
Artinya: ia sesungguhnya bhakta-Ku yang terkasih.
Mereka yang disebut bhakta itu adalah yang:

  • samtusta atau selalu puas secara rokhani mensyukuri kenyataan hasil kerja yang dilakukan. Puas rokhani itu berpikir positif tidak mudah kecewa dan mengeluh, tetapi selalu berusaha meningkatkan keadaan ke arah yang semakin baik. Selanjutnya ikhlas menerima kenyataan yang dihadapinya.
  • Satatam artinya selalu teguh dalam meditasi.
  • Yogi artinya terus barusaha mengamalkan ajaran yoga.
  • Yata Atman artinya menguasai diri dengan kesucian Atman.
  • Drdha niscaya selalu kuat memegang keyakinannya.
  • Mayyarpita mano budhi artinya pikiran dan kesadaran budhinya selalu tertambat pada Tuhan.

Mereka yang demikian itulah dapat disebut bhakta atau penyembah Tuhan.

Sebelumnya pada sloka 13 dinyatakan adanya tujuh hal yang menyatakan seseorang dapat disebut bhakta yaitu:

  • Advesa sarva bhuutanam. Artinya tidak membenci semua makhluk. Maksudnya menjaga kemurnian eksistensi unsur-unsur yang membentuk alam dengan segala isinya. Unsur alam itu seperti tanah, air, udara, api dan akasa serta semua makhluk hidup yang ada. Dewasa ini unsur-unsur alam tersebut sudah banyak yang tercemar. Hal itulah yang menyebabkan kualitas dan kuantitas lingkungan hidup semakin menurun kemampuannya mendukung kehidupan semua makhluk terutama manusia. Hal ini menyebabkan gangguan hidup karena merosotnya kualitas lingkungan semakin mengkhawatirkan. Seyogianya kegiatan untuk melestarikan kualitas dan kuantitas lingkungan alam itu yang lebih diutamakan dalam mengamalkan ajaran agama. Kurangi kegiatan ritual yang berhura-hura, boros sumber daya alam, boros dana, waktu dan boros tenaga.
  • Maitrah artinya selalu membangun sikap bersahabat. Tema Kerajaan Majapahit adalah Mitreka Satata artinya selalu mengembangkan upaya persahabatan baik di dalam kerajaan maupun keluar kerajaan. Membangun kebersamaan yang bersahabat dengan konsep beragama zaman Kali. Swami Satya Narayana menyatakan pada zaman Kali hendaknya serius melihat kekurangan diri dan remehkan kelebihan diri sendiri. Sebaliknya serius melihat kelebihan orang lain remehkan kekuranganya. Dengan serius melihat kekurangan diri dapat menimbulkan tranformasi ke dalam diri menuju yang semakin baik. Dengan serius melihat kelebihan orang lain dan serius melihat kekurangan diri sendiri, maka kita akan manjadi sumber inspirasi orang lain. Orang yang terinspirasi itu akan mengubah sendiri kekurangan dan kelemahannya. Persahabatan yang demikian itu akan berkembang secara mandiri. Bukan persahabatan atas arahan pihak ketiga atau mereka yang berkuasa. Seperti perangko nempel di amplop, bukan seperti bersatunya lidi karena diikat oleh tali. Kalau lepas talinya maka lidi itu pun akan berantakan.
  • Karuna artinya welas asih. Rasa welas asih akan tumbuh dalam diri apabila aspek kemanusiaan atau humanity yang dominan dalam diri. Manusia terdiri atas vegetatif aspek, animal aspek, human aspek dan religius aspek. Vegetatif aspek adalah badan jasmani. Animal aspek membentuk hawa nafsu. Human aspek membentuk kebijaksanaan dan religius aspek membangun daya spiritualas. Welas asih akan berkembang dalam diri apabila religiuas aspek menjadi sumber pengembangan human aspek. Dengan demikian animal aspek atau hawa nafsu dan badan jasmani menjadi alat mewujudkan rasa welas asih itu. Karena hakikat religiusitas dan humanity itu adalah welas asih itu sendiri. Dengan welas asih itu akan terbangun kebersamaan yang benar-benar bersahabat. Bukan persaudaraan tanpa sahabat.
  • Nir mama artinya bebas dari keserakahan atau loba. Manawa Dharmasastra VII.49 menyatakan lobha itu sumber semua kejahatan. Serakah itu adalah mengambil lebih banyak dari haknya. Hak itu timbul karena melakukan kewajiban dengan benar. Mereka yang disebut bhakta tidak memiliki sifat serakah seperti itu.
  • Nir ahamkara artinya tidak egois. Sifat egois itu adalah sifat yang selalu merasa lebih penting dan lebih utama dari yang lain. Sifat yang ekslusif atau wiswawara itu meletakkan pihak lain lebih rendah dari dirinya. Seorang bhakta tidak memiliki sifat seperti itu. Bhakta itu mereka yang selalu memiliki sikap yang integratif dengan isi alam ini atau Swamitra. Seorang bhakta selalu bersikap egality atau mendudukkan pihak lain setara. Fraternity memandang pihak lain sebagai sahabat dan liberty selalu menghormati kemerdekaan siapa saja dalam mengembangkan fungsi dan profesinya. Seorang bhakta tidak pernah mengeluh atas eksistensi pihak lain.
  • Sama duhkha sukha artinya seimbang dalam suka dan duka. Suka dan duka itu diyakini sebagai karunia Tuhan. Tidak mungkin kita kena duka kalau tidak pernah berbuat membuat orang lain duka sebelumnya. Suka dan duka itu adalah buah perbuatan kita sendiri. Tuhan pasti melindungi kita dari duka kalau memang kita tidak sepantasnya menerima duka.
  • Ksami artinya menjadilah seorang pemaaf. Kalau ada pihak yang berbuat tidak baik pada diri kita itu artinya pihak lain telah mengambil beban dosa kita. Kalau kita balas dengan perbuatan tidak baik artinya kita mengambil dosa kita kembali. Kalau kita maafkan artinya kita tidak ada beban lagi atas perbuatan tidak baik itu. Reaksi positif akan muncul dalam diri kita kalau kita jadi seorang pemaaf.

Puasa Dalam Agama Hindu


Image by: PHDI

Puasa berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri dari kata Upa dan Wasa, di mana Upa artinya dekat atau mendekat , dan Wasa artinya Tuhan atau Yang Maha Kuasa. Upawasa atau puasa artinya mendekatkan diri kepada Tuhan yang maha esa. Puasa menurut Hindu adalah tidak sekedar menahan haus dan lapar, tidak untuk merasakan bagaimana menjadi orang miskin dan serba kekurangan, dan tidak untuk menghapus dosa dengan janji surga. Puasa menurut Hindu adalah untuk mengendalikan napsu Indria, mengendalikan keinginan. Indria haruslah berada dibawah kesempurnaan pikiran, dan pikiran berada dibawah kesadaran budhi. Jika indria kita terkendali, pikiran kita terkendali maka kita akan dekat dengan kesucian, dekat dengan Tuhan !

Jenis-jenis puasa dalam agama Hindu:
Puasa (Upawasa) yang wajib (diharuskan)

  • Siwaratri jatuh setiap panglong ping 14 Tilem kapitu atau Prawaning Tilem Kapitu, yaitu sehari sebelum tilem. Puasa total tidak makan dan minum apapun dimulai sejak matahari terbit sampai dengan matahari terbenam.
  • Nyepi jatuh pada penanggal ping pisan sasih kedasa (lihat kalender ketika libur nasional). Puasa total tidak makan dan minum apapun dimulai ketika fajar hari itu sampai fajar keesokan harinya (ngembak gni).
  • Purnama dan tilem, puasa tidak makan atau minum apapun dimulai sejak fajar hari itu hingga fajar keesokan harinya.
  • Puasa untuk menebus dosa dinamakan dalam Veda Smrti untuk Kaliyuga: Parasara Dharmasastra, sebagai “Tapta krcchra vratam” adalah puasa selama tiga hari dengan tingkatan puasa: minum air hangat saja, susu hangat saja, mentega murni saja tanpa makan dan minum sama sekali.

Pilihan ditentukan oleh jenis dosa yang dilakukan: membunuh binatang, membunuh/ mencederai sapi, hubungan kelamin terlarang (zina), makan makanan terlarang, membunuh manusia, dll.

Puasa yang tidak wajib
adalah puasa yang dilaksanakan di luar ketentuan di atas, misalnya pada hari-hari suci: odalan, anggara kasih, dan buda kliwon. Puasa ini diserahkan pada kebijakan masing-masing, apakah mau siang hari saja atau satu hari penuh. Ingat bahwa pergantian hari menurut Hindu adalah sejak fajar sampai fajar besoknya; bukan jam 00 atau jam 12 tengah malam.

Puasa berkaitan dengan upacara tertentu
misalnya setelah mawinten atau mediksa, puasa selama tiga hari hanya dengan makan nasi kepel dan air kelungah nyuhgading.

Puasa berkaitan dengan hal-hal tertentu
sedang bersamadhi, meditasi, sedang memohon petunjuk kepada Hyang Widhi, setiap saat (tidak berhubungan dengan hari rerainan) dan jenis puasa tentukan sendiri apakah total (tidak makan dan minum sama sekali) selama 1 hari 1 malam atau seberapa mampunya.

Memulai puasa dengan upacara sederhana yaitu menghaturkan canangsari kalau bisa dengan banten pejati memohon pesaksi serta kekuatan dari Hyang Widhi. Mengakhiri puasa dengan sembahyang juga banten yang sama. Makanan sehat yang digunakan sebelum dan setelah puasa terdiri dari unsur-unsur: beras (nasi) dengan sayur tanpa bumbu keras, buah-buahan, susu, madu dan mentega.
Makanan yang dianjurkan dan dilarang bagi umat Hindu ada dalam Manawa Dharmasastra buku ke V.
Silahkan lihat dan pelajari, usahakan menepati apa yang ditulis di sana. Wanita yang sedang haid ada dalam keadaan cuntaka, jadi tidak boleh berpuasa. Tidak ada perbedaan puasa antara laki dan perempuan.

Artikel lain :

  1. Puasa dalam Agama Hindu
  2. Tujuan Puasa Dalam Hindu
  3. Apakah Hindu Mengenal Puasa?
  4. Manfaat dan Tata Cara Puasa
%d bloggers like this: