Advertisements

Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Daily Archives: August 18, 2012

Berbakti Kepada Orang Tua


Dalam kitab Taittiriya Upanisad disebutkan bahwa ayah dan ibu itu adalah ibarat perwujudan Deva dalam keluarga: “Pitri deva bhava, matri deva bhava”. Vana Parva 27,214 menyebutkan bahwa ayah dan ibu termasuk sebagai Guru, di samping Agni, Atman, dan Rsi.

Di Bali ayah dan ibu disebut sebagai Guru Rupaka di samping Hyang Widhi sebagai Guru Svadyaya, pemerintah sebagai Guru Visesa, dan para pengajar sebagai Guru Pengajian.

Ada lima hal yang menyebabkan anak-anak harus berbakti kepada ayah dan ibunya, yang dalam kekawin Nitisastra VIII.3 disebut sebagai Panca Vida, yaitu:

  1. Sang Ametwaken, karena pertemuan (hubungan suami/ istri) ayah dan ibu maka lahirlah anak-anak dari kandungan ibu. Perjalanan hidup ayah dan ibu sejak kecil hingga dewasa, kemudian menempuh kehidupan Gryahasta, sampai mengandung bayi dan selanjutnya melahirkan, dipenuhi dengan pengorbanan-pengorbanan.
  2. Sang Nitya Maweh Bhinojana, ayah dan ibu selalu mengusahakan memberi makan kepada anak-anaknya. Bahkan tidak jarang dalam keadaan kesulitan ekonomi, ayah dan ibu rela berkorban tidak makan, namun mendahulukan anak-anaknya mendapat makanan yang layak. Ibu memberi air susu kepada anaknya, cairan yang keluar dari tubuhnya sendiri.
  3. Sang Mangu Padyaya, ayah dan ibu menjadi pendidik dan pengajar utama. Sejak bayi anak-anak diajari menyuap nasi, merangkak, berdiri, berbicara, sampai menyekolahkan. Pendidikan dan pengajaran oleh ayah dan ibu merupakan dasar pengetahuan bagi kesejahteraan anak-anaknya di kemudian hari.
  4. Sang Anyangaskara, ayah dan ibu melakukan upacara-upacara manusa yadnya bagi anak-anaknya dengan tujuan mensucikan atma dan stula sarira. Upacara-upacara itu sejak bayi dalam kandungan sampai lahir, besar dan dewasa: Magedong-gedongan, Embas rare, Kepus udel, Tutug Kambuhan, Telu bulanan, Otonan, Menek kelih, Mepandes, Pawiwahan.
  5. Sang Matulung Urip Rikalaning Baya, ayah dan ibulah pembela anak-anaknya bila menghadapi bahaya, menghindarkan serangan penyakit dan menyelamatkan nyawa anak-anaknya dari bahaya lainnya.

 

 

 

Advertisements

Upacara Agama Hindu


Banyak pertanyaan dari teman-teman non-Hindu, kenapa umat Hindu banyak sekali melakukan upacara dan biayanya sangat mahal. Adalah Ida Bhagawan Dwija menjelaskan secara gamblang apa tujuan upacara/upakara, yadnya dll. Mudah-mudah dapat memberikan pencerahan bagi kita semua.

Hindu memiliki 3(tiga) kerangka agama dasar yaitu: Tattwa, Susila, dan Upacara. Yang dimaksud dengan Tattwa adalah cara kita melaksanakan ajaran agama dengan mendalami pengetahuan dan filsafat agama. Susila adalah cara kita beragama dengan mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatan sehari-hari agar sesuai dengan kaidah-kaidah agama. Upacara adalah kegiatan keagamaan dalam bentuk ritual Yadnya, yang dikenal dengan Panca Yadnya: Dewa, Rsi, Pitra, Manusa, dan Bhuta Yadnya.

Yang berkaitan dengan pertanyaan tersebut diatas adalah kegiatan-kegiatan upacara yang lebih banyak terlihat dilaksanakan oleh umat Hindu di Bali, sedangkan segi-segi tattwa dan susila kurang diperhatikan, padahal menurut Weda Sruti, cara umat Hindu menjalankan agama ditiap “yuga” berbeda-beda.

Yuga adalah suatu siklus zaman yang lama waktunya di setiap zaman tidak menentu. Zaman keberadaan jagat raya ini dibagi dalam empat yuga(catur yuga), yaitu Kerta Yuga, Tritya Yuga, Dwipara Yuga, dan Kali Yuga.

Tiap periode (yuga) dikaitkan dengan unsur-unsur pokok:

  1. Perimbangan jumlah penduduk (manusia) dengan alam (kamadhuk)
  2. Pengaruh zaman pada sifat-sifat manusia
  3. Sumber-sumber alam yang tersedia

Zaman Kerta disebut sebagai zaman yang paling stabil, yaitu penduduk yang tidak banyak, sifat-sifat manusia yang baik/ positif, dan tersedianya sumber-sumber alam yang melimpah. Kestabilan itu selanjutnya makin berkurang sehingga di zaman Kali keadaan sudah jauh berbeda, terutama mengenai berkurangnya sumber-sumber alam, dan perilaku manusia yang makin jauh dari dharma.

Oleh karena itu Hyang Widhi melalui para Maha Rsi mengingatkan umat manusia agar pelaksanaan ajaran agama tidak sama pada setiap zaman. Di zaman Kerta dan Tritya, pelaksanaan upacara-upacara yadnya dengan menggunakan sarana upakara (banten) lebih menonjol daripada pengetahuan agama (tattwa) dan susila karena:

  1. Sumber-sumber alam masih melimpah
  2. Tingkat kecerdasan manusia masih rendah di mana segi positifnya manusia belum mempunyai pikiran macam-macam (masih lugu) dan gampang dibimbing oleh para Maha Rsi untuk melaksanakan ajaran agama

Di zaman Dwipara, apalagi di zaman Kali seperti sekarang ini cara kita melaksanakan ajaran agama harusnya lebih menekankan segi tattwa dan susila daripada upacara karena:

  1. Kemampuan alam menyediakan keperluan manusia berkurang disebabkan jumlah penduduk meningkat drastis sedangkan alam: lahan, tanaman dan binatang makin berkurang.
  2. Kecerdasan manusia meningkat namun dengan berbagai dampak negatifnya seperti: sad-ripu (kama, lobha, kroda, mada, moha, dan matsarya) yang semakin menonjol, dan umat makin sulit dibimbing oleh para pemuka agama selain karena jumlah mereka terbatas, juga karena banyak umat yang tidak menyadari perlunya siraman rohani.

Umat lebih mementingkan kebutuhan materi seperti sandang, pangan, papan, tetapi kurang memperhatikan kesehatan rohani, padahal kesehatan rohani akan membawa manusia pada perasaan yang suci, tenang, damai, dan bahagia. Dengan penjelasan di atas, Pandita ingin menyampaikan bahwa di zaman sekarang ini umat agar melaksanakan tiga kerangka agama Hindu dengan bobot yang lebih banyak pada segi pemahaman tattwa dan menjaga susila sebaik-baiknya.

Upacara-upacara Yadnya tetap perlu dilaksanakan namun diupayakan sesederhana mungkin dengan biaya upakara yang terjangkau oleh kemampuan masing-masing. Janganlah memaksakan diri mencari dana seperti menjual tanah warisan leluhur, mencari hutang yang besar, lebih-lebih dengan ber-KKN.

Di beberapa tempat ada penduduk suatu desa yang mencari dana membangun Pura atau melaksanakan upacara Yadnya dengan mengadakan tajen. Hal ini tentulah sangat bertentangan dengan ajaran agama, karena tajen adalah judi, dan judi dilarang dalam agama Hindu.

Para leluhur kita telah mengajarkan bahwa sesajen (banten) itu dapat disederhanakan. Oleh karena itu dilihat dari volumenya, bebanten dapat dikelompokkan pada tiga jenis, yaitu:

  1. Banten yang alit
  2. Banten yang madya
  3. Banten yang utama

Banten sederhana (alit) tidaklah berati nilainya lebih rendah daripada yang madya dan utama, demikian sebaliknya. Yang menentukan sukses tidak suksesnya upacara Yadnya tidaklah terletak pada banten saja, tetapi yang lebih penting adalah niat berkorban dalam kesucian yang tulus dan iklas sebagaimana hakekat pengetian “Yadnya”.

Dalam konteks ini ada tiga jenis Yadnya, yaitu:

  1. Satwika Yadnya
  2. Rajasika Yadnya
  3. Tamasika Yadnya

Satwika Yadnya adalah Yadnya yang dilaksanakan secara tulus, suci, dan sesuai dengan kemampuan. Rajasika Yadnya adalah Yadnya yang didorong oleh keinginan menonjolkan diri seperti kekayaan, kekuasaan, dan hal-hal yang bersifat feodalisme: kebangsawanan, kesombongan, penonjolan soroh, dll. Tamasika Yadnya adalah Yadnya yang dilaksanakan oleh orang-orang yang tidak mengerti pada tujuan Yadnya. Dengan demikian jelaslah bahwa Yadnya yang terbaik adalah Satwika Yadnya. Mengenai bebanten, ada disebutkan dalam lontar Yadnya Prakerti bahwa kita mempersiapkan banten sesuai dengan Desa, Kala, dan Patra.

Yang dimaksud dengan Desa adalah menggunakan bahan-bahan banten yang berasal dari lingkungan tempat tinggal kita. Kala adalah waktu yang tersedia untuk menyiapkan banten, dan Patra adalah dana yang tersedia untuk membeli bahan-bahan. Jika kita perhatikan sekarang, banyak sekali umat menggunakan bahan-bahan banten yang tidak berasal dari desa kita seperti buah apel, pir, anggur, dan lain-lain.

Buah-buahan lokal seperti sabo, manggis, ceroring, kepundung, wani, kucalcil. dll. hampir tidak nampak. Itu tandanya bahwa di kebun-kebun penduduk jenis buah-buahan itu sudah langka. Selain itu busung, biu, bahkan bebek dan ayam sudah didatangkan dari luar Bali. Busung datang dari Lombok atau Sulawesi, biu, bebek, dan ayam ber ton-ton didatangkan dari Jawa.

Keadaan seperti ini hendaknya menjadi perhatian kita yang serius dengan mengambil langkah-langkah yang positif misalnya: menanami lahan-lahan dengan bahan-bahan banten seperti pisang, kelapa gading, bunga-bungaan, buah-buahan, dll. Para peternak/ petani lebih giat lagi memelihara binatang seperti ayam, bebek, babi dll.

Langkah lainnya kembali kepada bahasan di atas, yaitu buatlah sesajen atau banten dengan sederhana tetapi tidak menyimpang dari sastra-sastra agama sehingga semua umat dapat melaksanakan upacara yadnya sesuai dengan kemampuan keuangannya masing-masing.

 

 

 

Ngastiti Déwa Sangkara


SARWA tumuwuh (entik-entikan) taler pinaka daging jagaté agung (Makrokosmos) lianan ring sarwa beburon miwah reriptan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sané pinih paripurna inggih punika manusa. Nanging sané ngawinang sarwa tumuwuh kawéntenané matiosan sareng reriptan Ida sané lianan inggih punika, yening manusa kaicén Tri Pramana, Sabda (bebaosan), Bayu (tenaga anggén malaksana lan tumbuh) miwah Idep (pikayunan) punika awinan manusa kanggehang pinaka jatma sané mautama, yéning sarwa beburon wantah kabekelin Dwi Pramana (sabda lan bayu), yéning sarwa tumuwuh wantah kaicén Eka Pramana inggih punika bayu kémanten santukan entik-entikan wantah prasida tumbuh ageng.

Sarwaning entik-entikan ring jagaté puniki wénten sané ngempu utawi déwannyané, pamekas ring pulo déwata Bali olih umat Hindu Bali rahina oton majeng sarwa tumuwuh punika kapakelingin ring rahinan sané kawastanin Tumpek Wariga. Yéning selehin malih, napiké sané kabaos Tumpek Wariga olih umat Hindu miwah napiké semertinyané majeng kahuripan ring jagaté?

Umat Hindu Bali salami puniki negesin tumpek wariga pinaka rerahinan sané ngaplug saptawara, pancawara, miwah wuku tur kapakelingin ngenem bulan (210 rahina) apisan ninutin paitungan kalénder Bali. Tumpek Wariga rauh ring rahina Saniscara Kliwon wuku Wariga, nepet rahina punika wantah patemuan saking saptawara (Saniscara), pancawara (Kliwon) miwah wuku Wariga.

Tumpek Wariga semertinnyané boya nyembah sarwa tumuwuh punika, nanging ngutamayang ngastiti Déwa Sangkara pinaka manifestasi Ida Sang Hyang widhi Wasa pinaka déwa sané ngurip miwah ngajegang sarwa tumuwuh, ngawinang tetumbuhan punika prasida mabuah akéh, madon, miwah mabunga. Sajabaning punika yéning kaselehin tetumbuhan taler banget maguna ngwantu nyalantarayang kahuripan manusa sukerta. Tumpek Wariga taler metuéling krama yéning malih 25 rahina pacang rauh rahinan Galungan, punika awinan kramané sami ngastiti majeng déwa sangkara mangda sakancan tetumbuhan sané kaduénang prasida mabuah akéh tur becik pacang kanggén pinaka sarana upacara nyanggra rahinan Galungan.

Rahinan Tumpek Wariga ring Bali kabaosang matios-tiosan olih umat Hindu ring sakatah wewidangan. Wénten sané maosang Tumpek Bubuh, Tumpek Uduh, Tumpek Pangarah miwah Tumpek Pangatag. Napi awinan kabaosang pinaka Tumpek Wariga santukan ring rahina punika nénten kapatutang ngusak-asik tetaruan miwah ngalap sakancan asil sarwa tumuwuh, nanging pinaka jalaran sané becik ngastiti karahajengan sarwa tumuwuh.

Kabaosang pinaka Tumpek Pangarah santukan pinaka arah-arah miteketin krama mangda ngajiang sarwa tumuwuh, prasida miara miwah nandurin malih, nyujuh kahuripan buana agung lan buana alit sané werdi lan shanti. Kabaosang pinaka Tumpek Pangatag santukan ring sakatah wewidangan ri kala kaupacarain punyan tetaruan punika lumrahnyané kaklupakin akedik tur kagantungin gantung-gantungan madaging sagau, miwah baas kuning lan kunyit tur punyannyané kagetok-getok.

Siosan punika Tumpek Wariga Kabaosang pinaka Tumpek Bubuh santukan ri kala tetaruan punika kaupacarain kulit taru kaklupakin akedik raris kadagingin sesajén bubuh sinambi nguncarang sehaa. Sehaa sané lumrah kauncarang ring Bali ri kala rahinan Tumpek Wariga inggih punika “dadong-dadong I Kaki nak kija? I Kaki ya jumah! Nak ngujang jumah? I kaki nak gelem! Gelem kénkén? Gelem nged! Nah né bubuh bang I Kaki, Nged, nged, nged…!” raris sesampun puput nguncarang sehaa punyan sarwa tumuwuh punika katok-tok ping tiga.

Sujatinyané, Tumpek Wariga suksmanyané pinaka silih tunggil utsaha sajeroning ngajegang tatwa Tri Hita Karana. Mangdané i krama sané sampun éling prasida nincapang rasa élingnyané tur sawaliknyané i krama sané lali prasida mawali éling ring Ida Hyang Widhi Wasa, tetep éling ngajiang anak tios miwah taler satata éling ngajiang palemahan sane wénten ring wewidangan.

Kramané nglaksanayang upacara Tumpek Pengatag puniki lumrahnyané kalaksanayang ring pakarangan miwah tegalan, sané katah madaging tetaruan. Gumanti Sang Hyang Déwa Sangkara satata ngicén waranugraha majeng i krama sami majalaran sarwa tetanduran. (nan)

 

 

 

%d bloggers like this: