Advertisements

Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Category Archives: Bali

CIRI-CIRI PENYAKIT NISKALA


Kita sering mendengar ada orang sakit namun setelah diperiksa ke rumah sakit atau dokter tidak ditemukan penyakitnya, tidak cukup puas dengan satu dokter atau satu rumah sakit kadang seseorang mencoba periksa ke dokter lain. Namun hasil sama yakni tidak ditemukan penyakitnya. Kita biasa bilang penyakit non-medis. Pada masyarakat Bali penyakit non-medis disebut dengan penyakit NISKALA bagaimana ciri-ciri penyakit non-medis atau niskala? dibawah ini adalah beberapa ciri-ciri penyakit non-medis yang dire-share dari Gedong Suci Usadha. semoga bermanfaat:

Image by: Bali Wisdom

Baca Baik2, Mungkin Saja Salah SATU PENYAKIT NISKALA Ini ada yang anda alami.

  1. KENA PEPASANGAN & SUKIK : Ciri cirinya Kaki Panas, Kesemutan, Kaki Kadang Terasa Dingin, Sakit Ketika Diinjakan, Sakit persendian ketika berjalan, tangan terasa kepet, tangan terasa kaku tak bisa diangkat, kumat saat sandikala atau menjelang rainan dan sudah mendapat pengobatan medis tapi tak kunjung sembuh.
  2. KENA GUNA GUNA/CRONCONG POLO : Ciri Cirinya Sakit Kepala Tak Kunjung sembuh, emosi meningkat, terkadang terasa pusing, pikiran terasa hampa, kepala terasa di tusuk tusuk dan sudah mendapat pengobatan medis tapi tetep kumat kumatan/tidak bisa sembuh.
  3. KENA BABAI : Cirinya Cirinya sering kesurupan, menangis tidak jelas jelas, terkadang teriak teriak ketika di tempat yang angker, rejeki nya seret, usahanya hancur, banyak masalah dll.
  4. ATMA KATURAN : Ciri Cirinya, Berat badan turun drastis, Penyakit datang silih berganti tak kunjung sembuh, terkadang bengong, bicara sendiri, badan terasa lemas, pikiran terasa kosong, selalu ingin mati, mimpi didatangi mahluk mahluk serem, dll.
  5. ATMA METEGUL : Ciri cirinya terasa seperti sesak nafas, badan terasa lemas, nafas tidak teratur, dan diobati medis masih kumat kumat/tidak sembuh.
  6. KENA CETIK : Ciri Cirinya Perut terasa sakit, mual, pingin muntah tapi susah, susah untuk makan, perut terasa kaku, sakit tembus dari dada ke punggung, lemas dan sudah diobati medis tapi kumat kumatan/tak kunjung sembuh.
  7. KEPALA DITUSUK PAKU/KAWAT GAIB: Ciri Cirinya tidak bisa tidur, Pikiran melayang, Depresi, kepala terasa berat dan sudah diobati tapi tak kunjung sembuh.
  8. KENA PENANGKEB : Ciri Cirinya warung/tempat usaha mendadak sepi, dilihat tutup oleh pelanggan, banyak masalah, mumet tinggal di tempat itu, banyak kariawan yang minta berhenti dll
  9. KARANG PANES/ADA PEPASANGAN : Ciri Cirinya angota rumah sering ribut dengan masalah sepele, sakit silih berganti tidak kunjung sembuh, Tidak betah tinggal dirumah, banyak orang mempropokasi keluarga,Mertua dan menantu selalu selisih paham dll
  10. UPAS DESTI : Ciri Cirinya, gatal tidak sembuh pada tubuh, sering kumat saat kalikaon atau malam hari, sudah melakukan pengobatan medis namun kumat kumatan/bahkan tak sembuh sembuh.
  11. JODOH METUTUP: Ciri cirinya susah mencari pasangan, malu dalam pergaulan, tidak PD bicara sama wanita, selalu ingin mengurung diri dikamar, sering ngambek pada orang tua.
  12. NUNAS PEMEGAT SEMARA, ciri cirinya asmara putus seketika tanpa sebab, dan orang yang bersangkutan seolah kayak depresi.
  13. TUMBAL RARE, ciri cirinya setiap hamil anaknya meninggal dalam kandungan, atau sulit punya keturanan. 
  14. KARANG TENGET, rumah di apit tukad, tusuk sate, rumah di samping setre, rumah bekas kuburan, rumah bekas merajan, dan lain sebagainya. 

Demikian ciri-ciri penyakit non-medis /niskala. semoga bermanfaat

Sekilas mengenai Gedong Suci Usadha: Terletak di Banjar Pengosekan Desa Mas Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar

Nomor yang bisa dihubungi: 081246887662

Advertisements

Pengalaman Perpanjangan SIM via Layanan SIM Keliling


Pelayanan SIM keliling sangat memberikan manfaat yang sangat positif bagi masyarakat luas, POLRI sangat memahami kebutuhan masyarakat hingga muncul lah ide untuk membuka layanan publik ini lebih dekat dengan masyarakat. Di kabupaten Badung, Bali. Jadwal layanan SIM keliling di Badung Bali.

Jadwal layanan SIM Keliling Badung

Saya memperpanjang SIM C yang akan habis masa berlakunya beberapa hari lagi. Kebetulan hari itu jadwalnya layanan SIM keliling badung ada di Pusat Pemerintahan (PUSPEM) Badung Sempidi tepatnya di MAL PELAYANAN PUBLIK (MPP). Jam 07:30 Wita saya sudah sampai dilokasi antrean pun sudah banyak maklum sehari layanan hanya dibatasi dibawah 100 orang. Sampai dilokasi saya pun menyerahkan KTP dan SIM asli, petugas pun dengan cekatan untuk fotocopy keduanya. Selanjutnya saya diberi map dan Formulir untuk diisi identitas diri dll. Biaya untuk fotocopy, map Rp. 10.000,-. Pengisian formulir selesai selanjutnya saya menunggu panggilan untuk test kesehatan dan test psikologi; waktunya test kesehatan tiba, test tensi, test pandangan selanjutnya test psikologi menggambar manusia dengan full body. Jangan khawatir tidak ada salah benar dalam hal gambar menggambar. ikuti imajinasi saja yang hehe.

Koleksi Pribadi: Suasana Antrean SIM Keliling MPP Puspem Badung

Tahap terakhir adalah foto dan penyesuaian data-data dari SIM yang lama dengan SIM yang akan dicetak. Proses foto dan cetak SIM hanya butuh waktu kurang lebih 10 menit. SIM pun selesai dengan sempurna. Disini kita membayar Rp. 75.000,- untuk SIM C dan Rp. 80.000,- SIM A

Koleksi Pribadi: Mobile Layanan SIM Keliling

Sebagai Tips:

  1. Datang lah sebelum jam 09:00 Wita karena petugas hanya menerima pendaftaran sampai jam 09:00.
  2. Tidak perlu melakukan test kesehatan dan test psikologi diluar karena di lokasi sudah disediakan(ditunjuk) tempat untuk test kesehatan.
  3. Yang perlu dicatat bahwa layanan SIM keliling hanya melayani perpanjangan SIM A dan SIM C

Demikian pengalaman peranjangan SIM lewat layanan SIM Keliling Babupaten Badung. Semoga bermanfaat.

Tentang Sugihan dan Makna Filosofisnya


Sebelum Hari Raya Galungan, umat Hindu di Bali melakukan beberapa kegiatan sebagai rangkaian persiapan untuk perayaan rahinan jagad galungan. Dimulai dengan hari Tumpek Wariga dan selanjutnya menjelang seminggu sebelum Galungan, dikenal dengan sugihan. Sugihan termasuk salah satu rangkaian upacara menyongsong Galungan. Sugihan terdiri atas tiga jenis yaitu :

1. Sugihan Pangenten atau Sugihan Tenten,
2. Sugihan Jawa
3. Sugihan Bali.

Masing-masing sugihan datang tiap 210 hari sekali. Ketiga sugihan secara berturut-turut dimulai dari Buda Pon wuku Sungsang disebut Sugihan Pangenten atau Sugihan Tenten. Setelah Sugihan Pangenten, diikuti dengan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali.

Image By: http://adaadi-disini.blogspot.sg | Tradisi Ngelawang

Makna Filosofis Sugihan

Sugihan Pangenten bermakna ngingetin atau mengingatkan. Dalam mitologinya berhubungan dengan keadaan Mpu Bradah ke Bali menghadap pada Empu Kuturan dan usaha untuk mengangkat salah satu putra Raja Erlangga untuk menjadi raja di Bali. Namun, Empu Kuturan menolak permintaan tersebut dan Empu Baradah pun tersinggung lalu langsung meninggalkan tanpa permisi untuk kembali ke Daha.

Ketersinggungan Mpu Baradah ini menimbulkan bhuta sebagai akibat lepasnya pengendalian diri. Karena itulah, diingatkan supaya pengendalian diri itu jangan sampai lepas agar bhuta kala dapat dikendalikan. Sejak Sugihan Pangenten inilah mulai dimasukkan sebagai Nguncal Balung yaitu dari wuku Sungsang sampai wuku Pahang, terutama sejak wuku Dungulan sampai dengan Buda Kliwon Pahang.

Nguncal balung artinya tulang sebagai pengukuh tubuh pada manusia dan binatang serta tempat melekatnya otot dan daging. Tanpa tulang, tubuh tidak akan mempunyai kekuatan. Nguncal balung maksudnya melepaskan kekuatan-kekuatan yang bersifat negatif yang mudah dipengaruhi oleh godaan sang kala tiga, dengan sifat-sifat kalanya, sehingga kembali ke wujud semula atau Sang Hyang Tiga Wisesa.

Dalam Siwaisme disebut Siwa, kala dalam hal ini berarti energi atau kekuatan. Sang Hyang Kala Tiga dalam wujud purusha (Kala Rudra) maupun dalam wujud pradana (Durga Murti), sehingga kembali dalam keadaan somia (tenang). Keadaan somia akan berpengruh terhadap semua ciptaannya.

Oleh sebab itu, pada saat nguncal balung ini kurang baik melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu seperti membuat rumah, tempat pemujaan termasuk penyuciaannya, membangun rumah tangga (kawin) dan sebagainya. Di samping itu, ada pula yang tidak mau membeli ternak untuk dipelihara atau dijadikan bibit.

Demikianlah pantangan-pantangan selama nguncal balung, yang pada dasarnya lebih banyak bertujuan mengurangi aktivitas-aktivitas jasmani agar dapat meningkatkan aktivitas rohani. Misalnya yang dilakukan oleh pertapa atau yogi. Orang kebanyakan dalam mengurangi aktivitas fisiknya dan lebih menekankan pada kegiatan ritualnya dapat melakukan kegiatan yang bersifat menambah pengetahuan tentang agama, kesenian, dan kemasyarakatan. Dengan kegiatan ini diharapkan umat Hindu dapat mengurangi hal-hal yang mengarah pada pemuasan hawa nafsu yang berlebih-lebihan.

Sehari setelah Sugihan Pangenten disebut Sugihan Jawa.. Makna sugihan ini adalah hari penyucian bhuwana agung yang disimbolkan dengan melakukan pemujaan di tempat-tempat suci dan perumahan. Penyucian dimaksud dilakukan secara sekala dan niskala. Bagi para wiku, sadaka, hal ini dilakukan dengan mengucapkan japa mantra. Sedangkan para yogin melakukan yoga semadi.

Selain penyucian juga dilaksanakan pamretistan Batara kabeh, dengan upacara marerebu di sanggah atau pemerajan yang dilengkapi dengan upacara pembersihan atau pangeresikan. Memakai sarana bunga harum. Adapun tujuannya adalah menstanakan para dewa dan pitara.

Upakara-upakaranya disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan bangunan suci yang ada. Untuk palinggih termasuk di dalamnya padmasana, meru, sanggah kemulan, taksu, panunggun karang dan lain-lainnya yang sejenis memakai pembersih (pangeresikan) berupa canang burat wangi lenga wangi, tirtha, dupa dilengkapi dengan ajuman dan daksina (disesuaikan dengan desa kala patra)

Palinggih yang lebih kecil memakai canang burat wangi lenga wangi. Sementara penyucian secara umum memakai pangerebuan yang terdiri atas satu tumpeng guru dengan alas kulit sesayut yang puncaknya diisi telur itik rebus, 3, 5, 7 buah tumpeng biasa dilengkapi dengan jajan, buah-buahan dan sampyan nagasari, sampyan peras. Dua sorohan alit 9 peras, tulung, sesayut) sangga urip, penyeneng, lis, bebuu, pangeresikan, canang genten, lauk, pauk/rerasmen yang terdiri atas daging ayam dipanggang, guling itik atau babi yang disesuaikan dengan kemampuan.

Jumlah tumpeng dan dagingnya disesuaikan dengan jumlah palinggih yang akan diupacarai marerebu. Misalnya untuk padmasana, sanggah kemulan dan sejenisnya menurut tradisi tidak dibenarkan memakai daging atau babi guling. Setelah dilaksanakan pembersihan secara sekala barulah dilaksanakan pembersihan secara niskala yaitu mengaturkan upacara pangerebuan. Apabila mempergunakan sebuah pangerebuan, diusahakan memakai guling itik yang terlebih dahulu diaturkan dari bangunan suci yang paling utama. Misalnya dari padamasana kemudian meru gedong taksu dan seterusnya sampai pada bangunan yang kecil-kecil terakhir dilebar di jaba atau halaman paling luar, disertai dengan segehan dan tetabuhan arak berem.

Sugihan Bali merupakan hari penyucian terhadap diri sendiri bhuwana alit. Upacara khusus pada hari ini sebenarnya tidak ada. Meski demikian, pada hari ini perlu dilaksanakan upacara memohon tirtha pangelukatan kehadapan sang sadaka atau sulinggih. Selain itu umat Hindu juga hendaknya melakukan sembah sebagaimana layaknya pada hari-hari kajeng kliwon yang lainnya. Semua pelaksanaan kegiatan sugihan ini hendaknya dapat dilaksanakan sesuai desa kala patra.

artikel ini diolah dari : Bali Post

%d bloggers like this: