Advertisements

Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Daily Archives: August 11, 2012

Tips Berpenampilan ke Pura


girl-sudi wadani

Image by: Sejarah Hari Raya Hindu; Ilustrasi

Menjaga penampilan cantik, rapi dan bersih pada saat melakukan persembahyangan bertujuan agar perasaan nyaman, sehingga persembahyangan pun bisa dilakukan dengan baik. Untuk bisa tampil cantik, tentu tidak harus menggunakan pakaian kebaya, make-up dan aksesori serba mahal. Semua harus disesuaikan dengan keperluan saja, jangan sampai berlebih yang bisa menimbulkan kesan pamer. Mulai dari pakaian atau kebaya, pilih yang tepat untuk acara persembahyangan, make-up dan rambut sewajarnya, demikian juga aksesori.

Semua umat harus bisa menyesuaikan dandanan ke pura. Terutama wanita remaja dan dewasa, harus benar-benar memperhatikan dadanan mulai dari kebaya, rambut dan make-up. Untuk kebaya gunakan kebaya berbahan kain, jika memilih bahan brokat usahakan menggunakan lapisan atau angkin agar tampilan terlihat lebih rapi dan nyaman dilihat. Sesuaikan pilihan kamen untuk ke pura atau ke acara lainnya. Gunakan kain atau kamen tenun dan batik untuk ke pura atau persembahyangan.

Sementara untuk acara pernikahan atau resepsi boleh menggunakan songket. Jangan memaksakan diri menggunakan pakaian serba mahal atau serba baru, agar terlihat lebih di antara yang lain. Justru hal ini akan membuat pikiran lebih tertuju pada penampilan daripada acara persembahyangan.

Untuk make-up gunakan seperlunya saja, sesuaikan dengan kebutuhan, padanan dengan pakaian dan aksesori. Kebaya atau pakaian yang digunakan ke pura biasanya dominan putih sehingga warna make-up yang digunakan usahakan warna-warna alami.

Dandanan rambut ke pura untuk gadis dan sudah menikah tentu berbeda. Wanita yang sudah menikah harus menggunakan sanggul yang bermakna bahwa wanita ini sudah diikat perkawinan. Sedangkan gadis remaja harus menata rambutnya dengan rapi tidak boleh diurai lepas. Akan lebih rapi lagi jika rambut ditata dengan pusungan gonjer, yang menandakan belum menikah atau masih bebas mencari pasangan hidup.

Dalam hal penampilan dan dandanan ke pura tidak perlu merasa berlomba-lomba menggunakan pakaian, atau aksesori terbaru. Terpenting dandanan rapi, bersih dan sesuai dengan situasi karena dalam sembahyang diperlukan ketenangan dan hati yang tulus melaksanakannya.

**Dari berbagai sumber. Artikel terkait : Etika Berbusana ke Pura

Advertisements

Arti Sanggah atau Pemerajan


Disetiap keluarga Hindu sering kita jumpai beberapa pelinggih yang dikelilingi pagar tembok, biasanya letaknya lebih tinggi dan berada pada sisi hulu rumah tinggal. Tempat itu merupakan tempat dilakukan persembahyangan atau upacara bagi keluarga yang bersangkutan. Tempat tersebut dinamakan Sanggah dan didalam sanggah terdapat minimal terdapat:

  1. Kemulan Rong Tiga, sebagai pelinggih Tri Murti/Leluhur.
  2. Linggih Sedahan Pengelurah.
  3. Gedong Linggih Taksu.

Fungsi Sanggah atau Pemerajan:

  1. Sebagai tempat suci untuk memuja: Hyang Widhi dan Leluhur/Kawitan.
  2. Sebagai tempat berkumpul sanak keluarga.
  3. Sebagai tempat kegiatan sosial

 

Pelinggih Rong Tiga


Pelinggih Rong Tiga merupakan Kahyangan Tiga yang berada dalam lingkungan keluarga atau dilingkungan masyarakat terkecil. Maksud dari pembangunan pelinggih Rong Tiga dalam lingkungan keluarga adalah agar kita selalu ingat akan kebesaran Tuhan dalam kaitannya dengan hutang kita yang disebut Tri Rnam.

Tri Rnam terdiri dari:

  1. Kepada Sanghyang Widhi Wasa, sebagai pencipta yang telah memberikan kesehatan dan keselamatan dengan segala kebutuhan hidup.
  2. Hutang kepada leluhur, terumata kepada bapak/ibu yang telah melahirkan,merawat dan membesarkan kita.
  3. Hutang kepada Rsi, yang telah berjasa mengajarkan kepada kita mengenai Agama, Kebudayaan dll

Dengan adanya pelinggih Rong Tiga, baik secara langsung maupun tidak langsung, kita telah diajarkan agar kita selalu melakukan Yadnya yang paling kecil, tujuan Yadnya adalah untuk menanamkan rasa suci dan iman, selain sebagai melebur dosa kita.

Setiap pembangunan pelinggih harus berisi pedagingan dalam tingkatan nista, madya maupun utama yang merupakan lambang kekuatan/kesucian jiwa.

Hal ini tersurat dalam lonta Dewa Tattwa: “Muwah yan ana angwangun Kahyangan, yan nora mapadagingan nista, madya, utama salwir ikang wewangunane maharan astaning Dewa, dudu Kahyangan Dewa, dadi umahing detia kubanda, tan pegatan andang wiadi sang madrawe Kahyangan, sama mangguh kagringan pamati-mati dadi salah ton, kerangsukan ring buta pisaca”.

Terjemahan bebasnya: Jika ada seseorang yang membangun Kahyangan tidak berisi pedangingan nista, madya, utama semua bangunan tersebut bukan stananya Hyang Widhi Wasa, bukan Kahyangan Dewa(Hyang Widhi) tetapi menjadi temoatnya detia kudanda, tidak putus-putusnya menderita yang memiliki Kahyangan itu. Sesuai dengan dengan isi lontar tersebut diatas makan upacara mendem pedangingan merupakan suatu ritual yang bermakna utpati dan stiti agar palinggih tersebut menjadi suci dan berfungsi sebagai lingga Dewa maupun Bhatara sebagai sinar suciNya Hyang Widhi.

%d bloggers like this: