Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Category Archives: Budaya

Jadwal Pementasan Kesenian Pada Pesta Kesenian Bali XXXV 2013


Pesta Kesenian Bali XXXV tahun 2013 telah di Buka pada hari sabtu 15 Juni 2013 di Monumen Bajra Sandhi, renon Denpasar. Seperti tahun sebelumnya Pesta Kesenian Bali XXXV berlangsung selama kurang lebih 1(satu)bulan dan setiap harinya akan dipentaskan kesenian di Ardha Candra Denpasar. Selain pentas seni Pesta Kesenian Bali juga menampilkan kuliner dan jajanan tradisional serta pusat kerajinan tradisional pun ambil bagian di beberapa outlet yang disediakan di sekitar lokasi.

Untuk lebih jelasnya pementasan kesenian pada Pesta Kesenian Bali XXXV adalah seperti pada Jadwal Berikut ini:

Jadwal Kegiatan Pesta Kesenian Bali XXXV

Jadwal Kegiatan Pesta Kesenian Bali XXXV

Jadwal Kegiatan Pesta Kesenian Bali XXXV

Jadwal Kegiatan Pesta Kesenian Bali XXXV

Jadwal Kegiatan Pesta Kesenian Bali XXXV

Jadwal Kegiatan Pesta Kesenian Bali XXXV

Jadwal Kegiatan Pesta Kesenian Bali XXXV

Jadwal Kegiatan Pesta Kesenian Bali XXXV

Pesta Kesenian Bali XXXV tahun 2013 mengambil  Tema: Membangkitkan Daya Kreatifitas dan Jati Diri.

 

Terima kasih Kepada : Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Artikel Terkait: 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Otonan/Weton: Ulang Tahun Adat Bali


Jika ulang tahun umumnya diperingati setiap 1 tahun sekali maka otonan dilakukan tiap 6 bulan (210) hari. Jatuhnya Otonan akan bertepatan sama persis dengan; Sapta Wara, Panca Wara, dan Wuku yang sama. Misalnya orang yang lahir pada hari Rabu, Keliwon Sinta, selalu otonannya akan diperingati pada hari yang sama persis seperti itu yang datangnya setiap enam bulan sekali (210 hari).

Berbeda dengan peringatan hari Ulang Tahun yang hanya menggunakan perhitungan tanggal dan bulan saja, dengan mengabaikan hari maupun wuku pada tanggal tersebut. Misalnya seseorang yang lahir tanggal 10 Januari, maka hari ulang tahunnya akan diperingati tiap-tiap tanggal 10 Januari pada tahun berikutnya (12 bulan kalender).

Otonan diperingati sebagai hari kelahiran dengan melaksanakan upakara yadnya yang kecil biasanya dipimpin oleh orang yang dituakan dan bila upakaranya lebih besar dipuput aleh pemangku (Pinandita). Sarana pokok sebagai upakara dalam otonan ini adalah; biyukawonan, tebasan lima, tumpeng lima, gebogan dan sesayut.

Menurut tradisi umat Hindu di Bali, dalam mengantarkan doa-doa otonan sering mempergunakan doa yang diucapkan yang disebut sehe (see) yakni doa dalam bahasa Bali yang diucapkan oleh penganteb upacara otonan yang memiliki pengaruh psikologis terhadap yang melaksanakan otonan, karena bersamaan dengan doa juga dilakukan pemberian simbol­-simbol sebagai telah menerima anugerah dari kekuatan doa tersebut.

Sebagai contoh : Melingkarkan gelang benang dipergelangan tangan si empunya Otonan, dengan pengantar doa : “Ne cening magelang benang, apang ma uwat kawat ma balung besi” (Ini kamu memakai gelang benang, supaya ber otot kawat dan bertulang besi).

Ada dua makna yang dapat dipetik dari simbolis memakai gelang benang tersebut adalah pertama dilihat dari sifat bendanya dan kedua dari makna ucapannya. Dari sifat bendanya benang dapat dilihat sebagai berikut :

  • Benang memiliki konotasi beneng dalam bahasa Bali berarti lurus, karena benang sering dipergunakan sebagai sepat membuat lurus sesuatu yang diukur. Agar hati selalu di jalan yang lurus/benar.
  • Benang memiliki sifat lentur dan tidak mudah putus sebagai simbol kelenturan hati yang otonan dan tidak mudah patah semangat.

Sedangkan dari ucapannya doa tersebut memiliki makna pengharapan agar menjadi kuat seperti memiliki kekuatannya baja atau besi. Disamping kuat dalam arti fisik seperti kuat tulang atau ototnya tetapi juga kuat tekadnya, kuat keyakinannya terhadap Tuhan dan kebenaran, kuat dalam menghadapi segala tantangan hidup sebab hidup ini bagaikan usaha menyeberangi samudra yang luas. Bermacam rintangan ada di dalamnya, tak terkecuali cobaan hebat yang sering dapat membuat orang putus asa karena kurang kuat hatinya.

Dalam rangkaian upacara otonan berikutnya sebelum natab, didahului dengan memegang dulang tempat sesayut dan memutar sesayut tersebut tiga kali ke arah pra sawia (searah jarum jam) dengan doa dalam bahasa Bali sebagai berikut: “Ne cening ngilehang sampan, ngilehang perahu, batu mokocok, tungked bungbungan, teked dipasisi napetang perahu “bencah” (Ini kamu memutar sampan, memutar perahu, batu makocok, tongkat bungbung, sampai di pantai menemui kapal terdampar).

Dari doa tersebut dapat dilihat makna:

  1. “Ngilehang sampan ngilehang perahu” bahwa hidup ini bagaikan diatas perahu yang setiap hari harus kesana-kemari mencari sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup ini. Badan kasar ini adalah bagaikan perahu yang selalu diarahkan sesuai dengan keinginan sang diri yang menghidupi kita.
  2. “Batu makocok” adalah sebuah alat judi. Kita teringat dengan kisah Pandawa dan Korawa yang bermain dadu, yang dimenangkan oleh Korawa akibat kelicikan Sakuni. Jadi hidup ini bagaikan sebuah perjudian dan dengan tekad dan keyakinan yang kuat harus dimenangkan.
  3. “Tungked bungbungan” (tongkat berlobang) adalah bambu yang dipakai kantihan yakni sebagai penyangga keseimbangan samping perahu agar tidak mudah tenggelam karena bambu bila masih utuh memang selalu terapung. “Perahu hidup ini” jangan mudah tenggelam oleh keadaan, kita harus selalu dapat mengatasinya sehingga dapat berumur panjang sampai memper­gunakan tongkat (usia tua).
  4. “Teked dipasisi napetang perahu bencah” (sampai di pantai menemui perahu / kapal terdampar). Terinspirasi dari sistem hukum tawan karang yang ada pada jaman dahulu di Bali, yakni setiap ada kapal atau perahu yang terdampar di pantai di Bali, rakyat Bali dapat dengan bebas menahan dan merampas barang yang ada .pada kapal yang terdampar tersebut. Maksudnya supaya mendapatkan rejeki nomplok, atau dengan usaha yang mudah bisa mendapatkan rejeki yang banyak.

Demikian luhurnya makna doa yang diucapkan dalam sebuah upacara otonan bagi masyarakat Hindu Bali yang dikemas dengan simbolis yang dapat dimaknai secara fisik maupun psikologis, dengan harapan agar putra­-putri yang menjadi tumpuan harapan keluarga mendapatkan kekuatan dan kemudahan dalam mengarungi kehidupan.

Dari: Berbagai sumber

Meditasi Pustaka Jati


Meditasi Pustaka Jati mengajarkan umat manusia untuk mampu menghidupkan berbagai rerajahan dan sastra jendra sehinggal seolah-olah hidup dan bernyawa sehingga dapat menerima(diisi) berbagai macam kekuatan gaib sesuai yang dikehendaki, selain itu meditasi ini juga mengajarkan bagaimana seseorang mampu memperoleh kekuatan gaib sehingga memiliki daya sakti untuk menghidupkan(nguripan) berbagai bentuk rerajahan dan sastra jendra dengan terbebas dari pastu kutuk dan Rajapinulah.

Mantra Meditasi Pustaka Jati:

Ong.. Niat ingsun ngrangsukang yoga samadhi Pustaka Jati kang prasida te gulun ngawiwenang angurip sehananing rerajahan lan sastra jendra tan kneng pastu kutuk lan rajapinulah.

Ong.. Hyang Widhi matemahan Bhatara Guru dumogi Paduka Bhatara prasida temurun saking adnyapura rikala ngulun angurip sehananing rerajahan lan sastra jendra lan dumogi paduka bhatara angurip sehananing rerajahan lan sastra jendra dumogi sehananing rerajahan lan sastra jendra pada kaurip matemahan mascaya lan uripcaya.

Ong..siddhirastu tat astu astu swaha. Ong..Sang Hyang Kawiwenang ngulun minta wara nugraha dumogi Paduka Bhatara prasida rumasuk masusupan ring angga sariranku rikala ngulun angurip sehananing rerajahan lan sastra jendra, melarapan antuk pangredanan paduka Bhatara ngulun ngawiwenang angurip sehananing rerajahan lan sastra jendra dumogi ngulun tan kneng pastu kutuk lan rajapinulah.

Ong.. siddhirastu tat astu astu swaha

Ong.. Sang Hyang Kunda Meles ngulun minta wara nugraha dumogi rikala ngulun angurip sehananing rerajahan lan sastra jendra, dumogi Paduka Bhatara prasida angurip mantramku dumogi mantramku asing mati bangun pada kaurip dumogi ngulun tan kneng pasti kutuk lan rajapinulah.

Ong..siddhirastu tat astu astu swaha

Ong..Sang Hyang Kunda Meles angurip mantramku asing mati bangun pada kaurip teka urip..teka urip..teka urip..

Sarana yang digunakan dalam meditasi pustaka jati adalah: Daksina Pejati, Canang Sari, Dupa dan Bunga. Sarana yang digunakan saat melakukan tapa di Mandala atau di rumah hanya canang sari dan dupa.

Dibawah ini adalah urutan(langkah-langkah)melakukan meditasi pustaka jati:

  1. Membuat tirtha pengelukatan; sarana yang digunakan: Toya anyar, samsam, bunga, dupa dan canang sari. Mantramnya sebagai berikut: Ong Pakulun Hyang Widhi, Dewata Nawa Sanga, muang para Sesepuh sami ngulun minta waranugraha wenang akarya tirta penglukatan sane pacang prasida anglukat para sisia muang manusa kabeh angurat dasa mala, sebel kandel maung mala petaka ring angga sarira para sisia muang manusa kabeh. Ong..sarwa klesa, sebel kandel. papa petaka sampurnam, wiraga nirwigna nirupadrawa bukti mukti palaswargam. Ong..sarwa papanca sampurnam. mala pataka sampurnam, klesa desa swasti purnam kapedrawa dewa widhi purnam. Ong.. atma petaka sampurnam, sarwa ragansa nirmala, sarwa dukita moksanam, atma papa sudha purnam. Ong..Papanca purnam, mala pataka sampurnam, atma papa sudha purnam, sarwa wigna winasanam. Ong..ayu werdi aswa werdi werdi pradnyan suka sriya darma sentanu werdinca santute sapta werdayah yatemero sweta dewa yawat gangga mahetale, cadya reka gangga netawa tawa tuyem jaya bawet. Ong.. Dirgayurastu tatastu astu. Ong..Awignamastu tatastu astu. Ong..Suba mastu tastu astu, sapta werdiastu tatastu astu swaha.
  2. Ngelinggihin Hyang Widhi, Dewata Nawa Sanga, Dewi Durga; Dengan Mantram: Ong.. Pakulun Hyang Widhi, Dewata Nawa Sanga muang para ssesepuh sami taler ratu Bhatari Siwa lan Bhatari Durga alinggih aneng daksina pejati, sesantun betara guru, mogi-mogi asung wara nugraha sakluiring pinuja dening ulun wastu purna jati, tan mamirudha ring sariran ulun. Ong..Siddhirastu tatastu astu swaha.
  3. Ngastawa; adalah menyampaikan maksud akan mempelajari atau melakukan tapa tertentu kepada Hyang Widhi, Dewata Nawa Sanga dan para sesepuh, mohon tuntunan, perlindungan dan panugrahan dilakukan oleh sesepuh.

Bersambung…