Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Monthly Archives: August 2012

Tumpek Wariga


Tumpek Wariga jatuh setiap 6(enam) bulan sekali atau 210 hari. Tumpek Wariga juga dikenal sebagai Tumpek Bubuh(bubuh=bubur) dan juga sering disebut sebagai Tumpek Pengatag(tumpek ngatag). Tumpek Wariga/Tumpek Bubuh/Tumpek Pengatag selalu jatuh pada hari Sabtu Kliwon Wuku Wariga. Bentuk upacara Tumpek Wariga berupa banten selamatan, yakni peras, tulung sesayut tumpeng, bubur gendar, tumpeng agung, penyeneng, tetebus dan serba harum-haruman. Banten tersebut dilengkapi ikan dari gulung babi atau itik. Sarana Upacara tersebut diatas terdapat juga widhi-widhana untuk badan sendiri pada upacara ini juga menggunakan sesayut cakrageni, dan dupa harum. Sesayut itu ditatab dengan cipta menjernihkan segenap pikiran menuju ketenangan batin yang mengakibatkan timbulnya Adnyana Sandhi.

Image by: facebook

Apa makna Tumpek Wariga? Tumpek Wariga merupakan refleksi rasa syukur kepada Hyang Widhi(Tuhan Yang Maha Esa) dengan manifestasiNya sebagai Dewa Sangkara atas karuniaNya berupa tumbuh-tumbuhan sebagai sumber makanan. Kita semua tentu mengetahui manfaat tumbuh-tumbuhan sangat besar bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Tumpek Wariga sesungguhnya mengingatkan kita bahwa manusia harus merawat alam. Manusia tak akan bisa hidup dengan baik tanpa didukung oleh lingkungan alam yang sehat. Lingkungan hidup yang baik adalah sumber kehidupan bagi manusia. Oleh karena itu agama Hindu selalu mengingatkan tentang hal ini melalui perayaan Tumpek Wariga.

Tumpek Wariga merupakan momentum untuk menyadarkan kita akan betapa pentingnya tanam-tanaman dalam arti luas, sebagai sumber makanan dan sumber zat asam yang sehat bagi kelangsungan hidup manusia. Cintailah lingkungan kita demi generasi muda yang sehat dan cerdas. Tindakan nyata yang bisa dilakukan adalah menyelamatkan pertanian kita. Tiap orang wajib menanam dan merawat tanamannya. Terpenting lagi agar tanaman bisa menghasilkan sumber makanan yang sehat bagi tubuh manusia, kendalikanlah penggunaan pestisida dan zat kimia lainnya. Kita perlu kembali ke pertanian organik dalam rangka mengembalikan kesehatan tanah yang pada akhirnya berpengaruh baik bagi kesehatan manusia.

Semoga tumbuh-tumbuhan senantiasa subur dan memberikan sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup. Odalan yang jatuh bertepatan dengan Tumpek Wariga antara lain: Odalan di Pura Manik Besakih, Pura Agung Wira Dharma Samudra Cilandak Jakarta Selatan, Odalan di Pura Tri Buana Agung Depok Jawa Barat, Odalan di Pura Puseh Desa Batuan Sukawati, Odalan di Merajan Pasek Bendesan Kekeran Mengwi.

Artikel terkait:

  1. Upacara, Etika dan Filosofi Tumpek Wariga
  2. Menyembah atau Menghormati Pohon?

Apakah Hindu Mengenal Puasa?


Ada pertanyaan menggelitik dari sahabat non-Hindu tentang puasa dalam Hindu, Bukan persoalan siapa penanya dan beragama apa, yang terpenting adalah jawaban atas pertanyaan itu dapat sebagai pengetahuan kita.

Puasa Hindu

Image by: PHDI

Pak, apa agama Hindu mengenal puasa? Seperti agama kami yang bisa untuk menebus dosa? . . .”. Saya menjawab ; “ Ah, anda bercanda, bagaimana mungkin Hindu tidak mengenal puasa. Sedangkan puasa itu sendiri berasal dari bahasa Sansekerta., Bahasanya kitab Weda.

PUASA SEBAGAI SARANAMWRAJA
Dalam Bhagawad Gita tertulis tentang Bakti:
“ Sarwadharma partityaja, mam ekam saranamwraja”
Artinya: lakukanlah kewajibanmu dengan sungguh-sungguh, anggaplah itu sebagai bentuk pemujaan terhadap Tuhan.
Kalimat diatas jelas seharusnya menuntun langkah hidup kita dalam keseharian. Kita sering kali terjebak dalam rakusnya kehidupan. Terperosok bahwa uang dan materi merupakan satu-satunya jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan. Kita terpedaya oleh keinginan yang tak terbatas. Kita hidup dalam mimpi dan melupakan kesadaran tertinggi ( Paratattva).
Keinginan dalam hidup sebenarnya adalah penjara ( ikatan duniawi) yang menjauhkan kita dari kebahagiaan. Banyak tokoh-tokoh suci dan orang ternama mengatakan “ Kebahagiaan akan mudah tercapai jika keinginan kita tidak banyak “ . Jadi manusia hanya dapat dibebaskan dengan membatasi keinginan-keinginannya. Jadi bagaimana umat Hindu mengurangi aneka keinginan itu ?
Mulailah dari makanan, Jangan Rakus, jangan mengambil lebih dari kebutuhan, jangan mengambil hak orang, dan jika terdapat hal berlebih, sumbangkanlah ! Maka umat Hindu mengenal jenis makanan yang Satvik.
Puasa adalah salah satu cara yang efektif untuk mengatasi itu. Puasa untuk terapi spiritual kerap dapat mengatasi kelemahan manusia karena egoisme. Puasa yang baik menurut Hindu yaitu pada saat Purnama dan tilem dimana terjadi perubahan gravitasi bumi akibat gravitasi bulan dan itu sering mengganggu manusia secara emosional. Selain itu puasa sering diyakini untuk mengistirahatkan tubuh dan mengeluarkan racun, Jadi dapat pula dilihat dari aspek kesehatan.
Akhirnya apapun yang dilakukan dan diyakini terhadap puasa itu, akan menjadi bermakna tinggi jika berpuasa adalah sebagai pemujaan kepada Hyang Widhi (`saranamwraja ), bukan dengan embel-embel menghapus dosa apalagi untuk publisitas!
PUASA DAN KEBAHAGIAAN HIDUP
Puasa dan kebahagiaan jika dipikirkan , mungkin merupakan sesuatu yang sedikit bertentangan. Bagaimana mungkin kita merasa bahagia jika keinginan kita (untuk makan) tertahan !
Gede Prama dalam bukunya memberikan penjelasan yang sangat logis tentang kebahagiaan; Dijelaskan bahwa jika kita ingin mencontoh wajah kebahagiaan (bukan kesenangan), lihatlah pada wajah anak-anak, begitu polos , riang dan benar-benar bahagia. Kebahagiaan pada anak-anak ini ternyata mudah didapat karena keinginan mereka masih sedikit ! Jadi dalam penjelasannya dikatakan bahwa semakin sedikit keinginan kita makin dekat kita dengan kebahagiaan. Aturlah keinginanmu maka kebahagiaan akan semakin dekat ! Mengatur itu keinginan dapat kita latih dengan berpuasa.
Tuhan adalah Sat Chit Ananda (sumber dari kebahagiaan), jadi makna Upawasa (puasa) yang berarti mendekatkan diri dengan Tuhan, adalah juga berarti mendekatkan (mendapatkan) kebahagiaan tertinggi itu.
**dari berbagai sumber.

Mengenal Seorang Bhakta


Advesa sarva bhuutanam
Maitrah karuna eva ca
Nirmamo nirhamkarah
Sama duhkha sukhah ksami (Bhagawad Gita XII.13)

Artinya: Dia yang tidak membenci semua makhluk, selalu bersahabat, memancarkan cinta kasih, tidak serakah, tidak egois, seimbang dalam keadaan duka dan suka serta pemaaf. Dialah dapat disebut bhakta.

Orang yang berbhakti pada Tuhan disebut bhakta. Orang yang layak dapat disebut penyembah Tuhan yang disebut bhakta itu dinyatakan dalam pustaka suci Bhagawad Gita XII sloka 13 dan 14. Dalam Bhagawad Gita tersebut penyembah Tuhan yang baik disebut bhakta.
Istilah bhakta ini dinyatakan dalam Bhagawad Gita XII. 14 baris ke 4
Yo mad bhaktah sa me priyah.
Artinya: ia sesungguhnya bhakta-Ku yang terkasih.
Mereka yang disebut bhakta itu adalah yang:

  • samtusta atau selalu puas secara rokhani mensyukuri kenyataan hasil kerja yang dilakukan. Puas rokhani itu berpikir positif tidak mudah kecewa dan mengeluh, tetapi selalu berusaha meningkatkan keadaan ke arah yang semakin baik. Selanjutnya ikhlas menerima kenyataan yang dihadapinya.
  • Satatam artinya selalu teguh dalam meditasi.
  • Yogi artinya terus barusaha mengamalkan ajaran yoga.
  • Yata Atman artinya menguasai diri dengan kesucian Atman.
  • Drdha niscaya selalu kuat memegang keyakinannya.
  • Mayyarpita mano budhi artinya pikiran dan kesadaran budhinya selalu tertambat pada Tuhan.

Mereka yang demikian itulah dapat disebut bhakta atau penyembah Tuhan.

Sebelumnya pada sloka 13 dinyatakan adanya tujuh hal yang menyatakan seseorang dapat disebut bhakta yaitu:

  • Advesa sarva bhuutanam. Artinya tidak membenci semua makhluk. Maksudnya menjaga kemurnian eksistensi unsur-unsur yang membentuk alam dengan segala isinya. Unsur alam itu seperti tanah, air, udara, api dan akasa serta semua makhluk hidup yang ada. Dewasa ini unsur-unsur alam tersebut sudah banyak yang tercemar. Hal itulah yang menyebabkan kualitas dan kuantitas lingkungan hidup semakin menurun kemampuannya mendukung kehidupan semua makhluk terutama manusia. Hal ini menyebabkan gangguan hidup karena merosotnya kualitas lingkungan semakin mengkhawatirkan. Seyogianya kegiatan untuk melestarikan kualitas dan kuantitas lingkungan alam itu yang lebih diutamakan dalam mengamalkan ajaran agama. Kurangi kegiatan ritual yang berhura-hura, boros sumber daya alam, boros dana, waktu dan boros tenaga.
  • Maitrah artinya selalu membangun sikap bersahabat. Tema Kerajaan Majapahit adalah Mitreka Satata artinya selalu mengembangkan upaya persahabatan baik di dalam kerajaan maupun keluar kerajaan. Membangun kebersamaan yang bersahabat dengan konsep beragama zaman Kali. Swami Satya Narayana menyatakan pada zaman Kali hendaknya serius melihat kekurangan diri dan remehkan kelebihan diri sendiri. Sebaliknya serius melihat kelebihan orang lain remehkan kekuranganya. Dengan serius melihat kekurangan diri dapat menimbulkan tranformasi ke dalam diri menuju yang semakin baik. Dengan serius melihat kelebihan orang lain dan serius melihat kekurangan diri sendiri, maka kita akan manjadi sumber inspirasi orang lain. Orang yang terinspirasi itu akan mengubah sendiri kekurangan dan kelemahannya. Persahabatan yang demikian itu akan berkembang secara mandiri. Bukan persahabatan atas arahan pihak ketiga atau mereka yang berkuasa. Seperti perangko nempel di amplop, bukan seperti bersatunya lidi karena diikat oleh tali. Kalau lepas talinya maka lidi itu pun akan berantakan.
  • Karuna artinya welas asih. Rasa welas asih akan tumbuh dalam diri apabila aspek kemanusiaan atau humanity yang dominan dalam diri. Manusia terdiri atas vegetatif aspek, animal aspek, human aspek dan religius aspek. Vegetatif aspek adalah badan jasmani. Animal aspek membentuk hawa nafsu. Human aspek membentuk kebijaksanaan dan religius aspek membangun daya spiritualas. Welas asih akan berkembang dalam diri apabila religiuas aspek menjadi sumber pengembangan human aspek. Dengan demikian animal aspek atau hawa nafsu dan badan jasmani menjadi alat mewujudkan rasa welas asih itu. Karena hakikat religiusitas dan humanity itu adalah welas asih itu sendiri. Dengan welas asih itu akan terbangun kebersamaan yang benar-benar bersahabat. Bukan persaudaraan tanpa sahabat.
  • Nir mama artinya bebas dari keserakahan atau loba. Manawa Dharmasastra VII.49 menyatakan lobha itu sumber semua kejahatan. Serakah itu adalah mengambil lebih banyak dari haknya. Hak itu timbul karena melakukan kewajiban dengan benar. Mereka yang disebut bhakta tidak memiliki sifat serakah seperti itu.
  • Nir ahamkara artinya tidak egois. Sifat egois itu adalah sifat yang selalu merasa lebih penting dan lebih utama dari yang lain. Sifat yang ekslusif atau wiswawara itu meletakkan pihak lain lebih rendah dari dirinya. Seorang bhakta tidak memiliki sifat seperti itu. Bhakta itu mereka yang selalu memiliki sikap yang integratif dengan isi alam ini atau Swamitra. Seorang bhakta selalu bersikap egality atau mendudukkan pihak lain setara. Fraternity memandang pihak lain sebagai sahabat dan liberty selalu menghormati kemerdekaan siapa saja dalam mengembangkan fungsi dan profesinya. Seorang bhakta tidak pernah mengeluh atas eksistensi pihak lain.
  • Sama duhkha sukha artinya seimbang dalam suka dan duka. Suka dan duka itu diyakini sebagai karunia Tuhan. Tidak mungkin kita kena duka kalau tidak pernah berbuat membuat orang lain duka sebelumnya. Suka dan duka itu adalah buah perbuatan kita sendiri. Tuhan pasti melindungi kita dari duka kalau memang kita tidak sepantasnya menerima duka.
  • Ksami artinya menjadilah seorang pemaaf. Kalau ada pihak yang berbuat tidak baik pada diri kita itu artinya pihak lain telah mengambil beban dosa kita. Kalau kita balas dengan perbuatan tidak baik artinya kita mengambil dosa kita kembali. Kalau kita maafkan artinya kita tidak ada beban lagi atas perbuatan tidak baik itu. Reaksi positif akan muncul dalam diri kita kalau kita jadi seorang pemaaf.