Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Tag Archives: tumpek wariga

Tuhan Pada Sebatang Pohon


Ketika umat Hindu melaksanakan ritual di bawah pohon, apa pandangan kita mengenai hal ini. Dan ketika kita melihat sebuah pelinggih atau altar di bawah pohon. Berbagai pernyataan akan muncul. Namun banyak pula yang memiliki anggapan bahwa pemujaan atau persembahyangan yang dilakukan di bawah pohon adalah suatu bentuk kepercayaan kuno, primitif, tidak memiliki pengetahuan bahkan tidak mengetahui Tuhan yang sejati, memuja roh-roh jahat yang menghuni. Adalah lebih baik jika pemujaan tersebut dilakukan diruangan tertutup dan bangunan yang berkubah atau tertutup. Namun tidak demikian menurut Vaidika Dharma.

Dalam ajaran Hindu, pemujaan atau persembah-yangan yang dilakukan d itempat terbuka lebih baik, karena menyatukan hubungan dengan alam sekitar yang merupakan satu-kesatuan. Begitu juga pemujaan di bawah pohon memiliki makna harmonisasi dengan alam dan penghormatan kepada ciptaan Tuhan yang meliputi segalanya. Vaidika Dharma atau Hinduisme memerlukan sebuah pohon untuk melengkapi suatu sarana sesaji dalam pemujaan. Ada beberapa pohon yang dianggap suci menurut Hinduisme seperti, pippala atau kalpavrksa (beringin), tulasi dan bilwa. Pohon tidak lebih dari tempat-tempat alam lainnya. Penghormatan Veda terhadap pohon adalah dengan memperhatikan beberapa hal. Pohon adalah makhluk hidup, maksudnya memiliki atma atau jiwa. Pohon adalah suatu pribadi yang memberikan arti penting dan memberikan kehidupan bagi makhluk lainnya, apalagi semakin besar pohon tersebut maka semakin banyak makhluk yang tidak dapat dilihat oleh mata jasmani berdiam di sana. Pohon juga sebagai simbolisasi, dia dapat mengingatkan kita pada Tuhan penguasa sejati seluruh alam semesta ini.

 

Pohon adalah salah satu elemen alam. Tidak ada satu tempatpun di seluruh manifestasi kosmis ini yang tidak diresapi oleh kehadiran Tuhan. Tuhan sebagai Paramatma bahkan berada di dalam atom-atom kecil. Jadi tidak salah bila umat Hindu atau seseorang melakukan pemujaan atau persembahyangan di hadapan pohon, mereka merasa kedekatan dengan alam justru menemukan kehadiran Tuhan. Dalam pemahaman ini apa bedanya sebatang pohon dengan dinding beton? tentu tidak ada. Ini hanyalah suatu tempat bagaimana kita bisa mencurahkan rasa bhakti kita terhadap Tuhan. Bila kita ke Bali, India, Jawa, Kamboja, Thailand dan Nepal yang masih memegang tradisi Veda Dharma, kita akan melihat suatu bangunan pelinggih atau altar-altar kecil di bawah pohon-pohon besar. Orang awam memiliki pandangan bahwa pohon tersebut adalah angker dan ada hantunya maka itu harus diberi sesaji. Tetapi sesungguhnya ada banyak bentuk kehidupan yang berdiam di sebuah pohon tersebut. Pada jaman dahulu apabila orang membuat desa, biasanya merabas hutan. Pohon beringin besar disisakan atau sengaja ditanam di tengah-tengah desa. Desa-desa di India dan setahu saya di Bali juga memiliki pola yang sama. Lalu pohon beringin ini menjadi pusat desa, selain Pura. Disana penduduk memberikan sesaji atau persembahan makanan. Mengapa seperti ini? Kita yakin bahwa begitu banyak makhluk-makhluk yang berdiam di sana dan untuk menjaga keharmonisan dan keseimbangan maka hal tersebut dilakukan. Begitu juga ketika kita memakai sebagai sarana sesaji atau banten seperti pemakaian pada banten saraswati dan pada waktu upacara atmavedana. Ketika kita menebang untuk keperluan tersebut dengan memperhatikan efeknya pada lingkungan baik sekala dan niskala.

Dalam Veda ada penghormatan terhadap pohon-pohon seperti halnya pohon kalpavrksa, yang biasa dilakukan oleh umat Hindu alukta, memberikan suatu persembahan di bawah pohon. Juga bahwa pohon kalpavrksa adalah suatu pohon yang berasal dari surganya para dewa yang dianggap memberikan keberuntungan. Lalu pohon bilwa yang merupakan tumbuhan yang sangat disukai oleh Dewa Siva sehingga dalam pemujaan archanam, tumbuhan bilwa sangat penting untuk upacara abhiseka dan prana pratistha archa Siva. Begitu juga dengan pohon Tulasi yang dipuja oleh para Vaishnava yang merupakan manifestasi dari Vrinda Devi. Tulasi salah satu tumbuhan yang disayangi oleh Tuhan Narayana. Setiap bagian tumbuhan ini diperlukan dalam segala bentuk pemujaan kepada Sriman Narayana. Daunnya dan bunganya digunakan sebagai garlan atau untaian yang dipersembahkan kepada Tuhan. Kayunya ada dalam kapas tercelup minyak yang digunakan untuk persembahan pelita atau dipam kepada Tuhan Narayana. Selain itu bila digiling menjadi pasta, dapat digunakan sebagai penyejuk yang dipersembahkan juga pada proses archanam. Dalam upacara homa atau agni hotra menggunakan kayu tulasi bahkan dalam upacara kematian juga digunakan, dipercaya sang atma dapat mencapai pembebasan dan berada di Vaikuntha Loka. Setiap yajna dan puja tidak akan sempurna tanpa kehadirannya. Tulasi menyatakan ideal seorang bhakta yang mencintai Tuhan dengan segenap raganya. Setiap bagian dari pohon Tulasi adalah persembahan pada Tuhan. Mungkinkah kita mendapatkan teladan lain sebaik pohon Tulasi dalam memuja Tuhan? Bahkan hanya dengan melihat dan berada didekatnya maka segera diingatkan akan Tuhan pujaannya. Karena itulah setiap keluarga umat Hindu tradisional biasanya dapat ditemukannya pohon suci Tulasi tersebut dan memujanya setiap hari. Tulasi juga disebut sebagai Tandiya. Istilah ini digunakan untuk menyatakan segala benda yang berhubungan dengan Tuhan.Semua tradisi bhakti dalam Hindu menyatakan bahwa Tandiya harus dipuja, karena pemujaan tersebut akan menganugerahkan bhakti yang semakin dalam kepada Tuhan. Oleh karena itu kita mengenal alat-alat yang digunakan untuk melakukan pemujaan seperti, kumbhan, vattil, vastram, genta, tripada, dan sebagainya. Karena itu alat-alat tersebut memiliki hubungan terhadap kehadiran Tuhan di suatu pemujaan. Pohon juga merupakan simbolisasi Tuhan, bahkan citra Tuhan sendiri. Citra Tuhan dapat diwujudkan dengan salagram sila, lekhya (yantra mandala), juga sebagai Daru Brahman. Tuhan dalam kayu disebutkan dalam upanishad “adau yaddaro plavate sindho pare apaurusam tada ravasva durdano tena yahi parasparam”, citra Tuhan ini, adalah kebenaran mutlak dalam sebatang kayu, yang tiada berbentuk oleh tangan makhluk fana, mengapung di atas samudra. Dengan memuja-Nya, kediaman tertinggi dan kesempurnaan yang paling akhir dicapai. Kebenaran mutlak dalam sebatang kayu ini dijelaskan didalam purana dan itihasa sebagai Daru Brahman, yang kita yakini dipuja di Jaganatha Puri Orissa, India Timur. Daru Brahman hadir dalam tiga wujud yang dikenal sebagi Jaganatha, Balabadra dan Subhadra. Para Vedanti memahaminya sebagai pengejawantahan Ananda (kebahagiaan), Cit (kesadaran tertinggi) dan Sat ( Kenyataan Tertinggi atau kekekalan) mereka adalah Trimurti Hindu, Vishnu, Rudra dan Brahma, sekaligus sebagai Adi-Parashakti. Para Tantrika memuja-Nya sebagai Adi Bhairava, Uttara Sadhaka dan Uttara Sadhika. Bagi Vaishnava dinyatakan sebagai Paravasudeva dengan berbagai shaktinya. Bagi Jaina sebagai Sang Jinam,dan bagi Buddhisme Vjrayana adalah Tri Ratna, sebagai yang tercantum dalam jnanasiddhi dari Indrabuthi tantra. Para Adivasi (orang pribumi) memujanya sebagai pohon jagant-kitung atau ada pula yang menyebutnya dengan nama Jakeri Penu, Murabi Penu dan Murabi Penu, dalam wujud pilar kayu. Orang Hindu jawa menyebut pohon Kalpa Vraksa sebagai ringin yang dianggap sebagi pohon yang memberikan keberuntungan dan menjaga desa mereka dan orang Hindu Alukta mengatakan bahwa pohon tertentu sebagai stana dari Puang Matua atau Dewata—Tuhan Yang Maha Esa.Persembahyangan di pohon memang ada dalam Hindu dan ini bukan keyakinan primitiv atau kuno bahkan kesesatan yang menjauhkan dari Tuhan Sejati. Umat Hindu dilatih dan diajarkan melihat kehadiran Tuhan yang universal, yang berada dimana-mana. Kita diajarkan untuk menghormati ciptaan Tuhan dan menggunakan kekuatan alam untuk kebaikan semua makhluk. Bahkan Tuhan telah mewujudkan Diri-Nya sebagai Daru Brahman, kebenaran mutlak pada sebatang kayu. Yang oleh cinta kasih-Nya kepada segenap ciptaan-Nya, terutama bagi mereka yang juga menyayangi ciptaan-Nya.

Artikel: By Halfian (Mahasiswa STAH DN Jakarta)

Advertisements

Menyembah atau Menghormati Pohon?


Banyak orang yang menilai bahwa kita, umat Hindu menyembah pohon(tumbuhan), penilaian atau lebih tepatnya tuduhan ini sangat tidak tepat. Dan biasanya ini dikarenakan ketidaktahuan dari mereka.

Avir vai nama devata,
rtena-aste parivrta,
tasya rupena-ime vrksah,
harita haritasrajah.
(Atharvaveda X.8.31).

Artinya: Warna hijau pada daun tumbuh-tumbuhan karena mengandung klorofil di dalamnya. Zat khlorofil itu menyelamatkan hidup. Hal itu ditetapkan oleh Rta yang ada dalam tumbuh-tumbuhan. Karena adanya zat itu tumbuh-tumbuhan menjadi amat berguna sebagai bahan makanan dan obat-obatan.

Ada tiga makhluk hidup penghuni bumi ini yaitu stavira (tumbuh-tumbuhan), janggama (hewan) dan manusia yaitu makhluk hidup yang memiliki “manu”. Manu berasal dari kata “man” artinya manah atau pikiran.

Tiga makhluk hidup penghuni bumi ini menurut Bhagawad Gita III.10 akan bisa hidup seimbang berdasarkan yadnya. Tumbuhan-tumbuhan dan hewan beryadnya pada manusia dan sebaliknya manusia pun harus beryadnya kepada tumbuhan dan hewan. Manusia memiliki idep yaitu akal budhi, maka manusialah yang seyogianya paling cerdas melakukan hidup untuk saling beryadnya pada stavira dan janggama.

Agama Hindu telah memberikan petunjuk pada manusia agar melakukan bhuta yadnya. Agastia Parwa menyatakan sebagai berikut: ‘’Bhuta yadnya ngarania taur muang kapujan ring tuwuh.’’ Maksudnya: Butha Yadnya bermakna mengembalikan kemurnian unsur-unsur alam dengan cara menghormati tumbuh-tumbuhan.

Mengapa tumbuhan tumbuhan demikian dihormati dalam ajaran Agama Hindu? Sebab, tumbuh-tumbuhan demikian besar peran dan fungsinya dalam kehidupan makhluk lainnya terutama manusia. Hal itu dinyatakan dalam kutipan Atharvaveda X.8.31 di atas. Manusia dan hewan tidak bisa hidup tanpa tumbuh-tumbuhan, karena tumbuh-tumbuhan berfungsi sebagai bahan makanan dan juga bahan obat-obatan. Apalagi tanaman hutan memiliki fungsi yang amat kompleks bagi kehidupan makhluk hidup terutama manusia. Dari tanaman hutan itulah akan berhembus oksigen yang tidak boleh absen dalam diri manusia. Kalau oksigen absen dalam tubuh manusia, maka manusia akan mati. Demikian juga zat klorofil yang dikandung oleh hijaunya daun dari tumbuh-tumbuhan itu amat berguna bagi kehidupan manusia. Mengapa demikian besar kegunaan khlorofil dari tumbuh-tumbuhan itu sudah ditetapkan oleh Rta yaitu hukum alam yang diciptakan Tuhan. Atharvaveda XVIII.I.17 menyatakan bahwa tumbuh-tumbuhan atau Osadha dinyatakan sebagai salah satu dari Tri Chanda yaitu tiga lapisan yang melindungi bumi dan yang paling utama dari bumi ini. Karena tanpa tiga lapisan yang melindungi bumi ini semua makhluk tidak akan bisa hidup. Tri Chanda yang lainnya adalah Apah dan vaataa yaitu air dan udara. Merusak eksistensi Tri Chanda adalah merupakan kejahatan yang terbesar di bumi ini. Dalam Sarasamuscaya 135 dinyatakan untuk mensukseskan empat tujuan hidup manusia maka terlebih dahulu yang wajib disejahterakan adalah alam lingkungan. Mensejahtrakan alam lingkungan sebagai hal yang pertama harus diperhatikan. Menurut Sarasamuscaya 135 itu dinyatakan dengan istilah Bhuta Hita. Bhuta artinya lima unsur yang membentuk alam, hita artinya sejahtera. Bhuta Hita artinya kewajiban untuk mensejahtrakan alam sebagai langkah awal mendapatkan kesejahteraan hidup. Menyangkut tumbuh-tumbuhan ruang hidupnya semakin didesak oleh pertumbuhan penduduk. Dahulu tumbuhan bisa lestari karena jumlah penduduk masih sedikit dan keinginannya pun masih sedikit. Dewasa ini penduduk semakin banyak keinginannya pun semakin banyak. Hal inilah yang menyebabkan tumbuh- tumbuhanpun semakin terdesak.

Tumbuh-tumbuhan yang dimanjakan oleh manusia adalah tumbuhan yang dirasakan memberi manfaat langsung secara kasat mata. Tumbuhan seperti tanaman hutan yang memberikan oksigen dan kesejukan sering kurang dimanjakan. Tumbuhan bahan makanan seperti sayuran dan buah-buahan dimanjakan tetapi ada beberapa jenis yang dirusak sebagai bahan makanan. Disemprot dengan pembasmi hama dan ada yang diberi lem perekat agar hemat dengan pembasmi hama. Dengan demikian akan lebih menguntungkan secara ekonomi bagi sementara petani dan pedagang sayur dan buah. Tetapi akan merugikan konsumen, karena konsumen harus makan sayur dan buah yang mengandung zat kimia berbahaya. Inilah sebagai akibat ketidakseimbangan penerapan ilmu eksakta dengan ilmu humaniora dan spiritual. Kok sampai hati demi keuntungan ekonomi meracuni sesama umat manusia dan tidak merasa berdosa. Ini bukan kesalahan tumbuh-tumbuhan dan ilmu eksakta. Tetapi semata-mata kesalahan manusia yang tidak menguatkan rasa kemanusiaanya dengan nilai spiritual agama yang dianutnya sehingga sampai hati demi keuntungan sendiri merugikan masyarakat luas.

Kerena demikian luasnya kegunaan tumbuh-tumbuhan seyogianya semua umat manusia sebagai apapun dia wajib melindungi tumbuh-tumbuhan apapun jenisnya demi kelangsungan kehidupan yang sehat dan bahagia di bumi ini.

Dalam pustaka Panca Wati dinyatakan adanya tiga zonasi sebagai areal mengembangkan tumbuhan yang disebut stavira itu. Tiga zonasi itu disebut Tri Vana yaitu Maha Vana, Tapa Vana dan Sri Vana. Maha Vana sebagai zona mengeksistensikan secara baik, benar dan tepat tanaman hutan. Tanpa hutan bumi ini akan menjadi gurun pasir. Tapa Vana areal untuk mengembangkan tanaman yang indah bentuk, baik batang, daun, bunga dan buahnya. Dalam areal Tapa Vana inilah idealnya dibangiun tempat pemujaan, pasraman, diorama kerokhanian, dharma sala dan bangunan lainya yang memperkuat penanaman nilai-nilai spiritual pada umat. Sri Vana adalah areal pemukiman yang wajib dieksistensikan tanaman produksi untuk memenuhi konsumsi masyarakat dan juga keteduhan serta kesejukan pada mereka yang bermukim di Sri Vana. Sayangnya di Sri Vana semakin tidak seimbang antara bangunan gedung dengan tanaman yang berfungsi sebagai taman indah di pemukiman.

Umat Hindu di Bali selalu melakukan rasa syukur atas besarnya manfaat tanaman(pohon) bagi kehidupan baik sebagai sumber makanan maupun oksigen. Dengan Tumpek Wariga yang selalu diperingati setiap 210 hari diharapkan umat Hindu selalu ingat untuk selalu menjaga kelestarian tananam untuk kelangsungan hidup.

Artikel terkait:

  1. Upacara, Etika dan Filosofi Tumpek Wariga
  2. Menyembah atau Menghormati Pohon?

Upacara, Etika dan Filosofi Tumpek Wariga


Avir vai nama devata,
rtena-aste parivrta,
tasya rupena-ime vrksah,
harita haritasrajah.
(Atharvaveda X.8.31).

Artinya: Warna hijau pada daun tumbuh-tumbuhan karena mengandung klorofil di dalamnya. Zat khlorofil itu menyelamatkan hidup. Hal itu ditetapkan oleh Rta yang ada dalam tumbuh-tumbuhan. Karena adanya zat itu tumbuh-tumbuhan menjadi amat berguna sebagai bahan makanan dan obat-obatan.

Hari ini, Sabtu Kliwon Wuku Wariga(04/08) merupakan hari Tumpek Wariga/Tumpek Pengatag/Tumpek Bubuh yang selalu dirayakan selama peradaban Umat Hindu di Bali. Ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atas anugerah berupa berbagai tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan berbagai jenis makanan baik untuk manusia maupun makhluk lainnya.

Dipandang dari aspek upacara, hari raya yang diperingati umat Hindu setiap 210 hari sekali ini sebagai bentuk pemujaan pada Sanghyang Sangkara sebagai dewa yang berstana atau memberikan kehidupan pada seluruh tanaman/tumbuh-tumbuhan.

Dari Sisi Etika, umat Hindu pada hari ini tidak diperbolehkan menebang pohon. Umat pun pada Tumpek Wariga tidak mau memetik buah, bunga, dan daun. Justru mereka diharapkan menanam pohon. Artinya, secara etika, umat Hindu ingin menyerasikan dirinya dengan alam, baik melalui upacara maupun tindakan nyata.

Makna filosofis Tumpek Wariga sebagai bentuk pemujaan kepada Sangyang Sangkara yang merupakan manifestasi dari Tuhan sesungguhnya bermakna bagaimana memelihara alam melalui tumbuh-tumbuhan sehingga kebutuhan oksigen dari seluruh makhluk hidup bisa terpenuhi.

Tumbuh-tumbuhan yang dinikmati oleh umat manusia memiliki arti yang sangat penting bagi kelangsungan hidup. Karena itu, harus ada timbal balik yang harus diberikan terhadap tumbuh-tumbuhan itu. Bentuknya, bisa saja dalam wujud upacara atau ritual sebagaimana yang dilakukan pada saat hari Tumpek Bubuh/Tumpek Wariga/Tumpek Pengatag ini.