Advertisements

Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Category Archives: Upacara

Upacara Bagi Yang Keguguran


Memiliki keturunan adalah harapan setiap keluarga. Bagi keluarga Hindu(Bali) keturunan adalah jalan menuju surga, keturunan masing-masing keluargalah yang akan melakukan upacara saat kedua orang tuanya meninggal. Harapan setiap keluarga tentu tidak selalu sesuai dengan kenyataan, ada beberapa hal yang menyebabkan keturunan tidak berhasil terlahir ke dunia antara lain; karena alasan medis(kesehatan) ada pula yang sengaja dilakukan karena berbagai faktor.

Photo by: Anonymous | paduarsana.com | Ilustrasi

Terlepas dari faktor diatas keguguran hendaknya mendapatkan upacara sebagai mestinya, bagaimana pun janin yang masih dalam bentuk gumpalan darah telah memiliki roh yang patut kita kasihi. Itulah alasan mengapa upacara atas keguguran hendaknya dilakukan dengan tepat. Tidak dipungkiri banyak diantara kita yang masih tidak mengetahui upacara apa yang harus kita lakukan saat keluarga kita mengalami keguguran atas janin yang dikandung.

Seperti yang disampaikan oleh Jero Mangku Dalang I Nyoman Badra kepada Bali Express (Jawa Post Group); Upacara atas keguguran yang dialami ditujukan kepada roh(niskala) sang jabang bayi terlepas apapun bentuk atau wujudnya tujuan inti dari upacara adalah untuk meminta maaf kepada leluhur dan agar roh tersebut dapat dengan tenang dialamnya dan tidak mengganggu keluarga tersebut.

Menurut Sastra Hindu, orang yang pernah keguguran itu sepatutnya diupacarai Pangepuh Ayu dan Gurupiduka. Dalam hal ini keguguran yang tidak disengaja mungkin disebabkan ibunya jatuh atau janin tidak kuat dalam rahim hingga mengalami keguguran. Sedangkan upacara untuk orang yang sengaja menggugurkan disebut Dhanda Barunana dan Gurupiduka.

Semoga Bermanfaat: Dari bali express

Advertisements

Proses Perceraian Hindu Bali


Perceraian sangat tidak dianjurkan dalam agama Hindu, kecuali suami atau istri berkhianat dan tidak setia. Didalam Rg Weda perceraian telah melanggar Yadnya yang sudah dilakukan. Pada konteks tertentu pasangan suami istri tetap memilih berpisah tentu dengan pertimbangan yang matang dari kedua belah pihak.

Photo Credit: Iamexpat.nl

Kita tentu tidak asing dengan Istilah Tri Upasaksi yaitu:
Butha Saksi, Manusa saksi dan Dewa Saksi dalam upacara perwakinan Hindu Bali.
Butha Saksi, Bebanten yang ditujukan (di ayab) dan diletakkan di bawah (biyakoanan, pekala-kalan, pedengan-dengenan) sebagai pralambang

Manusa Saksi, lebih kepada pengesahan perkawinan sesuai dengan undang-undang perkawinan acara ini dihadiri oleh masyarakat, dimana petugas desa/adat (prajuru). Akta Perkawinan adalah bentuk manusa sakti
selaku wakilnya sebagai manusa saksi.
Dewa Saksi, adanya bebanten yang dihaturkan kehadapan Sang Hyang Widhi dan pemerajan/sanggah sebagai perwujudan dewa saksi. Dengan prosesi perkawawinan yang dilalui tersebut diatas maka perceraian hendaknya dilakukan sejalan dengan proses perkawinan, maka perceraian patut dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:

  • Pasangan suami istri yang akan melangsungkan perceraian, harus menyampaikan kehendaknya itu kepada prajuru banjar atau desa pakraman. Prajuru wajib memberikan nasihat untuk mencegah terjadinya perceraian.
  • Apabila terjadi perceraian maka terlebih dahulu harus diselesaikan melalui proses adat, kemudian dilanĀ­jutkan dengan mengajukannya ke pengadilan negeri untuk memperĀ­oleh keputusan.
  • Menyampaikan salinan (copy) putusan perceraian atau akte perceraian kepada prajuru banjar atau desa pakraman. Pada saat yang bersamaan, prajuru banjar atau desa pakraman menyarankan kepada warga yang telah bercerai supaya melaksanakan upacara perceraian sesuai dengan agama Hindu.
  • Prajuru mengumumkan (nyobyahang) dalam paruman banjar atau desa pakraman, bahwa pasangan suami istri bersangkutan telah bercerai secara sah, menurut hukum nasional dan hukum adat Bali, sekalian menjelaskan swadharmamantan pasangan suami istri tersebut di banjar atau desa pakraman, setelah perceraian.

Perlu disadari kedua belah pihak akibat hukum perceraian adalah sebagai berikut.

  • Setelah perceraian, pihak yang berstatus pradana (istri dalam perkawinan biasa atau suami dalam perkawinan nyeburin) kembali ke rumah asalnya dengan status mulih daa atau mulih taruna, sehingga kembali melaksanakan swadharma berikut swadikara-nya di lingkungan keluarga asal.
  • Masing-masing pihak berhak atas pembagian harta gunakaya (harta bersama dalam perkawinan) dengan prinsip pedum pada (dibagi sama rata).
  • Setelah perceraian, anak yang dilahirkan dapat diasuh oleh ibunya, tanpa memutuskan hubungan hukum dan hubungan pasidikaran anak tersebut dengan keluarga purusa, dan oleh karena itu anak tersebut mendapat jaminan hidup dari pihak purusa.

Artikel diolah dari:
Keputusan Majelis Utama Desa Pekraman Bali(MUDP)

Suka Duka Santhi Nirwana Menyelenggarakan Metatah Massal


Suka Duka Santhi Nirwana akan menyelenggarakan Metatah Massal di bulan Juli 2019. Bagi semeton Hindu yang hendak bergabung pada acara ini bisa mulai mempersiapkan diri. Rencananya metatah massal akan diselenggarakan di Wantilan Desa Budaya Kertha Langu Jl. By Pass I Gusti Ngurah Rai Denpasar Timur, mulai Hari Jumat, tanggal 5 Juli 2019 pukul 16:00 Wita dimana pada hari ini dilakukan upacara Mekekeb, kemudian dilanjutkan dengan Metatah pada keesokan harinya Sabtu, tanggal 6 Juli 2019 pukul 06:00 Wita.

Upacara Metatan Massal ini akan dipuput oleh 3 sulinggih antara lain:

  1. Ida Pedanda Istri Sebali Tianyar Arimbawa dari Grya Tegeh, Karangasem
  2. Ida Pandita Mpu Agni Jaya Shree Bhaskara, Ashram Taru Petak, Singaraja
  3. Ida Rsi Bhagawan Agni Sathya Yoga Bhaskara Sebali, Ashram Sathya Yoga, Klungkung

Peserta Metatah Massal menghaturkan punia Rp. 300.000 ,- / peserta. Informasi lainya:

  1. Pakaian Peserta, Payas Bali – Bebas
  2. Peserta dan orang tua akan disediakan snack dan nasi kotak, bagi pengiring tambahan akan dikenakan punia sebesar Rp. 20.000,- /orang
  3. Peserta diharapkan membawa sarana persembahyangan(bunga, kewangen dan dupa) dan ditaruh dalam bokor.
  4. Pendaftaran paling lambat tanggal 30 Juni 2019.

Informasi dan Pendaftaran:

  1. JM Wayan Suwena, HP/WA: 081 337 938 344
  2. Pandita Agni Naradha Svamitra, HP/WA: 081 238 15 933
  3. Mangku Ratna, HP/WA: 081236 65 119
  4. Nyoman Darmawinata, HP/WA: 081 515 815 099

%d bloggers like this: