Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Category Archives: Upacara

Upacara Mulang Pakelem Umat Hindu di Lombok


UPACARA MULANG PEKELEM (Tradisi Tahunan Umat Hindu Di Lombok Untuk Keharmonisan Alam Semesta)

Upacara Mulang Pekelem dan Bumi Sudha tergolong upacara besar bagi umat Hindu di Pulau Lombok. Peserta yang hadir bukan hanya umat Hindu dari Pulau Lombok, tapi juga dari Bali, Jawa, dan Kalimantan. Upacara ini adalah refleksi dari konsep Tri Hita Karana.

Image by: Courtesy by Google

Konsep tersebut didasari untuk memberikan sebuah pengorbanan suci agar alam dibersihkan dari kekuatan jahat dan manusia bisa hidup dalam harmoni dengan alam di sekitarnya. Apalagi, berbagai bencana alam yang muncul akhir-akhir ini membuat ritual itu patut dilakukan. Sejatinya, ritual Mulang Pekelem dan Bumi Sudha adalah perjalanan panjang yang akan melelahkan, menyita waktu, pikiran, dan tenaga luar biasa. Pasalnya, selama tiga hari mereka akan mendaki Gunung Rinjani untuk sampai di Danau Segara Anak, yang diyakini sebagai pusat spiritual di Tanah Sasak.

Gunung Rinjani adalah gunung berapi tertinggi kedua di Tanah Air dengan ketinggian mencapai 3.726 meter dari permukaan laut. Bagi umat Hindu, gunung ini mempunyai nilai spiritual yang tinggi, magis, dan keramat. Seperti halnya Gunung Himalaya di India atau Gunung Semeru di Pulau Jawa, Rinjani menjadi sebuah tempat yang mempunyai getar kesucian yang tinggi. Tempat para Dewa kerap berkumpul untuk memberikan anugerah kehidupan. Di kawasan ini, tumbuh-tumbuhan dan binatang hidup dengan penuh vitalitas. Itu semua dipercaya berkat dukungan energi dari Sang Gunung. Air dari Danau Segara Anak mengairi sebagian besar sawah di Pulau Lombok dan menjadi sumber kehidupan bagi orang Sasak. Tak heran, Gunung Rinjani kerap disebut sebagai gunung kehidupan.

Image by: Courtesy by Google

Konon, kesucian Gunung Rinjani telah diyakini umat Hindu sejak abad XVI. Pada kurun waktu itulah Yadnya Mulang Pekelem dan Bumi Sudha pertama kali digelar. Saat itu, Kerajaan Karang Asem dilanda kemarau panjang yang mengakibatkan kekeringan dan wabah penyakit. Menghadapi bencana ini,

Raja Anglurah Karangasem melakukan sembahyang dan semadi di Gunung Sari. Dalam tapanya, Raja mendapat bisikan untuk melakukan Yadnya Bumi Sudha dan Mulang Pekelem pada Purnama Sasih Kelima di Danau Segara Anak, Gunung Rinjani. Ajaib, seusai ritual digelar, hujan turun membasahi bumi dan membawa berkah kesehatan bagi masyarakat setempat.

Sejak itulah, upacara tersebut hingga kini tetap diteruskan para penganut agama Hindu di Lombok. Kepatuhan dan kesetiaan mutlak atas adanya kehidupan yang lebih agung di luar kehidupan manusia membuat mereka mempertahankan tradisi ini. Mereka rela berkorban baik lahir dan batin agar mendapatkan sebuah tempat terdekat di tengah bumi. Sejatinya, semua itu dilakukan agar bisa merasakan getar kesucian Sang Hyang Widi Wasa
Perjalanan menuju Danau Segara Anak pun dilakukan. Dengan bekal seadanya, mereka memulai prosesi pengorbanan untuk mendapatkan berkah dari Yang Maha Kuasa. Bukit terjal nan mendaki, cucuran keringat serta udara dingin yang mulai menusuk tulang di ketinggian gunung, tak menyurutkan niat mereka. Laki-laki, perempuan, orang tua, dan anak-anak, seolah mendapatkan kekuatan gaib untuk melalui perjalanan yang sulit, layaknya pendaki gunung tangguh.

Tiga hari menjelang Purnama Sasih Kelima, rombongan akhirnya melewati separuh waktu perjalanan untuk sampai di Segara Anak. Di sebuah tempat yang menjadi pertemuan tiga sumber mata air yang disebut Poprok, mereka berhenti untuk memasang tenda dan sembahyang. Poprok juga disebut Tirta Pecampuan, mempunyai makna tersendiri bagi umat Hindu. Pertemuan tiga sumber mata air yaitu air dingin dari Segara Anak, air panas dari magma gunung, dan air belerang dari sumber yang lain, membuat tempat ini mempunyai energi spiritual yang kuat. Di tempat ini, mereka menghabiskan waktu dengan menginap dalam dinginnya kabut gunung.

Menjelang pagi, perjalanan spritual diteruskan. Dengan keikhlasan seorang hamba, mereka kembali mendaki bukit-bukit di lereng Rinjani. Keringat mulai menetes dan kidung mulai didendangkan untuk menghilangkan rasa penat.

Di beberapa tempat yang dianggap keramat, perjalanan sempat terhenti. Sejumlah anak muda baik laki-laki dan perempuan yang kuat sempat berebut masuk ke sebuah gua untuk sembahyang. Kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh mereka yang sudah kelelahan untuk beristirahat.

Delapan jam sudah mereka berjalan sejak berangkat dari Poprok. Letih dan penat melewati jalan yang terjal dan mendaki mulai dirasakan beberapa peserta upacara. Kendati begitu, semangat mereka untuk sampai ke tujuan tak pernah surut. Pelan tapi pasti. Hingga akhirnya, perjalanan sampai di tempat tujuan. Danau Segara Anak.
Di tempat yang cukup lapang di pinggir danau, dibangun sebuah pure sementara. Penjor sebagai tanda adanya upacara suci didirikan. Beberapa cerucuk yang menjadi tempat sesaji dipasang di sembilan arah mata angin. Sesaji dan bebanten yang akan ditaruh di cerucuk-cerucuk juga disiapkan.

Image by: Courtesy by Google

Beberapa peristiwa kecil terjadi saat berlangsungnya berbagai persiapan upacara. Danau yang tadinya tenang, tiba-tiba beriak ditiup angin cukup kencang. Kabut tebal pun menutupi permukaan danau. Di tengah suasana itu, suatu pesan gaib datang melalui seorang lelaki yang kerasukan. Pesan dari Dewa Bayu yang ternyata telah terlupakan untuk disebut dalam upacara.

Kerasukan saat malam tiba, pertanda dimulai upacara pembuka. Upacara Melaspas dan Nuhur begitu disebut. Melaspas dilakukan untuk menyucikan tempat upacara dari kekuatan jahat yang mengganggu. Sedangkan Nuhur dilantunkan sebagai undangan kepada para Dewata penunggu Gunung Rinjani untuk mengiringi persembahan.

Beberapa pesan gaib kembali muncul dengan berbagai cara. Di tengah upacara, seorang perempuan tiba-tiba kerasukan dan menyampaikan beberapa pesan dari dunia supranatural.

Namun dengan kekuatan keyakinan mereka, Melaspas dan Nuhur diteruskan hingga persiapan upacara mencapai kesempurnaan.
Ketika Purnama Sasih kelima telah tiba, Yadnya Bumi Sudha dan Mulang Pekelempun digelar. Gadis-gadis penari membuka upacara dengan menyajikan tarian suci untuk para Dewata dan para Kala agar tak mengganggu umat yang sedang upacara. Upacara kali ini dikhususkan untuk Yadnya Bumi Sudha. Bumi Sudha dilakukan lima tahun sekali sebagai upacara besar untuk menyeimbangkan jagad alit dunia manusia dengan jagad ageng. Penyeimbangan itu dilakukan dengan mengorbankan beberapa ekor hewan.

Melalui pengorbanan binatang-binatang itu, Bumi akan dibersihkan dari unsur-unsur jahat yang merusak. Unsur-unsur jahat yang terkadang masuk ke dalam tubuh manusia lewat sifat-sifat yang merusak alam. Doa-doa dipanjatkan kepada Sang Hyang Widi Wasa agar bumi dibersihkan dari pengaruh-pengaruh jahat. Manusia dibersihkan hatinya. Begitu pula alam, tempat hidup yang sempurna bagi semua makluk dibersihkan agar kehidupan harmoni bisa tetap terjaga.

Puluhan binatang disembelih sebagai korban agar dunia tenteram dan damai. Kerbau, sapi, kambing dan sembilan jenis binatang peliharaan lain dikorbankan untuk dipersembahkan kepada para Dewa di sembilan penjuru mata angin.

Sebagai puncak acara, sejumlah binatang liar dilepas ke alam bebas agar mereka beranak pinak dan menciptakan keseimbangan alam di Gunung Rinjani. Upacara Bumi Sudha pun ditutup menjelang malam. Kandang bintang dibakar sebagai simbol dikembalikannya segala unsur kehidupan ke haribaan alam. Prosesi pun berakhir untuk dilanjutkan esok hari, saat Yadnya Mulang Pekelem akan melengkapi ritual pengorbanan para pemeluk agama Hindu.

Lima hari telah dilalui. Perjalanan panjang yang melelahkan telah ditempuh. Tapi, kesetiaan dan pengorbanan kepada sang Hyang Widi Wasa masih dianggap belum lengkap. Maka pada hari keenam, disiapkanlah upacara Yadnya Mulang Pekelem. Melalui wayang, simbol-simbol dan makna Mulang Pekelem dijabarkan kepada seluruh umat.

Mulang Pekelem adalah bentuk lain pengorbanan umat Hindu kepada Tuhan. Pengorbanan ini dilakukan dengan menenggelamkan benda-benda berharga, seperti emas, perak, tembaga, dan uang logam ke dalam Segara Anak. Logam mulia yang dibentuk dalam berbagai simbol harapan. Bentuk Udang sebagai simbol kesuburan. Kura-kura sebagai simbol dunia. Ikan sebagi simbol kehidupan. Peripihan atau lempengan hewan, dan unggas sebagai simbol alam semesta.

Dengan pengorbanan ini, maka Dewata diharapkan akan menganugerahkan hujan dan kesuburan di Tanah Sasak. Dalam suasana penuh haru, emas, perak, tembaga, dan uang logam yang telah dibungkus dalam beberapa lembar kain siap dilarung oleh para pemuda. Dalam dinginnya kabut Rinjani, beberapa pemuda berlomba saling mendahului masuk ke Segara Anak. Seolah berlomba untuk menunjukkan kesetiaan dan pengorbanan terbaik mereka kepada Dewata Penguasa Segara Anak. Satu demi satu benda-benda berharga itu tenggelam dalam rahim danau suci Segara Anak.

Akhirnya semua simbol kebendaan dipersembahkan kepada para Dewata Penguasa Gunung Rinjani tuntas. Yadnya demi yadnya telah digelar. Bumi telah diruwat. Harmoni kehidupan telah dimohonkan kepada Sang Maha Batara Penguasa Jagad Raya. Saat purnama sasih kelima mulai muncul di atas langit, mereka melepaskan kepenatan dengan mementaskan tari topeng. Tari topeng untuk menutup perjalanan suci agar bumi dan seisinya dibebaskan dari Sang Betara Angkara.

Advertisements

Makna dan Mantram saat Melukat


Melukat bertujuan untuk membersihkan kekacauan simpul-simpul energi-energi negatif dari dalam diri kita dengan bantuan alam semesta. Sehingga lapisan-lapisan badan kita dibersihkan menjadi lebih segar-seimbang dan tranformasi pikiran kita juga dibersihkan menjadi lebih baik dan terang, dari rasa takut menuju ketabahan, dari kemarahan menuju welas asih, dari kebencian menuju perdamaian, dari keinginan menuju pelepasan, dari kegelapan menuju penerangan. Dimana semuanya adalah satu manunggal tanpa batas. Melukat memberikan manfaat yang sangat positif lahir dan bathin jika kita melakukannya secara tekun dan rutin, misalnya: setiap purnama dan tilem dan harus dilakukan dengan cara yang benar.

Melukat bukan cara untuk menebus dosa, perlu diingat bahwa hukum karma hanya bisa berhenti ketika kita sudah mengalami moksha [pembebasan sempurna].

Apo adyanv acarisam rasena sam agasmahi
Payasvan agna a gahi sam prayaya sam ayusa | [Rig Veda I.23.23]

Artinya: Sekarang kami menerjunkan diri ke dalam air ini, kami meleburkan diri manunggal dengan kekuatan yang mewujudkan air ini. Semoga kekuatan suci yang tersembunyi dalam air ini, menyucikan dan memberikan kekuatan suci kepada kami.

Seperti halnya alam semesta [bhuana agung], badan kita [bhuana alit] juga terbagi menjadi Tri Loka [tiga bagian].

  1. Bhur Loka pada badan kita adalah bagian pusar ke bawah sampai ujung kaki.
  2. Bvah Loka pada badan kita adalah bagian leher ke bawah sampai pusar.
  3. Svah Loka pada badan kita adalah bagian leher ke atas sampai ujung kepala.

Di masing-masing bagian tersebut terdapat kekacauan simpul-simpul energi negatif yang ketiganya saling berhubungan satu sama lain.

  • Pada Svah Loka titik pusat simpul energi negatif-nya terletak pada wilayah dahi, yang merupakan simpul energi dari kecenderungan pikiran atau persepsi pikiran kita.
  • Pada Bvah Loka titik pusat simpul energi negatif-nya terletak pada wilayah dada, yang merupakan simpul energi dari emosi dan perasaan kita, seperti misalnya : rasa sedih, rasa senang, rasa marah, rasa kecewa, dll.
  • Pada Bhur Loka titik pusat simpul energi negatif-nya terletak pada wilayah antara kemaluan dan dubur, yang merupakan simpul energi dari kecenderungan binatang kita, seperti misalnya : tidak ada sifat welas asih, tega, kejam, serakah, mementingkan diri sendiri, penuh nafsu keinginan, suka berkelahi, bertengkar, iri hati, dll.

Sangat penting dalam proses pembersihan ini, seluruh bagian dari badan, termasuk bagian yang tersembunyi, semuanya harus berinteraksi langsung dengan air tanpa halangan. Itulah sebabnya dilakukan tanpa busana. Karena hanya dengan badan yang sepenuhnya terbuka, disana seluruh kekacauan simpul-simpul energi negatif yang ada pada ketiga loka pada lapisan-lapisan badan kita akan dibersihkan secara menyeluruh. Sehingga proses pembersihan ini efektif, dimana energi suci alam semesta terdistribusi dengan baik, dapat lebur menyatu dengan keseluruhan lapisan badan fisik dan lapisan badan halus kita.

Mantram saat melukat: Om sarira parisudhamàm swàha  Artinya: [semoga badan fisik dan badan pikiran hamba menjadi suci].

Kalau melukat di mata air, ucapkan mantram tersebut di setiap pancuran [masing-masing] sebelum kita membasahi rambut, membersihkan seluruh bagian badan dan sebelum meminum airnya tiga kali. Kalau melukat di campuhan atau laut, ucapkan mantram tersebut sama juga sebelum kita membersihkan diri, tapi tidak usah meminum airnya. Lebih baik lagi kalau proses melukat ini [terutama di mata air dan campuhan], kita lakukan juga sambil mandi dan keramas [dengan sabun dan shampoo].

Jalasena–abhi sincata
Jalasena-upa sincata | [Atharva Veda VI.57.2]
Artinya: Mandilah [mandi seperti biasa] dan basahi seluruh bagian tubuh [semua bagian tubuh terkena air langsung] yang dipengaruhi [penyakit dan energi negatif] di dalam air suci.

**artikel diolah dari berbagai sumber

 

DUDONAN TAWUR TABUH GENTUH DAN KARYA IDA BHATARA TURUN KABEH PURNAMA KEDASA 2018 DI PURA AGUNG BESAKIH


DUDONAN TAWUR TABUH GENTUH DAN KARYA IDA BHATARA TURUN KABEH PURNAMA KEDASA 2018
DI PURA AGUNG BESAKIH

Image By: Leak Bali

*1*. Buda Umanis Dukut,
Rabu 7 Maret 2018, Pkl 15.00 wita :
– Ngaturang Pemiut
– Negtegang
– Ngunggahang Sunari
– Pengrajeg Lan Pengemit Karya
(Panitia Besakih)

*2*. Anggara Paing Watugunung,
Selasa 13 Maret 2018, Pkl 10.00 wita :
– Piuning
(Panitia Besakih)

*3*. Wrespati Wage Watu gunung,
Kamis 15 Maret 2018, Pkl 10.00 wita-19.00 wita :
– Mepepada Lan Bhumi Sudha
– Memben
(Panitia Besakih)

*4*. Sukra Kliwon Watu gunung,
Jumat 16 Maret 2018, Pkl 09.00 wita :
– Tawur Tabuh Gentuh
(Panitia Besakih)

*5*. Soma Pon Sinta,
Senin 19 Maret 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penglemek Tawur Tabuh Gentuh
(Panitia Besakih)

*6*. Buda Paing Landep,
Rabu 28 Maret 2018, Pkl 08.00 wita-15.00 wita :
– Nuwur Tirta
– Nedunang Ida Bhatara

*7*. Wrespati Pon Landep,
Kamis 29 Maret 2018, Pkl 10.00 wita :
– Melasti Tegal Suci
(Panitia Besakih)

*8*. Sukra Wage Landep,
Jumat 30 Maret 2018, Pkl 09.00 wita-19.00 wita :
– Mepepada
– Memben
(Panitia Besakih)

*9*. Saniscara Kliwon Landep,
Sabtu 31 Maret 2018, Pkl 09.00 wita :
– Puncak Karya Ida Bhatara Turun Kabeh
(Panitia Besakih)

*10*. Redita Manis Ukir,
Minggu 1 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*11*. Soma Paing Ukir,
Senin 2 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*12*. Anggara Pon Ukir,
Selasa 3 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar Lan Pengelemek
(Panitia Besakih)

*13*. Budha Wage Ukir,
Rabu 4 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

Image by: Leak Bali

*14*. Wrespati Kliwon Ukir,
Kamis 5 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*15*. Sukra Umanis Ukir,
Jumat 6 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Karangasem)

*16*. Saniscara Paing Ukir,
Sabtu 7 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Jembrana)

*17*. Redita Pon Kulantir,
Minggu 8 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*18*. Soma Wage Kulantir,
Senin 9 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Gianyar)

*19*. Anggara Kliwon Kulantir,
Selasa 10 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Kota Denpasar)

*20*. Buda Umanis Kulantir,
Rabu 11 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Bangli)

*21*. Wrespati Paing Kulantir,
Kamis 12 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*22*. Sukra Pon Kulantir,
Jumat 13 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*23*. Saniscara Wage Kulantir,
Sabtu 14 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*24*. Redite Kliwon Tulu,
Minggu 15 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Tabanan)

*25*. Soma Umanis Tulu,
Senin 16 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Badung)

*26*. Anggara Paing Tulu,
Selasa 17 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Buleleng)

*27*. Buda Pon Tulu,
Rabu 18 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Klungkung)

*28*. Wrespati Wage Tulu,
Kamis 19 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*29*. Sukra Kliwon Tulu,
Jumat 20 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*30*. Saniscara Umanis Tulu,
Sabtu 21 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
– Penyineban
(Panitia Besakih).

Ngiring dumugi prasida tangkil ngaturan pangubakti..🙏🙏

%d bloggers like this: