Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Tag Archives: puasa

Tujuan Puasa Dalam Hindu


Apakah tujuan puasa dalam agama Hindu?? apakah untuk menebus dosa? atau mendapatkan pahala?? jika tujuannya untuk menebus kesalahan atau dosa, begitu mudahnya dosa atau kesalahan dapat di hapuskan hanya dengan berpuasa? 
Puasa dalam ajaran Hindu dimaksudkan sebagai sebuah upaya mendisiplinkan diri terhadap makanan. Disiplin ini bisa bermakna mengurangi, membatasi atau menihilkan sama sekali makanan yang masuk ke dalam tubuh. Tujuannya bukanlah untuk mengumpulkan pahala kebaikan atau untuk menghapus dosa, tetapi puasa untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.

Puasa berasal dari kata Upa-Wasa, di mana Upa artinya mendekat dan Wasa artinya Yang Maha Kuasa. Jadi, puasa dalam Hindu merupakan bagian dari tapa yaitu unsur keimanan yang kelima dalam urutan sesuai ketentuan Atharwa Weda XII,1.1. Kata tapa mempunyai arti pengendalian terhadap napsu: napsu makan, minum, sex serta hiburan. Oleh karena itu kita dituntut hidup dalam koridor kesucian. Sedangkan aplikasi daripada tapa berbentuk brata yaitu pengendalian indria. 

Dalam berbagai agama maupun tradisi spiritual terdapat ajaran tentang puasa yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu oleh pengikut suatu ajaran. Secara umum tampaknya kegiatan puasa ini ditujukan kepada suatu pencapaian sebuah peningkatan rohani, karena melalui puasa orang belajar untuk memurnikan pikirannya. 

Karena setelah pikiran semakin murni, maka anasir-anasir rangsangan panca indra yang setiap hari dominan dalam mengendalikan persepsi bisa ditekan. Akhirnya puasa memberikan kejernihan pikiran untuk menyusun persepsinya, sehingga kualitas ucapan dan tindakan pun semakin baik. Kalau sudah demikian tentu yang dihasilkan adalah karma-karma baik. Tapi mengapa umat Hindu di Bali tak begitu populer dengan kebiasaan puasa?

“Sebenarnya bukannya puasa tak populer di Bali, tetapi pelaksanaannya bersifat pilihan, bukan sebuah keharusan,” ujar Drs. Made Surada, MA, Dekan Fakultas Dharma Duta, IHDN Denpasar beberapa waktu lalu. Menurutnya, mengapa seorang pemeluk Hindu tak diharuskan melakukan puasa, karena dalam Hindu ada dua jalan dalam mempraktikkan agama, yaitu Prawerti Marga dan Niwrti Marga. Prawerti Marga adalah jalan yang dilakukan atau dipilih oleh orang-orang awam atau masyarakat kebanyakan dan biasanya bercorak Bhakti Marga dan Karma Marga. Nah, dalam jalan bhakti khususnya di Bali lebih menonjolkan ritual atau upacara sebagai cara untuk mendekatkan diri dengan Tuhan. 

Jalan bhakti ini tidak mengutamakan cara memahami hakikat Brahman dengan pemahaman teologi atau tattwa lewat jnana atau mengasah sidhi lewat Raja Yoga, namun Bhakti Yoga dan Karma Yoga menitikberatkan pada aspek pengabdian, penyerahan diri, ketundukan hati, kecintaan, kepasrahan, dan lainnya. Dan perlu diketahui, bahwa dalam pelaksanaannya cara-cara demikian ini bisa dilakukan secara beramai-ramai. Misalnya piodalan di pura, Hari Raya Galungan-Kuningan, Hari Raya Saraswati dan sebagainya yang biasa dilakukan secara massal, bersamaan dan meriah.

Kemudian dalam cara kedua, yaitu Niwrti Marga adalah yaitu pelaksanaan beragama yang lebih bersifat individual, penggalian potensi pribadi, membangkitkan kemampuan jnana (pengetahuan), melakukan tapa, brata, yoga dan samadhi. Yang diutamakan dalam praktik beragama melalui jalan ini adalah pengalaman subjektif, kepuasan bathin lewat pemahaman intelek, budhi, dan kesadaran spiritual. Karena sifatnya serius dan lebih individualistik, maka mustahil bisa dilakukan ramai-ramai. Made Surada lantas memberi contoh: jika ada dua orang bertapa di pura, maka belum pasti keduanya memperoleh paica (anugerah tertentu), jadi ini sifatnya pribadi sekali antara manusia dengan penciptanya atau Ida Bhatara yang disembahnya.

Ajaran Niwrti Marga ini juga kemudian menelorkan konsep aja wera (jangan diumbar), maksudnya ajaran-ajarannya dirahasiakan, karena memang sangat metodis, teknis, yang membutuhkan ketelitian dan ketepatan. Kalau ajaran ini diumbar kepada umum, maka akan mungkin ada sembarang orang belajar tanpa pembimbing bonafid (nabe-guru). Sistem coba-coba dan otodidak ini kemudian yang kerap memunculkan orang menjadi gila, akibat metoda yang ngawur. Semua akibat ini semata-mata karena faktor alamiah belaka, di mana cara Raja Yoga atau Jnana Yoga banyak berhubungan dengan pikiran dan mentalitas. Dan berbagai sensasi mentallah yang biasanya kerap membuat kebingungan. 

Bila sensasi mental pelaku jnana dan Raja Yoga ini muncul akibat proses pembiakan berpikir dan proses pembangkitan energi-energi tertentu yang mestimuli alam mental, maka halusinasi yang dikira penampakan dewa-dewa akan menjadikan seseorang bingung dan tersesatkan. Dengan demikian kehadiran guru adalah mutlak sebagai ‘guide’ spiritual. Jadi istilah aja wera bukan dogmatis untuk memonopoli sebuah ilmu, tetapi memberikan jaminan keamanan bagi mereka yang ingin menempuh jalan ini, yaitu mencari guru.

Niwrti Marga melalui tapa, brata, yoga samadhi bertujuan untuk mencapai Nirbhija Samadhi (samadhi tertinggi) atau kemanunggalan dengan Pencipta. Bagi mereka yang menempuh jalan bhakti maupun Karma Yoga juga tujuannya pada kemanunggalan tersebut, tetapi perbedaannya adalah pada soal teknis. Ini disebabkan, karena agama Hindu memberikan banyak pilihan sesuai kemampuan dan kesenangan umatnya. Hindu bukanlah agama doktrin atau kitabiah, di mana segala sesuatunya harus persis seperti dalam Weda atau lontar-lontar tertentu. Kendati dalam praktik banyak variasi, namun esensinya tetap sama.

Dalam tahap tapa artinya mengendalikan energi. Tapa=tap=panas, yaitu energi tubuh. Untuk mengendalikan energi tubuh ditempuh lewat brata yaitu berpantang hal-hal yang merugikan usaha-uasa pengendalian tersebut. Bila sudah terkendali, maka usaha yoga atau penyatuan bisa lebih ringan. Dan kalau sudah demikian pencapaian samadhi tinggalah soal ketekunan dan karunia.

Kalau demikian adanya, manakah lebih tinggi mutunya, orang menempuh Niwrti Marga yang tekun berpuasa atau Prawrti Marga yang rajin melakukan ritual? Bagi Made Surada, kedua jalan sama saja, tergantung bagaimana individu pelakunya. Tuhan bersifat Sarvam Kaluidham Brahman (Tuhan ada di mana-mana) dan bisa dicapai lewat berbagai jalan. 

Meskipun tak pernah puasa, penekun Bhakti Yoga pun senantiasa mengarahkan pikirannya (dhyana) saban hari kepada Tuhan. Cobalah tengok setiap hari orang Bali mererainan, Kajeng-Kliwon, Anggara Kasih, Tumpek, Buda Kliwon, Nyepi, Saraswati, Pagerwesi, Siwaratri, Piodalan, mesaiban dan lusinan ritual kecil. Cara-cara ini akhirnya menyebabkan pelakunya saban waktu eling ring Ida Bhatara. Setiap hari ingat Tuhan sama nilainya dengan japa (mengulang-ulang nama Tuhan) atau dzikir.

Dengan demikian tradisi-tradisi di Bali perlu dipahami lebih mendalam dalam rangka mengetahui maknanya, bahwa ritual-ritual tersebut sesungguhnya disusun sedemikian rupa berdasarkan tingkatan jnana yang maha tinggi. Persoalannya adalah bukan berdebat soal jalan mana paling tepat dan baik, tetapi bagaimana kualitas pikiran, ucapan dan tindakan setelah menekuni berbagai jalan itu. Tiga komponen itulah parameter seseorang beragama atau tidak.

Terima kasih kepada: Majalah Raditya

Artikel terkait: Puasa Dalam Agama Hindu

Advertisements

Siwa Ratri, Malam Renungan Dosa


Rahina Siwaratri jatuh sehari sebelum Tilem sasih kapitu atau yang sering disebut Prawaning Tilem kapitu oleh masyarakat Hindu di Bali. Pelaksanaan Hari Siwaratri intinya lebih fokus kedalam diri sehingga lebih ditekankan pada pelaksanaan brata dan tapa.

Secara rinci Kegiatan- kegiatan yang dilaksanakan pada hari Siwaratri adalah sebagai berikut:

  1. Sebelum melaksanakan seluruh kegiatan, maka terlebih dahulu dilaksanakan persembahyangan yang diperkirakan selesai tepat pada jam 06.00 dinihari
  2. Selanjutnya tepat pada jam 06.00 dimulai kegiatan Monabrata (tidak berbicara), Upawasa (tidak makan dan minum) dan Mejagra (tidak tidur).
  3. Monabrata dilaksanakan 12 jam, Upawasa 24 jam, Mejagra selama 36 jam.

Dalam Agama Hindu selalu ada tingkatan Nista, Madya dan Utama yang bisa dipilih sesuai kemampuan, begitu pula tingkatan brata dalam melaksanakan Siwaratri. Ada tiga jenis brata Siwaratri, Upayasa (puasa) yaitu brata tidak makan dan minum, Monabrata yaitu puasa tidak berbicara dan Jagra yaitu tidak tidur. Dalam tingkatan nista Upayasa dilaksanakan selama 12 jam yaitu mulai jam 6 sore sampai jam 6 pagi keesokan harinya. Tingkat Madya dilaksanakan selama 24 jam yaitu dari pagi hingga pagi keesokan harinya, dan tingkat Utama dilaksanakan selama 36 jam yaitu dari pagi hingga sore keesokan harinya. Begitupun tingkatan bratanya, tingkat nista hanya jagra, tingkat madya upayasa dan jagra, dan utama melaksanakan ketiganya. Mengawali hari raya Siwaratri sebaiknya dimulai dengan melukat dan bersembahyang di pagi harinya, lalu jalankan brata sesuai kemampuan dan malamnya lakukan perenungan akan hakikat dan jati diri kita sebagai manusia.

Malam Siwaratri merupakan momen introspeksi diri, guna menyadari perbuatan-perbuatan dosa atau kekeliruan selama ini. Teks-teks atau Purana yang menjadi landasan perayaan Siwaratri cukup beragam seperti Padma Purana, Siwa Purana, Siwaratrikalpa dan sebagainya. Lewat kekawin Siwaratrikalpa karya Mpu Tanakung, umat tampaknya lebih
mudah memaknai esensi Siwaratri.

Siwaratri pada hakikatnya kegiatan Namasmaranâm pada Siwa. Namasmaranâm artinya selalu mengingat dan memuja nama Tuhan yang jika dihubungankan dengan Siwa Ratri adalah nama Siwa. Nama Siwa memiliki kekuatan untuk  melenyapkan segala kegelapan batin. Jika kegelapan itu mendapat sinar dari Hyang Siwa, maka lahirlah kesadaran budhi yang sangat dibutuhkan setiap saat dalam hidup ini. Dengan demikian, upacara Siwa Ratri sesungguhnya tidak harus dilakukan setiap tahun, melainkan bisa dilaksanakan setiap bulan sekali, yaitu tiap menjelang tilem atau bulan mati. Sedangkan menjelang tilem kepitu (tilem yang paling gelap) dilangsungkan upacara yang disebut Maha Siwa Ratri.

Untuk dapat mencapai kesadaran, kita bisa menyucikan diri dengan melakukan sanca. Dalam Lontar Wraspati Tattwa disebutkan, Sanca ngaranya netya majapa maradina sarira. Sanca itu artinya melakukan japa dan membersihkan tubuh. Sedang kitab Sarasamuscaya menyebutkan, Dhyana ngaranya ikang Siwasmarana, artinya, dhyana namanya (bila) selalu mengingat Hyang Siwa.

Di antara berbagai brata, mengunjungi tempat suci, memberi dana punya yang mahal seperti batu mulia (emas dan permata), melakukan berbagai jenis upacara Yajña, berbagai jenis tapa dan melakukan berbagai kegiatan Japa atau mantra untuk memuja keagungan-Nya,semuanya itu tidak ada yang melebih keutamaan brata Sivaratri.

Sejalan dengan pernyataan di atas, kakawin Sivaratri Kalpa menyatakan keutamaan Brata Sivaratri seperti diwedarkan oleh Sang Hyang Siva sebagai berikut:
”Setelah seseorang mampu melaksanakan Brata sebagai yang telah Aku ajarkan, kalahlah pahala dari semua upacara Yajña, melakukan tapa dan dana punya demikian pula menyucikan diri ke tempat-tempat suci, pada awal penjelmaan, walaupun seribu bahkan sejuta kali menikmati Pataka (pahala dosa dan papa), tetapi dengan pahala Brata Sivaratri ini, semua Pataka itu lenyap”.
”Walaupun benar-benar sangat jahat, melakukan perbuatan kotor, menyakiti kebaikan hati orang lain, membunuh pandita (orang suci) juga membunuh orang yang tidak bersalah, congkak dan tidak hormat kepada guru, membunuh bayi dalam kandungan+ seluruh kepapaan itu akan lenyap dengan melakukan Brata Sivaratri yang utama, demikianlah keutamaan dan ketinggian Brata (Sivaratri) yang Aku sabdakan ini” (Sivaratri kalpa, 37, 7-8)*

Sumber Sastra itihasa Dalam Itihasa, Sivaratri terdapat dalam Mahabharata, yaitu pada Santi Parva, dalam episode ketika Bhisma sedang berbaring di atas anak-anak panahnya Arjuna, menunggu kematian, sambil membahas dharma, mengacu kepada perayaan Maha Sivaratri oleh raja Citrabhanu, raja Jambudvipa dari dinasti Iksvaku. Raja Citrabhanu bersama istrinya melakukan upavasa pada hari Maha Sivaratri. Rsi Astavakra bertanya:
“Wahai sang raja, mengapa kalian berdua melakukan upavasa pada hari ini? Sang raja dianugerahi ingatan akan punarbhawa sebelumnya, lalu ia menjelaskan kepada sang rsi.

“Dalam kehidupanku terdahulu aku adalah seorang pemburu di Varanasi yang bernama Susvara. Kebiasaanku adalah membunuh dan menjual burung-burung dan binatang lainnya. Suatu hari aku berburu ke hutan, aku menangkap seekor kijang, namun hari keburu gelap. Aku tidak bisa pulang, kijang itu kuikat di sebatang pohon. Lalu aku naik sebatang pohon bilva. Karena aku lapar dan haus, aku tidak dapat tidur. Aku teringat anak istriku yang malang di rumah, menungguku pulang dengan rasa lapar dan gelisah. Untuk melewatkan malam aku memetik daun bilva dan menjatuhkannya ke tanah.” Kisah selanjutnya mirip dengan kisah Lubdaka di Indonesia.

Purana
Sivaratri juga dimuat dalam purana-purana, yang umumnya berisi kisah-kisah pemburu yang sadar, seperti berikut:
Pertama, Siva Purana (bagian Jnanasamhita). Pada bagian ini memuat percakapan antara Suta dengan para rsi, menguraikan pentingnya upacara Sivaratri. Seseorang bernama Rurudruha seperti telah disinggung di atas.

Kedua, Skanda Purana (bagian Kedarakanda). Pada bagian Kedarakanda antara lain memuat percakapan antara Lomasa dengan para rsi. Lomasa menceritakan kepada para rsi tentang si Canda yang jahat, pembunuh segala mahluk, sampai membunuh brahmana, akhirnya dapat mengerti dan menghayati apa yang disebut ”kebenaran” Dalam Skanda Purana juga diceritakan kisah seorang pemburu yang identik dengan kisah pemburu dalam Santi Parva.

Ketiga, Garuda Purana (bagian Acarakanda). Bagian ini memuat uraian singkat tentang Sivaratri diceritakan bahwa Parvati bertanya tentang brata yang terpenting. Siva menguraikan tentang pelaksanaan vrata Sivaratri. Seorang raja bernama Sudarasenaka pergi berburu ke hutan bersama seekor anjing. Rangkaian kisah inipun tidak berbeda dengan kisah pemburu di atas.

Keempat, Padma Purana (bagian Uttarakanda). Bagian ini memuat percakapan raja Dilipa denganWasista. Wasista menceritakan bahwa Sivaratri adalah vrata yang sangat utama, antara bulan Magha dan Palghuna. Dalam Padma Purana, pemburu itu bernama Nisadha. Berkat vrata Sivaratri yang dilakukannya berhasil membawanya ke Siva loka.

**Dari berbagai sumber.

Catatan: 

Begitu mudahkah untuk menebus dosa? termasuk dosa besar? tentu tidak. Setiap sumber bacaan termasuk lontar, purana dll hendaknya kita tafsirkan agar sesuai dengan filosifi hukum karma. Disekitar kita sering kita mendengar kasus pembunuhan, kasus pemerkosaan, perampokan, konflik horisontal dll, disaat yang sama kita juga melihat/menyaksikan ritual agama di negara kita begitu semarak, semangat beribadah begitu tinggi. Kasus-kasus yang kita lihat menunjukkan bahwa negara kita telah mengalami krisis moral spiritual karena kurangnya kesadaran jati dirinya. Ritual agama hanya sebagai rutinitas tanpa meninggalkan jejak kesadaran yang hikiki.

Mengenal Upacara Pawintenan


Pengertian

Upacara pawintenan adalah upacara mensucikan seseorang oleh Nabe yaitu Sulinggih Dwijati yang sudah berwenang melakukan pawintenan. Berwenang melakukan pawintenan, berdasarkan panugrahan (ijin) dari Nabe Sulinggih itu, atas pertimbangan kemampuan spiritual yang tinggi (jnyana), lamanya mediksa, dan pertimbangan-pertimbangan lain-lain.

Kata mawinten berasal dari dua kata dalam bahasa kawi yakni: mawa, dan inten. Mawa artinya: menjadi, dan inten artinya suci, bercahaya, dan sakral. Dari pengertian ini terkandung makna bahwa seseorang yang sudah mewinten diharapkan menjadi suci, berkharisma, dan sakral sehingga patut mendapat kedudukan sosial di masyarakat sebagai seorang ekajati. Ekajati artinya kelahiran yang pertama; bila dikemudian hari mediksa, ia akan menjadi seorang dwijati atau kelahiran yang kedua.

Siapakah yang boleh mawinten ?

Semua orang terutama yang sudah memasuki masa wanaprastin asrama. Wanaprastin asrama adalah masa seseorang sudah melewati gryahasta asrama yaitu masa berkeluarga, atau sudah mempunyai istri, dan anak-anak. Ketika anak-anaknya sudah mandiri, disitulah saatnya ia memasuki masa wanaprastin. Biasanya sudah berusia 50 tahun keatas.

Siapakah yang wajib mawinten ?

  1. Yang belajar Weda, membuat banten, mekidung, wajib mawinten dengan tataban banten Saraswati.
  2. Yang menjadi pemangku di Sanggah Pamerajan, pregina tarian sakral, undagi, pengayah Sulinggih, wajib mawinten dengan tataban banten Bebangkit.
  3. Yang menjadi pemangku di Pura atau Kahyangan Tiga, Jero Gede, Jero Bhawati, Jero Dalang, wajib mawinten dengan tataban banten Catur.

Makna banten tataban pawintenan

Banten tataban pawintenan bermakna sebagai penuwur Ida Bhatara yang dimohonkan sebagai pemberi kewenangan dan pesaksi atas upacara pawintenan. Bila menggunakan banten Saraswati, kita memohon kehadiran Bhatari Saraswati sebagai shakti Brahma. Bila menggunakan banten Bebangkit kita memohon kehadiran Bhatari Durga sebagai Dewi Uma, shakti Bhatara Siwa. Bila menggunakan banten Catur kita memohon kehadiran Bhatara Catur Dewata yakni: Ishwara, Brahma, Mahadewa, dan Wisnu. Makin tinggi tingkat tataban pawintenannya, maka makin beratlah kewajibannya melaksanakan yama dan niyama brata. Mengenai pengertian yama-niyama brata, harap baca tulisan saya tentang Satyam, Siwam, Sundaram.

Urutan upacara pawintenan

  1. Sudah melakukan upacara manusa yadnya lengkap bagi pasangan yang mawinten
  2. Nyumbah kedua orang tua yang masih hidup. Ini dilakukan karena bila nanti sudah mawinten dia tidak boleh nyumbah layon (bila ortunya meninggal dunia)
  3. Mapiuning dan nunas panugrahan di Sanggah Pamerajan dan di Pura-Pura yang dipandang perlu
  4. Mejauman ke Nabe yang akan melaksanakan upacara pawintenan
  5. Urutan Upacara pawintenan
  6. Mabeakala, tujuannya: mensucikan stula dan atma sarira tahap pertama.
  7. Mapetik (mepotong rambut), tujuannya: mensucikan stula sarira, dan memberi tanda adanya peningkatan status sebagai manusia yakni dari seorang walaka menjadi seorang ekajati.
  8. Merajah, tujuannya: menstanakan aksara-aksara suci (modre) di anggauta tubuh tertentu, sebagai persiapan nuwur Ida Bhatara pesaksi.
  9. Matemayut, tujuannya: mengikat panca mahabhuta dan panca tan matra yang ada di tubuh ybs. dengan norma-norma agama: trikaya parisuda, yama-niyama brata, waspada pada musuh-musuh: sad-ripu, sapta-timira, dasa-mala, dll.
  10. Masalempang, tujuannya: meresapkan makna kesucian skala dan niskala.
  11. Me-sangga-urip, tujuannya: menyiapkan kedudukan Ida Bhatara pesaksi di Siwa-Dwara
  12. Mapadamel dengan sad rasa, tujuannya: menyiapkan sang mawinten agar mampu menjalani kehidupan yang baik/tentram, yakni: tahan menderita (rasa pahit), tahan pada kesusahan (rasa asam), tidak mudah marah (rasa pedis), disiplin (rasa sepet), suka belajar (rasa asin), dan tidak sombong bila berhasil (rasa manis)
  13. Mejaya-jaya, tujuannya: memohon kesucian Sapta-Gangga, yakni cipratan tirta siwamba, sebagai symbol kesucian tujuh sungai suci di India: Gangga, Sindu, Saraswaty, Yamuna, Godawari, Narmada, dan Sarayu
  14. Metapak, tujuannya: menstanakan Bhatara di Siwa Dwara sang mawinten, dan sebagai tanda (tapak) maka Nabe meletakkan padma angelayang di ubun-ubun (siwa dwara) sang mawinten.
  15. Makarowista, tujuannya: mengukuhkan pe-tapakan dengan symbol Ongkara
  16. Makalpika, tujuannya: memohonkan umur panjang bagi sang mawinten
  17. Mabija, tujuannya: memohon panugrahan Bhatara Wisnu agar sang mawinten hidup makmur dan sejahtera.
  18. Masamadi, tujuannya: natab banten pawintenan, dan mohon wara nugraha Bhatara.

Berpuasa

Selama tiga hari setelah upacara pawintenan, ybs. wajib berpuasa “mutih” yakni dengan hanya memakan nasi putih dengan air dari bungkak nyuh gading.

Masida Karya dan Matirta yatra

Sore dihari ketiga, sang mawinten natab banten sida karya sebagai tanda berakhirnya prosesi upacara mawinten. Setelah masida karya, esoknya dilanjutkan dengan matirta yatra ke Pura-Pura atau tempat suci menurut keyakinan dan tradisi masing-masing warga.

**Bhagawan Dwija