Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Tag Archives: banten

Mengenal Upacara Pawintenan


Pengertian

Upacara pawintenan adalah upacara mensucikan seseorang oleh Nabe yaitu Sulinggih Dwijati yang sudah berwenang melakukan pawintenan. Berwenang melakukan pawintenan, berdasarkan panugrahan (ijin) dari Nabe Sulinggih itu, atas pertimbangan kemampuan spiritual yang tinggi (jnyana), lamanya mediksa, dan pertimbangan-pertimbangan lain-lain.

Kata mawinten berasal dari dua kata dalam bahasa kawi yakni: mawa, dan inten. Mawa artinya: menjadi, dan inten artinya suci, bercahaya, dan sakral. Dari pengertian ini terkandung makna bahwa seseorang yang sudah mewinten diharapkan menjadi suci, berkharisma, dan sakral sehingga patut mendapat kedudukan sosial di masyarakat sebagai seorang ekajati. Ekajati artinya kelahiran yang pertama; bila dikemudian hari mediksa, ia akan menjadi seorang dwijati atau kelahiran yang kedua.

Siapakah yang boleh mawinten ?

Semua orang terutama yang sudah memasuki masa wanaprastin asrama. Wanaprastin asrama adalah masa seseorang sudah melewati gryahasta asrama yaitu masa berkeluarga, atau sudah mempunyai istri, dan anak-anak. Ketika anak-anaknya sudah mandiri, disitulah saatnya ia memasuki masa wanaprastin. Biasanya sudah berusia 50 tahun keatas.

Siapakah yang wajib mawinten ?

  1. Yang belajar Weda, membuat banten, mekidung, wajib mawinten dengan tataban banten Saraswati.
  2. Yang menjadi pemangku di Sanggah Pamerajan, pregina tarian sakral, undagi, pengayah Sulinggih, wajib mawinten dengan tataban banten Bebangkit.
  3. Yang menjadi pemangku di Pura atau Kahyangan Tiga, Jero Gede, Jero Bhawati, Jero Dalang, wajib mawinten dengan tataban banten Catur.

Makna banten tataban pawintenan

Banten tataban pawintenan bermakna sebagai penuwur Ida Bhatara yang dimohonkan sebagai pemberi kewenangan dan pesaksi atas upacara pawintenan. Bila menggunakan banten Saraswati, kita memohon kehadiran Bhatari Saraswati sebagai shakti Brahma. Bila menggunakan banten Bebangkit kita memohon kehadiran Bhatari Durga sebagai Dewi Uma, shakti Bhatara Siwa. Bila menggunakan banten Catur kita memohon kehadiran Bhatara Catur Dewata yakni: Ishwara, Brahma, Mahadewa, dan Wisnu. Makin tinggi tingkat tataban pawintenannya, maka makin beratlah kewajibannya melaksanakan yama dan niyama brata. Mengenai pengertian yama-niyama brata, harap baca tulisan saya tentang Satyam, Siwam, Sundaram.

Urutan upacara pawintenan

  1. Sudah melakukan upacara manusa yadnya lengkap bagi pasangan yang mawinten
  2. Nyumbah kedua orang tua yang masih hidup. Ini dilakukan karena bila nanti sudah mawinten dia tidak boleh nyumbah layon (bila ortunya meninggal dunia)
  3. Mapiuning dan nunas panugrahan di Sanggah Pamerajan dan di Pura-Pura yang dipandang perlu
  4. Mejauman ke Nabe yang akan melaksanakan upacara pawintenan
  5. Urutan Upacara pawintenan
  6. Mabeakala, tujuannya: mensucikan stula dan atma sarira tahap pertama.
  7. Mapetik (mepotong rambut), tujuannya: mensucikan stula sarira, dan memberi tanda adanya peningkatan status sebagai manusia yakni dari seorang walaka menjadi seorang ekajati.
  8. Merajah, tujuannya: menstanakan aksara-aksara suci (modre) di anggauta tubuh tertentu, sebagai persiapan nuwur Ida Bhatara pesaksi.
  9. Matemayut, tujuannya: mengikat panca mahabhuta dan panca tan matra yang ada di tubuh ybs. dengan norma-norma agama: trikaya parisuda, yama-niyama brata, waspada pada musuh-musuh: sad-ripu, sapta-timira, dasa-mala, dll.
  10. Masalempang, tujuannya: meresapkan makna kesucian skala dan niskala.
  11. Me-sangga-urip, tujuannya: menyiapkan kedudukan Ida Bhatara pesaksi di Siwa-Dwara
  12. Mapadamel dengan sad rasa, tujuannya: menyiapkan sang mawinten agar mampu menjalani kehidupan yang baik/tentram, yakni: tahan menderita (rasa pahit), tahan pada kesusahan (rasa asam), tidak mudah marah (rasa pedis), disiplin (rasa sepet), suka belajar (rasa asin), dan tidak sombong bila berhasil (rasa manis)
  13. Mejaya-jaya, tujuannya: memohon kesucian Sapta-Gangga, yakni cipratan tirta siwamba, sebagai symbol kesucian tujuh sungai suci di India: Gangga, Sindu, Saraswaty, Yamuna, Godawari, Narmada, dan Sarayu
  14. Metapak, tujuannya: menstanakan Bhatara di Siwa Dwara sang mawinten, dan sebagai tanda (tapak) maka Nabe meletakkan padma angelayang di ubun-ubun (siwa dwara) sang mawinten.
  15. Makarowista, tujuannya: mengukuhkan pe-tapakan dengan symbol Ongkara
  16. Makalpika, tujuannya: memohonkan umur panjang bagi sang mawinten
  17. Mabija, tujuannya: memohon panugrahan Bhatara Wisnu agar sang mawinten hidup makmur dan sejahtera.
  18. Masamadi, tujuannya: natab banten pawintenan, dan mohon wara nugraha Bhatara.

Berpuasa

Selama tiga hari setelah upacara pawintenan, ybs. wajib berpuasa “mutih” yakni dengan hanya memakan nasi putih dengan air dari bungkak nyuh gading.

Masida Karya dan Matirta yatra

Sore dihari ketiga, sang mawinten natab banten sida karya sebagai tanda berakhirnya prosesi upacara mawinten. Setelah masida karya, esoknya dilanjutkan dengan matirta yatra ke Pura-Pura atau tempat suci menurut keyakinan dan tradisi masing-masing warga.

**Bhagawan Dwija

Advertisements

Tumpek Wariga


Tumpek Wariga jatuh setiap 6(enam) bulan sekali atau 210 hari. Tumpek Wariga juga dikenal sebagai Tumpek Bubuh(bubuh=bubur) dan juga sering disebut sebagai Tumpek Pengatag(tumpek ngatag). Tumpek Wariga/Tumpek Bubuh/Tumpek Pengatag selalu jatuh pada hari Sabtu Kliwon Wuku Wariga. Bentuk upacara Tumpek Wariga berupa banten selamatan, yakni peras, tulung sesayut tumpeng, bubur gendar, tumpeng agung, penyeneng, tetebus dan serba harum-haruman. Banten tersebut dilengkapi ikan dari gulung babi atau itik. Sarana Upacara tersebut diatas terdapat juga widhi-widhana untuk badan sendiri pada upacara ini juga menggunakan sesayut cakrageni, dan dupa harum. Sesayut itu ditatab dengan cipta menjernihkan segenap pikiran menuju ketenangan batin yang mengakibatkan timbulnya Adnyana Sandhi.

Apa makna Tumpek Wariga? Tumpek Wariga merupakan refleksi rasa syukur kepada Hyang Widhi(Tuhan Yang Maha Esa) dengan manifestasiNya sebagai Dewa Sangkara atas karuniaNya berupa tumbuh-tumbuhan sebagai sumber makanan. Kita semua tentu mengetahui manfaat tumbuh-tumbuhan sangat besar bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Tumpek Wariga sesungguhnya mengingatkan kita bahwa manusia harus merawat alam. Manusia tak akan bisa hidup dengan baik tanpa didukung oleh lingkungan alam yang sehat. Lingkungan hidup yang baik adalah sumber kehidupan bagi manusia. Oleh karena itu agama Hindu selalu mengingatkan tentang hal ini melalui perayaan Tumpek Wariga.

Tumpek Wariga merupakan momentum untuk menyadarkan kita akan betapa pentingnya tanam-tanaman dalam arti luas, sebagai sumber makanan dan sumber zat asam yang sehat bagi kelangsungan hidup manusia. Cintailah lingkungan kita demi generasi muda yang sehat dan cerdas. Tindakan nyata yang bisa dilakukan adalah menyelamatkan pertanian kita. Tiap orang wajib menanam dan merawat tanamannya. Terpenting lagi agar tanaman bisa menghasilkan sumber makanan yang sehat bagi tubuh manusia, kendalikanlah penggunaan pestisida dan zat kimia lainnya. Kita perlu kembali ke pertanian organik dalam rangka mengembalikan kesehatan tanah yang pada akhirnya berpengaruh baik bagi kesehatan manusia.

Semoga tumbuh-tumbuhan senantiasa subur dan memberikan sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup. Odalan yang jatuh bertepatan dengan Tumpek Wariga antara lain: Odalan di Pura Manik Besakih, Pura Agung Wira Dharma Samudra Cilandak Jakarta Selatan, Odalan di Pura Tri Buana Agung Depok Jawa Barat, Odalan di Pura Puseh Desa Batuan Sukawati, Odalan di Merajan Pasek Bendesan Kekeran Mengwi.

Artikel terkait:

  1. Upacara, Etika dan Filosofi Tumpek Wariga
  2. Menyembah atau Menghormati Pohon?

Doa Sarana Banten


 

Banten terdiri dari bahan pokok: daun, bunga, buah, air dan api. Seperti penjelasan dalam artikel sebelumnya banten mempunyai fungsi penting sebagai sarana upacara bagi umat Hindu, dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan banten pun ada Do’a-do’a yang wajib diucapkan untuk melengkapi upacara yang dilakukan. Berikut adalah Doa-doa yang ada kaitannya dengan sarana banten:

  1. Nunas lugra, Om ksama swamam mahadewa ya namah swaha.
  2. Doa membersihkan bekas banten sebelumnya, Om sri suketing busandari, katempuh muksah alah anyar ya namah.
  3. Doa memasang plawa, gantungan dll, Om kalasa gumelar, sarwa suci sukla ya namah swaha.
  4. Doa ngunggahang canang sari, sarwa banten: Om ta molah panca upacara guru paduka ya namah swaha.
  5. Doa ngunggahang dupa; Om ang dupa dipastra ya namah swaha.
  6. Doa ngaturang toya anyar; Om pakulun bhatara, ngulun angaturaken tirtha andawasuh tangan mwang suku ya namah swaha.
  7. Doa ngaturang segehan putih kuning di natar atau dibawah sanggah; Om sarwa bhuta preta byo namah.
  8. Doa ngaturang segehan agung, ditengah natar pekarangan, halaman rumah; Om sarwa kala preta byo namah.
  9. Doa ngaturang segehan manca warna, dilebuh, pemedal, pintu gerbang pekarangan rumah atau diperempatan jalan; Om sarwa durgha preta byo namah.
  10. Doa pada tiap2 segehan dengan metetabuh; Om ibek segara, ibek danu, ibek bayu premananing hulun.
  11. Ngayabang dupa/pasepan; Om agnir agnir, jyotir jyotir, om dupam samarpayami
  12. Doa nyiratang toya anyar/tirtha; Om mang parama siwa amertha ya namah swaha.
  13. Doa ngayabang atau ngaturang banten; Om dewa amukti sukam bhawantu, namo namah swaha.
  14. Ngelungsur tirtha; Om suksma sunya sangkanira, suksma sunia paranira.
  15. Ngetisang toya anyar/tirtha; Om, mang parama siwa ya namah swaha.
  16. Ngelungsur bebanten; Om suksma sunia lebar ya namah swaha.
  17. Yadnya sesa (mejot/mesaiban) kepada Dewa-dewi, di tempat air, api, nasi dan surya; Om atma tat twatma sudhamam swaha. Swasti swasti sarwa dewa sukha pradhana ya namah swaha.
  18. Yadnya sesa (mejot/mesaiban) kepada bhuta, yaitu di pertiwi/tanah; Om atma tat twatma sudhamam swaha. Swasti swasti sarwa bhuta,kala,durgha sukha pradhana ya namah swaha.
  19. Doa memulai makan; Om anugraha amrtha sanjiwani ya namah swaha.

Menghaturkan banten tidak hanya sekedar meletakkan banten yang kita persembahkan untuk Hyang Widhi tapi dalam setiap persembahan yang kita lakukan dengan sarana banten hendaknya diikuti dengan Doa-doa agar apa yang kita persembahkan tidak menjadi yadnya yang sia-sia.

artikel lain: Doa Sehari-hari agama Hindu