Advertisements

Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Tag Archives: merajan

Fungsi Sanggah Kamulan


Setelah mengerti dan memahami Sanggah Kemulan, bagaimana sejarahnya dan apa saja yang dipuja pada sanggah kemulan pada artikel kali ini kita akan memahami fungsi sanggah kemulan

merajan

Photo: Koleksi pribadi. Merajan di Belitang II OKU TIMUR

  1. Tempat Pemujaan Ida Hyang Widdhi
    Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa pengertian Hyang Kamulan, adalah Sanghyang Tri Atma yang panunggalannya adalah Hyang Tuduh atau Hyang Tunggal. Sanghyang Tri Atma yakni : Atma, Sivatma dan Paratma adalah Tuhan, dalam manifestasinya sebagai Roh. Menurut sistim Yoga, Ia adalah identik dengan Tri Purusa (Siva, Sadasiva dan Paramasiva) menurut filsafat Siva Sidhanta dan sesuai pula dengan Brahma, Visnu, Isvara. Ia juga sesuai dengan fungsi Siva sebagai Guru. Oleh karenanya Hyang Kamulan adalah juga Bhatara Guru, yang berdimensi tiga pula, yaitu Guru Purwam (Paramasiva), Guru Madyam (Sadasiva) dan Guru Rupam (Siva). Jadi dengan demikian sesungguhnya yang dipuja pada Sanggah Kamulan adalah Ida Hyang Widhi dalam wujud sebagai Sanghyang Tri Atma, Sanghyang Tri Purusa (Bhatara Guru) dan Sanghyang Tri Murti.
  2. Tempat Memuja Leluhur
    Dalam lontar Purwabhumi kamulan dinyatakan bahwa Sanggah Kamulan adalah tempat Ngunggahang Dewapitara,
    ti kramaning anggunggahaken pitra ring kamulan (Rontal Purwabhumi Kamulan, lembar 53).
    Ngunggahang Dewapitara pada kamulan dimaksudkan adalah untuk “melinggihkan” atau mensthanakan” dewa pitara itu.

Yang dimaksud dengan dewa pitara adalah : roh leluhur yang telah suci, yang disucikan melalui proses upacara Pitra Yadnya, baik Sawa Wedana maupun Atma Wedana.
Ngunggahang Dewa Pitara pada Sanggah Kamulan adalah mengandung maksud mempersatukan dewa pitara (roh leluhur yang sudah suci) kepada sumbernya (Hyang Kamulan). Kalimat “irika mapisan lawan dewa Hyangnia nguni” mengandung pengertian bersatunya atma yang telah suci dengan sumbernya, yakni Sivatma (ibunta) dan Paratma (ayahta). Hal ini merupakan realisasi dari tujuan akhir Agama Hindu yakni mencapai moksa (penyatuan Atma dengan paratma).
Dari segi susila (aspek etika) ngunggahang Dewa Pitara pada Sanggah Kamulan, adalah bermaksud mengabdikan/melinggihkan roh leluhur yang telah suci pada Sanggah Kamulan untuk selalu akan dipuja, mohon doa restu dan perlindungan.

Atma yang dapat diunggahkan pada Sanggah Kamulan adalah Atma yang telah disucikan melalui proses upacara Nyekah atau mamukur seperti dinyatakan dalam rontal :
iti kramaning ngunggahakan pitra ring kamulan, ring wusing anyekah kurung muah mamukur, ri tutug rwa wales, dinanya, sawulan pitung dinanya
Artinya: Ini perihalnya menaikkan dewa pitara pada Kamulan, setelah upacara nyekah atau mamukur, pada dua belas harinya, atau 42 harinya

Jadi upacara ngalinggihang Dewapitara adalah merupakan kelanjutan dari upacara nyekah atau mamukur itu. Tetapi karena pitara sudah mencapai tingkatan dewa, sehingga disebut Dewapitara, maka upacara ini tidak tergolong pitra yadnya lagi, melainkan tergolong Dewayadnya. Dari uraian di atas itu, jelaslah bagi kita, bahwa Sanggah Kamulan disamping untuk memuja Hyang Widhi, juga tempat memuja roh suci leluhur yang telah menunggal dengan sumbernya (Hyang Kamulan, atau Hyang Widdhi).

Advertisements

Landasan Sastra Membangun Merajan


Tempat suci untuk memuliakan dan memuja arwah suci para leluhur terutama ibu bapak yang sudah tiada dan berada di alam baka(sunia loka) bagi masyarakat Hindu di Bali disebut merajan atau sanggah. Walaupun tidak ditemukan istilah merajan atau sanggah dalam pustaka, namun sudah dapat dipastikan  bahwa yang disebut parahyangan tempat menghormati serta memuliakan dan memuja arwah suci nenek moyang atau leluhur tidak lain adalah merajan atau sanggah. Landasan sastra dalam membangun sanggah atau merajan adalah:

Bhagawad-gita

Di dalam kitab bhagawad-gita disebutkan: samkara naraka yai’va kulaghana nam kulasya chapantati pitaro hy esham luptapindodakakryah.

Artinya: Keruntuhan moral ini membawa keluarga dan para pembunuhnya ke neraka, arwah moyang jatuh cedera semua sesajen, air dan nasi tiada baginya.

Penjelasan dari arti sloka diatas: bahwa jika keluarga sudah hancur, maka kewajiban keluarga terhadap tradisi dan agama tidak terurus lagi, seperti upacara sradha, dimana dilakukan upacara mengenang jasa-jasa nenek moyang di pitra loka(tempat arwah mereka segera sesudah meninggal sebelum mencapai surga)dengan mempersembahkan sesajen yang terdiri dari makanan, buah-buahan dll.

Lontar Purwa Bhumi Kemulan.

Di dalam lontar Purwa Bhumi Kemulan antara lain disebutkan: yan tan semangkana tan tutug pali-pali sang dewapitra manaken sira gawang tan molih ungguhan, tan hana pasenetanya.

Artinya: bilamana belum dilaksanakan demikian(belum dibuatkan tempat suci) belumlah selesai upacara yang dewapitra(leluhur) tidak mendapat suguhan dan tidak ada tempat tinggalnya. Lebih lanjut di dalam lontar ini dijelaskan : apan sang dewapitranya salawase tan hana jeneknya. Terjemahan: oleh karena sang dewapitra(leluhur) tidak ada tempat menetapnya, dapat dijelaskan bahwa upacara ngunggahang dewapitra(leluhur) adalah untuk menetapkan stana sementara dari dewapitra(leluhur) pada bangunan pemujaan sebagai simbolis, bahwa dewapitra telah mempunyai sthana tempat yang setara dengan dewa.

Lontar Nagarakrethagama

Disebutkan: ngka tang nusantarane Balya matemahan secara ring javabhumi, dharma mwang kramalawan kuwu tinapak adeh nyeki sampu tiningkah. Maksudnya: yang diterapkan di Bali persis mengikuti keadaan di Jawa terutama berkaitan dengan bentuk bangunan candi, pasraman dan pesanggrahan atau rumah. Yang disebut candi tidak lain adalah parahyangan untuk memuja leluhur.

Lontar Ciwagama.

Didalam lontar ciwagama diuraikan tentang ketentuan mendirikan pelinggih(bangunan suci) yang disebut ibu dan panti. yang dimaksud dengan pelinggih didalam lontar ini adalah tempat suci untuk memuliakan dan memuja arwah leluhur, di Bali ini disebut merajan/sanggah. Bagi masyarakat Hindu di Bali merajan tidak saja sebagai tempat memuja leluhur tapi juga sebagai tempat untuk memuliakan dan memuja Hyang Widhi dengan segala prabawaNya.

Arti Sanggah atau Pemerajan


Disetiap keluarga Hindu sering kita jumpai beberapa pelinggih yang dikelilingi pagar tembok, biasanya letaknya lebih tinggi dan berada pada sisi hulu rumah tinggal. Tempat itu merupakan tempat dilakukan persembahyangan atau upacara bagi keluarga yang bersangkutan. Tempat tersebut dinamakan Sanggah dan didalam sanggah terdapat minimal terdapat:

  1. Kemulan Rong Tiga, sebagai pelinggih Tri Murti/Leluhur.
  2. Linggih Sedahan Pengelurah.
  3. Gedong Linggih Taksu.

Fungsi Sanggah atau Pemerajan:

  1. Sebagai tempat suci untuk memuja: Hyang Widhi dan Leluhur/Kawitan.
  2. Sebagai tempat berkumpul sanak keluarga.
  3. Sebagai tempat kegiatan sosial

 

%d bloggers like this: