Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Perkawinan dan Perceraian Dalam Hukum Adat Bali


Hukum adat Bali mengenal dua bentuk perkawinan, yaitu perkawinan biasa (wanita menjadi keluarga suami) dan perkawinan nyentana/nyeburin (suami berstatus pradana dan menjadi keluarga istri).  Dalam perkembangan selanjutnya, adakalanya pasa­ngan calon pengantin dan keluarganya tidak dapat memilih salah satu di antara bentuk perkawinan tersebut, karena masing-masing merupakan anak tunggal, sehingga muncul bentuk perkawinan baru yang disebut perkawinan pada gelahang. Hal ini menjadi persoalan tersendiri dalam masyarakat Bali sehingga perlu segera disikapi.

Selain perkembangan mengenai bentuk perkawinan, perkawinan beda wangsa yang secara hukum tidak lagi dianggap sebagai larangan perkawinan sejak tahun 1951 berdasarkan Keputusan DPRD Bali Nomor 11/Tahun 1951 tanggal 12 Juli 1951, ternyata masih menyisakan persoalan tersendiri dalam masyarakat, yakni masih dilangsungkannya upacara patiwangi dalam perkawinan yang lazim disebut nyerod.  Hal ini perlu pula disikapi karena hal itu  bertentangan dengan hak asasi manusia dan menimbulkan dampak ketidaksetaraan kedudukan perempuan dalam keluarga, baik selama perkawinan maupun sesudah perceraian.

Sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, perkawinan dan perceraian bagi umat Hindu di Bali dapat dikatakan sah apabila dilaksanakan menurut hukum adat Bali (disaksikan prajuru banjar atau desa pakraman) dan  agama Hindu. Sesuai Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan, perkawinan bagi umat Hindu di Bali dapat dikatakan sah apabila dilaksanakan menurut hukum adat Bali,  agama Hindu, sedangkan perceraian baru dapat dikatakan sah apabila dilaksanakan di pengadilan negeri sesuai ketentuan Undang-Undang Perkawinan.

Apabila diperhatikan uraian di atas, tampak jelas bahwa Undang-Undang Perkawinan tidak memberikan penghargaan yang seimbang kepada hukum adat Bali dan agama Hindu, dalam hubungan dengan pelaksanaan perkawinan dan perceraian bagi umat Hindu. Ketentuan hukum adat Bali dan ajaran Hindu mendapat tempat yang sepantasnya dalam pelaksanaan perkawinan, tetapi tidak demikian halnya dalam perceraian. Terbukti, perceraian dikatakan sah setelah ada putusan pengadilan, tanpa menyebut peran hukum adat Bali (prajuru desa pakraman) dan ajaran agama Hindu. Akibatnya, ada sementara warga yang telah cerai secara sah berdasarkan putusan pengadilan, tetapi tidak diketahui oleh sebagian besarkrama desa (warga) dan tidak segera dapat diketahui oleh prajuru desa pakraman. Kenyataan ini membawa konsekuensi kurang baik terhadap keberadaan hukum adat Bali dan menyulitkan prajuru desa dalam menentukan swadharma atau tanggung jawab krama desa bersangkutan.

Berdasarkan fakta-fakta di atas maka Pasamuhan Agung III Majelis Utama Desa Pakraman Bali memutuskan sebagai berikut.

  1. Upacara patiwangi tidak dilaksanakan lagi terkait dengan pelaksanaan upacara perkawinan.
  2. Bagi calon pengantin yang karena keadaannya tidak memungkinkan melangsungkan perkawinan biasa atau nyeburin (nyentana), dimungkinkan melangsungkan perkawinan pada gelahang atas dasar kesepakatan pihak-pihak yang berkepentingan.
  3. Agar proses perceraian sejalan dengan proses perkawinan, maka perceraian patut dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:
  • Pasangan suami istri  yang akan melangsungkan perceraian, harus menyampaikan kehendaknya itu kepada prajurubanjar atau desa pakraman. Prajuru wajib memberikan nasihat untuk mencegah terjadinya perceraian.
  • Apabila terjadi perceraian maka terlebih dahulu harus diselesaikan melalui proses adat, kemudian dilan­jutkan dengan mengajukannya ke pengadilan negeri untuk memper­oleh keputusan.
  • Menyampaikan salinan (copy) putusan perceraian atau akte perceraian kepada prajuru banjar atau desa pakraman. Pada saat yang bersamaan, prajuru banjar atau desa pakraman menyarankan kepada warga yang telah bercerai supaya melaksanakan upacara perceraian sesuai dengan agama Hindu.
  • Prajuru mengumumkan (nyobyahang) dalam paruman banjar atau desa pakraman, bahwa pasangan suami istri bersangkutan telah bercerai secara sah, menurut hukum nasional dan hukum adat Bali, sekalian menjelaskan swadharmamantan pasangan suami istri tersebut di banjar atau desa pakraman, setelah perceraian.

 4. Akibat hukum perceraian adalah sebagai berikut.

  • Setelah perceraian, pihak yang berstatus pradana (istri dalam perkawinan biasa atau suami dalam perkawinannyeburin) kembali ke rumah asalnya dengan status mulih daa atau mulih taruna, sehingga kembali melaksanakanswadharma berikut swadikara-nya di lingkungan keluarga asal.
  • Masing-masing pihak berhak atas pembagian harta gunakaya (harta bersama dalam perkawinan) dengan prinsippedum pada (dibagi sama rata).
  • Setelah perceraian, anak yang dilahirkan dapat diasuh oleh ibunya, tanpa memutuskan hubungan hukum dan hubungan pasidikaran anak tersebut dengan keluarga purusa, dan oleh karena itu anak tersebut mendapat jaminan hidup dari pihak purusa.

Sumber: Keputusan Majelis Utama Desa Pekraman Bali(MUDP)

Advertisements

49 responses to “Perkawinan dan Perceraian Dalam Hukum Adat Bali

  1. Kadek November 28, 2013 at 3:33 pm

    Om swastyastu.. ” Awigenamastu ”
    Setelah saya baca tentang perkawinan dan perceraian dalam hukum adat bali.
    Berdasarkan fakta fakta Pasamuhan Agung III Majelis Utama Desa Pakraman Bali memutuskan yang No 4, Bagian 3 mengatakan, Setelah perceraian, anak yang dilahirkan dapat diasuh oleh ibunya, tanpa memutuskan hubungan hukum dan hubungan pasidikaran anak tersebut dengan keluarga purusa, dan oleh karena itu anak tersebut mendapat jaminan hidup dari pihak purusa.
    ANDAIKAN IBUNYA SI ANAK BRANGKAT KENEGRI ORANG UNTUK BERKERJA, SI ANAK SIAPA YANG NGASUH? DAN APAKAH BOLEH SI NENEK ATAU SI KAKEK DARI SEORANG IBU YANG NGASUH?
    Suksma ning manah..

  2. admin December 5, 2013 at 2:09 am

    Boleh saja diasuh oleh nenek dari keluarga ibu tentunya dengan tetap menanamkan nilai-nilai positif agar hubungan baik antara anak dengan keluarga purusa tetap terjaga.

  3. Widi December 7, 2013 at 3:25 am

    Om Swastyastu,
    Saya mau tanya, sampai umur berapa Si Ibu boleh mengasuh Si anak?

  4. dewi putri December 8, 2013 at 1:07 am

    Bila, pasangan sdh menikah secara adat hindu namun blm melangsungkan pernikahan di pemerintahan sehingga blm pny buku nikah.
    Dan kemudian mengajukan perceraian,apakah ttp di putuskan di pengadilan jg.
    Dan bagaimana proses n kelengkapan apa yg diperlukan.

    • admin December 10, 2013 at 12:59 am

      Jika pernikahan dilangsungkan secara adat tentu perceraiannya pun dilakukan secara adat dengan terlebih dahulu berkonsultasi dengan tokoh adat/agama yang menjadi saksi pernikahan tersebut. suksma.

      • nanik April 24, 2015 at 12:01 am

        Tapi kalau sepihak yank ingin bercerai apa bisa terlaksana suatu perceraian? Misal pihak istri ngotot ingin bercerai sementara suami tetap ingin mempertahankan rmh tgga sedangkan adat sudah mengadakan mediasi smpai 3 x apa tetap istri tdk bisa bercerai…

      • Afry November 16, 2015 at 9:15 am

        Bagaimana dengan status anaknya ? apakah hak asuh masih bersama ibu ? karna biasanya pihak keluarga suami yang menuntut hak asuh.

  5. gusti February 17, 2014 at 10:04 am

    om suasty astu….
    ampure……
    ada yang kurang dalam pikiran saya……
    dalam pernikahan agama hindu ada manusia saksi, dewa saksi dan pitra saksi (maaf jika salah)
    tapi kok dalam perceraian cuma melalui manusia saksi saja…….?
    bagaimana dengan dewa saksi dan pitra saksinya,……
    ampura kalo ada yang salah?
    om shanti shanti shanti om

    • admin May 29, 2015 at 8:21 am

      Proses perceraian paling tidak dilakukan atur piuning(mepamit) dari pihak
      istri yang diceraikan dihadapan Merajan pihak laki-laki. Datang tampak muka pergi tampak punggung. Menikah baik2, perceraian pun hendaknya dengan cara baik-baik.

  6. ratna December 6, 2014 at 5:33 am

    seandainya perceraian sudah terjadi dan Ibu tidak memberikan hak sedikitpun kepada ayah anak untuk mengasuh apa boleh ?
    karena itu yg telah terjadi di keluarga saya.
    biarlah anak seumur hidup ditanggung oleh ibu atau keluarga ibunya, walaupun ibunya mati, keluarga ibu yg akan menanggung kehidupannya berikutnya.
    Dan perceraiannya sudah ada surat dari adat, mesiar di banjar, tanda tangan kedua belah pihak dan juga sudah keluar surat pindahnya.
    Bukankan itu sah ?

    • admin December 20, 2014 at 10:36 am

      Terima kasih sudah mampir di blog ini. saya tidak dalam kapasitas menilai benar atau tidak benar. sepanjang tidak mempengerahui perkembangan anak secara negatif kenapa tidak dibiarkan anak diasuh oleh ayahnya?bijaksana jika kedua belah pihak yang bercerai tetap memperhatikan hak anak akan kasih sayang ayah atau ibunya meskipun telah berpisah.

  7. arini February 4, 2015 at 4:22 am

    suksma untuk pencerhanya
    jadi saya tidak perlu takut kalu seandainya bercerai
    tidak mndapatkan hak asuh anak
    soalnya dari beberapa yang saya liat di bali ,
    seorang ibu tidak di izinkan membawa anak kalo bercerai
    karna yang paling penting untuk anak itu adalah kasih sayang dari ibunya
    suksma .

  8. kadek agus May 26, 2015 at 10:55 pm

    Om swastiastu.
    Saya mohon diberi pencerahan.
    Awal saya menikah adalah karena pacar saya hamil. Selama kami mengarungi pernikahan kami di karuniai 2 anak laki laki. Saat ini usia mereka yang pertama 10 tahun dan kedua 5 tahun. Selama sepuluh tahun ini saya merasa selalu mengalah pada sikap egoisme istri saya. Hal ini membuat saya tidak tahan lagi. Banyak penjelasan yang sudah saya berikan kepadanya… hingga akhirnya saya diam diam memiliki WIL.. rasa cinta saya kepada istri sudah lama pudar dan saya bertahan karena adanya anak di perkawinan kami. Suatu saat istri saya mengetahui saya punya WIL.. Kami cekcok… dan akhirnya saya minta untuk memikirkan perceraian. Sebenarnya saya kasihan kepada anak anak, tapi perasaan cinta saya sudah tidak ada lagi. Sulit bagi saya tinggal dengan orang yang tidak saya cintai. Mohon admin berikan saya solusi. Apa yang saya harus lakukan?

    • admin May 28, 2015 at 2:14 am

      Om Swastyastu
      Apakah tidak ada niat dengan pasangan untuk menciptakan suasana seperti ketika anda saling mengenal? bagaimana dengan komunikasi didalam keluarga? apakah berjalan baik? bukankah perasaan anda kepada WIL sama seperti perasaan anda ketika anda baru mengenal istri? situasi seperti ini rasanya bukan hanya dialami 1 pasangan,, mungkin pasangan lain banyak mengalami situasi yang sama bahkan lebih buruk dari yang anda alami. tapi kembali lagi pada usaha dan niat kita untuk memperbaiki keadaan. cobalah bangun komunikasi yang mungkin sudah tidak bagus,, bicara dari hati kehati. Fokuskan tujuan untuk membangun keluarga dengan anak-anak suputra.
      Maaf inggih saya tidak sedang memberi solusi, tidak juga sedang menggurui.. saya hanya ingin berbagi. saya percaya anda pasti telah melakukan banyak hal untuk memperbaiki keadaan.. tapi cobalah mulat sarira. merenungi, mengingat kembali masa-masa sulit yang anda lalui bersama istri. Serta bayangkan kehidupan putra-putri kedepannya. semoga rahayu.

  9. admin May 29, 2015 at 8:46 am

    Terima kasih telah berkunjung di paduarsana.com, sebuah blog yang hadir sebagai media berbagi tentang Hindu, Bali dan Budayanya.
    Sebagaimana ditegaskan dalam Manawadharmasastra, IX, 101 : Hendaknya saling mempercayai itu dipelihara sebaik-baiknya untuk kesucian hingga sampai mati, karena inilah tujuan utama yang harus dipenuhi oleh suami istri sesuai/menurut ketentuan hukum tertinggi (Dharma). Kata perceraian bagi masyarakat adat adalah suatu kata yang sangat “menakutkan”. Semoga kebaikan datang dari segala penjuru.

  10. likin July 25, 2015 at 3:44 pm

    Om swastiastu.
    Mohon petunjuk tentang hak asuh anak.
    1. Apakah masih bisa diperjuangkan hak asuh anak (perempuan, 7th) untuk diasuh ibunya?. Perceraian sudah terjadi kurang lebih 3 tahun yll.
    2. Klo memang masih bisa, mohon petunjuk tahapan-tahapannya?
    3. Terkait biaya, apakah Bapak bisa memberi estimasi biayanya?
    4. apakah ada semacam yayasan yang bisa membantu proses ini? kalau lewat KPAI bisa ngak?

    Alasan hendak memperjuangkan hak asuh anak adalah si anak kurang mendapat kasih sayang dari si bapak (kerja pagi-pulang sore). Begitu juga dari anggota keluarga si bapak (kakek-nenek, ipar2) yang juga kurang perhatian terhadap si anak. Yang kami khawatirkan adalah perkembangan psikologis dan akademis si anak.
    Adapun perceraian terjadi akibat KDRT, dan hal ini masih berlangsung hingga sekarang, artinya si ibu tidak diberi kebebasan oleh si bapak untuk sekedar bertemu si anak. Pertemuan ibu dengan anak hanya berlangsung saat ibu pulang kantor jam 16 hingga jam 18. Hanya sampai jam 18.00 karena pada jam tersebut si bapak sudah pulang kantor, dan si ibu menghindari pertemuan dengan si bapak karena pasti akan mendapat caci maki hingga tindakan kekerasan fisik.
    Watak si bapak yang keras sulit diubah, bahkan bapak-ibu kandung si bapak pun sudah angkat tangan.
    Demikian
    suksme

    • admin July 27, 2015 at 8:32 am

      Kalau boleh tiyang sarankan, mungkin coba konsultasikan dengan KPAI, setau tiyang jika anak masih kecil harusnya hak asuh ada dipihak ibu kecuali anak sudah remaja tergantung kemauan anak.
      suksma.

  11. @sudarma77@ November 14, 2015 at 8:00 am

    apakah itu artinya si anak masuk merajan atw desa adat pihak istri, kalau hak asuh anak diharuskan pada pihak istri yg diceraikan,.?
    bagaimana dengan istri yg bisanya hanya menuntut hak, dan tidk melaksanakan kewajibannya dengan baik??
    bukankah si anak itu adalah titisan drpada leluhur pihak laki laki, kenapa diharuskan hak asuh anak pada pihak istri yg diceraikan??

  12. Ayu January 13, 2016 at 5:59 am

    Osa,mohon petunjuk,sy sdh resmi bercerai dg suami blm setahun,tp saat anak otonan knp sy ga diijinkan melihat anak natab,alasannya malu dilihat org,,sy bingung hrs gimana,,sempat terbesit keinginan tuk kembali ke stts suami demi anak walau hrs poligami tp sy sdh resmi cerai,,mohon perunjuk ke admin

    • admin January 13, 2016 at 6:19 am

      Om Swasty Astu, turut simpati atas hal tersebut. mestinya itu tidak perlu terjadi, seorang ibu masih memiliki hak untuk bertemu anak apalagi pada saat-saat istimewa (otonan, ulang tahun dll). Lakukan pendekatan kepada keluarga suami, bicarakan dari hati ke hati bahwa perceraian tidak berarti menghindari pertemuan ibu dengan anak. Rujuk dengan suami tentu saja ini pilihan yang sangat bijaksana untuk anak. Semoga diberikan jalan yang baik untuk keluarga dan anak.

  13. Ayu May 25, 2016 at 2:12 pm

    Om Swastyastu, mohon petunjuk Bapak/Ibu
    Saya pisah rumah th 2013 dan sah cerai setahun yang lalu. Sebelum pulang, saya mengadakan parum sama suami, anak-anak, keluarga besar suami dan prejuru adat di banjar suami. Dalam parum, anak-anak minta ikut sama saya sebagi ibunya dan kembali kerumah orang tua saya. Pihak suami tidak ada yang menahan anak. Anak pertama perempuan umur 18 tahun dan anak kedua laki-laki umur 17 tahun. Karena selama 2 th suami smenggantung status saya, akhirnya atas persetujuan keluarga dan anak-anak saya menggugat cerai. Selama persidangan suami tidak pernah hadir. Sampai saatnya anak-anak diminta hadir dipersidangan sebagai saksi dan ditanya sama hakim ketua mau ikut bapak atau ibu. Anal-anak memilih saya dengan alasan selama pisah rumah dan sampai saat ini suami tidak pernah menafkahi dan membiayai kuliah/sekolah mereka. Saya mau bertanya, apakah saya berhak mengajak anak-anak selamanya dan masuk adat di banjar saya? Bagaimana kalau mereka menikah, apakah bisa dilangsungkan dirumah orang tua saya? Mohon petunjuk Bapak/Ibu, karena selama ini saya tidak bisa menjawab pertanyaan mereka. Terima kasih

    • admin May 26, 2016 at 9:21 am

      Om Swastyastu, Mengacu pada keputusan pengadilan yang ibu sebutkan maka secara hukum ibu mempunyai hak atas kedua anak ibu. Secara adat sebaiknya ibu konsultasikan dengan tokoh adat setempat. Suksma. Om Santih, santih, santih Om

  14. Gracia August 1, 2016 at 5:20 am

    Om Swastyastu,

    Suami saya meninggal hampir 4 tahun yang lalu. dari perkawinan kami terlahir 1 anak perempuan yang masih berumur 9 tahun. Selama pernikahan kami, kami membeli sebuah rumah dan sebuah mobil dengan harta bersama (tanpa ada campur tangan pihak keluarga almarhum). Pertanyaaan saya :
    1. Apabila seandainya saya berniat menikah lagi, apakah saya berkah mengasuh anak saya sampai dia dewasa, walaupun hanya sebatas mengasuh, karena secara purusa saya menyadari kalau anak adalah menjadi kuasa keluarga mendiang suami.
    2. Apakah saya dan anak masih tetap memiliki hak tinggal dan memakai semua fasiltas yang kami punya dari pernikahan kami?

    Mohon pencerahannya

    Om, Shanti, Shanti Shanti OM

    • admin August 3, 2016 at 12:54 am

      Om Swasty astu,
      1. sebagai ibu tentu punya hak asuh atas putrinya. tentu dengan tetap menjaga hubungan baik dengan keluarga mendiang suami.
      2. hak atas harta bersama tentu berdasarkan pada ahli waris yang ditentukan.
      semoga bermanfaat.
      Om santih, santih, santih Om

  15. A August 26, 2016 at 6:24 am

    Saya punya seorang anak laki2 umur 6th.suami bekerja d luar negeri dan tidak pernah pulang.2th hubungan kami baik meski sering cekcok d ptpn.trus thn berikutnya dia ptpn au menceraikan sy demikan lg.kami tidak pernah dilangkahi bahkan dibebani hutang d bali.seandainya bercerai bisakah sy menuntut hak asuh anak karna cri kecil sy asuh sendiri.mohon petunjuk.sukses.kami beda kasta suami lebih tinggi kastanya

    • admin August 29, 2016 at 12:51 am

      Om Swastyastu, Hak asuh untuk anak seumuran itu dan atas pertimbangan bahwa suami tidak pernah menafkahi anak akan jatuh kepada Ibu. Mohon konsultasikan kepada ahli dibidang hukum. suksma

  16. gungayu August 27, 2016 at 5:48 pm

    Om Swaatyastu…
    Mohon pencerahannya niki..
    Tyg sudah sah bercerai di pengadilan dengan mantan suami, hah anak (perempuan 4 th) jatuh di pihak saya, setelah perceraian lost contact..dan sampai pada saat ini saya blom mepamit di mrajan dia..
    Baru akhir2 ini kami mulai membangun komunikasi terutama untuk anak, melihat anak nyaman dengan kehadiran kami,terbesit keinginan kami untuk rujuk kembali…apa yang mesti kami lakukan? mengingat perceraian sudah 3 tahun..mohon penverahannya suksma…

    • admin August 30, 2016 at 12:06 am

      Om Swastyastu, Anak memang sebagai kekuatan bagi orang tua untuk melakukan apapun termasuk untuk rujuk. Sebagai kekuatan hukum keputusan rujuk harus dicatat secara hukum. Saya sarankan untuk berkonsultasi dengan pihak terkait seperti adat dan dinas terdekat.

  17. wardana October 26, 2016 at 6:18 am

    Om swasty astu
    Maaf jero saya mau nanya jika pihak laki2 dan pihak wanita sudah sudah sah dimata adat karena sudah sudah diadakan sidang adat pria menceraikan istrinya dan pria sudah bayar denda dan wanita pun sudah bilang terima diceraikan saat sidang adat namun saat saya bawa surat keteran percerain dari parisada pihak wanita tidak mau menanda tangani surat cerai tersebut, pihak wanita bilang akan menanda tangani surat cerai bila barang2nya dikembalikan dan saya meyagupi akan mengembalikan brang tersebut tpi pihak wanita malah tetap tidak mau menanda tangani surat cerai. Tolong beri pencerahan pda masalah saya. Sukseme

    • admin October 28, 2016 at 12:08 am

      Untuk menyelesaikan masalah ini diperlukan musyawarah dengan pihak perempuan bila diperlukan membuat surat perjanjian diatas materai serta ditandatangani kedua belah pihak. Dari penjelasan saudara saya merasa bahwa pihak wanita merasa tidak yakin(khawatir) setelah surat2 yang dimaksud ditandatangani barang2nya akan kembali(maaf) itu hanya feeling saya bisa jadi saya salah. ada baiknya dilakukan musyawarah kekeluargaan untuk menemukan jalan keluarnya.

  18. Made November 25, 2016 at 11:24 pm

    Om swastyastu…saya mau bertanya untuk jalan keluar yang terbaek pernikahan saya.sudah 3 tahun berjalan.pernikahan saya pernah dihianati oleh istri saya dua tahun yang lalu berselingkuh saya sudah maafkan,yang saya kesali setiap mau menyelesaikan masalah berdua dia kabur dari rumah saya jemput lagi…sekarang lagi pulang kerumah bajang padahal mertua sudah mencari suruh pulang,tetapi mertua malah diusir.keesokan harinya sepulang saya kerja tanpa sepengetahuan saya lemari pakian istri saya sudah kosong isinya.sekarang sudah seminggu dia tidak balik.karena di pihak keluaraga cewek saya tidak dikasi kesempatan menyelesaikan berdua.selalu dicampuri oleh pihak keluarga cewek tanpa tau permasalahanny.terus terang saya tidak mau menceraikan saya punya anak cewek umur 3.5th kenapa dia tega meninggalkan berbulan2…harus bagaimana tindakan saya..apakah saya beri tau kelian adat yang cewek permasalahan saya..saya tidak suka ada permasalahan tidak diselsaekan..tolong berikan saya jalan keluarnya bapak Suksme atas pencerahaannya

    • admin November 27, 2016 at 2:06 am

      Om Swastyastu, Pak Made.
      Saya mengerti perasaan pak made saat ini. namun begitu semoga pak made senantiasa diberikan kesabaran untuk menjalani kehidupan kedepan. Sulit untuk mencari titik temu saat tidak adanya kesempatan untuk bicara dari hati ke hati dengan kepala dingin tanpa adanya ego kedua belah pihak. Kita tentu sepakat setiap ada akibat pasti ada sebabnya yang perlu kita cari tentu akar dari masalah yang kita hadapi. sulit untuk merubah keadaan tanpa kita tau akar masalahnya. Jika kesempatan untuk menyelesaikan masalah sudah tidak ada tentu sangat baik apabila dilakukan pendekatan secara keluarga besar(adat) tujuannya tentu tidak lain untuk bermusyarawah, mencari jalan keluar untuk kebaikan semua pihak. Putri cantik pak made tentu menginginkan kedua orang yang utuh yang mampu memberikan rasa nyaman dan aman bagi pertumbuhannya. Astungkara jalan kebaikan pasti akan menghasilkan yang baik bagi semua.
      Om Santih, Santih, Santih Om

  19. dharma December 2, 2016 at 3:41 am

    mohon petunjuk:
    anak sy hamil dibawah umur, dinikahi sm pacarnya secara adat (mekala-kalan sj), tp tidak dinafkahi sampai melahirkan sampai ank sdh berumur 6 bln. anak sy merasa keberatan(merasa diporoti krn menantu tinggal sm sy juga sy yg malah menafkahinya) & minta cerai, mohon petunjuk mengenai hak asuh anak karena cucu sy diminta sm keluarga laki sedangkan kami ingin mempertahankan krn bru 6 bln. sksm

  20. Sunny December 25, 2016 at 10:03 am

    Apakah kalau sudah 3 bulan pisah ranjang bisa mengajukan cerai? Pernikahan hanya dilakukan di adat tidak tercatat di catatan sipil, apakah saat proses perceraian perlu ke pengadilan atau cukup di adat saja? Terimakasih

    • admin December 27, 2016 at 12:57 am

      Om Swasty Astu, Untuk pernikahan yang hanya dilakukan adat maka bisa dilakukan perceraian secara adat. ada baiknya dilakukan musyawarah keluarga kedua belah pihak.
      Om Santih, Santih, Santih Om

  21. Puru December 29, 2016 at 2:09 am

    Om swatiastu
    Saya mohon pencerahannya
    Saya sdh menikah selama 10th dan memiliki 3 org anak tp bulan november kemarin terjadi mslh dg istri tiba” istri minta kembali ke agama islam tptny tgl 18nov, stlh ortunya dtg dr jw, tgl 22nov anak sy yg ke 3 lhr, dan mertua blg bw anak sy ke 3 otomatis ikut ibunya krn sblm lhr ibukny(istri)sdh jd mualaf tgl 18nov.dan dr keluarga istru terutama ustri sy memberi sy 2 pilihan saya ikut jd mualaf/cerai sy plh cerai sy mau tanya jika saya cerai bagai mana kekuatan sy di pengadilan dan bagaimana anak” sy krn org tuanya sdh beda keyakinan.

    • admin January 3, 2017 at 10:22 am

      Om Swasty Astu,

      Apakah pernikahan dulunya dilangsungkan secara adat saja? apakah tidak tercatat Catatan Sipil? Jika gugatan cerai tersebut melalui proses hukum tentu hak asuh bisa ditentukan secara adil. selama tidak adanya tindakan kekerasan rumah tangga.
      Ikutin proses yang ada, pertahankan hak asuh secara adil.
      semoga diberikan petunjuk jalan yang yang benar.

  22. Putu January 8, 2017 at 1:39 pm

    Om swastiastu…
    Saya ingin bertanya tentang bagaimana cara untuk ngurus surat perceraian…!
    Saya menikah dengan istri saya di tahun 2007 sampai thn 2012 keluarga kami memiliki banyak masalah hingga istri saya memutuskan ingin bercerai tanpa pengecualian….dan akhirnya saya mengabulkan permintaan istri saya untuk bercerai di karenakan saya sudah tidak tidak kuat lagi dengan sikapnya..tpi saat itu kami hanya bercerai melalui adat saja…karena saat itu saya blom punya akte nikah! Jadi selama kurang lbih 4thn kami berpisah saya berfikir kami sudah sah bercerai karena tidak memiliki akte nikah! Tpi baru2 ini mantan istri saya menghubungi saya kembali dengan mengatakan bahwa kami sudah memiliki akte nikah. Sontak saya kaget dan gk percaya karena di KK baru saya sudah tertera CERAI HIDUP.
    Nah yg saya ingin tanyakan adalah…
    1.apakah saya sudah sah bercerai atau belum?
    2.Jika belum sah..bagaimana caranya mengurus surat perceraian? Dan berpakah biaya yg harus saya siapkan. Karena saya dari keluarga tidak mampu.

    Suksma..mohon bantuanya

  23. fk February 1, 2017 at 8:55 am

    Om swastiastu… Apa benar dalam ajaran Hindu,apabila ada janda ( telah beranak ) yang menikah lagi dengan orang lain, maka janda tersebut tidak diperbolehkan bertemu lagi dengan anaknya ( yang ikut mantan suami ) ? alias si janda harus putus hubungan dengan anak…. karena sang janda tersebut telah menjadi milik suaminya yang baru…Suksma..

    • ayu February 2, 2017 at 4:28 pm

      Bagaimana cara mengurus surat cerai?tolong di bantu sy tdk paham

      • admin February 8, 2017 at 1:00 am

        Om Swasty Astu, untuk mengurus surat tentu saja harus dilakukan gugatan cerai melalui pengadilan, atau terlebih dahulu mengajukan permohonan perceraian. selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan oleh hakim, biasanya akan ada upaya perdamaian, Jika kedua belah pihak tidak mungkin untuk melanjutkan pernikahan maka hakim akan memutuskan perceraian tersebut selanjutnya berdasarkan keputusan tersebut perceraian dapat didaftarkan ke catatan sipil. kurang lebih seperti itu. Om Santih, Santih, Santih Om

  24. Wayan Rugek March 14, 2017 at 12:18 pm

    om swasty astu,, saya punya saudara, dia mempunyai isteri yang kembali ke agama asalnya yaitu islam dengan sepengetahuan saudara saya. si istri menggugat cerai suaminya karena tidak bisa melayani suaminya lagi karena aturan agama si istri, bagaimana dengan hak asuh anaknya melalui pengadilan dan adat. apakah ada kemungkinan si istri mendapatkan hak asuh anaknya ?, pernikahan mereka tercatat di catatan sipil. mohon pencerahannya karena saya sering mendengar hak asuh anak dibawah umur diasuh oleh ibunya, apakah hukum adat berlaku?. kurang lebih seperti itu. Om Santih, Santih, Santih Om

    • admin March 16, 2017 at 1:34 am

      Om Swasty Astu, Jika anak masih berusia dibawah umur biasanya hak asuh jatuh ke Ibunya. tapi tidak menutup kemungkinan adanya kesepakatan antara suami istri mengenai ini.
      Suksma, Om santih, santih, santih om

  25. ayu June 2, 2017 at 2:52 am

    Om Swastiastu, mohon masukan, saya wanita 27th, menikah sudah 2,5 thn tetapi blm dikarunia momongan. Kadang terbersit di pikiran saya ingin melakukan perceraian, tetapi saya dan suami masih saling mencintai. Tetapi yg membuat saya tidak bisa bertahan adalah sifat dari ke 2 mertua saya yg seolah memandang sebelah mata karna saya blm mempunyai keturunan, padahal selama ini saya berusaha menempuh jaluh medis, sekala dan niskala sudah saya jalani, secara niskala terutama di leluhur tidak ada masalah tetapi secara medis suami dan saya memang bermasalah yg menyebabkan saya sulit untuk hamil, tetapi mertua saya tidak mau menerima kekurangan anaknya, hanya menyalahkan 1 pihak saja karna saya bukan anak mereka, mereka selalu berkata saya harus menganggap mereka sebagai orang tua sendiri, tetapi mereka tidak pernah menganggap saya sebagai anak mereka, orang tua kandung saya tidak pernah membedakan suami saya dan saya mereka selalu menerima kekurangan kami bahkan selalu memberi solusi dan biaya untuk kami berobat, yg seharusnya itu saya dapatkana dr pihak mertua saya, apakah saya perlu mempertahankan rmh tangga saya?

    • admin June 7, 2017 at 1:47 am

      Om Suasty Astu,
      Suksma sudah mampir di Blog paduarsana.com. Yang terpenting adalah komitmen dari Ibu Ayu dan Suami. Jika masih saling mencintai kemudian apa alasannya untuk berpikir cerai? anggaplah ini hanya godaan. Tetaplah pada komitmen berdua membentuk keluarga bahagia lahir dan bathin. Tidak hanya Ibu Ayu yang mempunyai masalah seperti ini. diluar sana masih banyak pasangan dengan masalah yang sama bahkan diusia pernikahan yang lebih lama dari Ibu Ayu. Tetaplah bersabar Bu Ayu. Konsultasikan kedokter SPOG. syukur-syukur jika dokter tersebut mempunyai program bagi pasangan suami istri yang ingin memiliki buah hati. Bagaimana pun keluarga suami adalah keluarga terakhir bagi Ibu Ayu. kadang sikap mertua justru akan menimbulkan suasana rumah tangga tidak semakin baik. Apakah komunikasi Ibu Ayu dengan suami berjalan baik ? jika YA bangun komunikasi dan berikan pemahaman kepada keluarga bahwa Bu Ayu dan suami telah berusaha semaksimal mungkin dan akan selalu berusaha tentu dengan dukungan cinta kasih dari keluarga suami.
      Yang terpenting selalu berusaha, jaga komunikasi dengan suami dan keluarga. Astungkara.. semoga lekas mendapatkan buah hati yang suputra. Om santih, santih, santih Om

      • IMD widi July 27, 2017 at 3:34 pm

        Osa. Saya mohon pencerahan, saya ini anak laki2 satu2nya dari 2 orang istri bapak kandung saya (hindu). Istri pertama bapak saya tidak punya anak (hindu). Dan saya anak dari Isteri muda bapak saya (hindu). Selama hidup bapak saya, kedua isterinya tetap menjalankan apa kewajiban istri seorang hindu. Tetapi setelah bapak saya meninggal, isteri muda/ibu saya memutuskan kembali ke agama-nya (islam). Yang saya ingin tanyakan.
        1. Apakah seorang janda/mati kembali ke agama, masih memiliki hak waris-nya ?
        2. Apakah masih berhak janda/mati yang pindah agama itu untuk menikmati hasil dari warisan yg ditinggalkan suaminya?
        3.langkah apa yg harus saya lakukan jika dikemudian hari saya mau balik nama/mengurus adminitrasi warisan yg di tinggalkan bapak (meninggal) tanpa ada ganjalan. Dikarenakan istri muda/ibu saya sudah pindah agama (islam) secara adminitrasi. Matur suksma.

      • admin August 8, 2017 at 1:02 am

        Om Swastyastu, tidak memiliki hak waris mengingat telah meninggalkan agamanya(meninggalkan agama(Hindu)artinya tidak melakukan kewajiban seorang keluarga Hindu). tidak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan pihak2 yang dituakan dikeluarga agar didapatkan solusi yang baik. Om Santhi, Santhi, Santhi Om.

  26. andra August 24, 2017 at 6:23 am

    OSA, yang ingin saya tanyakan adalah, apakah dalam Hukum Hindu kata Rujuk kembali dengan pasangannya itu di perbolehkan? Jika diperbolehkan dan apabila dari pihak laki-laki adalah seorang brahmana dan dari pihak wanita dari golongan sudra, apa yang terjadi jika mereka rujuk kembali?
    mohon pencerahannya. Suksma

    • admin September 13, 2017 at 1:00 am

      Om Swastyastu.. Rujuk sah-sah saja. untuk saat ini apakah KASTA masih menjadi penghalang bagi kita? balik lagi ke keputusan kedua belah pihak dan keluarga besarnya. Suksma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: