Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Daily Archives: September 4, 2012

Tattwa, Susila dan Upacara Hari Raya Saraswati


Saraswati terdiri dari kata: Saras yang berarti sesuatu yang mengalir, dan “kecap” atau ucapan. Wati berarti memiliki, mempunyai. Jadi, Saraswati berarti yang mempunyai sifat, mengalir dan sebagai sumber ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.

Istilah Yang Berhubungan dengan Saraswati:

  1. Dalam ajaran Tri Murti menurut Agama Hindu, Sang Hyang Saraswati adalah Saktinya Sang Hyang Brahman.
  2. Sang Hyang Saraswati adalah Hyang Myangning Pangaweruh.
  3. Aksara merupakan satu-satunya Lingga Stana Sang Hyang Saraswati.
  4. Odalan Saraswati jatuh pada Hari Saniscara(Sabtu) Umanis, Wara Watugunung merupakan hari pemujaan turunnya ilmu pengetahuan oleh umat Hindu.

Ethika dalam perayaan Hari Raya Saraswati:

  1. Pemujaan Saraswati dilakukan sebelum tengah hari.
  2. Sebelum perayaan Saraswati, tidak diperkenankan membaca atau menulis.
  3. Bagi yang menjalankan “Brata Saraswati” tidak diperkenankan membaca dan menulis selama 24 jam.
  4. Dalam mempelajari segala “pangeweruh” selalu dilandasi dengan hati “Astiti” kepada Hyang Saraswati, termasuk dalam hal merawat perpustakaan.

Upakara: Semua pustaka-pustaka keagamaan dan buku-buku pengetahuan lainnya termasuk alat-alat pelajaran yang merupakan “Lingga Stana Hyang Saraswati” dilakukan ditempat yang layak. Adapun Upacara/upakara Saraswati sekurang-kurangnya: Banten Saraswati, Sodaan Putih-Kuning dan canang selengkapnya. Tirta yang dipergunakan hanya tirta Saraswati, diperoleh dengan jalan memohon ke hadapan Hyang Surya sekaligus merupakan tirta Saraswati, di tempat lingga Saraswati masing-masing.

Pelaksanaan upacara Saraswati didahului dengan menghaturkan penyucian, ngayabang aturan, muspa kemudian matirtha. Banyupinaruh(pina wruh) jatuh sehari setelah hari raya Saraswati yaitu Redite Paing Sinta. Umat Hindu melakukan asuci laksana(mandi, keramas, dan berair kumkuman). Selanjutnya dihaturkan labaan nasi pradnyan, jamu sad rasa dan air kumkuman. Setelah diaturkan pasucian/kumkuman labaan dan jamu, dilanjutkan dengan nunas kumkuman, muspa, matirtha nunas jamu dan labaan Saraswati/nasi pradnyan barulah upacara diakhiri.

Pedoman kepustakaan dalam hubunganya dengan Saraswati antara lain:

  1. Tutur Aji Saraswati
  2. Sundarigama
  3. Medangkemulan
  4. Purwaning Wariga
Advertisements

Uang Kepeng Dalam Upacara Agama Hindu


Uang Kepeng | Pis Bolong

Pada abad ke-7 Masehi berdasarkan berita-berita China dari Dinasti Tiang, di Bali telah beredar uang Kepeng(pis bolong) yang diduga permulaannya adalah berfungsi sebagai alat tukar. Berdasarkan bukti-bukti prasasti Sukawana A1 yang berangka 882 Masehi uang kepeng itu diduga telah digunakan dalam upacara agama Hindu di Bali. Selain itu terdapat jenis uang kepeng buatan luar negeri seperti china, korea, jepang, anam dan indonesia.

Menurut cerita pada masa lampau, ada seorang musafir dari dari Cina yang bernama Fa Hien pergi berlayar menuju ke tanah Hindu yaitu India dan Srilangka. Setelah beberapa lama berada di sana, ia kemudian kembali ke negeri asalnya sekitar 414 Masehi. Namun di tengah perjalanan, kapal yang ditumpanginya diserang badai dan mengalami kerusakan. Kapal tersebut kemudian terdampar di sebuah pulau yang kemudian dikenal sebagai Ya-wa-di. Konon yang dimaksud dengan Ya-wa-di adalah Jawa Dwipa atau Pulau Jawa. Ada kemungkinan pada masa itu uang kepeng sudah mulai diperkenalkan di sana.

Uang kepeng(pis bolong) memiliki fungsi yang sangat penting dalam upacara agama Hindu di Bali, bahan pembuat uang kepang yang asli mengandung unsur-unsur Pancadatu, seperti: Tembaga, timah, besi, perak dan emas.

Uang kepeng berbentuk bulat melambangkan windu. Adapun fungsi uang kepeng dalam upacara agama Hindu:

  1. Sebagai sarana untuk melengkapi upakara Panca Yadnya, Misalkan: dalam akah banten, dalam buah Us, orti dll.
  2. Sebagai Sesari.
  3. Sebagai alat upacara seperti: lamah-tamiang, salang, payung pagut, penyeneng.

Saat ini uang kepeng asli semakin sulit didapat, uang kepeng yang ada dipasar saat ini terbuat dari besi atau bahkan seng. dengan demikian sebagian besar fungsi uang kepeng dalam upacara agama mulai tergantikan oleh uang yang mempunya nilai tukar yang sah.

%d bloggers like this: