Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Monthly Archives: December 2012

Upacara Pabayuhan Sapuh Leger


Umat hindu terutama di Bali sangat meyakini, bahwa orang yang lahir pada Wuku Wayang (lebih lebih pada Tumpek Wayang) merupakan hari kelahiran yang cemer, mala serta melik (kepingit). Dan kebanyakan orang tua yang mempunyai anak lahir pada wuku wayang merasakan ketakutan dan was was atas kelanjutan kehidupan anaknya. Kebanyakan yakin dengan adanya cerita Geguritan Suddamala yang menceritakan ; Dewa Siwa pura pura sakit keras, dan mengutus Dewi Uma mencari Lembu Putih dialam fana sebagai obat. Dan sebelum susu didapat Dewi Uma tidak dipekenankan kembali ke Siwaloka, Sang dewi sangat patuh melaksanakan perintahnya, singkat cerita Dewi Uma menemukan Lembu Putih tersebut, ternyata untuk mendapatkan susu lembu dewi uma harus melakukan hal yang tidak terpuji yaitu harus mengorbankan kehormatannya dengan si gembala . Dan atas perbuatannya itu Dewa Siwa mengutuk Dewi Uma menjadi Dewi Durga, berujud raksasa dan tinggal di Setra Gandamayu. Dan selanjutnya dari hubungan itu lahirlah seorang anak bermasalah yaitu Dewa Kala sosok makhluk raksasa yang menyeramkan yang konon lahir pada Sabtu Kliwon Wuku Wayang (terkenal dengan Tumpek Wayang). Putra dari Dewa Siwa yang menyamar sebagai pengembala, merasa bertanggung jawab dengan penyamarannya mengakui Dewa Kala putranya. Atas pertanyaan Dewa Kala makanan apa yang bisa disantap, Dewa Siwa memberi Ijin kepada putranya orang yang lahir menyamai kelahiran Dewa Kala sendiri dan. Ternyata, putra siwa berikutnya yakni Rare Kumare lahir di Tumpek Wayang. Maka Dewa Kala pun harus menyantap Rare Kumare meskipun adik kandungnya sendiri, Nah cerita ini berkembang disebut Sapuh Leger.

sapuh leger

Image by: Jawa Post

Kata Sepuh Leger berasal dari kata Sepuh dan Leger yang artinya pembersihan dari kekotoran dan masyarakat lakon ini ditampilkan melalui pertunjukkan wayang, secara keseluruhan “ Wayang Sapuh Leger adalah drama ritual dengan sarana pertunjukkan wayang kulit yang bertujuan untuk pembersihan atau penyucian diri seorang akibat tercemar atau kotor secara rohani.

Di masyarakat berkembang adanya suatu pertanyaan sekaligus pendapat tentang hal itu, yaitu yang benar dan patut tentang “dalang brahman atau brahmana dalang”. untuk hal itu, disamping sebagai wujud bhakti kehadapan Ida Bhatara Kawitan dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan juga sebagai pelaksanaan bhakti sosial kehadapan umat hindu juga untuk memberikan pemahaman kehadapan umat hindu tentang pelaksanaan upacara Sapuh Leger baik dari segi tata laksana proses dan yang berhak dan berkewenangan untuk “muput”.

Sesuai dengan apa yang disebutkan di depan tentang pemberian suatu pemahaman perihal pelaksanaan upacara Sapuh Leger, pada kesempatan ini disampaikan beberapa hal yang harus dimiliki oleh seorang Amengku Dalang (baca: Dalang Mpu Leger) yang berkewenangan sebagai pemuput dan dibantu oleh yang lainnya, adalah sebagai berikut :
Dalang seharusnya seorang Dalang Brahmana yaitu seorang Pandita sebagai Dalang dan atau yang berlatar belakang dalang yang disebut Ida Mpu Leger.
Beliau adalah seorang Mpu Leger yang mampu dan paham serta menguasai Ketattwaning / Dharma Pewayangan.
Beliau juga tahu dan paham serta menguasai mantram pengelukatan seperti : Agni Nglayang, Asta Pungku, Dangascharya, Sapuh Leger serta mantram pengelukatan lainnya.
Beliau memang benar-benar mampu dan menguasai Gagelaran sebagai seorang Pandita (Mpu Leger) dan dalam segala tindak tanduk dan tingkah laku tiada terlepas dari Sesana Kawikon (siwa sesana) antaranya sebagai Sang Satya Wadi, Sang Apta, Sang Patirthan Dan Sang Penadahan Upadesa (siwa-sadha siwa-parama siwa).

UPAKARA

Sesuai dengan apa yang disebutkan dalam beberapa lontar penunjang, khususnya Lelampahan Wayang Sapuh Leger disamping juga atas petunjuk dan hasil wawancara (baca: Nunasang) kehadapan Ida Pandita Mpu Leger tentang pelaksanaan Upacara Bebayuhan Weton Sapuh Leger, maka dapat disebutkan bahwa untuk upacaranya sebagi berikut :

1. Umum.

Untuk upakara dimaksud adalah dihaturkan kehadapan-Nya bagi sang maweton secara keseluruhan antaranya :

  • Ngadegang Sanggar Tuttuan / Tawang (sanggar tawang ).
  • Ring Sor Surya : Caru mancasata

Banten Panebasan Sang Maweton :

  • Banten arepan Kelir :
  • Ring Lalujuh Kelir
  • Banten Sang Dalang Mpu Leger : Bebangkit Asoroh
  • Genah tirtha Mpu Leger, Sangku Suddhamala
  • Tebasan Sungsang Sumbel
  • Tebasan Sapuh Leger :
  • Tebasan Tadah Kala :
  • Tebasan Penolak Bhaya :
  • Tebasan Pangenteg Bayu :
  • Tebasan Pengalang Hati :
  • Sesayut Dirghayusa ring Kamanusan :
  • Daksina Panebusan Bhaya :

Medudus Luwun setra lan luwun pempatan, luwun pasar,gumpang injin,gumpang ketan,gumpang padi , rambut Ida Pandita lan menyan, dengan upakara suci pejati lan segehan panca warna ditempatkan di pane . semua proses ini dilakukan didepan angkul angkul baru dilanjut kan dengan pelukatan secara bersama sama ring pemedal lebuh..

Tirta pemuput :

  • Tirta Kelebutan
  • Tirta Campuan
  • Tirta Segara
  • Tirta Melanting
  • Tirta Pancuran
  • Tirta Tukad Teben Seme/Setra
  • Tirta Padmasari ring Sekrtariat
  • Tirta Merajan soang soang
  • Tirta Pengelukatan Wayang
  • Tirta Jagat Nata
  • Tirta Pemuput/ Sulinggih

Khusus.
Disamping upakara secara umum di atas, untuk masing-masing dari mereka yang dibayuh dibuatkan upakara khusus sesuai hari kelahiran, antaranya berupa : Suci pejati, Praspengambean tumpeng 7 asoroh, daksina gede sesuai urip kelahiran, sesayut pengenteg bayu,merta utama, pageh urip dan disurya munggah Suci pejati, Bungkak Nyuh Gading lan pengeresik jangkep dan dilengkapi sesayut-sesayut sesuai dengan kelahiran ; :

  • Wetu Redite : Sesayut Sweka Kusuma –
  • Wetu Soma : Sesayut Nila Kusuma Jati / Citarengga
  • Wetu Anggara : Sesayut Jinggawati Kusuma / Carukusuma –
  • Wetu Budha : Sesayut Pita Kusuma Jati / Purnasuka
  • Wetu Wraspati : Sesayut Pawal Kusuma Jati / Gandha Kusumajati –
  • Wetu Sukra: SESAYUT RAJA KUSUMA JATI / WILET JAYA RAJA DIRA
  • Wetu Saniscara : Sesayut Gni Bang Kusuma Jati / Kusuma Gandha Kusuma

Beberapa tattwa atau filsafat yang dipakai rujukan pada pelaksanaan Upacara Bebayuhan Sapuh Leger ini salah satunya rujukan dari:

  • Lontar Kala Purana ( Pusdok Denpasar lembaran 1 s/d 89).
  • Lelampahan Wayang Sapuh Leger (K 2244) 1 s/d 100 dan bebantenannya.
  • Kidung Sapuh Leger (645).
  • Pedoman Pelaksanaan Bebayuhan Sapuh Leger Oleh Ida Bgs Puja
  • Warespati Tatwa lan Bebayuhan Oton
  • Upacara Bebayuhan Weton Sapuh Leger MGPSSR Kecamatan Gianyar 2010
  • Wayang Sapuh Leger Fungsi dan Maknanya dalam Masyarakat Bali Oleh I Dewa Ketut Wicaksana.
Advertisements

Apakah Tuhan Semua Agama itu Sama?


Persamaan Pendapat.
Pada dasarnya semua agama mengajarkan keyakinan seperti dibawah ini : Tuhan adalah yang menciptakan semesta alam dan seisinya. Tuhan adalah yang menghidupi semua mahluk hidup. Tuhan adalah yang berkuasa atas semesta alam dan semua mahluk hidup. Tuhan adalah yang menjadi penyembahan dan pemujaan umat manusia. Tuhan adalah yang Maha Esa. Khusus di Indonesia semua agama sepakat dengan butir kelima yang menjadi sila pertama dari Pancasila yaitu KeTuhanan Yang Maha Esa.Akan tetapi apakah masing masing umat beragama memahami bahwa Tuhannya berbeda dengan Tuhan umat beragama lain? Jawabannya perlu pembahasan dibawah ini.

Perbedaan Pendapat.
Perbedaan bahasa. Masing masing bangsa (umat) menyebut Tuhan sesuai dengan bahasanya, seperti : Yahudi menyebut dengan nama Yahweh, Arab dengan nama Allah, Hindia – Brahman, Inggris – God, Yunani – Deo, Bali – Sang Hyang Widhi, Sunda ada yang menyebut Gusti, Jawa dengan berbagai sebutan seperti Pangeran, Hyang Manon, Hyang Widhi, Suksma Kawekas, dll. Termasuk bangsa bangsa lain diseluruh dunia ini menyebut sesuai dengan bahasanya.

Pertanyaannya adalah apakah kalau sebutannya berbeda, dapat dikatakan Tuhannya juga berbeda? Jawabannya perlu uraian dibawah ini.

Umat beragama di dunia ini terutama yang berakal sehat, berpendapat bahwa meskipun berbeda agama, Tuhan tetap sama, karena keyakinan seperti tersebut di bab A. Perbedaan hanya karena bahasa atau sebutannya saja.

Namun ada sebagian umat agama tertentu yang berpendapat bahwa Tuhan yang benar adalah yang sesuai dengan bahasanya atau sebutannya. Dinyatakan bahwa Tuhan yang benar adalah yang sebutannya A, kalau sebutannya B, D, G, H, S dan Y maka itu Tuhan yang salah. Pertanyaannya adalah bagaimana Tuhan Yang Maha Esa, yang memiliki semesta alam seisinya termasuk seluruh bahasa didunia ini, menyikapi pernyataan agama tertentu tersebut?

Tuhan Yang Maha Luhur dan Maha Kasih, sumber segala ilmu lahir dan batin, yang mengatur setiap kejadian seperti kejadian adanya berbagai agama dan berbagai bahasa di dunia ini, pastinya menerima seluruh umat manusia yang menganut berbagai agama dan menggunakan berbagai bahasa dengan tanpa pilih kasih. Ibarat eorang ibu yang memiliki banyak anak, tidak akan membeda bedakan kasih sayangnya meskipun ada salah satu anaknya yang merasa paling benar dan menganggap saudara saudaranya salah. Apalagi Tuhan yang memiliki berbagai umat dunia ini sebagai anak anakNya, tidak akan membeda bedakan satu sama lain, meskipun ada salah satu anakNya yang merasa paling baik. Tuhan Yang Maha Mulia tentu juga tidak terprovokasi oleh yang suka menjelek jelekkan saudara saudaranya. Tapi Tuhan Maha Pengampun, maka mengampuni anakNya yang satu itu, maklum dulu lahir ditempat yang gersang dan panas sehingga bertemperamen keras. Akan tetapi Tuhan juga Maha Adil, maka anakNya yang paling berbakti mendapatkan anugerah berupa kelebihan dari pada yang lain, seperti kecerdasan, kecakapan, ketrampilan, dll kemampuan.

Jadi kesimpulannya Tuhan Yang Maha Esa ini tetap menjadi Tuhannya berbagai agama yang masing masing bisa saja menyebutNya dengan bahasa yang berbeda.

Perbedaan pemahaman tentang Tuhan.
Pemahaman tentang (Ilmu) keTuhanan, meliputi segala aspek tentang Tuhan. SifatNya, KarsaNya, keMaha SegalaanNya dan keberadaanNya. Didalam ajaran Islam termasuk Tauhid, sedang didalam ajaran Hindu termasuk Tatwa. Tentunya Tuhan mengajarkan dasar dasar Ilmu keTuhanan yang sama untuk berbagai agama. Apabila terjadi perbedaan, karena pemahaman (penafsiran) yang berbeda. Jadi umat agama yang satu dalam menafsirkan ilmu keTuhanan bisa ada perbedaan dengan umat agama lainnya. Sehingga ada hal hal tertentu yang satu sama lain tafsirannya sama, ada hal hal lain yang tafsirannya berbeda. Bahkan dalam satu agamapun yang berbeda golongan, bisa terjadi beda tafsir. Penyebabnya disamping perbedaan ruang dan waktu, juga karena perbedaan tingkat spiritual dan perbedaan kemampuan daya pikir, yang resultantenya berupa perbedaan tingkat kesadaran berkeTuhanan. Gus Dur secara bergurau menceritakan ada 3 orang yaitu seorang pastur, seorang pendeta Hindu dan seorang kyai, berdialog tentang kedekatan umat dengan Tuhan. Sang pastur mengatakan bahwa umatnya memanggil Tuhan dengan sebutan Bapak, untuk menunjukkan kedekatannya, ibarat bapak dengan anak. Sang pendeta mengatakan bahwa umatnya memanggil Tuhan dengan sebutan Om (yang oleh Gus Dur diartikan sebagai paman), bukankah antara paman dengan keponakan juga dekat. Sang kyai tadinya diam saja, kemudian didesak untuk berpendapat, akhirnya mengatakan : ”Umat saya boro boro dekat dengan Tuhan, untuk memanggil saja harus bikin menara terlebih dulu, sudah itu teriak teriak meskipun sudah pakai pengeras suara, supaya Tuhan yang jauh dilangit sap 7 bisa mendengar”. Guyonan ini menyiratkan perbedaan prinsip tentang dimana Tuhan berada.

Sebagai contoh umat Hindu meyakini bahwa Tuhan sudah berada didalam hati manusia. Sedang umat Islam menafsirkan Tuhan berada di Arasy, yaitu bersinggasana di atas langit sap ke tujuh. Jika demikian apakah Tuhan umat Hindu berbeda dengan Tuhan umat Islam? Untuk menjawab perlu analogi.

Suatu ketika Kulkas, Setlika dan Kipas angin berdialog tentang Sumber tenaganya yaitu Listrik. Kulkas berkata: “Listrik itu dingin, buktinya aliran listrik menjadikan saya menjadi dingin”. Setlika membantah dengan mengatakan: “Kulkas kamu salah, Listrik yang benar itu panas, buktinya kalau Listrik datang, saya menjadi panas”. Kipas angin berpendapat lain lagi: “Listrik yang benar itu berputar dan menimbulkan angin yang segar. Kalau menjadikan rasa dingin atau panas itu bukan Listrik”. Ketiganya berbantah berdasarkan yang dirasakan sendiri, sehingga tak ada ujung penyelesaiannya. Sampai kemudian datang Sarjana Listrik memberikan pencerahan dengan mengatakan: “Kulkas, Setlika dan Kipas angin, kalian semuanya benar sesuai dengan yang masing masing alami dan rasakan. Oleh karena itu tidak perlu menyalahkan satu sama lain. Ketahuilah bahwa Listrik itu dapat menimbulkan dingin, panas dan angin sesuai dengan kapasitas dan potensi kalian masing masing. Bahkan lebih dari itu, bila Lampu berhubungan dengan Listrik dapat menimbulkan cahaya, bila Radio berhubungan dengan Listrik dapat menimbulkan suara, bila TV berhubungan dengan listrik dapat menimbulkan gambar dan masih banyak lagi kemampuan Sang Listrik, sekali lagi sesuai dengan kapasitas dan potensi masing masing”. Setelah mendapatkan pencerahan dari Sarjana Listrik maka ketiga saudara Kulkas, Setlika dan Kipas angin menjadi faham dan rukun kembali.

Demikian pula dengan pemahaman umat Islam, bahwa Tuhan berada di Arasy yaitu singgasana diatas langit sap tujuh. Sedang pemahaman umat Hindu, Tuhan berada didalam hati setiap manusia. Keduanya satu sama lain berbeda pemahaman, tetapi keduanya bisa benar, karena Tuhan meliputi semesta alam dan seisinya. Bahkan apabila ada anggapan Tuhan berada lebih jauh dari langit sap tujuh yaitu di ujung galaxy yang jaraknya dari bumi membutuhkan waktu jutaan tahun kecepatan cahaya, juga tidak salah karena Tuhan memang juga ada disana. Sebaliknya apabila ada pendapat bahwa Tuhan sudah menyatu didalam hati setiap umatnya, sebagaimana anggapan kelompok penghayat kepercayaan, juga tidak dapat disalahkan, karena sekali lagi, Tuhan meliputi semesta alam seisinya baik itu ditempat yang dekat sekali maupun ditempat yang jauh sekali. Orang Jawa bijak menyatukan dua pendapat yang berbeda itu dengan ungkapan : Cedak ora sesenggolan, adoh tanpa antara. Terjemahannya dekat tidak bersinggungan jauh tanpa jarak, yang artinya adalah bertunggalnya umat dengan Tuhan yang meliputi semesta alam seisinya.

Pengalaman penulis tahun 1996 ketika masih dinas di Surakarta, dengan staf berjumlah 40 PNS. Yang beragama Islam sebanyak 30 orang kami kumpulkan di ruang rapat dan ditanya : “Apakah Tuhan agama Kristen sama dengan Tuhan agama Islam?”. Hampir semuanya menjawab tidak sama, kecuali 3 orang yang termasuk Islam Abangan (yang sekedar tercantum di KTP beragama Islam) serta 1 orang penganut kepercayaan (juga ber KTP Islam) menjawab sama. Dilain waktu 10 orang yang beragama Kristen ketika ditanya : “Apakah Tuhan agama Islam sama dengan Tuhan agama Kristen?”. Semuanya menjawab sama. Sambil menguji, pertanyaan kami selanjutnya :”Bagaimana dengan pandangan umat Islam bahwa umat Kristen berTuhan 2 yaitu Tuhan Allah (Allah Sang Bapa) dan Tuhan Yesus (Allah Sang Putra)?”. Sejenak diam hingga ada beberapa orang yang menjawab yang apabila dirangkum jawabannya sbb :

Pada prinsipnya Kristen menganut satu Tuhan juga, sedang sebutan Tuhan Yesus (Allah Sang Putra) mengandung maksud :

Bahwa Yesus itu sudah sedemikian dekatnya dengan Allah, ibarat anak dengan bapak, maka disebut Allah Sang Putra. Kami semua ini kalau betul betul menjadi Kristen seperti yang diajarkan Yesus, juga dapat disebut Anak Allah, karena dekat dengan Allah, ibarat anak dengan bapak.

Sebutan Tuhan Yesus, untuk memberikan pemahaman dan keyakinan kepada umat Kristen bahwa Yesus itu tidak hanya dekat dengan Tuhan, bahkan Roh Yesus itu sudah menyatu dengan Tuhan. Sehingga segala sesuatu yang dirasakan, diucapkan dan dilakukan Yesus adalah Kehendak Tuhan, Keadilan Tuhan, Kebijaksanaan Tuhan dan Kekuasaan Tuhan.

Atas pertanyaan :”Kalau begitu mengapa tidak menyebut saja Tuhan Allah, sedang sebutan Tuhan Yesus tidak usah dipakai?”, jawabnya adalah sebutan Tuhan Yesus untuk menunjukkan identitas sebagai umat Kristiani, sekaligus untuk selalu mengingat Yesus sebagai Nabi, Utusan Tuhan, Juru Penolong, Juru Penghibur dan Juru Penuntun dijalan benar.

Dari rangkuman jawaban diatas, dapat ditambahkan bahwa ungkapan Yesus sebagai Anak Allah adalah kiasan, jadi bukan berarti anak biologis Tuhan. Sebutan Tuhan Yesus diberikan karena pada hakekatnya Yesus itu, mengambil istilah para penghayat kepercayaan, sudah mencapai tingkat Manunggaling Kawula Gusti, didalam ajaran Hindu disebut sebagai Moksha yaitu menyatunya Atman denga Brahman. Sedang Tuhan Yesus dan Tuhan Allah, bukan berarti ada 2 Tuhan. Seperti diagama Islam disebut Al Rahman, Al Rahiim, Al Malik, Al Quddus, Al Salaam, Al Mukmin, dstnya ada 99 nama didalam Asmaul Husna, bukan berarti Tuhan ada 99. Demikian pula didalam ajaran Hindu ada Brahma sebutan untuk Tuhan Yang Maha Pencipta, Wisnu sebutan untuk Tuhan Yang Maha Pemelihara dan Siwa sebutan untuk Tuhan Yang Maha Pelebur; bukan berarti Tuhan ada 3.

Betulkah Ada Banyak Tuhan?
Sebagian besar umat Islam tingkatan awam, menyatakan bahwa Tuhan yang benar adalah yang satu, bukan 2 dan bukan 3, yang sebutannya Allah. Sang Hyang Widhi, Yahweh, Deo dan God adalah Tuhan agama lain! Pernyataan ini berarti bahwa mereka menganggap ada banyak Tuhan, yaitu Tuhannya agama lain. Ada Tuhan yang namanya Sang Hyang Widhi yang khusus menguasai kehidupan umat Hindu, ada Tuhan yang namanya Yahweh yang khusus mengatur nasib umat Yahudi, dstnya. Jadi bila penduduk dunia ini ada 7 milyard, maka Allah hanya berkuasa terhadap I,5 milyard yang beragama Islam, sedang yang 5,5 milyard dikuasai oleh Tuhan Tuhan lain yang sebutannya bukan Allah? Jika demikian halnya maka Tuhan yang telah menciptakan seluruh umat manusia yang berjumlah 7 milyard ini, tidak diakui oleh umat Islam yang Tuhannya hanya mencipta 1,5 M umat Islam?

Terlepas dari anggapan diatas, adalah suatu fakta (kenyataan) bukan sekedar kepercayaan, bahwa Tuhan Yang Maha Tunggal itu, yang tiada duanya, adalah yang menguasai dan mengatur kehidupan seluruh 7 milyard manusia apapun agamanya dan apapun sebutan yang diberikan kepada Tuhan. Bahkan yang tidak berTuhan atau yang tidak percaya kepada Tuhanpun, tetap dikuasai oleh Tuhan.

Dalam kehidupan sehari hari yang dialami orang perorang, meskipun untuk hal yang sangat sepele sekalipun, tidak bisa lepas dari Kekuasaan Tuhan, Keadilan Tuhan dan Kehendak Tuhan. Jadi sekecil apapun kebaikan akan memperoleh balasan kebaikan, sekecil apapun keburukan akan memperoleh balasan keburukan, inilah bukti Keadilan Tuhan. Didalam ajaran Hindu termasuk bagian dari Hukum Karma, meskipun para kyai dan ustadz mengatakan ajaran Islam tidak ada Hukum Karma, namun setiap umat Islam tetap tidak dapat lepas dari Hukum Karma, termasuk terhadap para kyai itu. Bahkan tujuan hidup umat Hindu yaitu Moksha (Manunggaling Kawula Gusti) adalah tujuan akhir dari setiap Ruh umat Islam juga, meskipun tidak disadarinya. Seperti reinkarnasi, tidak hanya terjadi pada umat Hindu dan Budha, tetapi seluruh umat manusia yang beragama Islam dan Kristen, bahkan yang tidak beragama dan yang tidak percaya reinkarnasi, akan mengalami reinkarnasi itu. Jadi meskipun umat Islam tidak mempercayai dan tidak menyadari bahwa Tuhannya dapat melakukan reinkarnasi terhadap mereka, namun Allah tetap melakukan reinkarnasi terhadap mereka. Apalagi doa bagi yang meninggal dunia hanya sebatas :”Kembali disisi Tuhan”, berarti meninggal belum sempurna, maka perlu dihidupkan kembali didunia sekali atau berkali kali lagi sampai pada tingkat meninggal yang sempurna yaitu : “ Bertunggal dengan Tuhan”. Penalaran spiritual mengatakan, kalau begitu umat Islam tidak pernah sampai pada tingkat bertunggal dengan Tuhan karena memahami saja belum, oleh karena itu setelah meninggal selalu dihidupkan kembali sampai memperoleh keberuntungan masuk dalam keluarga Hindu, sehingga mencapai tingkat kesadaran tertinggi yaitu bercita cita untuk bertunggal dengan Tuhan. Oleh karena itu keluarga Hindu harus menerima dengan tulus dan ikhlas, jiwa jiwa orang Islam yang telah meninggal dan hidup kembali (mungkin menjadi anak atau cucu) agar kematian berikutnya mencapai kesempurnaan, yaitu moksha. Sebab kalau hidup kembali tetap berada di keluarga Islam, kasihan sekali, tidak akan dapat bertunggal dengan Tuhan. Lebih kasihan lagi yang dulunya sudah Hindu, kemudian hidup kembali sebagai orang Islam. Inilah yang dialami oleh mayoritas orang Jawa dan Sunda yang hidup diabad ini.

Kesimpulan.
Masing masing umat beragama pada dasarnya meyakini bahwa semesta alam dan seisinya, termasuk 7 milyard manusia ini, diciptakan dan dikuasai oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Tuhan Yang Maha Tunggal, sebagai satu satunya pencipta kejadian, termasuk menciptakan kejadian berbagai bahasa dan agama, adalah tetap menjadi satu satunya Tuhan yang dipercayai dan disembah oleh semua umat beragama, meskipun masing masing menyebut dengan nama yang berbeda, sesuai dengan bahasa atau sebutan yang dianut oleh masing masing agama.

Perbedaan ajaran agama sebaiknya disikapi secara positif, sebagai pentahapan tingkat kesadaran yang berjenjang. Selayaknya yang berada ditingkat kesadaran diatas dapat memahami yang masih berada ditingkat kesadaran dibawahnya. Sebaliknya, tidaklah menjadi masalah apabila yang masih berada ditingkat bawah tidak dapat memahami yang diatasnya, karena hal ini adalah wajar. Sehingga apabila ada agama baru yang mengajarkan tingkat kesadaran berkeTuhanan yang masih rendah dengan menganggap Tuhannya yang paling benar dan agamanya yang paling baik, tidak perlu disikapi dengan cara yang sama oleh umat agama yang lebih tua. Mudah mudahan dengan melalui proses reinkarnasi, tahap demi tahap dapat mencapai tingkat kesadaran berkeTuhanan yang tertinggi, yaitu bertunggal dengan Tuhan Yang Maha Esa.

“Selama Tuhan tampak di luar dan jauh sekali, selama itu ada kebodohan. Tetapi di mana Tuhan direalisasikan di dalam, itu adalah pengetahuan yang benar.” Sri Ramakrishna Paramahamsa (1836-1886)

**Media Hindu Net

Sengsara


Oleh : Bhagawan Dwija

Kisah hidup keluarga Putu Sutisna dari Desa Pemaron, Singaraja, mungkin dialami pula oleh banyak umat Hindu di Bali. Seolah-olah dia ditakdirkan untuk hidup dalam keadaan susah di awal kehadirannya di dunia.

Ketika lahir di tahun 1970, ibunya meninggal dunia karena komplikasi penyakit kandungan, pendarahannya tidak berhenti. Hanya dua hari ibu yang malang itu sempat menatap wajah anak satu-satunya, sebelum ia meninggalkan dunia yang fana ini.

Ayahnya yang tidak mempunyai pekerjaan tetap setengah mati bekerja membanting tulang mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Berbagai jenis pekerjaan dilakukannya demi sesuap nasi. Mulai dari menerima upah memetik kelapa, menanam, dan menuai padi, buruh bangunan, terkadang membantu pekerjaan di rumah orang, dan lain-lain.

Sementara bekerja, anaknya dititipkan pada orang tuanya yang juga hidup di bawah standar garis kemiskinan. Malam hari tatkala mata tak bisa terpejam karena tangisan si anak, ia merenung meratapi diri, kenapa hidupnya turun temurun selalu susah.

Konon ketika generasi kakeknya, hidup mereka berkecukupan, ada sawah dan kebun yang cukup menunjang kebutuhan sehari-hari. Tetapi ketika sawah dan kebun itu dijual untuk biaya upacara Ngaben kakeknya, hidup mereka mulai sulit, berlanjut terus sampai ke generasi anaknya yang baru lahir ini.

Sekitar setengah kilometer di arah barat gubuk Pan Sutisna, masih di bilangan Desa Pemaron, tinggallah seorang Pendeta Gereja Protestan bernama Pieter Ketut Sudarsana. Ia menerima laporan dari anak buahnya tentang hidup Pan Sutisna yang sulit, tidak punya pekerjaan, lebih-lebih dibebani anak yang ditinggal mati ibunya.

Suatu senja Pieter berkunjung ke rumah Pan Sutisna. Ia tidak datang begitu saja, tetapi membawa pula oleh-oleh berupa susu bayi, selimut, pakaian bekas, sembako, dan uang Rp.300.000,– Pan Sutisna terkejut menyambut Pieter yang datang tiba-tiba ke rumahnya yang kumuh. Pieter tidak segan-segan duduk di lantai tanah beralaskan tikar dekil, seraya merangkul Putu Sutisna yang baru berusia 20 hari.

“Kasihan anak ini Bapak, siapa namanya ?” Pieter membuka percakapan sambil mengembangkan senyum ramah. “Putu Sutisna, Bapak Pendeta” jawab Pan Sutisna sambil menerka-nerka apa gerangan maksud kedatangan Pieter ke rumahnya.

Keheranan Pan Sutisna rupanya terbaca oleh Pieter. “Oh jangan salah duga, saya ke sini hanya merasa kasihan melihat keadaan Bapak, dan saya ingin membantu sekedarnya. Bantuan yang saya bawa sekarang tidak ada artinya apa-apa, tetapi saya minta Bapak mau menerimanya, karena pemberian ini datang dari hati saya yang tulus” kata Pieter, sambil memasukkan botol dot susu ke mulut mungil Putu Sudarsana.

Bayi itu menikmati kehangatan pelukan Pieter dan menyedot botol susu hingga habis tandas. Ia tertidur pulas. Pieter kemudian membaringkan bayi di tempat tidur sambil menyelimutinya.

“Bapak tidak punya saudara atau kerabat lain di sini ?” tanya Pieter sambil duduk dekat Pan Sutisna. “Ada, tetapi hidupnya juga susah seperti saya; mereka sangat miskin, bagaimana bisa membantu saya ?” “Lalu Bapak tidak punya pekerjaan ?” selidik Pieter mencocokkan informasi anak buahnya. “Tidak Bapak Pendeta, saya tidak punya pekerjaan tetap, sehingga untuk makan sehari-hari saja sudah sulit, apalagi untuk merawat bayi ini”

Pieter mengangguk-angguk turut merasakan kepahitan Pan Sutisna. “Bapak, saya harus pulang sekarang, tetapi bila ada kesulitan apa-apa jangan segan menghubungi saya; tahu kan rumah saya ?” “Ia Bapak Pendeta, yang di dekat Gereja itu kan, saya sangat berterima kasih atas kedatangan dan bantuan Bapak Pendeta”

Sepeninggal Pieter, Pan Sutisna mencakupkan kedua tangan di atas dahinya : “Hyang Widhi, Engkau sudah mengirimkan seorang penolong kepadaku, terima kasih” Hatinya berbunga-bunga, karena uang tiga ratus ribu rupiah itu sudah cukup untuk makan sebulan.

Segera ia lari ke dapur menanak nasi dan makan sampai kenyang. Setelah itu ia menengok bayinya yang masih tidur lelap. Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih kepada Hyang Widhi, dan selalu teringat dengan senyum ramah Pieter dan kata-katanya yang memukau. Ia merasa mendapat seorang sahabat yang mengerti pada penderitaannya.

Seminggu kemudian, Pieter berkunjung untuk kedua kalinya ke rumah Pan Sutisna. “Bagaimana bayinya, apa persediaan susunya masih ada ?” “Oh, Bapak Pendeta, silahkan duduk Bapak, maaf saya tidak segera menyambut, karena masih membelah kayu bakar di belakang. Susunya masih dan si Putu sekarang sudah jarang menangis.”

“Betul, kelihatannya dia cukup sehat, tetapi bayi perlu diberi imunisasi agar terhindar dari penyakit dan infeksi. Bisakah kita bawa dia sekarang ke klinik di Gereja ?” Pan Sutisna terkejut : “Maaf Bapak Pendeta, saya tidak punya uang untuk berobat”.

Pieter cepat menjawab : “Tidak usah memikir hal itu, karena Gereja menyediakan pengobatan gratis. Kasihan bayi ini kalau tidak dirawat semestinya” Pieter segera membopong si bayi, dan Pan Sutisna hanya bisa mengikuti dari belakang sambil berpikir, alangkah mulianya hati Bapak Pendeta, mau membantu orang miskin tanpa imbalan apa-apa.

Sampai di klinik Gereja, bayi segera diserahkan kepada perawat bernama Marry Luh Putu Aryani. Perawat tamatan Surabaya ini memeriksa bayi dengan teliti, dan memberikan imunisasi sebagaimana mestinya.

Pan Sutisna terbengong-bengong saja melihat kesibukan di klinik. Ada banyak bayi yang ditempatkan di sebuah kamar, masing-masing di tempat tidur kecil yang nyaman. Mereka kelihatannya sehat-sehat, montok, ada yang tertidur, dan ada yang terjaga, lalu tertawa-tawa ketika Pieter menyentuh tangannya.

Pieter memeriksa semua bayi itu didampingi perawat Marry. “Mereka semua senasib dengan Sutisna” kata Pieter memecah keheningan. “Juga berasal dari keluarga tidak mampu seperti Bapak; maka atas persetujuan orang tuanya, bayi itu diserahkan ke kami untuk dirawat secara cuma-cuma. Kalau Bapak setuju, bisa juga Bapak titipkan Sutisna di sini; setelah sehat dan cukup kuat, dia bisa Bapak bawa pulang ke rumah”

Kata-kata Pieter bagaikan hembusan angin dingin di musim kemarau, menyejukkan dan memberi harapan hidup. Tanpa berpikir panjang, Pan Sutisna menjawab : “Terserah Bapak Pendeta saja, bagaimana baiknya, saya sudah tidak mampu berpikir lagi.”

“Baiklah, Marry, tempatkan Sutisna di box yang kosong” perintah Pieter. Pan Sutisna pulang dengan perasaan yang sangat lega. Sekarang dia bisa konsentrasi bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri. Soal perawatan Sutisna, sudah diserahkan ke Pieter.

Keesokan harinya Pieter datang lagi. “Saya lupa kemarin, ada satu hal yang ingin saya tawarkan ke Bapak.” “Wah Bapak Pendeta sudah banyak sekali menolong saya, rasanya malu, karena saya tidak mampu membalas budi baik Bapak Pendeta.”

“Jangan begitu, kita sesama umat manusia wajib saling tolong menolong” potong Pieter dengan cepat.

“Begini, Gereja punya sebidang tanah yang biasanya ditanami buah melon; pekerjanya sekarang sudah pindah ke Tanah-Toraja, Sulawesi Selatan, mengikuti pendidikan. Tanah itu sekarang tidak ada yang menggarap. Maukah Bapak mengerjakannya ? Nanti hasilnya dibagi dua, setengah untuk Bapak dan sisanya untuk Gereja. Semua biaya penanaman, perawatan dan panen, ditanggung Gereja”

Pan Sutisna, heran, kebingungan, karena bagaikan mendapat durian runtuh. Ia tidak lama berpikir, bahkan takut kalau tawaran Pieter yang baik itu dibatalkan. Segera ia menjawab : “Saya mau Bapak Pendeta, bahkan saya tidak dapat menyampaikan dengan kata-kata, betapa besar kebaikan hati Bapak Pendeta ke diri saya.”

“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, kalau begitu mulai besok Bapak sudah bisa menggarap tanah itu. Luasnya tidak seberapa, hanya 50 are.”

“Ha, 50 are, hasil panen buah melon untuk setahun bisa mencapai sepuluh ton !” sergah Pan Sutisna.

“Ya begitulah kurang lebihnya”, kata penutup Pieter, berdengung sepanjang malam di benak Pan Sutisna. Hampir ia tidak bisa memejamkan mata, memikir perubahan nasibnya yang drastis itu.

Bulan berganti tahun, Sutisna tumbuh dengan baik, Pan Sutisna sudah mampu hidup layak dan rumahnya pun sudah diperbaiki, berdinding tembok, atap genteng, lantai keramik, rapi, dan bersih. Dia bahkan sudah mampu membeli sepeda motor untuk pergi ke mana-mana.

Ketika Sutisna sudah waktunya masuk sekolah, Pieter menyarankan ke sekolah milik Gereja yang membebaskan uang sekolah bagi anak-anak tidak mampu. Sementara itu Pan Sutisna merasa jatuh hati kepada adik Marry Luh Putu Aryani, perawat yang membesarkan anaknya.

Adik Marry bernama Isabela Ketut Suastini. Gayung bersambut, cinta Pan Sutisna kepada Isabela tak bertepuk sebelah tangan. Mereka pun mengikat diri dalam pernikahan secara Protestan, dengan Pieter sebagai Pendeta yang mensahkan perkawinan itu.

Akta perkawinan pun jadi, di mana menyebutkan Pan Sutisna dengan nama baru, George Gede Subawa. Sampai tingkat SLTA, Sutisna masih bersekolah di Bali, kemudian ketika akan meneruskan kuliah ke Tanah-Toraja, dia dibaptis Pendeta Pieter dengan nama baru : Friets Putu Sutisna.

Kehidupan di Gereja Pemaron berlanjut terus. Dari sela-sela kerimbunan pohon flamboyan, terdengar anak-anak SD membaca The Bijbel dalam Bahasa Bali : “Antuk asung wara kertha nugraha Ida Sanghyang Widhi Wasa, ngraris Ida Maria mobot putran Idane, Yesus. Kasuwen-suwen Ida rauh ring Jagat Yerusalem. Irike Ide ketangkilin antuk para …”

Bacaan itu tertutup oleh gemuruh suara mobil yang lalu lalang di jalan poros Singaraja – Seririt.

Zaman beredar, nasib Bali pun berganti, entah di masa depan akan bagaimana. Seperti perjalanan hari, mulai terbitnya matahari di timur, hingga terbenam di ufuk barat, perubahan akan berlangsung, cepat atau lambat.

Senja di Pantai Lingga, pemandangan sunset yang indah, diiringi suara azan : “…Asyhaduallah Muhammad rasulallah, Allahuakbar…”

Saya menarik nafas panjang, menuntun cucu saya yang terkecil, nomor sembilan bernama : Nyoman Krishnayogi, “Meriki putu, budal, sampun sore” Tertatih-tatih dengan tongkat, saya membimbing cucu yang melangkah tegap ke depan. Mudah-mudahan kau terhindar dari sengsara, cucuku.

%d bloggers like this: