Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Tag Archives: hari raya

Filosofi Hari Raya Saraswati


Saraswati sendiri berasal dari bahasa sansekerta yaitu dari kata Saras yang berarti sesuatu yang mengalir, seperti air ataupun ucapan. Sedangkan kata Wati berarti memiliki. Jadi kata Saraswati berarti sesuatu yang terus mengalir, atau sebagai suatu ucapan yang terus mengalir. Bagaikan ilmu pengetahuan yang tiada habis-habisnya untuk di pelajari.

via Filosofi Hari Raya Saraswati.

Advertisements

Tattwa, Susila dan Upacara Hari Raya Saraswati


Saraswati terdiri dari kata: Saras yang berarti sesuatu yang mengalir, dan “kecap” atau ucapan. Wati berarti memiliki, mempunyai. Jadi, Saraswati berarti yang mempunyai sifat, mengalir dan sebagai sumber ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.

Istilah Yang Berhubungan dengan Saraswati:

  1. Dalam ajaran Tri Murti menurut Agama Hindu, Sang Hyang Saraswati adalah Saktinya Sang Hyang Brahman.
  2. Sang Hyang Saraswati adalah Hyang Myangning Pangaweruh.
  3. Aksara merupakan satu-satunya Lingga Stana Sang Hyang Saraswati.
  4. Odalan Saraswati jatuh pada Hari Saniscara(Sabtu) Umanis, Wara Watugunung merupakan hari pemujaan turunnya ilmu pengetahuan oleh umat Hindu.

Ethika dalam perayaan Hari Raya Saraswati:

  1. Pemujaan Saraswati dilakukan sebelum tengah hari.
  2. Sebelum perayaan Saraswati, tidak diperkenankan membaca atau menulis.
  3. Bagi yang menjalankan “Brata Saraswati” tidak diperkenankan membaca dan menulis selama 24 jam.
  4. Dalam mempelajari segala “pangeweruh” selalu dilandasi dengan hati “Astiti” kepada Hyang Saraswati, termasuk dalam hal merawat perpustakaan.

Upakara: Semua pustaka-pustaka keagamaan dan buku-buku pengetahuan lainnya termasuk alat-alat pelajaran yang merupakan “Lingga Stana Hyang Saraswati” dilakukan ditempat yang layak. Adapun Upacara/upakara Saraswati sekurang-kurangnya: Banten Saraswati, Sodaan Putih-Kuning dan canang selengkapnya. Tirta yang dipergunakan hanya tirta Saraswati, diperoleh dengan jalan memohon ke hadapan Hyang Surya sekaligus merupakan tirta Saraswati, di tempat lingga Saraswati masing-masing.

Pelaksanaan upacara Saraswati didahului dengan menghaturkan penyucian, ngayabang aturan, muspa kemudian matirtha. Banyupinaruh(pina wruh) jatuh sehari setelah hari raya Saraswati yaitu Redite Paing Sinta. Umat Hindu melakukan asuci laksana(mandi, keramas, dan berair kumkuman). Selanjutnya dihaturkan labaan nasi pradnyan, jamu sad rasa dan air kumkuman. Setelah diaturkan pasucian/kumkuman labaan dan jamu, dilanjutkan dengan nunas kumkuman, muspa, matirtha nunas jamu dan labaan Saraswati/nasi pradnyan barulah upacara diakhiri.

Pedoman kepustakaan dalam hubunganya dengan Saraswati antara lain:

  1. Tutur Aji Saraswati
  2. Sundarigama
  3. Medangkemulan
  4. Purwaning Wariga

Umat Hindu Peringati Hari Tumpek Landep


Denpasar (Antara Bali) – Umat Hindu Dharma di Bali akan menggelar ritual untuk memperingati hari “Tumpek Landep”, yakni persembahan suci yang khusus ditujukan untuk semua jenis benda yang terbuat dari besi, perak, tembaga dan jenis logam lainnya, Sabtu (30/6).

“Kegiatan ritual yang menggunakan kelengkapan sarana sesajen, rangkaian janur kombinasi bunga dan buah-buahan khusus ditujukan untuk berbagai jenis alat produksi dan aset, termasuk keris dan senjata pusaka,” kata Ketua Program Studi Pemandu Wisata Institut Hindu Dharma Indonesia (IHDN) Denpasar Dr Drs I Ketut Sumadi M.Par di Denpasar, Rabu.

Ia mengatakan, peringatan hari Tumpek Landep itu jatuh pada hari Sabtu, 30 Juni 2012, setelah sebelumnya umat Hindu memperingati hari lahirnya ilmu pengetahuan atau Hari Saraswati pada Sabtu (16/6) dan Hari Pagerwesi (20/6).

Aset yang mendapat persembahan khusus pada hari Tumpek Landep itu antara lain aneka jenis mesin, kendaraan, sepeda motor dan alat teknologi, termasuk perangkat komputer dan televisi.

Ketut Sumadi menjelaskan, kegiatan ritual itu dilakukan di tingkat rumah tangga dengan skala besar maupun skala kecil sesuai kemampuan dari masing-masing keluarga bersangkutan.