Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Monthly Archives: August 2012

Kelengkapan Penjor Galungan


Penjor Galungan | PMHD Warmadewa.

UMAT Hindu merayakan Hari Raya Galungan setiap 210 hari(6 Bulan) sekali. Hari Raya Galungan identik dengan Penjor Galungan. Penjor Galungan harusnya lengkap, mengikuti pakem penjor sakral untuk kepentingan ritual keagamaan. Sebagai sebuah sarana persembahan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, tentu penjor dibuat sesuai dengan kelengkapannya dan dikemas seindah-indahnya. Apa saja kelengkapan penjor Galungan?
Dosen Unhi Denpasar Prof. Dr. IB Gunadha, pernah menyampaikan, penjor harus dibedakan dengan papenjoran. Penjor berhubungan erat dengan ritual keagamaan Hindu, sedangkan papenjoran dibuat untuk kepentingan di luar upacara keagamaan atau bersifat profan. Penjor sakral, seperti penjor Hari Raya Galungan mesti mengikuti beberapa persyaratan. Penjor merupakan lambang gunung, sebagai sumber kesejahteraan. Karena itu bentuk penjor menyerupai wujud naga–Naga Ananta Boga–dengan kepala di bawah dan ekor melengkung di atas. Menggunakan bambu, dilengkapi bakang-bakang yang dibuat dari janur atau ambu atau daun enau muda.

Kelengkapan penjor Galungan meliputi sanggah penjor, pala bungkah, pala gantung, sampian penjor, lamak, ceniga, kain dan sebagainya. Pala bungkah meliputi umbi-umbian, sedangkan pala gantung meliputi buah-buahan, padi, kacang-kacangan dan sebagainya. Kelengkapan itu wajib diisi pada penjor Galungan, sebagai wujud syukur umat terhadap Ida Sang Hyang Widi Wasa yang telah menganugerahkan sumber kehidupan, ujarnya.

Penjor dibuat seindah-indahnya, lengkap dengan pala bungkah pala gantung, dan atribut lainnya, seperti sanggah penjor tempat menghaturkan sesajen saat Galungan. Setelah selesai, penjor kemudian dipasang di lebuh sebelah kanan pintu masuk pekarangan. Waktu yang tepat memasang penjor adalah pada sore hari, sehari menjelang Galungan, yakni pada Penampahan Galungan. Secara estetika, pemasangan penjor sehari sebelum Galungan memiliki tujuan agar perlengkapan penjor dan hiasannya masih segar saat Galungan.

Membuat Penjor | Journal Bali

Bagaimana dengan penjor dengan hiasan yang sudah jadi? Kata Gunadha, dalam wujud persembahkan, umat tentu akan membuat yang terbaik. Sesungguhnya tidak masalah membuat penjor dengan hiasan yang sudah jadi. Cuma, yang perlu diperhatikan adalah kelengkapan penjor itu sendiri. Mesti ada pala bungkah dan pala gantung dan atribut lainnya.
Sementara itu sumber lain menyebutkan hal senada. Penjor dipasang atau ditancapkan pada lebuh di depan sebelah kanan pintu masuk pekarangan. Bila rumah menghadap ke utara maka penjor ditancapkan pada sebelah timur pintu masuk pekarangan. Sanggah dan lengkungan ujung penjor menghadap ke tengah jalan. Tak ketinggalan sanggah Ardha Candra lengkap dengan sesajennya. Pada ujung penjor digantungkan sampian penjor lengkap dengan porosan dan bunga.
Dilihat dari segi bentuk penjor merupakan lambang pertiwi dengan segala hasilnya, yang memberikan kehidupan dan keselamatan. Pertiwi atau tanah digambarkan sebagai dua ekor naga yaitu Naga Basuki dan Ananta bhoga. Selain itu, penjor merupakan simbol gunung yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan.

Sumber: Bali Post | Penjor Galungan Mesti Lengkap

 

 

 

Pura Gunung Kawi, Tampak Siring


Tidak jauh berada disebelah selatan Pura Mangening terdapat Pura Gunung Kawi. Pura ini terletak di Daerah Tampaksiring dan tidak jauh dari Istana Tampaksiring, Daerah situs purbakala gunung kawi sangat luas dibagi menjadi dua dan dipisah oleh Sungai Pakerisan, sejak di temukan pada tahun 1920, peninggalan ini terus di jaga dan diperhatikan, disana terdapat dua tebing, terdapat lima candi di tebing sebelah timur dan empat candi di tebing sebelah barat dan juga tempat bermeditasi. Odalan di Pura Gunung Kawi jatuh pada hari/rahina Purnama Katiga.

Di pojok tenggaranya juga di temukan beberapa lobang tempat meditasi, candi yang di tebing sebelah barat dikenal dengan nama Makam X dan di pintu depannya deitemukan tulisan dengan hurup Kediri. Seperti yang di sebutkan Pura Gunung Kawi di bangun oleh Raja Marakatapangkaja dan diselesaikan oleh Raja Anak Wungsu. Tebing tebing lain yang diteukan berrelief candi di luar area Gunung Kawi adalah di Kerobokan, Tegallinggah, dan Jukut Paku ( Singakerta, Ubud ). Gunung Kawi juga terbuka untuk Wisatawan.

Setelah melewati Gapura dan 315 anak tangga di pinggir sungai Pakerisan yaitu sebuah sungai yang mempunyai nilai sejarah yang sangat tinggi, terletak komplek candi Gunung Kawi. Obyek wisata ini termasuk wilayah Tampaksiring 40 km dari Denpasar. Mengenai nama Gunung Kawi ini belum diketahui dengan pasti asal mulanya. Namun secara etimologi dikatakan berasal dari kata Gunung dan Kawi, yang berarti gunung adalah daerah pegunungan dan Kawi berarti pahatan. Jadi maksudnya ialah pahatan yang terdapat di pegunungan atau di padas karang.

Menurut sejarahnya diantara raja – raja yang memerintah di Bali yang paling terkenal adalah Dinasti Warmadewa. Raja Udayana adalah merupakan dinasti ini dan beliau adalah anak dari Ratu Campa yang diangkat anak oleh Warmadewa. Setelah dewasa Udayana nikah dengan Putri Jawa yang bernama Gunapriya Dharma Patni. Dari perkawinannya ini menurunkan Erlangga dan Anak Wungsu. Akhirnya setelah Erlangga wafat tahun 1041, kerajaanya di Jawa Timur dibagi Dua. Pendeta Budha yang bernama Empu Baradah dikirim ke Bali agar pulau Bali diberikan kepada salah satu Putra Erlangga, tetapi ditolak oleh Empu Kuturan.

Selanjutnya Bali diperintah oleh Raja Anak Wungsu antara tahun 1029 – 1077 dan dibawah perintahnya Bali merupakan daerah yang sangat subur dan tentram. Setelah beliau meninggal dunia abunya disimpan dalam satu candi di komplek Candi Gunung Kawi. Tulisannya yang terdapat diatas pintu semu yang berbunyi : Haji Lumah Ing Jalu yang berarti Sang Raja dimakamkan di Jalu sama dengan Susuh dari (ayam jantan) yang bentuknya sama dengan Kris maka perkataan Ing Jalu dapat ditafsirkan sebagai petunjuk Kali Kris atau Pakerisan. Raja yang dimakamkan di jalu dimaksud adalah Raja Udayana. Sedangkan tulisan Rwa Anakira yang berarti Dua Anaknya kemungkinan yang dimaksud makam Raja Udayana, Anak Wungsu dan Empat orang Permaisuri Raja serta Perdana Mentri Raja. Diseberang Tenggara atau dari komplek candi ini terletak Wihara (tempat tinggal atau asrama para biksu/pendeta Budha).

Peninggalan candi dan wihara di Gunung Kawi ini diperkirakan pada abad 11 Masehi. Sementara di Candi Gunung Kawi, setelah menuruni anak tangga sepanjang 400 m, nikmati eksotisnya bangunan candi yang dipahat pada dinding cadas.Ukiran pahatan yang besar ini terlihat menakjubkan ketika diamati dari jarak beberapa meter. Candi yang dipercaya sebagai tempat menyimpan abu jenazah beberapa raja Bali ini memiliki legenda berkaitan dengan pembuatannya, yaitu dibuat sehari semalam oleh Kebo Iwa dengan menatahkan kuku tangannya yang sakti pada dinding cadas tersebut. Kebo Iwa sendiri adalah tokoh legenda rakyat Bali yang digambarkan sebagai orang bertubuh sangat besar dengan kekuatan dan kesaktiannya yang dipergunakan untuk membela Bali dari serangan musuh.

Sumber: Gianyar Tourism

 

 

 

Pura Mangening, Tampak Siring


Pura Mangening. Sumber Gambar: Wisata Dewata

Pura atau Parahyangan Mangening terletak di Br. Saraseda, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, 15 KM dari kota Gianyar dan 37 KM dari kota Denpasar. Pura ini terletak tidak jauh di sebelah utara lingkungan Pura Gunung Kawi Tampaksiring. Untuk menuju ke pura ini, kita melalui jalan setapak menuju lingkungan Pura Gunung Kawi ditepi sungai Pakerisan.

Mangening berasal dari kata mahening atau maha hening, keheningan sempurna. Parahyangan ini dibangun secara bertahap oleh raja-raja Bali dan selesai di sekitar abad ke-10 M, sebagai tempat bagi raja dan keluarga untuk melakukan upaya spiritual merealisasi bathin yang maha hening dan sebagai tempat “pembersihan akhir” sebelum moksha.

Bila kita ber-tirtayatra ke parahyangan ini, dari areal parkir kita akan menuruni terlebih dahulu sederet anak tangga untuk tiba di pelataran parahyangan. Dari areal pelataran parahyangan kita bisa melihat, di sebelah kanan tedapat beberapa pancoran mata air suci. Pancoran ini hanya boleh untuk nunas tirta saja, tidak boleh untuk melukat atau lainnya.

Di arah depan terdapat rangkaian mata air yang keluar dari tebing dan sela-sela akar pohon, kolam-kolam jernih serta sederet tangga menurun menuju kolam peleburan Telaga Waja. Di areal Parahyangan Mangening terdapat 11 [sebelas] kelebutan atau mata air suci dan semuanya bermuara di kolam peleburan Telaga Waja. Kolam suci ini adalah tempat melukat yang sangat utama, yang berguna untuk memutuskan keterikatan duniawi menuju perjalanan spiritual yang tinggi.

Di sebelah kiri terdapat mandala kecil yang ditembok, disana terdapat pohon beringin besar dan mata air suci yang tidak boleh diambil sendiri, harus melalui jro mangku. Di sebelah kiri terdapat mandala utama parahyangan, yang letaknya yang berada tinggi di atas pelataran, sehingga kita harus menaiki serangkaian anak tangga lagi untuk menuju kesana.

Pelinggih utama di Parahyangan Mangening adalah candi kuno khas abad ke 10-M yang sering disebut sebagai Palinggih Prasada atau sering juga disebut Meru Prasada. Yang berstana di parahyangan ini adalah Ida Btara Hyang Nirmala Suci. Di parahyangan ini juga terdapat peninggalan kuno Lingga – Yoni, sehingga parahyangan ini identik dengan tempat pemujaan Dewa Shiva.

Kalau hendak melakukan tirtayatra ke Parahyangan Mangening, mandi dan melukat dahulu di kolam peleburan Telaga Waja. Lalu lanjutkan dengan sembahyang di utama mandala pura [di Palinggih Prasada]. Kalau hendak melakukan japa mantra atau meditasi, disini tempat yang mautama. Meditasi disini mudah sekali untuk memasuki keheningan.
Odalan atau Pujawali di Parahyangan Mangening jatuh pada hari Saniscara Pon Wuku Sinta.