Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Tag Archives: hari raya galungan

Rangkaian Hari Raya Galungan


Sebelum hari raya galungan, ada beberapa rangkaian hari raya suci yang dirayakan umat Hindu dimana hari raya tersebut sebagai persiapan menyambut hari raya galungan.

  1. Sugihan Jawa atau Sugihan Jaba.
    Sebuah upacara dalam rangka menyucikan bhuana agung (makrocosmos) yang jatuh pada hari Kamis Wage Sungsang. Kata Sugihan berasal dari urat kata Sugi yang artinya membersihkan dan Jaba artinya luar, dalam lontar sunarigama dijelaskan sebagai berikut: bahwa Sugihan Jawa merupakan “Pasucian dewa kalinggania pamrastista bhatara kabeh” (pesucian dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara). Pelaksanaan upacara ini dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara dimasing-masing tempat suci.
  2. Sugihan Bali, Bali dalam bahasa sansekerta berarti kekuatan yang ada dalam diri. Jadi Sugihan Bali memiliki makna yaitu menyucikan diri sendiri sesuai dengan lontar sunarigama: “Kalinggania amrestista raga tawulan” (oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing /mikrocosmos) yaitu dengan memohon tirta pembersihan /penglukatan.
  3. Panyekeban, Jatuh pada hari Minggu Pahing Dungulan. Panyekeban artinya mengendalikan semua indrya dari pengaruh negatif, karena hari ini Sangkala Tiga Wisesa turun ke dunia untuk mengganggu dan menggoda kekokohan manusia dalam melaksanakan Hari Galungan. Dalam Lontar Sunarigama disebutkan: “Anyekung Jnana” artinya mendiamkan pikiran agar tidak dimasuki oleh Bhuta Galungan dan juga disebutkan “Nirmalakena” (orang yang pikirannya yang selalu suci) tidak akan dimasuki oleh bhuta galungan.
  4. Penyajan, Artinya hari ini umat mengadakan Tapa Samadhi dengan pemujaan kepada Ista Dewata. Penyajan dalam lontar Sunarigama disebutkan: “Pangastawaning Sang Ngamong Yoga Samadhi” upacara ini dilaksanakan pada hari Senin Pon Dungulan.
  5. Penampahan, Berasal dari kata tampah atau sembelih artinya; bahwa pada hari ini manusia melakukan pertempuran melawan Adharma, atau hari untuk mengalahkan Bhuta Galungan dengan upacara pokok Mabyakala yaitu; membayar kepada Bhuta Kala. Makna sesungguhnya dari hari penampahan ini adalah membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri, bukan semata-mata membunuh hewan korban, karena musuh sebenarnya ada didalam diri, bukan di luar dan termasuk sifat hewani tersebut. Ini sesuai dengan lontar Sunarigama yaitu; “Pamyakala kala malaradan” artinya membayar hutang kepada ruang dan waktu. Bhuta = ruang, Kala = waktu, jadi Bhuta kala adalah ruang dan waktu, jadi harus diharmonisasi karena kita hidup diantara keduanya termasuk Atma hidup diantara ruang dan waktu jasmani ini.
  6. Galungan, Inilah puncak rahina jagat. Hari kemenangan dharma terhadap adharma setelah berhasil mengatasi semua godaan selama perjalan hidup ini, dan merupakan titik balik agar manusia senantiasa mengendalikan diri dan berkarma sesuai dengan dharma dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan dalam usaha mencapai ananda atau jagadhita dan moksa serta shanti dalam hidup sebagai mahluk yang berwiweka.
  7. Manis Galungan, Setelah merayakan kemenangan, manusia merasakan nikmatnya (manisnya) kemenangan dengan mengunjungi sanak saudara dengan penuh keceriaan.
  8. Pemaridan Guru, Jatuh pada hari Sabtu Pon Dungulan, maknanya pada hari ini dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirgayusan yaitu; hidup sehat umur panjang dan hari ini umat menikmati waranugraha dari dewata. Demikian makna Hari Raya Galungan sebagai hari pendakian spritual dalam mencapai kemenangan/wijaya dalam hidup ini ditinjau dari sudut pelaksanaan upacara dan filosofisnya.
  9. Kuningan, Akhirnya pada hari raya Kuningan merupakan hari yang sangat berbahagia bagi umat manusia di Bumi dan alam Semesta. Ida Bhatari Durga Nawa Ratri sedang turun ke Bumi mengunjungi umat manusia yang memuja dan berbakti kepada Beliau serta menganugrahkan kasih sayang kepada alam marcapada dan isinya.

**Semua rangkaian hari suci diatas hendaknya dilalui dengan kesucian hati dan pikiran, melakukan pensucian bhuwana agung dan bhuwana alit bagi terciptanya keharmonisan alam.

**diolah dari Puri Agung Dharma Giri dan lainnya.

Advertisements

Renungan Hari Raya Galungan


Umat Hindu kembali merayakan hari raya Galungan, Rabu (29/8) besok. Dalam era kekinian, bagaimana mestinya umat Hindu memaknai Galungan yang rutin datang setiap enam bulan tersebut?

DOSEN IHDN Denpasar Dr. Wayan Suarjaya mengatakan hari raya Galungan mesti mampu dimaknai dengan baik. Perayaan Galungan mesti dimaknai sejauh mana umat berhasil melawan sifat-sifat Tiga Kala (Kala Galungan, Kala Dungulan dan Kala Amangkurat). Dalam konteks sekala, kala-kala itu bisa berwujud hawa nafsu untuk memiliki harta berlebihan, mabuk kekuasaan, dan bersifat hedonis. ”Melalui perayaan Galungan kita diingatkan agar mampu mengendalikan hawa nafsu yang berlebihan,” kata mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Kemenag ini.

Ciri keberhasilan umat melawan ketiga kala itu adalah makin dekat dengan Tuhan (Ida Hyang Widhi Wasa) dan leluhur, rukun dalam keluarga dan lingkungan, dan melaksanakan swadharma dengan baik. Misalnya, sebagai penegak hukum, seseorang haruslah profesional, yakni menegakkan hukum dengan baik.

Ketua Umum Yayasan Dwijendra Pusat Denpasar Drs. Ida Bagus Gede Wiyana mengatakan, perayaan Galungan di bulan Agustus ini momentum yang baik, karena masih dalam suasana HUT Kemerdekaan RI dan perayaan hari keagamaan umat muslim yaitu Idul Fitri. Galungan merupakan hari kemenangan dharma melawan adharma, HUT Kemerdekaan RI adalah hari kemerdekaan (mahardika) dari penjajah dan Idul Fitri hari kemenangan melawan hawa nafsu.

Dikatakannya, momentum hari raya Galungan ini hendaknya mampu dimanfaatkan untuk menyelaraskan pikiran agar menjadi terang benderang dan berkesadaran tinggi. Inilah yang disebut sebagai implementasi kemenangan dharma melawan adharma. Menjadi orang yang mahardika (merdeka) yakni terbebas dari segela bentuk penjajahan, sekala-niskala, fisik atau batin yang tidak dicekoki oleh hal-hal negatif.

Momentum hari raya Galungan, kata Ketua FKUB Bali ini, juga sebagai bentuk pengendalian Sapta Timira yaitu tujuh macam kegelapan atau kemabukan, yaitu surupa (mabuk karena ketampanan), dhana (mabuk karena kekayaan), guna (mabuk karena kepandaian), kulina (mabuk karena keturunan), sura (mabuk karena meminum minuman keras), dan kasuran (mabuk karena kemenangan).

Dosen Unhi Denpasar Dr. Wayan Budi Utama mengatakan Galungan hendaknya dimaknai sebagai peringatan kepada umat agar menghargai dan mengelola waktu dengan sebaik-baiknya. Implementasinya adalah waktu lampau harus dijadikan cermin untuk melangkah ke waktu yang akan datang agar menjadi lebih baik. Kesempatan saat ini (waktu saat ini) sebaiknya digunakan untuk merancang masa depan yang lebih baik.

Salah satu fondasi penting yang harus dimaknai melalui perayaan Galungan adalah disiplin. Disiplin waktu, disiplin di jalan, serta disiplin dalam mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Hal ini bisa dilakukan melalui pendidikan. Karena itu investasi melalui pendidikan mutlak menjadi prioritas umat Hindu saat ini jika ingin menyongsong masa depan yang lebih baik.

”Melalui Galungan ini mudah-mudahan makin banyak umat Hindu yang memaknainya dengan memperhatikan perbaikan kualitas SDM Hindu melalui jalur pendidikan,” katanya.

Kekuatan sang Kala Tiga Galungan, menurutnya, harus dimaknai bahwa masa depan (waktu yang akan datang) harus lebih baik dari saat ini, sehingga kualitas kehidupan menjadi lebih baik, kualitas keimanan meningkat, sehingga tercipta kesalehan sosial dalam masyarakat.

Sumber: Bali Post, 28 Agustus 2012 | Renungan Galungan Menjadi Orang ”Mahardika”

 

 

 

Permintaan Dupa Meningkat Menjelang Galungan


REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR — Permintaan dupa sebagai sarana perlengkapan upacara meningkat empat hari menjelang Hari Raya Galungan yang jatuh pada 29 Agustus mendatang.

“Menjelang Galungan, penjualan dupa rata – rata meningkat sepuluh hingga 15 persen, jika dibandingkan hari biasanya,” kata Anak Agung Raka Suartini, seorang produsen dupa di Denpasar, Sabtu.

Produsen dupa dari usaha rumah tangga yang terletak di Jalan Panglima Besar Sudirman Denpasar itu menuturkan bahwa, pembelian dupa tidak hanya datang dari masyarakat, melainkan pula beberapa pedagang yang menjual dupanya kembali.

Saat ini dupa sudah banyak memiliki variasi aroma tertentu sesuai dengan permintaan konsumen baik langsung maupun melalui pemesanan “online”, di antaranya aroma aromaterapi seperti cendana, gaharu, sakura, melati, hingga akasia.

Ia mengatakan, meski terjadi peningkatan namun presentase itu tidak terlalu signifikan karena sebagian besar masyarakat Hindu di Bali biasanya telah membeli dupa dua minggu atau bahkan sebulan sekali untuk keperluan upacara sehari-hari.

Meskipun terjadi peningkatan karena menjelang Galungan yang jatuh setiap enam bulan sekali itu, namun pihaknya tidak menaikkan harga. Harga setiap dupa, lanjut Suartini, bervariasi tergantung aroma yang diminati, seperti untuk cendana, dihargai Rp 100 ribu, Gaharu per kilogramnya Rp 110 ribu, sakura Rp 110 ribu, dan melati Rp 90 ribu.

Sedangkan untuk harga eceran dijual bervariasi mulai Rp 4.000 hingga Rp 12.500.

Sementara di tingkat para pedagang dupa di Pasar Badung Denpasar, sejumlah pedagang mengungkapkan permintaan dupa harum memang meningkat sejak beberapa hari terakhir.

“Permintaan dupa harum sudah mulai meningkat sejak seminggu belakangan, karena ada beberapa rangkaian upacara seperti ‘Sugihan Jawa dan Bali,” kata Dewa Anom, seorang penjual dupa.

Meskipun ada peningkatan namun harga dupa tersebut tidak mengalami kenaikan. Untuk dupa kemasan dijual bervariasi tergantung aroma, dan banyaknya isi dupa mulai dari Rp 6.000 hingga Rp35 ribu.