Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Tag Archives: bali

Kerelaan dan Kepasrahan yang Sempurna


Cerita spiritual yang mengharukan ini adalah sebuah kisah nyata dari seorang sahabat di Rumah Dharma-Hindu Indonesia semoga bermanfaat bagi kita semua.

Pulau Bali adalah pulau yang suci dan sakral. Kalau mau serius sedikit saja, dimana-mana ada guru kosmik yang membimbing perjalanan spiritual kita. Ini adalah pengalaman saya dalam melakukan perjalanan tirtayatra dan melukat ke sebuah pura di tampaksiring dan di tegalalang, setiap pulangnya saya selalu membawa berkah spiritual. Kadang berkahnya adalah pembersihan dan kadang berkahnya adalah ajaran. Kali ini saya sembahyang, meditasi dan melukat di pura yang ada di tegalalang dan mendapat berkah ajaran yang penting. Ajaran ini tidak selalu datang melalui pesan-pesan kosmik, tapi akan datang dengan sendirinya melalui berbagai cara.

Dalam perjalanan pulang dari pura tersebut kami singgah di Pasar Mengwi, dimana kakak ipar berjualan disana. Ngobrol ini itu dengan kakak ipar dan sahabatnya seorang pedagang lain, sampai akhirnya mereka bercerita tentang salah seorang pedagang disana yang hidupnya penuh kesengsaraan dan ketidak-adilan.

Awalnya dia berpacaran dengan seorang laki-lai bujangan, sampai kemudian hamil. Dari sinilah ketidakadilan dan kesengsaraan dimulai. Setelah hamil dia baru tahu bahwa dia tertipu, karena ternyata laki-laki tersebut sudah punya istri dan anak. Karena keluarganya malu dan tidak mau menerimanya lagi, dia tidak punya pilihan lain kecuali menikah dengan laki-laki tersebut dan menjadi istri kedua.

Kesengsaraan berikutnya datang tidak lama setelah anaknya lahir. Laki-laki tersebut kehilangan pekerjaan dan menjadi pengangguran. Istri pertama-nya pun tidak bekerja. Mau tidak mau dia yang harus bekerja dan mencari uang dengan berjualan di Pasar Mengwi. Karena dia yang sekarang menanggung semua beban kebutuhan hidup keluarga, semua jenis pekerjaan yang menghasilkan uang dia ambil dengan bekerja keras. Hanya dia sendiri yang menanggung beban kebutuhan hidup keluarga, selain dia juga harus melayani berbagai tugas-tugas rumah tangga bagi suaminya.

Ketika anaknya berumur sekitar 5 tahun, dia sudah menjadi pedagang dan berbagai pekerjaan lainnya yang cukup sukses. Dan semua hasilnya digunakan untuk kebutuhan hidup keluarga [suami, istri pertama dan anak-anak] dan hanya sedikit untuk dirinya sendiri. Ini dijalaninya dengan penuh rasa bakti dan tanpa keluhan.

Kejutan berikutnya kemudian datang dalam hidupnya, suaminya menikah lagi. Ketidakadilan dan kesengsaraan berikutnya dimulai dari sini. Setelah menikah lagi suaminya menindasnya semakin menjadi-jadi. Semua minta dilayani, semua kebutuhan harus ada, kalau tidak suaminya marah dan marah. Tidak hanya itu saja, karena jumlah kamar di rumahnya terbatas, diapun harus sering-sering sekamar dan melihat suaminya [maaf] berhubungan badan dengan istri barunya di depan mata.

Ditambah lagi jumlah keluarga yang bertambah dan beban kebutuhan hidup yang meningkat membuatnya harus bekerja lebih keras lagi. Sehingga dia bekerja, bekerja dan bekerja lebih keras lagi. Hasil kerja kerasnya ternyata berbuah, sampai dalam sehari dia bisa bersih mendapat uang kurang lebih 300 ribu dari berbagai sumber penghasilannya. Dan semua hasilnya tersebut digunakan untuk kebutuhan hidup keluarga [suami, istri pertama, istri ketiga dan anak-anak].

Sesungguhnya mudah mengakhiri semua kesengsaraan dan ketidakdilan ini. Cukup dia minta cerai saja, apalagi penghasilannya sudah sangat mapan. Pedagang-pedagang lain di Pasar Mengwi banyak yang geregetan melihat kelakuan suaminya atau kasihan melihat ketidakadilan yang dialaminya dan mendorongnya untuk bercerai. Apalagi dia tidak terlalu tua, masih menarik dan masih bisa mencari laki-laki lain yang lebih baik. Tapi dengan polos dia berkata bahwa dia lebih kasihan nanti memikirkan bagaimana nasib anak kandung dan anak tirinya kalau dia bercerai, dibandingkan memikirkan dirinya sendiri.

Ada juga petugas pasar yang geregetan dan menyarankannya “menyewa” laki-laki lain untuk membalas kelakuan suaminya. Tapi dengan tulus dia berkata bahwa dia tidak ingin membalas agar tidak membuat karma buruk dan hanya berharap bahwa kelak anak kandung dan anak tirinya tidak mengalami nasib yang sama dengan dirinya. Karena dia sangat menyayangi baik anak kandung maupun semua anak-anak tirinya.

Bathin saya bergetar mendengar kisah ini. Tambah bergetar lagi ketika bertemu dengan pedagang tersebut. Pancaran dari wajahnya adalah pancaran wajah orang yang tingkat kepasrahan dan kerelaannya sempurna, serta penuh bhakti dan welas asih. Saya terharu dan melakukan namaskara memberi hormat dalam bathin, karena saya telah bertemu dengan orang suci.

Saya jadi ingat kisah seorang guru di India. Ketika masih muda dan masih belajar, suatu ketika pergi ke pasar bersama gurunya. Di pasar tersebut gurunya namaskara memberi hormat kepada seorang pengemis kotor dan hina. Tentu saja dia terheran-heran, kenapa gurunya yang dihormati banyak orang malah namaskara memberi hormat kepada seorang pengemis kotor dan hina. Ketika sampai di ashram gurunya menjelaskan bahwa pengemis itu orang suci. Dengan mata bathin beliau jelas sekali vibrasinya, bahwa pengemis itu memiliki tingkat kepasrahan dan kerelaannya sempurna, serta penuh bhakti dan welas asih. [Kemudian di lain waktu terbukti bahwa pengemis itu menjadi pemberi makan anak-anak terlantar yang ada di pasar].

Pedagang dan pengemis itu tidak pernah mengenakan baju orang suci. Tidak mengenakan baju putih-putih, baju pendeta atau baju seorang yogi. Juga tidak pernah belajar dharma secara mendalam. Tapi jauh di kedalaman bathin mereka, mereka sesungguhnya adalah sadhaka di jalan rahasia, jalan yoga yang tertinggi. Tanpa konsep agama [yang mungkin malah bisa menjadi racun karena membuat seseorang menjadi fanatik], tapi punya dua bekal perjalanan yang penting, yaitu “ke dalam” adalah tingkat kepasrahan dan kerelaan yang sempurna [tetua di Jawa menyebutnya nrimo ing pandum ] dan “keluar” yang muncul hanya bhakti dan welas asih.

Saya membuka kembali sebuah teks kuno di India yang menuliskan, bahwa seseorang bisa mengalami jivan-mukti bahkan ketika mereka sendiri tidak tahu. Praktisi yoga tingkat tinggi pasti tahu bahwa ketika bathin masih sesempit diri ini [ahamkara, ke-aku-an, ego], kita mudah marah, benci, tersinggung, sombong, resah, tidak puas, dsb-nya. Semakin besar egonya maka akan semakin menyakitkan kesengsaraan dan ketidakadilan. Inilah pe-er besar seorang yogi, meruntuhkan ego dan semua bentuk kegelapan bathin.

Bagi orang-orang daiwa sampad [manusia berbathin dewa], kesengsaraan dan ketidakadilan tidak menjadi kutukan kehidupan, tapi menjadi berkah spiritual yang tertinggi yang mengantar mereka menuju kesadaran dan kemahasucian. Pedagang di Pasar Mengwi dan pengemis di India itu tidak pernah belajar yoga. Tapi mereka dapat melenyapkan ego dan kegelapan bathin-nya cukup dengan dua sadhana mendalam, “ke dalam” tingkat kepasrahan dan kerelaan yang sempurna dan “keluar” yang muncul hanya bhakti dan welas asih. Sebagai hasilnya adalah bathin yang seluas ruang.

Mudah bersikap sabar, sejuk dan penuh welas asih disaat kita dihormati, dipercaya dan dihargai oleh orang lain, tapi mereka yang bisa tetap sabar, sejuk dan penuh welas asih disaat disakiti, ditindas dan dibuat sengsara oleh orang, itulah orang yang bathinnya terang dan seluas ruang.

Leluhur kita pernah mewariskan pupuh sinom seperti berikut :

Jenek ring meru sarira
gunakan tubuh ini sebagai meru atau tempat suci

Kastiti Hyang Maha suci
yang disadari oleh orang yang bathinnya sudah suci [bersih]

Mapuspa padma hredaya
bunganya adalah bunga padma [simbolik advaitacitta, bathin yang bebas dari dualitas]

Magenta swaraning sepi
gentanya adalah keheningan bathin

Maganda ya tisnis budi
gandanya adalah kesabaran dan welas asih tanpa syarat

Malepana sila rahayu
lepananya adalah tingkah laku yang indah [tidak membunuh, menyakiti, korupsi, mencuri, menipu, narkoba, mabuk-mabukan, berjudi, dsb-nya]

Mawija menget prakasa
bijanya adalah bathin yang tegar-kokoh [sanggup menahan segala macam penderitaan dengan bathin damai]

Kukusing sad ripu dagdidupan ipun
dengan demikian seluruh sad ripu [enam kegelapan bathin] lenyap

Madipa hidepe galang
bathinnya laksana cahaya terang benderang

Maknanya adalah meru atau tempat suci tidak hanya ada “diluar”, tapi “didalam” juga ada tempat suci. Kita dapat membadankan meru dalam diri. [Pertama] dengan mengurangi penderitaan para mahluk. Artinya selalu penuh welas asih dan penuh kebaikan dengan tingkat kerelaan yang sempurna. Itu semua mengurangi penderitaan para mahluk. Termasuk tidak membalas caci-maki dan hinaan orang lain, tidak balas menyakiti orang yang jahat, dsb-nya. Malah sebaliknya kita memberi lebih, kita membalasnya dengan welas asih dan kebaikan. [Kedua] Semua mahluk memperebutkan kebahagiaan dan lari dari penderitaan, sehingga alam semesta ini tidak seimbang. Kitalah yang menjaga keseimbangan alam semesta dengan mengambil yang jelek-jelek [penghinaan, kesengsaraan, kesusahan, dsb-nya]. Badan, pikiran dan perasaan kita akan menjadi meru [tempat suci] kalau selalu kita jadikan yajna [persembahan] bagi kebahagiaan mahluk lain.

Bagi sebagian orang yang tingkat kesucian bathinnya bagus akan mengerti, inilah bhakti yoga yang tertinggi dan sempurna. Tidak hanya di pura ada mebakti, tapi kesabaran yang tidak terbatas juga adalah mebakti. Tidak hanya di pura ada maturan, tapi kesejukan, kedamaian dan ketenangan bathin juga adalah maturan. Tidak saja di pura ada upakara, tapi welas asih dan kebaikan tanpa syarat juga adalah upakara. Tidak hanya di pura ada meru, tapi tubuhnya sendiri sudah menjadi meru [tempat suci], karena seluruh kehidupannya sudah menjadi bhakti yoga. Inilah jalan “pulang” menuju kesadaran dan kemahasucian yang tertinggi.

Orang suci belum tentu berbaju putih-putih, berbaju yogi, pertapa, pandita, pemangku, guru spiritual, dsb-nya. Orang suci belum tentu orang yang sudah membaca banyak kitab suci. Orang suci adalah orang yang penuh welas asih kepada semua, kebaikan-nya tanpa syarat dan kesabarannya tidak terbatas, walau apapun yang terjadi. Termasuk disaat dirinya mengalami kejadian buruk seperti dihina, dicaci-maki, disakiti, tidak punya uang, kelaparan, sedang sakit, dsb-nya.

Orang suci yang sesungguhnya adalah orang yang sanggup mengolah apa saja menjadi dharma. Leluhur kita menyebutnya sarwa dharma [semuanya dharma]. Dapat mengolah adharma menjadi dharma. Dapat mengolah segala bentuk godaan menjadi jalan pembebasan. Dapat mengolah segala bentuk kesengsaraan dan ketidakadilan menjadi berkah spiritual yang tertinggi yang mengantar mereka menuju kesadaran dan kemahasucian.

Badan, pikiran dan perasaan-nya menyatu menjadi kesucian yang sempurna, karena selalu dijadikan yajna [persembahan] bagi kebahagiaan mahluk lain.

Advertisements

Umat Hindu Dan Ajeg Bali Di Era Globalisasi


Stitidharma.org | Agama Hindu bukanlah agama dogmatik, bukan agama yang berdasarkan atas dogma. Hindu adalah agama yang berdasarkan dharma. Hindu juga disebut sanatana dharma, atau kebenaran yang abadi.

Apakah dogma? Dogma adalah kepercayaan yang tidak boleh dipertanyakan dan yang selalu harus diyakini sebagai kebenaran, bahkan jika itu tidak masuk akal atau irasional.

Misalnya:

  • kepercayaan bahwa semua manusia telah berdosa sejak lahir
  • kepercayaan tentang kebangkitan tubuh setelah mati
  • kepercayaan bahwa suatu agama telah memonopoli kebenaran
  • bahwa hanya pemeluk agama tersebut yang bisa masuk sorga
  • kepercayaan bahwa setiap manusia telah ditentukan nasibnya oleh Tuhan secara sepihak
  • kepercayaan boleh membunuh manusia lain yang tidak seagama demi untuk membela serta mengunggulkan agama yang dianutnya

Itulah contoh-contoh dogma yang irasional dari suatu agama tertentu namun harus diyakini oleh pemeluknya sebagai suatu kebenaran.

Dharma adalah prinsip kebenaran universal dan kebenaran hukum alam abadi. Dharma adalah hukum universal yang dapat ditemukan melalui penyelidikan objektif.

Sebagai contoh, dharma sebagai sifat api suci; seseorang tidak dapat membayangkan api yang tidak membakar; dalam kaitan ini dharma akan selalu membakar atau memusnahkan adharma.

Dharma mempunyai prinsip-prinsip etika dan spiritual antara lain: dasar-dasar Yoga seperti: tidak menyakiti (ahimsa), kebenaran (satya) pengendalian diri (tapa), serta etika dan kewajiban manusia yang diulas dalam Yama dan Niyama-brata.

Prinsip dharma yang lain adalah hukum karma-phala, yakni buah dari segala perbuatan yang pasti akan diterima kembali oleh manusia baik di masa kini, di kehidupan kemudian, dan di dunia niskala.

Dengan berpegang pada hukum karma-phala manusia dibimbing untuk berbuat (kayika), berbicara (wacika), dan berpikir (manacika) yang baik.

Agama-agama dogmatik sangat menekankan pada iman yang harus diyakini secara bulat. Pemeluk agama jenis ini bisa mengatakan: “Percayalah, atau masuklah agama kami, maka kalian akan selamat dan masuk sorga”.

Tetapi Hindu sebagai agama yang berdasarkan dharma, akan selalu menekankan pada perilaku yang baik dalam berbuat, berkata, maupun berpikir. Seorang Hindu akan senantiasa menganjurkan: “Lakukanlah perbuatan, perkataan, dan pemikiran yang baik, maka kalian akan selamat.”

Akibat kaidah yang demikian pada kehidupan manusia adalah: Pemeluk agama-agama dogmatik memisahkan antara ibadah dengan perilaku, karena cukup dengan percaya saja dan taat melakukan ibadah sesuai kitab sucinya, sudah menjadi “jaminan” akan masuk sorga, atau dapat saja ibadah dianggap sebagai penghilang dosa.

Mereka bersifat sangat eksklusif, merasa memonopoli kebenaran, mempunyai kecenderungan untuk menaklukkan, menguasai, dan mengendalikan. Sebagai konsekuensinya, disadari atau tidak, sering menganjurkan kebencian. Dari kebencian lahir kekerasan terhadap orang-orang beragama lain.

Sebaliknya pemeluk sanatana dharma menyatukan keyakinan, ibadah, dan perilaku yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip yang jelas, Hindu mengajarkan bahwa dosa-dosa dalam kehidupan tidak dapat dihapuskan hanya dengan kepercayaan dan ibadah saja, namun harus pula diimbangi dengan perilaku dharma.

Bagaikan sinar matahari yang terik, maka bila ada hembusan angin dan awan, teriknya tak terasa, demikianlah dosa yang telah tertutup oleh dharma.

Agama yang berdasarkan dharma tidak memiliki ambisi untuk menaklukkan dan menguasai karena tujuan agama bukan untuk menjadi imperialisme politik dan budaya, tetapi untuk mencapai kesadaran diri atau pencerahan spiritual. Itulah agama universal yang sesungguhnya.

Ajaran Veda dalam Hinduism yang demikian humanis membuat Hindu menjadi agama terbesar di dunia, karena ia melayani keperluan setiap manusia, apapun suku, bangsa, dan agamanya. Ia tidak hanya sekedar suatu agama, tetapi ia adalah jalan spiritual dan cara hidup.

Veda adalah wahyu Tuhan kepada umat manusia karena itu ajaran-ajarannya akan hidup sepanjang masa. Veda memberikan jalan yang terbuka bagi umat manusia yang ingin mencapai kebahagiaan lahir bathin dalam pola hidup sederhana namun berpikiran tinggi dan mulia, atau populer dengan istilah: “simple living high thinking”.

Veda tidak menginginkan umat manusia bertindak hanya di atas landasan keberadaan tubuh (just on the bodily platform of existence), tetapi Veda lebih menekankan pada tendensi kesehatan spiritual.

Dari aspek spiritual yang sehat akan terwujudlah emosional yang sehat, serta intelegensial dan physical yang sehat pula. Ajaran Veda yang mulia ini banyak dikutip oleh psikolog terkemuka dengan istilah: “living healthy” sebagai kondisi mutlak bagi kesehatan yang menyeluruh bagi umat manusia.

Tanpa disadari, umat Hindu telah memiliki sesuatu yang sangat bernilai, sangat mulia, dan kekal-abadi.

Kita telah mempunyai prinsip-prinsip jati diri yang tiada taranya. Sejarah Indonesia telah membuktikan bahwa dengan berpedoman pada prinsip-prinsip ajaran Veda, masyarakat Hindu dapat mencapai mokshartam jagaditaya ca iti dharmah.

Lihatlah Nusantara di zaman keemasan Majapahit dengan rajanya Tribuwana Tunggadewi sampai Hayam Wuruk; Bali di zaman keemasan Kerajaan Gelgel dengan rajanya yang terkenal Dalem Waturenggong sampai Dalem Seganing.

Sejarah pula membuktikan bahwa kerajaan-kerajaan yang pernah berjaya itu memudar dan akhirnya runtuh, karena rakyat dan para pemimpinnya kehilangan jati diri ke-Hindu-an.

Ajaran-ajaran Veda banyak ditinggalkan atau dimanipulasi untuk kepentingan sesaat; para Pendeta dan kelompok rohaniawan tidak mendapat kedudukan yang wajar serta petuah-petuahnya tak dihiraukan.

Penyimpangan-penyimpangan perilaku masyarakat makin lama makin meluas seiring dengan kemajuan iptek dan informasi.

Jaman bergulir menuju kaliyuga, di mana masyarakat mengalami kemajuan yang pesat dalam aspek-aspek material namun semakin miskin dalam aspek spiritual. Masyarakat yang dinamis ini terperangkap pada masalah-masalah keduniawian.

Era globalisasi mempersempit dunia dan menjadikannya tanpa batas, dalam artian informasi apapun yang ada, baik di bidang sosial, politik, ekonomi, dan budaya, segera berpengaruh ke seluruh dunia.

Ciri utama globalisasi adalah perubahan yang sangat cepat dalam segala bentuk tatanan dan nilai-nilai kehidupan, sehingga disimpulkan bahwa barang siapa yang tidak mengikuti perubahan akan tertinggal, bahkan tergilas oleh zaman.

Masyarakat yang hidup dalam dunia global harus memiliki kekuatan untuk melanjutkan kehidupan dan kekuatan untuk berubah.

Ke manakah arah perubahan itu, dan sudahkah diutarakan dalam kitab suci Hindu?

Pandangan Hindu memberikan ruang bagi perubahan-perubahan yang esensial. Kitab Parasara Dharmasastra 1.33 menyebutkan:

YUGE YUGE CA YE DHARMAS TATRA TATRA CA YE DVIJAH, TESAM NINDA NA KARTTAVYA YUGA RUPA HI TE DVIJAH

Aturan dan etika yang berlaku pada setiap zaman selalu berbeda; kaum cendekiawan yang memimpin perubahan masyarakat di suatu zaman tertentu tidak bisa disalahkan karena sesungguhnya dari perubahan itulah suatu zaman terwujud.

Walaupun demikian, perubahan yang dimaksud dalam kitab-kitab suci Hindu, tetap mengingatkan bahwa ajaran Veda tidak membolehkan pelanggaran dharma, dan senantiasa menganjurkan kedamaian, kerukunan hidup bermasyarakat, menghindari ketegangan, dan mencegah konflik.

Meski prinsip-prinsip dharma mengandung kebenaran hakiki sehingga ia dinamakan sanatana dharma, tetapi peraturan-peraturan mengalami perubahan dari masa ke masa karena merupakan produk waktu dan juga akan selalu digantikan oleh waktu.

Oleh karena itu dharma tidak dapat diidentikkan dengan institusi-institusi tertentu. Dharma tetap bertahan karena berakar pada kealamiahan manusia dan akan tetap hidup abadi.

Metoda dharma adalah metoda perubahan eksperimental. Semua institusi adalah eksperimen, bahkan kehidupan ini adalah eksperimen.

Manusia sebagai agent of development tidak dapat mentransfer kebiasaan-kebiasaan dari suatu masa ke masa yang lainnya begitu saja, tanpa mengadakan perubahan dan penyesuaian.

Gagasan-gagasan moral mengenai hubungan-hubungan sosial tidak bersifat absolut, tetapi bersifat relatif terhadap kebutuhan dan kondisi dari jenis masyarakat yang berbeda. Walaupun dharma bersifat kekal, tetapi ia tidak mempunyai isi yang absolut sehingga mampu menembus batas waktu.

Satu-satunya yang kekal dengan moralitas manusia adalah hasrat manusia untuk menjadi lebih baik. Akan tetapi waktu dan kondisi yang menentukan ‘apa yang lebih baik’ dalam setiap situasi.

Bentuk-bentuk tindakan dianggap baik atau buruk pada tahapan peradaban manusia berbeda, bergantung apakah itu meningkatkan atau menghambat kebahagiaan manusia.

Fleksibilitas sosial telah menjadi karakter utama Hindu-Dharma. Maka oleh karena itu mempertahankan sanatana dharma tidaklah dilakukan dengan berdiam diri saja, tetapi dengan menguasai prinsip-prinsip vital dan menerapkannya dalam kehidupan modern.

Suatu bangsa yang maju akan senantiasa mampu memberikan makna bagi pegalaman-pengalamannya di masa lalu. Prinsip-prinsip dharma dalam skala nilai harus dipertahankan di dalam dan melalui tekanan-tekanan pengalaman baru.

Hanya dengan jalan itu akan terbuka kemungkinan untuk mencapai kemajuan sosial yang integral dan seimbang.

Kaum intelektual Hindu harus mampu memperkenalkan perubahan-perubahan, mengelola sedemikian rupa sehingga membuat Hindu-Dharma relevan pada situasi-situasi modern.

Perubahan-perubahan itu adalah dampak masuknya kekuatan-kekuatan baru ke dalam masyarakat antara lain: industrialisasi ke dalam sektor agraris, penghapusan hak istimewa dengan pola kemanfaatan bersama, masuknya orang-orang non Hindu ke dalam masyarakat Hindu, emansipasi wanita versus otoritas lelaki, dan percampuran ras/ suku/ agama melalui perkawinan.

Masyarakat yang maju dalam iklim perubahan akan tercapai bila kondisi ideal yang ingin dicapai lebih baik dari kondisi aktual. Artinya pemikiran-pemikiran cemerlang dari kaum intelektual mampu membuahkan gagasan baru, inovasi dan kreasi, baik dalam iptek maupun dalam tatanan sosial.

Mereka hendaknya selalu berorientasi pada pelayanan masyarakat dengan integritas intelektual.

Berbekal pada pemahaman uraian di atas, jika melihat situasi dan kondisi umat Hindu di Bali dewasa ini, maka wacana “Ajeg-Bali” sangat patut dilontarkan ke tengah-tengah masyarakat yang tak luput dari pengaruh-pengaruh globalisasi baik yang sifatnya positif, maupun yang negatif.

Pada tataran individu, Ajeg-Bali dimaknai sebagai kemampuan manusia Bali untuk memiliki cultural confidence, yaitu keyakinan untuk memegang keteguhan jati diri yang bersifat kreatif meliputi segala aspek, dan tidak hanya terpaku pada hal-hal fisikal semata.

Pada tataran lingkungan budaya, Ajeg-Bali dimaknai sebagai terciptanya ruang hidup budaya Bali yang bersifat inklusif, multi kultur dan selektif terhadap pengaruh-pengaruh luar.

Pada tataran proses kultural, Ajeg-Bali adalah interaksi manusia Bali dengan ruang hidup budaya Bali untuk melahirkan produk-produk atau penanda-penanda budaya baru melalui sebuah proses berdasarkan nilai-nilai moderat, non dikotomis, berbasis pada kearifan lokal serta memiliki kesadaran lingkungan di saat yang tepat.

Dari ketiga tataran di atas, disepakati bahwa Ajeg-Bali bukanlah suatu konsep yang stagnan, melainkan sebuah upaya pembaharuan terus menerus yang dilakukan secara sadar oleh manusia Bali.

Tujuannya jelas untuk menjaga identitas, jati diri, ruang, serta proses budaya Bali. Upaya ini akan bermuara pada peningkatan kekuatan manusia-manusia Bali agar tidak jatuh di bawah penaklukan hegemoni budaya global.

Ajeg-Bali bukanlah sebuah proses involusi, tetapi sebuah proses evolusi yakni pengembangan dan kreasi dari keunggulan-keunggulan local-genius, kearifan, pengetahuan tradisionil yang dilandasi oleh sanatana dharma sehingga terjadi pelestarian yang dinamis.

Dengan demikian Bali yang ajeg akan muncul sebagai sebuah keunggulan budaya yang sanggup bertahan dan bersaing dalam dunia global.

Pura Giri Natha, Makassar


Pura Giri Natha

Pura Giri Natha

Jika Semeton Hindu kebetulan bertugas di Makassar jangan lupa menyempatkan diri untuk tangkil ke Pura Giri Natha, Pura Giri Natha terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar. Di pura ini terdapat bangunan Padmasana Agung setinggi sekitar 20 meter, juga dilengkapi balai pawedaan. Di jaba Pura juga terdapat asrama dan ruang belajar untuk sekolah minggu bagi anak-anak Hindu.

Persembahyangan di pura ini rutin dilakukan setiap purnama, tilem dan kajeng kliwon. Selain itu, juga pada hari-hari besar Hindu seperti Galungan, Kuningan dan dharma santhi Panyepian. Piodalan di pura giri natha ditetapkan setiap Purnama sasih kapat.

PURA Giri Natha, Makassar tidak hanya sebagai tempat sembahyang tetapi juga sebagai pesraman,tempat pendidikan anak-anak mulai TK sampai SMA. Pura Giri Natha merupakana pusat pendidikan agama Hindu bagi krama yang tergabung dalam 10 tempek di Kota Makassar. Dari 10 tempek masing-masing terdiri sekitar 50 KK. Mereka bekerja sebagai anggota TNI-Polri atau karyawan swasta dengan jumlah KK lebih dari 450.

Sementara bagi anak-anak SD, SMP dan SMA mengikuti pendidikan agama Hindu dalam sekolah minggu. Peserta sekolah minggu mencapai 300 orang dari anak-anak TK-SMA yang mengikuti pendidikan agama di pura ini.

Untuk diketahui Transmigran asal Bali banyak tersebar di beberapa daerah di Sulawesi Selatan seperti Palopo dan Mamuju. Di Makassar warga Bali selain berprofesi sebagai TNI/POLRi adapula sebagai pegawai negeri sipil dan karyawan swasta.