Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Tag Archives: penjor galungan

Arti dan Filosofi Penjor Galungan


Penjor merupakan salah satu sarana upakara dalam hari Raya Galungan. Penjor adalah simbol dari naga basukih, dimana Basukih berarti kesejahteraan dan kemakmuran.
Maka dari itu bahan-bahan untuk penjor banyak berasal dari hasil pertanian, seperti plawa (daun-daunan), palawija (biji-bijian seperti padai atau jagung), pala bungkah (umbi-umbian), pala gantung (kelapa, pisang, mentimun).

Keberadaan bahan-bahan pembuat penjor tersebut tentu memiliki arti dan filosofinya masing-masing. Berdasarkan lontar Tutur Dewi Tapini menyebutkan :
“Ndah Ta Kita Sang Sujana Sujani, Sira Umara Yadnva, Wruha Kiteng Rumuhun, Rikedaden Dewa, Bhuta Umungguhi Ritekapi Yadnya, Dewa Mekabehan Menadya Saraning Jagat Apang Saking Dewa Mantuk Ring Widhi, Widhi Widana Ngaran Apan Sang Hyang Tri Purusa Meraga Sedaging Jagat Rat, Bhuwana Kabeh, Hyang Siwa Meraga Candra, Hyang Sadha Siwa Meraga “Windhune”, Sang Hyang Parama Siwa Nadha”

Artinya : Wahai kamu orang-orang bijaksana, yang menyelenggarakan yadnya, agar kalian mengerti proses menjadi kedewataan, maka dari itu sang Bhuta menjadi tempat/tatakan/dasar dari yadnya itu, kemudian semua Dewa menjadi sarinya dari jagat raya, agar dari dewa semua kembali kepada hyang widhi, widhi widhana (ritualnya) bertujuan agar sang Tri Purusa menjadi isi dari jagat raya, Hyang Siwa menjadi Bulan, Hyang Sadha Siwa menjadi windu (titik O), sang hyang parama siwa menjadi nadha (kecek), yang mana kesemuanya ini merupakan simbol dari Ong Kara.

“Sang Hyang Iswara Maraga Martha Upaboga, Hyang Wisnu Meraga Sarwapala (buah-buahan), Hyang Brahma Meraga Sarwa Sesanganan (bambu & jajanan), Hyang Rudra Meraga Kelapa, Hyang Mahadewa Meraga Ruaning Gading ( janur kuning), Hyang Sangkara Meraga Phalem (buah pala), Hyang Sri Dewi Meraga Pari (padi), Hyang Sambu Meraga Isepan (tebu), Hyang Mahesora Meraga Biting (semat).”

Dari petikan bait lontar di atas dapat disimpulkan bahan-bahan pembuat penjor antara lain :

  • Bambu
  • Plawa (dedaunan)
  • Palawija (biji-bijian seperti padi dan jagung)
  • Palabungkah (umbi-umbian)
  • Palagantung (kelapa, pisang, timun)
  • Senganan (Jajanan)
  • Uang kepeng/logam 11 biji
  • Sanggar Ardha Candra simbol dari Ong Kara.
  • Sampian penjor yang berisi porosan (tembakau, daun sirih, kapur, buah pinang, buah gambir) dan bunga.

Oleh : Pinandita Pasek I Ketut Adi Wibardi | Jeroan Manik Mas, Padang Sambian

Rahajeng Nyangra Galungan Lan Kuningan.

 

 

 

Advertisements

Kelengkapan Penjor Galungan


Penjor Galungan | PMHD Warmadewa.

UMAT Hindu merayakan Hari Raya Galungan setiap 210 hari(6 Bulan) sekali. Hari Raya Galungan identik dengan Penjor Galungan. Penjor Galungan harusnya lengkap, mengikuti pakem penjor sakral untuk kepentingan ritual keagamaan. Sebagai sebuah sarana persembahan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, tentu penjor dibuat sesuai dengan kelengkapannya dan dikemas seindah-indahnya. Apa saja kelengkapan penjor Galungan?
Dosen Unhi Denpasar Prof. Dr. IB Gunadha, pernah menyampaikan, penjor harus dibedakan dengan papenjoran. Penjor berhubungan erat dengan ritual keagamaan Hindu, sedangkan papenjoran dibuat untuk kepentingan di luar upacara keagamaan atau bersifat profan. Penjor sakral, seperti penjor Hari Raya Galungan mesti mengikuti beberapa persyaratan. Penjor merupakan lambang gunung, sebagai sumber kesejahteraan. Karena itu bentuk penjor menyerupai wujud naga–Naga Ananta Boga–dengan kepala di bawah dan ekor melengkung di atas. Menggunakan bambu, dilengkapi bakang-bakang yang dibuat dari janur atau ambu atau daun enau muda.

Kelengkapan penjor Galungan meliputi sanggah penjor, pala bungkah, pala gantung, sampian penjor, lamak, ceniga, kain dan sebagainya. Pala bungkah meliputi umbi-umbian, sedangkan pala gantung meliputi buah-buahan, padi, kacang-kacangan dan sebagainya. Kelengkapan itu wajib diisi pada penjor Galungan, sebagai wujud syukur umat terhadap Ida Sang Hyang Widi Wasa yang telah menganugerahkan sumber kehidupan, ujarnya.

Penjor dibuat seindah-indahnya, lengkap dengan pala bungkah pala gantung, dan atribut lainnya, seperti sanggah penjor tempat menghaturkan sesajen saat Galungan. Setelah selesai, penjor kemudian dipasang di lebuh sebelah kanan pintu masuk pekarangan. Waktu yang tepat memasang penjor adalah pada sore hari, sehari menjelang Galungan, yakni pada Penampahan Galungan. Secara estetika, pemasangan penjor sehari sebelum Galungan memiliki tujuan agar perlengkapan penjor dan hiasannya masih segar saat Galungan.

Membuat Penjor | Journal Bali

Bagaimana dengan penjor dengan hiasan yang sudah jadi? Kata Gunadha, dalam wujud persembahkan, umat tentu akan membuat yang terbaik. Sesungguhnya tidak masalah membuat penjor dengan hiasan yang sudah jadi. Cuma, yang perlu diperhatikan adalah kelengkapan penjor itu sendiri. Mesti ada pala bungkah dan pala gantung dan atribut lainnya.
Sementara itu sumber lain menyebutkan hal senada. Penjor dipasang atau ditancapkan pada lebuh di depan sebelah kanan pintu masuk pekarangan. Bila rumah menghadap ke utara maka penjor ditancapkan pada sebelah timur pintu masuk pekarangan. Sanggah dan lengkungan ujung penjor menghadap ke tengah jalan. Tak ketinggalan sanggah Ardha Candra lengkap dengan sesajennya. Pada ujung penjor digantungkan sampian penjor lengkap dengan porosan dan bunga.
Dilihat dari segi bentuk penjor merupakan lambang pertiwi dengan segala hasilnya, yang memberikan kehidupan dan keselamatan. Pertiwi atau tanah digambarkan sebagai dua ekor naga yaitu Naga Basuki dan Ananta bhoga. Selain itu, penjor merupakan simbol gunung yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan.

Sumber: Bali Post | Penjor Galungan Mesti Lengkap

 

 

 

Hakikat Kemenangan dan Hari Raya Galungan


Pembuatan Penjor

Salah satu persiapan penting saat menjelang Hari Raya  Galungan adalah Penjor. Sudah menjadi ciri khas pada setiap perayaan Galungan, umat Hindu pastilah membuat penjor. Penjor terpancang di depan rumah dengan megah dan indahnya. Ia adalah lambang pengayat ke Gunung, penghormatan kepada Sang Hyang Widhi. Karena itu janganlah penjor itu dibuat hanya sebagai hiasan semata-mata. Lebih-lebih pada hari raya Galungan, karena penjor adalah suatu lambang
yang penuh arti. Pada penjor digantungkan hasil-hasil pertanian seperti: padi, jagung, kelapa, jajanan dan lain-lain, juga barang-barang sandang (secarik kain) dan uang. Ini mempunyai arti: Penggugah hati umat, sebagai momentum untuk membangunkan rasa pada manusia, bahwa segala yang pokok bagi hidupnya adalah anugrah Hyang Widhi. Semua yang kita pergunakan adalah karunia-Nya, yang dilimpahkannya kepada kita semua karena cinta kasih-Nya. Marilah kita bersama hangayu bagia, menghaturkan rasa Parama suksma. Kita bergembira dan bersukacita menerima anugrah-anugrah itu, baik yang berupa material yang diperlukan bagi kehidupan, maupun yang dilimpahkan berupa kekuatan iman dan kesucian batin.
Karena itu, dalam mewujudkan kegembiraan itu janganlah dibiasakan dengan cara-cara yang keluar dan menyimpang dari kegembiraan yang berdasarkan jiwa keagamaan. Mewujudkan 3 kegembiraan dengan judi, mabuk, atau pengumbaran indria sangat dilarang agama.
Bergembiralah dalam batas-batas kesusilaan baik itu kesusilaan sosial dan kesusilaan agama, misalnya mengadakan pertunjukkan kesenian, malam sastra, mapepawosan, olahraga dan lainlainnya. Pada jaman modern ini tidak berlebihan bila kita berani merombak kesalahan kesalahan/kekeliruan-kekeliruan drsta (aturan) lama yang memang nyata-nyata tidak sesuai atau bertentangan dengan ajaran susila. Yang relevan silahkan dijalankan, yang usang dan tidak
sesuai lagi dengan jaman silahkan ditinggalkan. Karena agama itu hendaknya disesuaikan dengan desa, kala dan patra. Jangan sampai agama menjadi beban dalam hidup ini.
Galungan juga berarti kemenangan. Umat Hindu memiliki ajaran yang luhur untuk merayakan kemenangan. Menang di mana dan menang melawan apa? Apakah menang di meja judi atau di sabungan ayam? Atau di pertandingan sepakbola yang rusuh dan penuh pelanggaran? Atau menang di Pemilu yang penuh kecurangan dengan menyisakan korban rakyat-rakyat yang terkapar karena membela simbol partai? Tentu saja tidak sembarang kemenangan. Yang dirayakan adalah kemenangan dharma. Dharma kalau disederhanakan artinya kebenaran. Jadi, menangnya kebenaran itulah yang dirayakan oleh umat Hindu. Sepintas seperti aneh, bukankah kebenaran itu semestinya selalu menang? Kalau kita hidup di zaman Satya Yuga atau Treta Yuga, barangkali betul. Tetapi ini era Kali Yuga, zaman penuh kegelapan, yang menang itu belum tentu yang benar. Para “penentu kebenaran” sudah direcoki oleh virus-virus angkara murka, kelobaan, kedengkian, iri hati, dan sifat buruk lainnya yang bertentangan dengan dharma.

Suasana Hari Raya Galungan, Sumber: Balikami

Itulah sifat-sifat adharma. Wasit bisa memihak pemain, hakim dan jaksa bisa disuap, hukum bisa ditawar. Bahkan pada diri kita sendiri bersemayam sifat-sifat adharma. Melihat keberhasilan orang lain, kita mulai iri hati dan menfitnahnya. Ketika anak belum mendapat nilai yang baik di sekolah kita menghujat guru, dan sebagainya. Banyak lagi sifat-sifat adharma yang lain.
Adharma bercokol dalam diri kita sendiri, besar dan kecilnya bervariasi. Tergantung pada kita sendiri, apakah mau mencabut sampai ke akar-akarnya, atau justru memelihara dan memupuknya agar kian tumbuh dengan subur?
Nah tentu semua ingin pilihan yang pertama yaitu membinasakannya. Sifat adharma harus kita kalahkan. Kita awali dengan niat yang suci, melakukan pembersihan diri, baik dengan tapa, japa, brata yang dalam bahasa sekarang bisa kita sebut “tekad untuk berbuat suci”. Umat Hindu di Bali menyediakan hari yang disebut Sugian Bali dan Sugian Jawa, itulah hakekat penyucian diri.
Ketika segala yang kotor itu bisa kita bersihkan, mari kita belenggu keinginan jahat (adharma) kita. Leluhur kita yang mewariskan tradisi Penyekeban dilanjutkan Penyajaan, itulah saatnya kita membelenggu nafsu jahat kita. Pada akhirnya segala yang jahat dan kotor kita musnahkan, kita “sembelih” sifat-sifat hewani buruk yang ada pada diri kita. Jika semua tahap itu bisa kita lakoni dengan baik, pada Rabu Kliwon Wuku Dungulan semuanya itu kita syukuri sebagai kemenangan dharma. Inilah Galungan yang sejatinya.

Artikel Oleh: Ni Putu P Noviasih