Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Daily Archives: August 13, 2012

Upacara Ari-Ari di Perantauan


Sebagai umat Hindu yang hidup dirantauan masalah ari-ari saat istri melahirkan merupakan masalah rumit, mau dikubur di rumah kontrakan atau di kost-kostan, belum tentu mendapatkan ijin dari pemilik rumah kontrakan. Jika harus dilarung dilaut atau sungai boleh saja selama mengikuti prosesi yang benar tetapi sebagai orang tua kita tidak tega melakukannya disamping kita tidak dapat melakukan yadnya sesa atau mesaiban sehari-harinya.

Setelah bertanya kesana kemari akhirnya saya mendapatkan masukan dari sahabat-sahabat yaitu menanam ari-ari di sebuah pot bunga. Secara prinsip menanam ari-ari didalam pot dan tanah sama saja yang penting sarana upacaranya. Pot yang saya pilih adalah pot yang cukup besar tujuannya tentu agar ari-ari tersebut tidak menimbulkan bau busuk akibat kurangnya tanah didalam pot.
Proses upacara penanaman ari-ari sebagai berikut:

  1. Plasenta(ari-ari) dicuci dibersihkan, kemudian masukkan kedalam kendi/tempayan dimana didalam kendi atau tempayan tersebut juga diisi: kertas beruliskan A NA CA RA KA DA TA SA WA LA MA GA BA NGA PA JA YA NYA. Tulisan ini bisa dalam bentuk bahasa Bali, Bunga yang harum 5 macam, Duri 5 macam, Rempah-rempah, Misalkan: merica, ketumbar, bawang putih, dll. secukupnya.
  2. Tempayan dibungkus dengan kain putih,
  3. Kemudian di kuburkan di dalam pot yang telah berisi tanah.
  4. Berikan canang sari.

Doa/Mantram yang diucapkan saat mengubur ari-ari adalah: Om lbu Pertiwi rumaga bayu, rumaga amerta sanjiwani, angermertani sarwa tumuwuh si anu (kalau bayi sudah diberi nama sebutkan namanya) mangde dirgayusa nutugang tuwuh.

Artinya: Om Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai pertiwi, penguasa segala kekuatan, penguasa kehidupan menghidupi segala yang lahir/ tumbuh, si anu (nama si bayi) semoga panjang umur.

Letakkan ari-ari yang telah dikubur didalam pot sebelah kanan pintu untuk anak laki-laki dan disebelah kiri untuk anak perempuan.

Jodoh: Takdir atau Karma?


Oleh: Gentha Apritaura

love-puzzle

Ilustrasi gambar: dari Kaskus

Om Swastiastu
Saya dibesarkan di lingkungan Islam. Saya memutuskan memilih agama Hindu ketika saya masih dalam usia –yang orang bilang- premature. Too early. Tapi bagi saya, tidak ada kata premature sebab Hindu telah menyentuh kebutuhan rohani saya yang paling dasar. Saya menemukan Hindu tanpa guru, tanpa bantuan orang lain, namun itulah yang membuat saya bangga karena dengan demikian, berarti saya mengambil keputusan besar ini tanpa intervensi siapapun.

Usia saya sekarang 22 tahun. Pada usia 21 tahun, saya jatuh cinta pada seorang cowok muslim. Sebut saja namanya Fre. Bukan orang baru, dia cinta pertama saya di sekolah menengah, sekaligus teman sejak SD. Bersamanya, saya merasakan cinta yang sungguh- sungguh terhadap seorang lelaki. Semua ego runtuh di hadapannya. Hampir setahun, saya mengalami masa penuh pergolakan, perang batin, jungkir balik tidak karuan. Saat itu, hidup hanya memberi saya dua pilihan. Jika saya pilih Hindu, saya harus melepaskan dia (dan mengecewakan keluarga sekali lagi). Jika memilih Islam, saya dapat melewatkan waktu bersamanya, sekaligus membahagiakan keluarga karena mereka mengharapkan saya kembali (namun dengan mempertaruhkan amanastuti saya sendiri).

Pada masa itu, saya berpikir keras, kenapa jalan hidup membawa saya pada situasi seperti ini? Dalam benak saya, ada pertanyaan yang sangat mengusik, “Jodoh, takdir atau karma?”. Ajaran agama sebelumnya jelasjelas menyatakan jodoh adalah takdir. Namun dalam hati masih terasa mengganjal. Memerlukan cukup waktu hingga akhirnya saya temukan jawaban ini (mohon maaf sebelumnya, pendapat ini bersifat subyektif ). Jodoh itu bukan takdir, tapi karmaphala!

Apa alasannya?
Saya, bisa saja meraih Fre dalam pelukan saya, lalu kembali pada ajaran keluarga sambil mengatakan, “ini sudah jalannya”. Tapi apa yang ada di balik itu? Sebuah kemunafikan besar, menggunakan ‘jalannya’ Tuhan untuk mengelak dan menempatkannya sebagai pembenar atas tindakan yang saya lakukan. Kenyataan ini seperti pecut yang menampar muka saya sendiri.

Dalam kondisi pikiran yang jernih, saya dapat mendengar suara dalam hati yang jelas-jelas mengatakan, “Aku tidak ingin menukar Tuhan dengan apapun!”. Sadarkah kita, kita seringkali mengabaikan suara hati ketika pikiran kita sedemikian fokus terhadap suatu target. Mungkin, ini jugalah yang disebut maya itu.

Saya sadar betul bahwa selalu ada konsekuensi dari tiap tindakan. Dan keputusan yang saya ambil adalah, saya mempertahankan keHinduan saya. Efeknya, saya tidak dapat melanjutkan hubungan saya dengan Fre, dan mungkin saya lagi-lagi mengecewakan Bapak, Ibu, adik-adik, serta segenap keluarga besar.

Saya menangis, tentu saja. Hati saya hancur kehilangan Fre, saya sedih melihat keluarga harus ikut menanggung dampak moral dan sosial atas tindakan yang saya lakukan. Tapi inilah keputusan saya. Dari pengalaman ini, saya percaya jodoh itu hasil perjuangan, bukan ketentuan Tuhan. Mengapa? Sebab, sebetulnya saya bisa memiliki Fre jika saya bersedia melakukan satu hal; melepaskan keHinduan saya. Namun tidak saya lakukan. Karena apa? Karena saya tidak mau. Itulah kuncinya.

Saudara-saudaraku sedharma, melalui catatan ini saya ingin berpesan pada Anda sekalian, terutama untuk temanteman yang sedang mencari pasangan hidup, yang sedang merantau di tengah lingkungan umat berkeyakinan lain, yang merasa berdiri sebagai minoritas, yang sedang mengalami sindrom rendah diri agama, atau bahkan bagi yang mungkin saat ini sedang menimbang-nimbang untuk pindah ke agama lain; sadarkah kita, Sanatana Dharma adalah permata yang dunia miliki. “Rahmatan Lil Alamin” (rahmat bagi sekalian alam) yang sesungguhnya, bukan hanya “Rahmatan Lil Hindu”. Brahman yang kita kenal adalah figur Tuhan yang tidak memilih, tidak pernah membeda-bedakan.

Mungkin, dari kalimat “tidak pernah membeda-bedakan”, saya bisa  menggunakannya sebagai dalih untuk pindah ke agama lain. Tapi dengan mengetahui kualitas Tuhan-Tuhan” dari agama lain itu, dengan tegas saya akan mengatakan, “Saya tidak mau memiliki Tuhan seperti itu!”. Om Ekam Evam Advityam Brahman. Hanya Brahman yang saya kenal sebagai sejatinya Tuhan. Tuhan bagi seluruh semesta, bukan hanya Tuhan satu kaum.

Teman, saya sungguh berharap catatan ini dapat memberikan sedikit manfaat bagi Anda yang membacanya. Saat ini, saya terus berusaha membuktikan pada keluarga bahwa keputusan saya memeluk Hindu bukanlah keputusan bodoh. Hindu telah merombak total mindset saya yang dulu penuh ego ahamkara.

Teman, banggalah menjadi seorang Hindu. Sebab kita tengah bernaung dalam ajaran induk dari semua ajaran. Saya yakin, setiap dari Anda pernah menghadapi situasi sulit yang memaksa Anda mengambil sebuah keputusan pahit. Tapi saya pun yakin, semuanya adalah proses untuk menjadikan kita lebih dewasa. Gita mengajarkan, orang bijak tidak terlalu terlarut dalam kesedihan ataupun kesenangan. Lihat sisi positif dari apapun yang kita hadapi. Daripada menyesali pintu yang sudah tertutup, bukankah lebih baik mencari pintu lain yang terbuka? Life must going on, apapun yang kita perjuangkan, karmapalanya akan kembali.

Mulai saat ini, semoga tidak pernah lagi terbesit dalam benak kita untuk cenderung menuding Tuhan atas apapun yang kita alami. Mulat sarira, rubah mindset Anda. Legowo menerima hasil dari perbuatan kita sendiri akan terasa jauh lebih melegakan sekaligus membentuk diri kita untuk lebih mampu bersikap ksatria. Mungkin benar, kita tidak tahu karma apa yang kita bawa dari masa lalu. Tapi minimal, kita bisa melihat hasil dari apa yang kita dapat merupakan hasil dari tindakan kita sekarang. Be positive, do positive. Tidak akan ada yang sia-sia. Om Santih Santih Santih Om.

**Tulisan ini telah dimuat/diposting di Website Media Hindu pada tanggal 26 Oktober 2010.

Ilmu Leak Dapat Diwariskan?


Ilmu pengeleakan sangat pantas untuk dilestarikan, terlepas dari peruntukannya. Ilmu leak bukan hal yang buruk jika pergunakan untuk hal-hal positif. Berdasarkan proses dan keberadaan serta cara mendapatkannya ilmu leak dibagi menjadi 3(tiga) jenis yaitu:

  1. Ilmu leak yang didapatkan secara genetik(keturunan).
  2. Ilmu leak yang didapatkan dengan cara belajar.
  3. Ilmu leak yang didapatkan dengan cara membeli.

Image by: Bali Wisdom

Dilihat dari proses dan asal muasalnya ilmu pengeleakan maka dapat disimpulkan bahwa ilmu pengeleakan dapat diwariskan walaupun kwalitas hasilnya belum tentu sama. Dilihat dari sisi kualitas hasilnya ilmu pengeleakan dibagi menjadi 3(tiga):

  1. Ilmu pengeleakan kelas 1(kw1), adalah ilmu pengeleakan yang diterima secara genetik(keturunan), bersifat otomatis. Ilmu pengeleakan ini dapat(pasti) diwariskan karena bersifat keturunan meskipun dalam prilaku berikutnya dapat saja berubah sifat, tidak dipakai oleh pewarisnya atau hanya disungsung sebagai warisan leluhur. Bentuk pewarisan ilmu pengeleakan ini dapat dengan ngelakoni atau hanya sekedar nyungsung atau distanakan semata.
  2. Ilmu pengeleakan kelas 2(kw2), adalah ilmu pengeleakan yang diperoleh dari proses belajar(penglatih-pen). Dari sisi waktu ilmu pengeleakan kw2 adalah yang paling lama untuk mendapatkannya.
  3. Ilmu pengeleakan kelas 3(kw3), adalah ilmu pengeleakan yang diperoleh dari membeli. Paling banyak dijadikan anutan karena proses untuk mendapatkannya sangat mudah, ada uang maka ilmu pengeleakan pun ada.

Jadi kesimpulannya, ilmu pengeleakan dapat diwariskan melalui tiga cara atau proses: genetik, belajar dan membeli. Bagi yang secara genetik tidak memiliki keturunan ngeleak, maka pilihannya ada 2 yaitu belajar atau membeli. Bagi yang memiliki keturunan ngeleak pilihannya adalah ngelakoni(menjalankan) atau hanya sebatas nyungsung saja.