Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Omed-omedan,Tradisi vs Porno Aksi ?


Siapa yang tidak tau omed-omedan atau med-medan? tradisi sakral dari Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar ini rutin diadakan sehari setelah perayaan Hari Raya Nyepi. Banyak awak media baik lokal maupun asing meliput tradisi turun temurun, tidak ayal Tradisi Unik ini terkenal seantero jagat, banyak media yang memberikan sisi culture/budayanya tapi tidak sedikit media yang lebih menampilkan sisi adegan yang dilakukan dalam tradisi omed-omedan.

Ada yang berkomentar positif tidak sedikit pula yang berkomentar buruk. Setiap orang memang berhak untuk menilai tradisi budaya, ingat tradisi budaya, bukan agama. Dilihat dari sudut budaya, Omed-omedan tidak lebih dari sebuah ritual sakral yang dilakukan secara turun temurun namun dilihat dari sisi pornografi adegan ciuman dalam omed-omedan tidak pantas dilakukan. Terlepas pantas atau tidak pantas saya berpendapat omedan-omedan adalah sebuah warisan tradisi leluhur warga Banjar Kaja, Sesetan yang memang harus dipertahankan. Tradisi Omed-omedan tidak dilakukan oleh semua usia, hanya yang berusia diatas 17 tahun dan masih lajang yang diperbolehkan menjadi pesertanya. Ritual ini juga tidak bertujuan untuk having fun, ada persembahyangan yang dilakukan sebelum melakukan “tarik-menarik” secara beramai-ramai ini.
Omed-omedan adalah Tradisi budaya yang hanya diselenggarakan di Banjar Kaja Sesetan, Denpasar. Konon ritual ini dilakukan untuk mencegah wabah penyakit yang pernah menimpa seluruh warga banjar dulu kala.

Ada banyak pertanyaan mengenai tradisi omed-omedan, pada sebuah media lokal kelian banjar kaja sesetan memberikan penjelasan mengenai tradisi budaya ini.

Penjelasan Mengenai Tradisi ”Med-medan”

  1. Masyarakat Banjar Kaja Sesetan melakukan tradisi omed-omedan/med-medan ini demi mencapai kenyamanannya dalam menapak kehidupan yang lebih harmonis, setidaknya pada tatanan keluarga, banjar, dan desa. Tradisi ini dilakukan sehari setelah Nyepi (Ngembak Geni). Kalau toh orang luar ikut berperan serta, itu ada aturan prosesi yang harus diikuti karena kegiatan ini mengandung nilai spiritual magis, dan hanya bisa dirasakan oleh pelakunya.
  2. Med-medan dilakukan bukan secara paksa. Pelakunya semua merasakan itu adalah kewajiban yang harus dilakukan dan prosesinya harus melakukan persembahyangan bersama terlebih dulu.
  3. Pandangan kami terhadap tradisi itu adalah yang di Bali disebut dresta, yang juga berupa aturan di masyarakat Desa Sesetan yang disebut dengan Catur Dresta: Purwa Dresta (aturan-aturan masa permulaan), Desa Dresta (aturan menurut keadaan desa setempat), Sastra Dresta (aturan menurut ajaran yang tersebut di dalam kitab), Loka Dresta (aturan menurut keadaan zaman). Alasan lainnya, konsekuensi praktis dari agama sejati adalah kehidupan yang diabadikan untuk memenuhi kehendak Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang terimplementasi pada ajaran Catur Guru.
  4. Mengenai warga negara asing (Taiwan, bukan Jepang) yang ikut dalam prosesi, dia itu adalah seorang artis. Memang dia sendirilah yang memohon supaya diizinkan untuk ikut dan dia mau mengikuti sesuai dengan aturan prosesinya.
  5. Mengenai tujuan komersial buat turis-turis asing, sampai saat ini dari pihak-pihak penyelenggara praktik ke arah itu tidak ada. Kegiatan itu merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh warga Teruna-Teruni Satya Dharma Kerti, Banjar Kaja, Desa Sesetan, untuk menangkal hal-hal negatif yang mungkin akan bisa menimpa warganya bila prosesi itu tidak dilaksanakan.
  6. Mengenai tidak diperbolehkannya melakukan adegan seperti itu menurut ajaran agama, kami lebih tepat tidak berkomentar. Alasannya, kita hidup dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang Bhineka Tunggal Ika yang berbeda-beda agama dan suku. Sedangkan dalam satu agama pun tumbuh perbedaan penafsiran. Kami harapkan hal ini bisa dimaklumi.
  7. Tradisi ini sudah diangkat dan dikaji dalam sebuah tesis oleh I Made Munggah, 2007, pada Program Studi Magister (S2) Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Udayana, telah diuji dan disetujui selanjutnya mendapat pengesahan sesuai dengan tata tertib sebuah karya ilmiah.
  8. Mengenai kesucian hari Nyepi, pada hari penyepian, warga kami, sebagaimana umat Hindu lainnya juga melaksanakan Catur Brata Penyepian (empat pengendalian diri pada saat Nyepi): amati karya (tidak melakukan pekerjaan), amati geni (tidak menyalakan api), amati lelanguan (tidak bersenang-senang), amati lelungan (tidak melakukan perjalanan).

Pakula Warga Sesetan
Bendesa Desa Pakraman Sesetan,
Ir. I Wayan Megananda, Ms.Ars.
Klian Adat Banjar Kaja Sesetan,
I Wayan Sunarya
Kepala Lingkungan Banjar Kaja Sesetan,
I Gede Semara, S.E.

Selanjutnya, apa yang anda pikirkan dengan tradisi warisan leluhur ini? terserah anda. faktanya tradisi sakral ini tidak berakibat meningkatnya tindakan kejahatan di Bali. semua kembali kepada pikiran kita masing-masing. santhi (–peace)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: