Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Mengenal Tradisi Mekotek


Bertepatan dengan Hari Raya Kuningan, Tradisi Mekotek digelar di Desa Munggu Kecamatan Mengwi Badung. Tradisi yang juga dikenal dengan Gerebek Mekotek ini dilakukan turun temurun oleh generasi penerus dari leluhur warga desa Munggu khususnya umat Hindu dan yang pasti Tradisi Mekotek hanya ada di Desa Munggu, Mengwi Badung. Tradisi Mekotek merupakan atraksi budaya yang telah menjadi ikon pariwisata yang ditunggu-tunggu tidak saja dari wisatawan lokal tapi juga mancanegara.

Tradisi Mekotek, Munggu. Image by: Munggu Tourism Board

Bagi Warga desa munggu selain persiapan untuk perayaan hari raya kuningan mereka juga biasanya mempersiapkan peralatan yang akan digunakan untuk Gerebek Mekotek. Peralatan yang dimaksud hanyalah tongkat kayu sepanjang 2 sampai dengan 2,5 meter yang telah dibersihkan(dikelupas) kulitnya.Tradisi Mekotek diikuti warga Desa Munggu, pria usia 12 sampai 60 tahun. Peserta tradisi mekotek dibagi dalam beberapa kelompok, setiap kelompoknya terdiri sekitar 50 orang, tongkat kayu yang mereka bawa diadu/dibenturkan. Benturan puluhan tongkat kayu tersebut menimbulkan bunyi tek..tek..tek..tek saat tongkat kayu tersebut disatukan membentuk seperti sebuah piramid salah seorang peserta akan naik. Semarak pastinya. Inilah mengapa Tradisi unik ini disebut Tradisi Mekotek.

Sejarah Tradisi Mekotek

Konon Tradisi Mekotek ini awalnya digelar oleh warga desa untuk menyambut kedatangan para prajurit dari pasukan kerajaan Mengwi dimana saat ini memiliki peninggalan pura kerajaan Pura Taman Ayun, sambutan warga pada saat itu konon sebagai perayaan kemenangan pasukan kerajaan Mengwi atas pertempuran melawan kerajaan Blambangan yang ada di pulau Jawa. Perkiraan tahun 1915 Tradisi Mekotek sempat dihentikan oleh kolonial Belanda karena takut menimbulkan pemberontakan mengingat tradisi ini mampu memantik semangat perjuangan dan kerjasama(gotong royong) rakyat saat itu, akibatnya konon terjadilah wabah penyakit.

Dulunya Tradisi Mekotek menggunakan tongkat besi, untuk menghindari bahaya terluka pada tahun 1948 Tradisi Mekotek menggunakan tongkat dari kayu pulet dimana kulit kayu sudah dikelupas dan dihaluskan, Panjang kayu yang dipakai tidak lebih dari 4 meter. Tombak asli yang dipakai tradisi mekotek jaman dahulu konon disimpan di Pura Desa setempat. Warga peserta tradisi mekotek wajib menggunakan pakaian adat madya dan berkumpul di Pura Dalem Munggu.

Seperti halnya Tradisi Budaya Bali lainnya, sebelum dilakukan Tradisi Mekotek dimulai warga melakukan persembahyangan di Pura Dalem desa munggu dilanjutkan dengan pawai diiringi gamelan baleganjur menuju sumber mata air.

Tradisi Mekotek Desa Munggu ini tidak hanya membangkitkan semangat perjuangan seperti yang ditakuti pemerintah kolonial belanda pada jamannya namun juga memberikan pelajaran tentang solidaritas, kerjasama team(gotong royong) dan semangat persatuan! Hingga kini Tradisi Mekotek menjadi warisan budaya leluhur dan terus dilakukan turun temurun setiap Hari Raya Kuningan.

Artikel ini diolah dari berbagai sumber. Jika ada kesalahan dalam penulisan mohon dikoreksi nggih semeton.

Artikel lainnya:

  1. Tradisi Upacara Neteg Pulu
  2. Tradisi Perang Tipat Desa Yeh Apit, Karangasem
  3. Tradisi Lukat Geni Desa Sampalan
  4. Tradisi Megoak-goakan Desa Panji
  5. Tradisi Nikah Massal Desa Pekraman Pengotan Bangli
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: