Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Tag Archives: hari raya nyepi

Mengenal Tradisi Mamapas Hindu Kaharingan


Di kota Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng).Sehari sebelum Hari Raya Nyepi, Umat Hindu Kaharingan melakukan Upacara Ritual Mamapas.

Semuanya Berpakaian warna warni dengan ikat kepala khas, kaum pria tampak sibuk mempersiapkan pelaksanaan ritual.

Sejumlah sesaji seperti kepala kerbau yang dibalut kain putih, ayam, bunga, dan tak lupa sebilah mandau atau pedang khas Suku Dayak tertata rapi.

Sebuah lubang berukuran sedang sekitar 50 cm x 50 cm sudah dipersiapkan yang nantinya akan digunakan sebagai tempat menanam kepala kerbau. Para balian (semacam pendeta) Hindu Kaharingan pun melantunkan ayat-ayat suci. Tak ketinggalan ratusan pemeluk Hindu Dharma juga berbaur.

Secara harfiah kegiatan tersebut dapat diartikan sebagai upacara untuk membersihkan diri dan lingkungan dari hal-hal buruk dan jahat. Kegiatan ini memang selalu diperingati setiap tahun dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi.

Artinya di Tahun Baru (Saka) di sambut dengan antusias dan berubah menjadi baru, sementara yang tak baik kita tinggalkan

Setiap menjelang hari raya Nyepi upacara Memapas Lewu ini diadakan.

Selain itu tujuannya adalah memberikan persembahan kepada roh leluhur seperti ogoh-ogoh, gambaran hal-hal yang tidak baik dihilangkan.

Terima kasih: Indra Maheswara

Advertisements

Tradisi Nyakan Diwang Jelang Ngembak Geni


Tradisi Nyakan Diwang jelang Ngembak Geni.

Pulau Dewata memiliki banyak sekali keunikan dan keindahan tersembunyi di dalamnya, selain keindahan alam di sejumlah objek wisata yang tersebar di Bali, beberapa tradisi seperti Nyakan Diwang di Desa Dencarik, Kec. Banjar, Kab. Buleleng, ikut mempopulerkan bahwa Bali adalah pulau unik yang layak dikunjungi oleh wisatawan. Tradisi tersebut telah menjadi warisan turun temurun dari nenek moyang mereka dan berkembang lestari sampai saat ini, semua melakukan dengan penuh kesadaran, tanpa harus ada sanksi bagi mereka yang tidak ikut melaksanakannya.

Image by: Bali Travel News

Nyakan Diwang berarti masak di luar rumah, tradisi ini memang digelar di luar pekarangan rumah, yaitu di pinggir jalan sepanjang jalan di desa tersebut, hanya populer di wilayah Banjar, dirayakan dalam rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi sehingga jarang orang luar/ warga lain bisa menyaksikan kegiatan tersebut, saat jalanan masih ditutup karena perayaan Nyepi, karena pada umumnya ngembak Gni (buka Nyepi) sekitar jam 06.00 pagi. Nah di desa ini sekitar pukul 03.00, kulkul (kentongan berbunyi) sebagai tanda kegiatan akan segera dimulai, maka warga akan merayakannya bersiap untuk memulainya, dan perayaan selesai sekitar pukul 07.00 dan jalan kembali dibuka untuk umum.

Peralatan juga sangat sedehana, mereka menanak nasi dengan menggunakan kayu bakar di pinggir jalan desa, tradisi inik di Bali patut diapresiasi kepada seluruh warganya, walaupun tidak sebagai suatu keharusan, mereka secara kompak bisa melaksanakannya, karena ini merupakan warisan leluhur, sebuah kewajiban moral untuk melaksanakannya, walaupun tidak ada sanksi adat yang diberlakukan. Tujuan perayaan ini untuk pembersihan rumah terutama bagian dapur setelah catur brata penyepian, seperti tidak menyalakan api, tidak bepergian, tidak bekerja dan tidak mengobarkan kesenangan.

** Sumber: maxonejimbaran

Rahajeng Ngembak Geni


Sehari setelah Hari Raya Nyepi tiba saat Umat Hindu melaksanakan Ngembak Geni. Hari dimana Umat Hindu menutup catur brata penyepian dengan sembahyang bersama di pura-pura setempat. Persembahyangan diakhiri dengan Dharma Santi saling bermaaf-maafan kepada sanak keluarga dan handaitaulan. Dikesempatan ini paduarsana.com mengucapkan selamat bagi yang telah berhasil menjalankan catur brapa penyepian, bagi yang belum bisa menjalankan catur brata penyepian karena harus bekerja atau karena terbaring sakit jangan bersedih hati. Astungkara selalu ada jalan untuk menuju kebaikan Hyang Widhi Wasa. Mari kita hilangkan kebencian dengan yang lain, menumbuhkan rasa cinta kasih kepada sesama.

Di dalam kitab Siwa Purana, Siwa bersabda kepada Prajapati Daksa dimana Prajapati Daksa telah sadar akan kesalahannya. Siwa bersabda :” Aku tidak pernah memperhitungkan dosa yang dibuat seseorang. Aku hanya memberikan hukuman pada mereka yang telah larut dalam ilusiku. Jika seseorang membenci orang lain, maka kebencian itulah yang menelannya. Tidak ada tindakan yang dibuat untuk menyakiti orang lain yang melibatkan Aku kapanpun juga. Jika seseorang membenci orang lain maka kebencian itu sendiri yang akan menelannya. Meskipun Aku berdiri sendiri dan tidak bergantung pada siapapun, namun Aku senantiasa luluh oleh pengabdian penyembahKu. Ada empat jenis orang yang menyembahKu. O Prajapati Daksa, keempat itu lebih mulia satu dengan yang lainnya. Mereka adalah orang yang dalam kesedihan, yang sekedar ingin tahu, mereka yang untung-untungan dan mereka yang bijak. Ketiga jenis yang pertama adalah penyembah yang biasa, sedangkan yang keempat adalah yang teristimewa. Tentu saja yang bijaksana adalah yang paling Aku sayangi. Tidak ada yang Aku sayangi melebihi mereka yang bijak. Dia adalah bagian dari diriKu. Ini adalah kebenaran dan Aku mengatakan kebenaran padamu”

Semoga kita semua mendapat kebaikan untuk melakukan kebaikan yang lain.

Om santih, santih, santih Om

%d bloggers like this: