Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Monthly Archives: September 2012

Upacara Magedong-gedongan


Setiap keluarga berharap yang terbaik bagi janin beserta ibu yang mengandungnya. Janin dalam kandungan diharapkan terlahir menjadi anak yang suputra dan ibu yang mengandung juga diberikan keselamatan selama proses kehamilan. Di Bali ada upacara yang dilakukan untuk janin dan ibu yang sedang mengandungnya, Upacara magedong-gedongan.

Upacara pagedong-gedongan ini dilaksanakan selambat-lambatnya pada saat kandungan berumur 7 bulan, upacara ini dilaksanakan bertujuan untuk menyucikan janin dalam kandungan, agar nantinya terlahir anak yang Suputra. Upacara Pagedong-gedongan ini dilaksanakan setiap terjadinya suatu kehamilan pada si Ibu.

Menurut Tutur Kanda Pat Rare mengatakan dalam proses kehamilan karena “Kama Jaya” (Sperma dari Ayah) bertemu dengan “Kama Ratih” (Ovum dari Ibu) terjadilah pembuahan. Semakin besar terwujudlah jabang bayi. Upacara megedong-gedongan adalah Upacara yang ditujukan kepada bayi yang masih berada didalam Kandungan dan merupakan upacara pertama dilaksanakan pada saat bayi berumur 7 bulan Bali (± 8 bulan kalender), karena wujud bayi sudah dianggap sempurna. Namun dalam pelaksanaanya secara massal bisa disesuaikan untuk umur kandungan antara 3 – 8 bulan.

Pelaksanaan Upacara Magedong-gedongan berfungsi sebagai penyucian terhadap bayi. Disisi lain juga berarti agar kedudukan bayi dalam kandungan agar baik kuat tidak abortus. Secara bathiniah agar Sang Bayi kuat mulai setelah lahir menjadi orang yang berbudi luhur, berguna bagi keluarga dan masyarakat. Demikian juga dimohonkan keselamatan atas diri si Ibu agar sehat, selamat waktu melahirkan.

Upacara megedong-gedongan ini dilaksanakan dengan maksud “pembersihan”, pemeliharaan atas keselamatan si ibu dan anaknya disertai pula dengan pengharapan agar anak yang lahir kelak menjadi orang berguna di masyarakat dan dapat memenuhi harapan orang tuanya”. Magedong-gedongan berasal dan kata “gedong” yang berarti gua garba. Gua artinya pintu yang dalam atau pintu yang ada di dalam, garba artinya perut. Jadi, gua garba artinya pintu yang dalam atau pintu yang ada di dalam, garba artinya perut. Jadi, gua garba artinya pintu yang dalam, berada pada perut si ibu. Dalam hal ini yang dimaksud kehidupan pertama itu adalah si bayi. Untuk keselamatan bayi dalam perut ibu inilah dilakukan upacara magedong-gedongan.

Menurut Lontar Kuna Dresthi, upacara ini dilakukan setelah kehamilan berumur diatas lima bulan (enam bulan kalender). Kehamilan yang berumur di bawah lima bulan dianggap jasmani si bayi belum sempurna dan tidak boleh diberi upacara yang dilakukan sebelum usia tersebut, maka upacara itu dianggap tidak benar karena janin belum lengkap yang dapat dikatakan sebagai manusia. Tujuan pokok upacara tersebut adalah agar ibu dan bayi yang dikandung dalam keadaan bersih, terpelihara, dan memperoleh keselamatan, serta selain itu, sebagai ungkapan terima kasih karena janin telah dapat tumbuh sempurna dan melampaui masa krisis. Di samping itu, tujuan upacara ini adalah agar anak yang akan lahir kelak menjadi orang yang berguna di masyarakat dan dapat memenuhi harapan orang tuanya.

Dibawah ini adalah banten yang digunakan dalam upacara megedong-gedongan. Selain Ayaban, minimal tumpeng 7 atau peras pengambyan, bantennya juga diikuti oleh beberapa sesayut antaralain :
1. Sesayut tulus dadi yg bermakna doa agar kehamilan ini berhasil/jadi. Yaitu dg terlahirnya si bayi
2. Sesayut tulus hayu yg bermakna doa agar kehamilannya hingga kelahirannya selamat/ayu
3. Sesayut pemahayu tuwuh yg bermakna doa agar panjang umur dan sehat selalu baik ibu maupun si bayi
Dan sesayut-sesayut serta bantenlainnya seperti pagedong-gedongan matah, tetandingan nasi wong-wongan, dll.
Jadi, upacara ini tak sekedar melestarikan budaya namun yg terpenting adalah makna yg terkandung didalamnya.

Semoga Ida Sang Hyang Widhi senantiasa melindungi wanita-wanita yg sedang mengandung agar selamat dan sehat selalu. Dan semoga terlahir putra-putra suputra.

**artikel diolah dari berbagai sumber: terima kasih Jro Mangku Veni

Tattwa, Susila dan Upacara Hari Raya Saraswati


Saraswati terdiri dari kata: Saras yang berarti sesuatu yang mengalir, dan “kecap” atau ucapan. Wati berarti memiliki, mempunyai. Jadi, Saraswati berarti yang mempunyai sifat, mengalir dan sebagai sumber ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.

Istilah Yang Berhubungan dengan Saraswati:

  1. Dalam ajaran Tri Murti menurut Agama Hindu, Sang Hyang Saraswati adalah Saktinya Sang Hyang Brahman.
  2. Sang Hyang Saraswati adalah Hyang Myangning Pangaweruh.
  3. Aksara merupakan satu-satunya Lingga Stana Sang Hyang Saraswati.
  4. Odalan Saraswati jatuh pada Hari Saniscara(Sabtu) Umanis, Wara Watugunung merupakan hari pemujaan turunnya ilmu pengetahuan oleh umat Hindu.

Ethika dalam perayaan Hari Raya Saraswati:

  1. Pemujaan Saraswati dilakukan sebelum tengah hari.
  2. Sebelum perayaan Saraswati, tidak diperkenankan membaca atau menulis.
  3. Bagi yang menjalankan “Brata Saraswati” tidak diperkenankan membaca dan menulis selama 24 jam.
  4. Dalam mempelajari segala “pangeweruh” selalu dilandasi dengan hati “Astiti” kepada Hyang Saraswati, termasuk dalam hal merawat perpustakaan.

Upakara: Semua pustaka-pustaka keagamaan dan buku-buku pengetahuan lainnya termasuk alat-alat pelajaran yang merupakan “Lingga Stana Hyang Saraswati” dilakukan ditempat yang layak. Adapun Upacara/upakara Saraswati sekurang-kurangnya: Banten Saraswati, Sodaan Putih-Kuning dan canang selengkapnya. Tirta yang dipergunakan hanya tirta Saraswati, diperoleh dengan jalan memohon ke hadapan Hyang Surya sekaligus merupakan tirta Saraswati, di tempat lingga Saraswati masing-masing.

Pelaksanaan upacara Saraswati didahului dengan menghaturkan penyucian, ngayabang aturan, muspa kemudian matirtha. Banyupinaruh(pina wruh) jatuh sehari setelah hari raya Saraswati yaitu Redite Paing Sinta. Umat Hindu melakukan asuci laksana(mandi, keramas, dan berair kumkuman). Selanjutnya dihaturkan labaan nasi pradnyan, jamu sad rasa dan air kumkuman. Setelah diaturkan pasucian/kumkuman labaan dan jamu, dilanjutkan dengan nunas kumkuman, muspa, matirtha nunas jamu dan labaan Saraswati/nasi pradnyan barulah upacara diakhiri.

Pedoman kepustakaan dalam hubunganya dengan Saraswati antara lain:

  1. Tutur Aji Saraswati
  2. Sundarigama
  3. Medangkemulan
  4. Purwaning Wariga

Uang Kepeng Dalam Upacara Agama Hindu


Uang Kepeng | Pis Bolong

Pada abad ke-7 Masehi berdasarkan berita-berita China dari Dinasti Tiang, di Bali telah beredar uang Kepeng(pis bolong) yang diduga permulaannya adalah berfungsi sebagai alat tukar. Berdasarkan bukti-bukti prasasti Sukawana A1 yang berangka 882 Masehi uang kepeng itu diduga telah digunakan dalam upacara agama Hindu di Bali. Selain itu terdapat jenis uang kepeng buatan luar negeri seperti china, korea, jepang, anam dan indonesia.

Menurut cerita pada masa lampau, ada seorang musafir dari dari Cina yang bernama Fa Hien pergi berlayar menuju ke tanah Hindu yaitu India dan Srilangka. Setelah beberapa lama berada di sana, ia kemudian kembali ke negeri asalnya sekitar 414 Masehi. Namun di tengah perjalanan, kapal yang ditumpanginya diserang badai dan mengalami kerusakan. Kapal tersebut kemudian terdampar di sebuah pulau yang kemudian dikenal sebagai Ya-wa-di. Konon yang dimaksud dengan Ya-wa-di adalah Jawa Dwipa atau Pulau Jawa. Ada kemungkinan pada masa itu uang kepeng sudah mulai diperkenalkan di sana.

Uang kepeng(pis bolong) memiliki fungsi yang sangat penting dalam upacara agama Hindu di Bali, bahan pembuat uang kepang yang asli mengandung unsur-unsur Pancadatu, seperti: Tembaga, timah, besi, perak dan emas.

Uang kepeng berbentuk bulat melambangkan windu. Adapun fungsi uang kepeng dalam upacara agama Hindu:

  1. Sebagai sarana untuk melengkapi upakara Panca Yadnya, Misalkan: dalam akah banten, dalam buah Us, orti dll.
  2. Sebagai Sesari.
  3. Sebagai alat upacara seperti: lamah-tamiang, salang, payung pagut, penyeneng.

Saat ini uang kepeng asli semakin sulit didapat, uang kepeng yang ada dipasar saat ini terbuat dari besi atau bahkan seng. dengan demikian sebagian besar fungsi uang kepeng dalam upacara agama mulai tergantikan oleh uang yang mempunya nilai tukar yang sah.