Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Tabuh Rah


“Tabuh” berarti menaburkan dan “rah” berati darah. Tujuan penyembelihan darah binatang seperti: babi, bebek, kerbau, ayam adalah sebagai pelengkap upacara yang dilangsungkan. Darah perlambang merah dari binatang tersebut di gunakan sebagi bahan pelengkap metabuh. Metabuh adalah proses menaburkan lima macam warna zat cair adapun empat bahan yang lain diantaranya zat berwarna putih dengan tuak, berwarna kuning dengan arak, berwarna hitam dengan berem, berwarna merah dengan taburan darah binatang dan ada dengan warna brumbun dengan mencampur empat warna tersebut.

Matabuh dengan lima zat cair adalah simbol untuk mengingatkan agar umat manusia menjaga keseimbangan lima zat cair yang berada dalam Bhuwana Alit. Jika lima zat cair itu berfungsi dengan baik maka orang pun akan hidup sehat dan bertenaga untuk melangsungkan hidupnya. Lima zat cair yang disimbolkan adalah darah merah, darah putih, kelenjar perut yang berwarna kuning, kelenjar empedu warnanya hitam dan air itu sendiri simbol semua warna atau brumbun. Air itu bening berwarna netral,perpaduan fungsi lima zat cair dalam tubuh inilah yang akan membuat hidup sehat.

Pelaksanaan tabuh rah diadakan pada tempat dan saat- saat upacara berlangsung oleh sang Yajamana. Pada waktu perang satha disertakan toh dedamping yang maknanya sebagai pernyataan atau perwujudan dari keikhlasan Sang Yajamana beryadnya, dan bukan bermotif judi. Perang satha adalah pertarungan ayam yang diadakan dalam rangkaian upacara agama (yadnya). Dalam hal ini dipakai adalah ayam sabungan, dilakukan tiga babak. ( telung perahatan) yang mengandung makna arti magis bilangan tiga yakni sebagai lambang dari permulaan tengah dan akhir. Hakekatnya perang adalah sebagai simbol daripada perjuangan (Galungan) antara dharma dengan adharma. Aduan ayam yang tidak memenuhi ketentuan- ketentuan tersebut di atas tidaklah perang satha dan bukan pula runtutan upacara Yadnya. Di dalam prasasti- prasasti disebutkan bahwa pelaksanaan tabuh rah tidak minta ijin kepada yang berwenang.

Adapun yang menjadi sumber untuk melakukan tabuh rah tersebut adalah:

  1. Prasasti Bali Kuna (Tambra prasasti) seperti:  Prasasti Sukawana A l 804 Çaka,  Prasasti Batur Abang A 933 Çaka, Prasasti Batuan 944 Çaka
  2. Lontar- lontar seperti: Siwatattwapurana, Yadnyaprakerti

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: