Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Category Archives: Info

Putri Cening Ayu


Siapa yang tak tahu lagu anak Putri Cening Ayu. Lagu ini sangat populer dari dulu hingga kini setiap ada lomba cari bakat tingkat anak-anak lagu ini menjadi lagu pilihan bagi para peserta, selain mudah liriknya lagu ini amat sangat enak didengar. Saya sendiri menyimpan lagu ini sebagai playlist favorite diIpod saya tentu saja versi Dewasanya yang dibawakan oleh Artis Bali Puspa Dewi. Lagunya sangat enak didengar, dulu waktu anak-anak masih bayi saya sering menyanyikannya untuk meninabobokan mereka selain dengan Gayatri Mantram tentunya. Mau tau lirik lagu anak putri cening ayu ? Inilah liriknya:

Putri Cening Ayu

Putri cening ayu ..
Ngijeng cening jumah
Meme luas malu
Kepeken meblanja
Apang ada darang nasi
Meme tityang ngiring
Ngongos ngijeng jumah
Sambilang mepunpun
Ajak tityang dadua
Dimulih ne nyen gapgapin

Putri cening ayu ..
Ngijeng cening jumah
Meme luas malu
Kepeken meblanja
Apang ada darang nasi
Meme tityang ngiring
Ngongos ngijeng jumah
Sambilang mepunpun
Ajak tityang dadua
Dimulih ne nyen gapgapin

Silahkan menyimak lagu anak – anak bali via youtube, saya yakin semeton akan suka. Semoga bermanfaat.

Advertisements

Gerhana Matahari dan Nyepi


Nyepi 2016 sedikit berbeda dari tahun sebelumnya, Hari Raya Nyepi saka 1938 yang jatuh pada tanggal 9 Maret 2016 akan terjadi Gerhana matahari total. Sebagian besar Pasifik, meliputi: Indonesia, Malaysia dan negara-negara lainnya di Asia Tenggara dan benua Australia diperkirakan akan dapat menyaksikan gerhana matahari parsial.

Solar_eclipse_animate_(2016-Mar-09)

Ilustration Gerhana Matahari 2016

Gerhana matahari total dianggap sebagai salah satu fenomena alam paling mengesankan yang terjadi di Bumi. Di Timur Samudera Pasifik, gerhana matahari total akan terjadi selama lebih dari 4 menit. Sedangkan, garis kuning menunjukkan daerah dengan gerhana matahari parsial

Sebagian besar India dan Nepal akan mengalami gerhana matahari parsial. Sementara itu, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Papua Nugini akan dapat menyaksikan lebih dari 50% gerhana parsial. Sedangkan Kamboja, Myanmar, Vietnam dan Thailand akan melihat sekitar 50% gerhana matahari parsial. Sementara Australia, China, Jepang dan Alaska akan mendapatkan kurang dari 50% gerhana parsial.

Di Bali gerhana matahari inipun diperkirakan dapat terlihat, apa yang harus dilakukan ? Tentu saja sebagai Hindu kita harus tetap melakukan Catur Brata penyepian: Amati Gni(tidak menyalakan api), Amati Karya(tidak bekerja), Amati lelanguan(tidak mencari kesenangan) dan Amati lelungan(tidak bepergian).

Berikut adalah Doa(Puja Stawa) yang diucapkan saat Gerhana Matahari. Yang saya kutip Kitab Stotramala oleh Jro Mangku Danu.

Suryagrahanna-pidaparihara stava:

Om indro’nalo dandadhararca
Rksah pracetaso-vayukubera-isah
majanma-rkse mama rasi-samsthe arko’paragam samayantu sarve suryaya namah svaha.

Artinya:
Om Sanghyang Widhi dalam prabahwa-Mu sebagai dewanya para dewa yang perkasa yang bersenjatakan danda berkilauan, pelindung jagat raya dan isinya, yang menghasilkan udara(vayu), yang memberi kehidupan(kuvera), yang melindungi manusia(janma), Engkaulah pusat dari planet-palnet(rasi), Semogalah semuanya(samstha) terbebaskan dari segala penderitaan(samayantu sarve). Hormat padaMu Bhatara Surya.

** Terima kasih, wikipedia.org | Semoga bermanfaat.

Artikel terkait:

  1. Nyepi
  2. Pedoman Nyepi 2016
  3. Hari Raya Nyepi
  4. Upacara Melasti

Pedoman PHDI Nyepi 2016, Saka 1938


Berikut adalah Pedoman terkait perayaan Nyepi Saka 1938. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), majelis tertinggi umat Hindu di Bali mengeluarkan pedoman tentang pelaksanaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1938 yang jatuh pada hari Rabu, 9 Maret 2016.

“Pedoman tersebut merupakan hasil rapat pengurus harian dan anggota Forum Welaka (kelompok pemikir) PHDI Bali tentang pelaksanaan rangkaian Hari Suci Nyepi tahun baru saka 1938,” kata Ketua PHDI Provinsi Bali Prof Dr I Gusti Ngurah Sudiana MSi di Denpasar, Selasa (23/2).

Ia mengatakan, rangkaian upacara pelaksanaan Hari Suci Nyepi disesuaikan dengan tempat, waktu dan keadaan di desa pekraman (desa kala patra), termasuk tradisi di masing-masing desa adat di Pulau Dewata.

Pedoman tersebut disampaikan kepada ketua umum pengurus harian parisada pusat, Gubernur Bali, Ketua DPRD Bali, Bendesa Agung Majelis Utama Desa Pekraman, Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Bali bupati dan wali kota se Bali.

Selain itu juga disampaikan kepada Ketua PHDI Kabupaten/kota se Bali, ketua majelis madya desa pekraman kabupaten/kota se Bali, ketua PHDI kecamatan se provinsi Bali serta ketua majelis alit desa pekraman kecamatan di Bali.

Prof Ngurah Sudiana menjelaskan, Hari Suci Nyepi tersebut diawali dengan mengadakan prosesi “Melasti/Melis” di kawasan pantai yang bermakna membersihkan “pratima” atau benda yang disakralkan oleh umat Hindu.

Tidak hanya ke pantai, “Melasti” juga bisa dilakukan ke tepi danau atau sumber mata air (kelebutan) yang dianggap suci. “Ritual ini dilakukan umat pada salah satu dari tiga hari yang ditetapkan, yakni Minggu, 6 Maret 2016 hingga Selasa, 8 Maret 2016.

Ngurah Sudiana menjelaskan, umat yang bermukim dekat pantai melakukan prosesi “Melasti” ke laut, dan yang tinggal di daerah pegunungan melakukannya ke danau atau ke sumber mata air. Sementara masyarakat yang tinggal di tengah-tengah daratan Pulau Dewata jauh dari laut maupun danau, dapat melakukan ritual “Melasti” di sumber mata air terdekat.

Ngurah Sudiana menambahkan, setelah “Melasti”, menyusul dilakukan “Bhatara Nyejer” di Pura Desa/Bale Agung di desa adat masing-masing, dilanjutkan dengan “Tawur Kesanga” atau persembahan kurban pada hari Selasa (8/3), sehari menjelang Nyepi.

“Tawur Kesanga” itu dilakukan secara berjenjang di tingkat Provinsi Bali yang dipusatkan di Pura Besakih, kemudian tingkat kabupaten/kota, kecamatan, desa dan banjar hingga di rumah tangga masing-masing.

Kegiatan ritual tersebut bermakna meningkatkan hubungan yang serasi dan harmonis antara sesama umat manusia, lingkungan dan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

“Tawur Kesanga” yang berakhir pada petang hari itu dilanjutkan dengan “Ngerupuk” yang bermakna mengusir roh jahat serta menetralkan semua kekuatan dan pengaruh negatif “bhutakala” yakni roh atau makluk yang tidak kelihatan secara kasat mata di lingkungan warga.

Keesokan harinya, Rabu (9/3), umat Hindu merayakan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1938 dengan melaksanakan “Catur Brata” Penyepian, yakni empat pantangan (larangan) yang wajib dilaksanakan dan dipatuhi umat Hindu.

Keempat larangan tersebut meliputi tidak melakukan kegiatan/bekerja (amati karya), tidak menyalakan lampu atau api (amati geni), tidak bepergian (amati lelungan) serta tidak mengadakan rekreasi, bersenang-senang atau hura-hura (amati lelanguan).

Pelaksanaan “Catur Brata” Penyepian akan diawasi secara ketat oleh petugas keamanan desa adat (pecalang) di bawah koordinasi prajuru atau pengurus banjar setempat, ujar Ngurah Sudiana.