Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Category Archives: Info

Sejarah Pura Pajenengan Panji Sakti


Pura Pajenengan dulunya merupakan puri (tempat istrihat) Panji Sakti yang dilengkapi dengan pamerajan,dan setelah Panji Sakti wafat dengan cara moksa, maka puri beliau dirubah menjadi sebuah pura yang dinamakan Pura Pajenengan. Nama Pajenengan ini berarti “tempat penyimpanan benda-benda pusaka”, karena didalam pura tersebut yang dulu merupakan bekas puri Panji Sakti,jadi banyak terdapat benda-benda pusaka termasuk keris, tombak, dan benda pecah belah dari China. Sebelum dirubah menjadi pura yang menerapakan konsep Tri Mandala yaitu jabe sisi, jabe tengah, dan jeroan, puri ini hanya menerapkan konsep Dwi Mandala yaitu jabe sisi yang merupakan area yang tidak suci, dan jeroan merupakan area yang paling suci (pamerajan Panji Sakti). Pembuatan Pura Pajenengan ini disungsung oleh keluarga puri yang merasa menjadi pengikut Panji Sakti maupun keluarga beliau.

Pura Pajenengan ini dibuat karena berbagai alasan yaitu:

  1. Alasan historis atau monumen untuk mengenang sejarah berupa pamereman (tempat istirahat) Panji Sakti, karena pameraman tersebut merupakan bukti keberadaan beliau, demikian dengan menyelamatkan jejak sejarah Panji Sakti.
  2. Adanya suatu kepercayaan Hindu Bali terkait dengan pemujaan roh leluhur yang menganggap bahwa masyarakat Desa Panji memuja leluhurnya yaitu Panji Sakti, Ki Pungakan Gendis, dan keluarga besar Ni Luh Pasek (dalam Babad Buleleng).
  3. Mengenang kebesaran tokoh legendaris Panji Sakti yang dipercaya bahwa seorang raja yang sangat sakti dan bijaksana dari golongan anak selir (Dalem Segening dan ibunya Ni Luh Pasek, Gobleg (Babad Buleleng)).
  4. Sebagai pemersatu keluarga besar Panji Sakti yang tersebar kemana-mana, mengingat setelah peristiwa perang dan Dinasti Panji Sakti diganti oleh Karangasem.
  5. Alasan emosional agar dapat kesempatan memuja Panji Sakti, selain untuk memohon keselamatan juga untuk mendapatkan restu sebagai seorang pemimpin layaknya seorang Panji Sakti.

Pura Pajenengan ini dirubah pada tahun 1967 yang dilakukan sedikit renovasi mengingat dulu pernah terjadi bencana alam, sehingga merusak pelinggih-pelinggih di area pura tersebut. Menurut hasil wawancara baik itu terhadap pemangku maupun masyarakat di Desa Panji bahwa Pura Pajenegan ini merupakan Pura Kahyangan yang dijadikan tempat persembahyangan oleh masyarakat baik itu di Buleleng sampai diluar kabupaten maupun provinsi, akan tetapi secara formal belum dikatakan sebagai Pura Kahyangan Jagat.

Selain itu setiap hari suci baik itu hari purnama, tilem maupun hari raya suci lainnya banyak masyarakat yang sembahyang terutama Bupati Buleleng yang rutin sembahyang atau ngaturang bhakti di Pura Pajenengan tersebut. kemudian banyak juga masyarakat yang sembhyang di Pura Pajenengan ini terutama di pamereman Panji Sakti untuk memohon doa restu dan kesehatan.

Upacara yang dilaksanakan di Pura Pajenengan (odalan) yaitu pada Tumpek Landep, bahan upacaranya sama dengan halnya upacara biasa dan dibantu oleh masyarakat yang bergotong royong membuat bahan upacara yang akan digunakan.

Segi Peninggalan (Bangunan dan Benda)

Pura Pajenengan memiliki nilai historis yang tinggi, selain dilihat dari segi historis bisa juga dilihat dari segi peninggalan yang ditemukan di pura tersebut. adapun peninggalan-peninggalan yang ditemukan sperti tempat istirahat (pemereman) Panji Sakti yang berada di madya mandala , dan terdapat juga benda-benda peninggalan, mengingat dulu Panji Sakti dapat menolong saudagar Cina di Pantai Penimbangan, yaitu berupa peninggalan piring-piring, mangkok yang berasal dari China serta keris dan tombak.

Advertisements

Rahajeng Ngembak Geni


Sehari setelah Hari Raya Nyepi tiba saat Umat Hindu melaksanakan Ngembak Geni. Hari dimana Umat Hindu menutup catur brata penyepian dengan sembahyang bersama di pura-pura setempat. Persembahyangan diakhiri dengan Dharma Santi saling bermaaf-maafan kepada sanak keluarga dan handaitaulan. Dikesempatan ini paduarsana.com mengucapkan selamat bagi yang telah berhasil menjalankan catur brapa penyepian, bagi yang belum bisa menjalankan catur brata penyepian karena harus bekerja atau karena terbaring sakit jangan bersedih hati. Astungkara selalu ada jalan untuk menuju kebaikan Hyang Widhi Wasa. Mari kita hilangkan kebencian dengan yang lain, menumbuhkan rasa cinta kasih kepada sesama.

Di dalam kitab Siwa Purana, Siwa bersabda kepada Prajapati Daksa dimana Prajapati Daksa telah sadar akan kesalahannya. Siwa bersabda :” Aku tidak pernah memperhitungkan dosa yang dibuat seseorang. Aku hanya memberikan hukuman pada mereka yang telah larut dalam ilusiku. Jika seseorang membenci orang lain, maka kebencian itulah yang menelannya. Tidak ada tindakan yang dibuat untuk menyakiti orang lain yang melibatkan Aku kapanpun juga. Jika seseorang membenci orang lain maka kebencian itu sendiri yang akan menelannya. Meskipun Aku berdiri sendiri dan tidak bergantung pada siapapun, namun Aku senantiasa luluh oleh pengabdian penyembahKu. Ada empat jenis orang yang menyembahKu. O Prajapati Daksa, keempat itu lebih mulia satu dengan yang lainnya. Mereka adalah orang yang dalam kesedihan, yang sekedar ingin tahu, mereka yang untung-untungan dan mereka yang bijak. Ketiga jenis yang pertama adalah penyembah yang biasa, sedangkan yang keempat adalah yang teristimewa. Tentu saja yang bijaksana adalah yang paling Aku sayangi. Tidak ada yang Aku sayangi melebihi mereka yang bijak. Dia adalah bagian dari diriKu. Ini adalah kebenaran dan Aku mengatakan kebenaran padamu”

Semoga kita semua mendapat kebaikan untuk melakukan kebaikan yang lain.

Om santih, santih, santih Om

Perjalanan Roh Salah Pati


Beberapa kasus kematian akibat kecelakaan, tindakan kekerasan dll, sering membuat menyesalkan kejadian itu sekalipun kita bukanlah keluarga korban. Apa yang kita rasakan tentu hal yang wajar dan manusiawi mengingat kematian tersebut “tidak wajar”. Dalam Nibanda disebutkan hendaknya kematian manusia seperti kematian Panca Pandawa, yakni diawali oleh kematian Nakula-Sadewa (kaki), Bima (tenaga), Arjuna (suhu badan dan sinar mata), dan terakhir Dharmawangsa (Roh meninggalkan tubuh). Namun didalam kematian yang disengaja atau tak disengaja, urut-urutan kematian itu tidak terjadi, artinya langsung mati, misalnya mati karena kecelakaan,Itulah yang dinamakan Mati Salah Pati Sedangkan Ulah pati artinya mati karena bunuh diri.

Image by: Dream, Ilustrasi

Istilah “atma kesasar” sudah lumrah bagi masyarakat Bali. Di setiap wilayah desa di Bali pasti saja ada cerita berkaitan dengan atma kesasar. Hal ini sangatlah wajar, mengingat Hindu Bali dengan filosofi atma tatwa sangatlah rinci dan mendalam mengurai mengenai atma. Namun dalam konteks atma kesasar, sejatinya yang kesasar bukanlah atma itu sendiri, namun “roh”. Sebab “atma” itu sendiri adalah percikan kecil dari “paramatman” yang memiliki sifat sama dengan paramatman. Artinya atma itu sendiri adalah murni dan bebas dari pengaruh suka dan duka. Sedangkan roh adalah atman yang diselubungi cita, budi, manah, ahamkara yakni sudah diliputi keinginan, kemauan, keakuan (ego), kecerdasan, akal, serta pikiran-pikiran baik maupun buruk.

Hal inilah yang menyebabkan atma yang tadinya murni menjadi terkungkung dalam emosi, keinginan, cita-cita serta perasaan-perasaan. Dalam kondisi begini atma sudah tidak murni lagi, bahkan sudah terkungkung dalam awidya atau kegelapan. Inilah yang kemudian mempengaruhi sifat manusia sebagai badan yang dihidupkan oleh atma yang sudah terkungkung yang disebut dengan roh. Dalam liputan awidya (kegelapan) tersebut, roh memiliki keinginan tertentu untuk memuaskan cita atau hasrat hatinya yang terwujud dalam berbagai pikiran, perkataan dan perbuatan. Keinginan yang sangat tinggi tersebut sampai-sampai terbawa mati, sehingga roh manusia yang meninggal masih membawa perasaan-perasaan, masih membawa keinginan, cita-cita, bahkan dendam sesuai dengan pengalaman hidupnya. Hal inilah yang menyebabkan roh manusia masih bergerak aktif ketika tubuhnya sudah mati.

Sehingga banyak cerita mengenai roh gentayangan dimuka bumi ini untuk memenuhi hasrat keinginannya yang masih tersimpan dalam memori badan astral (badan halus) nya. Bahkan banyak roh yang masih menyimpan dendam untuk membalas pada setiap kesempatan. Sehingga seringkali kita mendengar cerita tentang seseorang yang dihantui oleh bayangan-bayangan dari seseorang yang sudah meninggal. Selain itu ada pula roh-roh bergentayangan untuk menjalankan hasrat cintanya kepada seseorang yang semasih hidup sangat dicintai, atau ketika masih hidup cintanya tak kesampaian dan terbawa sampai orang itu meninggal.

Lain lagi cerita bahwa roh yang menangis tersedu-sedu di suatu tempat yang kerapkali dilihat oleh orang yang memiliki kemampuan untuk itu. Bisa jadi roh tersebut terpelanting secara tiba-tiba tanpa disadari oleh roh itu sehingga ia mendapatkan dirinya berada pada suatu tempat yang tak pernah dikenalnya, sehingga ia bingung, kesepian lalu menangis sendirian. Nah untuk roh seperti ini, maka manusia Bali dengan keyakinan Hindunya menjemput roh tersebut melalui jalan “Ngulapin”.

Ada lagi roh manusia yang selalu menjaga badannya yang telah dikubur, karena sang roh sangat sayang dan menyukai badan kasarnya itu bagaikan ketika masih hidup. Roh-roh seperti ini kerapkali tampak di kuburan sebagai hantu kuburan yang selalu berada dekat dengan badannya yang sudah dikubur. Seolah-olah roh tersebut terbelenggu oleh kecintaaanya kepada badan kasarnya (stula sarira) tersebut. Untuk hal inilah manusia Bali menyiasati dengan melakukan “Ngaben” dengan maksud untuk mempercepat proses pengembalian badan kasar menuju ke panca maha bhuta agar roh tak terbelenggu dengan badan kasarnya, dan sang roh itu diberikan penyucian.

Selanjutnya roh yang masih terbungkus dalam badan astral (suksma sarira) tersebut kemudian dilakukan upacara “memukur”, sehingga sang roh dapat menuju ke alam sunia untuk menjalani proses karma selanjutnya sesuai dengan suba asuba karmanya. Terkait dengan “atma kesasar” yakni ibaratkan sebagai roh yang salah tempat, roh yang terobsesi dengan keinginanya sehingga bergentayangan ke sana ke mari untuk memenuhi hasratnya seperti ketika masih hidup di dunia. Sebab roh yang demikian tak menyadari bahwa alam mereka sudah berbeda, sehingga tak bisa berbuat seperti berada di alam manusia dengan badan kasarnya.

Seringkali yang begini ini tampak seperti hantu bergentayangan yang sering menghantui manusia.
Dalam kehidupan manusia Bali, maka roh manusia yang telah meninggal tersebut dimohonkan oleh orang yang memiliki kewaskitaan dengan sarana “Tirta Pengentas”. Entas artinya jalan. Tirtha pengentas adalah tirtha atau air suci yang memiliki kekuatan untuk menenangkan roh, untuk menyadarkan roh bahwa ia telah berada pada dunia yang lain, serta menunjukkan jalan kepada sang roh untuk menuju jalan yang mesti dituju sesuai dengan suba asuba karmanya di alam sunia. Sehingga dengan demikian roh orang yang meninggal di Bali tak akan kesasar, salah jalan, salah tempat serta tak diliputi oleh keinginan duniawi, sehingga tak bergentayangan lagi.

Nah apabila hal ini tak dilakukan, maka roh-roh orang yang meninggal akan mengalami kebingungan, tak ada yang menuntun di alam sunia, roh-roh akan menjalankan keingian duniawinya bergentayangan ke sana kemari menghantui kehidupan manusia di dunia, sehingga dalam agama Hindu Bali disebut dengan Bhuta Cuil atau hantu kuburan, roh gentayangan, atma kesasar, dll. Oleh karena itu, tirtha pengentas sangat penting dalam proses penguburan dan pengabnenan menurut keyakinan Hindu Bali.

Jadi kesimpulannya bahwa untuk mati salah pati dan ngulah pati dapat diupacarai sebagai mati biasa dengan syarat ditambah beberapa upacara panebusan yaitu di perempatan jalan Desa, ditempat kejadian, dan di cangkem setra, lalu ketiga pejati penebusan disatukan dengan sawa baik bila mapendem maupun bila segera di-aben.

Upacara meseh lawang merupakan loka dresta yang dipandang perlu untuk melengkapi upacara panebusan itu namun berbeda-beda pelaksanaannya; ada yang melaksanakan pada saat 42 hari setelah dikubur, dan ada yang melaksanakan pada saat pengabenan.

Kasus yang sering terjadi biasanya kematian salah pati tidak dilengkapi dengan banten penukar dan hanya diberi banten pengulap, biasanya keluarga atau yang bersangkutan akan menjadi orang yang sering bingung ataupun pemarah, ini karena sang atma masih belum mendapat tempat yang layak sembari mendapat proses hukuman akibat perbuatan-perbuatannya dimasa hidup.

**dari berbagai sumber.

%d bloggers like this: