Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Busana “Adung” Dalam Prosesi Upacara


Ada yang menengarai, maraknya kasus pemerkosaan atau pencabulan, sedikit banyak dipengaruhi ”tradisi” berpakaian di alam modern ini. Berpakaian yang memperlihatkan bagian-bagian tubuh, disinyalir memberi ruang bagi orang untuk melakukan kejahatan seperti itu. Benarkah? Sementara itu belakangan muncul trend penggunaan pakaian rada-rada tipis yang menerawang mengikuti lekuk tubuh dalam hajatan ritual. Pakaian yang tembus pandang seperti itu nyaris menampakkan ”isi” dalam tubuh wanita. Di luar konteks tradisi pun, kehidupan modern menyajikan gaya berbusana yang makin ”terbuka”. Lalu, dalam era sekarang bagaimana sebaiknya masyarakat berpenampilan? Bagaimana pula sesungguhnya busana adat Bali itu?

Busana menunjukkan jati diri seseorang. Karena itu, penampilan sangat perlu diperhatikan. ”Kesan pertama dilihat adalah penampilan,” kata penata rias dan busana adat Bali Anak Agung Ayu Ketut Agung.

Secara harfiah, kata pemilik Salon Agung ini, busana adalah pakaian yang lengkap dan mulia. Di samping aspek estetika, di dalam busana sesungguhnya terdapat nilai filosofi dan simbolik.

Dikatakannya, bagi masyarakat Bali, busana merupakan kebutuhan primer. Namun, busana bisa tampak tenggelam oleh kebutuhan sekuder, seperti kebutuhan akan nilai keindahan dan penghargaan.

Kata Agung, pakaian sesungguhnya dirancang tidak sekadar penutup aurat, namun sebagai karya cipta budaya yang mengagumkan. Pun, kebinekaan ragam nilai budaya yang berkaitan dengan aurat telah mengembangkan beraneka ragam busana yang menutup ujung kepala hingga kaki.

Dalam adat Bali setiap fase kehidupan selalu diperingati dengan upacara — mulai lahir hingga tutup usia. Busana adat yang digunakan pun berbeda-beda sesuai dengan tingkatan usia dan upakara. Karena itu dikenal pakaian bayi baru lahir hingga usia 210 hari, busana untuk meningkat remaja, upacara potong gigi, busana pernikahan dan upacara pitra yadnya. Di samping itu, ada tata cara berbusana ke pura dan pakaian di luar acara adat.

Dikatakannya, pelaksanaan upacara di Bali juga umumnya dikaitkan dengan konsep desa kala patra. Ini pulalah yang melahirkan ragam bentuk penggunaan busana yang bervariasi antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Bedakan untuk Bersembahyang

Mencermati tata cara berbusana masyarakat belakangan ini, AA Ketut Agung mengatakan sah-sah saja mengikuti mode berpakaian. Tetapi, sebaiknya pakaian yang dikenakan itu disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Artinya, jika melakukan persembahyangan ke pura, pakaian yang digunakan mesti mengikuti tata cara orang ke pura. Pakaian yang digunakan hendaknya tidak transparan atau tembus pandang. Pakaian yang digunakan menghadap Tuhan seperti itu mesti yang sopan dan rapi. Pakaian ke pura tidak usah yang mahal-mahal. ”Jika menggunakan pakaian tembus pandang, tentu akan dapat membuyarkan konsentrasi orang,” katanya.

Namun, kata AA Ketut Agung, agar bagian-bagian tubuh tidak sampai kelihatan, pakaian tipis sebetulnya bisa disiasati dengan baju pelapis di dalamnya yang disebut dengan angkin atau kamisol. Agar kelihatan serasi, kamisol itu disesuaikan dengan warna baju.

Lalu bagaimana sesungguhnya pakaian wanita ke pura? Wanita yang sudah kawin sebaiknya memakai pusung tagel. Rambut diusahakan tidak magambahan (terurai). Pakaian (kebaya) yang digunakan sebaiknya tidak seronok, tembus pandang yang dapat menjadi sorotan mata. Warna pakaian itu tidak mesti putih-kuning, kecuali sulinggih dan pemangku. Busana itu dilengkapi dengan selendang yang umumnya warnanya diserasikan dengan warna kebaya dan kain — umumnya kain endek.

Sementara kaum laki-laki menggunakan udeng jejateran atau bebagusan, bukan beblangkonan. Udeng itu sesungguhnya memiliki makna filosofi yaitu simbol pengendalian diri –ngeret indria.

Pakaian yang digunakan pun bebas asal bersih dan rapi. Selain udeng, busana ke pura juga dilengkapi kamben (kain) makancut dan kampuh. Namun, belakangan muncul trend ke-kancut-an. Padahal, kancut orang Bali berbentuk lelancingan, atau anyocat pertiwi. Kancut itu lancip, tetapi tidak menyentuh lantai. Kira-kira setinggi betekan batis. Sedangkan kampuh tampak lebih kurang 15 cm di atas ujung kancut. ”Kancut itu dapat dikatakan sebagai lambang kejantanan laki-laki,” katanya.

Busana ”Adung”

Kepala Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Denpasar Drs. Made Purna sepaham dengan AA Ayu Ketut Agung. Berpakaian, menurutnya, hendaknya disesuaikan dengan budaya yang dimiliki. Jangan sampai karena berpakaian yang serba mini dan transparan, membuat orang melakukan tindakan yang merugikan.

”Mengikuti mode sah-sah saja,” tegas Purna. Tetapi, jika mode itu kurang cocok dengan budaya kita, sebaiknya dikaji lebih mendalam. Tidak sekadar mengadopsi, apalagi sangat kontras dengan budaya sendiri. Sembahyang ke pura, misalnya, hendaknya tidak menggunakan pakaian yang dapat membuyarkan konsentrasi orang. Dalam suasana hening seperti itu, usahakan menggunakan busana yang adung (cocok) dengan prosesi ritual seperti itu. Tidak yang tembus pandang, sehingga menjadi sorotan banyak orang. ”Menjadi pertanyaan, siapa yang salah dalam hal ini. Apakah yang melihat atau yang menggunakannya?” kata Purna.

Kata Purna, gaya berbusana belakangan ini memang demikian adanya. Tetapi, hendaknya masyarakat selektif meniru hal-hal yang dirasa kurang mencerminkan budaya. ”Jangan karena takut ketinggalan zaman, akhirnya ikutan-ikutan. Mudah-mudahan gaya berpakaian yang membiarkan bagian tubuh tertentu kelihatan terbuka, hanya bersifat pop,” katanya. Soal busana adat ke pura, kata Purna, memang ada tingkatannya — nista, madya dan utama. Tetapi, pada dasarnya terdiri atas udeng, pakaian, kampuh, kain dan kancut — untuk laki-laki. Sementara yang perempuan, menggunakan sanggul, kain, pakaian dan selendang.

Sepakat dengan Agung, Purna mengatakan udeng itu memiliki makna pilosofi yaitu pengendalian diri. Kancut melambangkan kejantanan laki-laki. Kancut yang dibuat mesti berbentuk lelancingan, bukan mawiron.

Tidak hanya kancut, dalam penggunaan kain pun ada tata caranya. Ujung kain sebelah kanan menutup yang kiri. Ini pun sesungguhnya memiliki makna bahwa keburukan mesti terus ditekan dengan kebaikan.

Sumber: Bali Post | Judul asli: Gunakan Busana ”Adung” dengan Prosesi Ritual

Artikel Lain:

  1. Tips Berpenampilan ke Pura
  2. Busana Adat Bali
  3. Etika Berbusana ke Pura

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: