Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Monthly Archives: August 2012

Lingga-Yoni


Dalam Hindu seks disimbolkan dengan Lingga dan Yoni dimana dalam perspektif kekinian, seks identik dengan persetubuhan yang dilakukan pria dan wanita. Sayang, pengertian itu berhenti pada pencapaian hedonistik. Pengejaran kenikmatan persetubuhan menjadi tujuan utama, tanpa  mempertimbangkan hal-hal luar biasa besar di luar persetubuhan.

Di Indonesia, seksualitas berada dalam “dunia entah”. Apalagi dengan penetapan UU Pornografi-Pornoaksi, posisi seks dipojokkan oleh hukum negara, yang di sisi lain mengembangkan prostitusi. Maka patut dipertanyakan apakah UU yang longgar dan berstandar ganda atau telah terjadi kerusakan moral secara massal?

Dalam kebudayaan Hindu, seks disimbolkan dengan lingga-yoni. Itulah lambang reproduksi lelaki dan perempuan (phallus dan vagina). Kamus Jawa Kuna-Indonesia mendefinisikan “lingga (skt) tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti keterangan, petunjuk; lingga, lambang kemaluan lelaki (terutama lingga Siwa dibentuk tiang batu), patung dewa, titik tugu pemujaan, titik pusat, pusat poros, sumbu”. Adapun “yoni (skt) rahim, tempat lahir, asal Brahmana, Daitya, dewa, garbha, padma, naga, raksasa, sarwa, sarwa batha, sudra, siwa, widyadhara, dan ayonia (PJ Zoetmulder, SC Robson, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994, 601, 1494).

Lingga, dalam mitologi Hindu, adalah alat kelamin pria (Latin: phallus, lambang Siwa sebagai dewa semesta, kebalikan dan yoni. “Yoni alat kelamin perempuan sebagai Tara atau timbalan dan linggam merupakan lambang shakti atau prakrti yang dijabarkan dalam bentuk unsur kewanitaan” (Ensiklopedia Indonesia Ikhtisar Baru, Jakarta: Van Hove, 1990, 2.020 dan 3.993).

Maka jika tafsir seks yang disimbolkan dengan “hanya” penyatuan lingga-yoni dengan pengejaran kenikmatan sesaat, bisa dipastikan tumbuh dari lingkungan yang menganggap kotor dan rendah seksualitas dan tak mampu menikmati seks dengan kondisi kejiwaan yang bebas, karena dikejar-kejar rasa bersalah. Kondisi jiwa bebas dan bersih adalah ketika melakukan tanpa rasa bersalah dan menyakiti orang lain. Maka menikah (vivaha) mutlak untuk pencapaian spiritualitas seks dengan pengertian lebih dalam. Lingga adalah simbolisasi atma atau roh, sedangkan yoni adalah simbolisasi shakti, kekuatan dan kesadaran atma.

Maksud wujud lingga yang melakukan penetrasi ke liang yoni adalah kembalinya kesadaran, kembalinya kekuatan atma yang selama ini terselimuti dan tidur nyenyak oleh pengaruh maya, pengaruh prakrti, pengaruh alam materi. Atma yang kehilangan shakti, kehilangan kesadaran, menjadi awidya, alias bodoh! Ia mengelirukan diri sebagai suksma sarira (badan halus). Bahkan ada atma yang mengelirukan diri sebagai sthula sarira (badan kasar). Menyangka diri sekadar produk mekanik, seperti robot. Rusak sthula sarira, tamat sudah diri. Begitu asumsi atma yang dilanda kebodohan.

Bagai Ibu Kewaspadaan, kecemerlangan, kekuatan, kebahagiaan, kedamaian, kesucian dari atma seolah-olah hilang.  Kondisinya sangat-sangat menyedihkan. Kewaspadaan, kecemerlangan, kekuatan, kebahagiaan, kedamaian, kesucian atma tinggal kecil. Bagai setitik kerlip bintang di langit. Redup. Dalam kondisi penuh keterbatasan seperti itu, atma cenderung resah, bimbang, terombang-ambing oleh hukum karmaphala. Terombang-ambing dalam dualitas atau rvabhineda duniawi, yaitu suka-duka, untung-rugi, sakit-sehat, dan lain-lain.

Dalam terminologi Hindu itulah yang disebut pembangkitan kundalini, proses kenaikan shakti dari satu cakra ke cakra di atasnya, dari satu kesadaran ke kesadaran di atasnya, harus melalui jaringan fisiologis fisik manusia yang melingkar lingkar, mirip tubuh ular. Maka shakti atau kesadaran atma disebut juga kundalini, yang dilambangkan sebagai yoni atau vagina. Karena lembut penuh kasih, begitu kundalini bangkit, segala kekotoran yang menyumbat kesadaran terkikis habis, tanpa sisa.

Pergerakannya pelan dan halus. Ialah sumber energi sejati. Ia bagai ibu. Ia bagai wanita cemerlang. Wanita yang merindukan pertemuan dengan kekasih sejati, yaitu atma atau roh kita. Karena itu, atma dilambangkan sebagai lingga atau penis atau lelaki yang dirindui yoni atau kundalini. Dan, bila kundalini berhasil naik melalui cakra per cakra dan d  puncak bertemu atma, pertemuan itu disimbolisasikan dalam wujud liang yoni yang dimasuki lingga. Lingga dan yoni. Bila atma dan shakti-nya bertemu, sensasinya benarbenar nikmat. Mirip sensasi persetubuhan. Namun jauh lebih nikmat dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Di sanalah terbuka ranah spiritualitas seks sesungguhnya.

Artikel oleh : Agunghima, Judul Asli: Spiritualitas Seks Manusia Jawa, diterbitkan oleh: Suara Merdeka, 06 Agustus 2012.

Doa Metirtha, Mesekar dan Mebija


Setiap kali kita melakukan persembahyangan, pasti kita akan menerima tirtha sebagai anugerah Hyang Widhi. Sudah sangat lajim kedua tangan tengadah, kemudian kedua tangan ditumpuk telapak tangan kanan diatas telapak tangan kiri, selanjutnya para pemangku atau pengayah akan memercikkan tirtha ke ubun-ubun tiga kali, diminum tiga kali kemudian diraupkan tiga kali. Tujuan pemercikan tirtha ini adalah untuk menyucikan pikiran, perkataan dan perbuatan.

Doa pada saat memercikkan tirtha para pemangku/sulinggih/pinandita mengucapkan mantram:

Om Pratamacuddha, dwitiyacuddha, tritiyacuddha cuddhamam wariastu.

Artinya: Pertama suci, kedua suci, ketiga suci, suci suci, Semoga suci dengan tirtha ini.

Dan bagi kita yang menerima tirtha dari para pemangku/sulinggih/pinandita juga perlu mengucapkan mantram sesuai dengan peristiwa. Bisa dilakukan dalam hati atau dengan suara pelan:

Om Ang Brahma amrta ya namah, Om Ung Wisnu ya namah, Om Mang Iswara ya namah.

Artinya: Ya Tuhan dalam wujud Brahma, Ya Tuhan dalam wujud Wisnu, Ya Tuhan dalam wujud Iswara, Anugerahkanlah hamba air suci.

Doa Minum Tirtha: (dilakukan sesaat akan minum)

Om Om sarira ya namah, Om Om sada Siwa ya namah, Om Om Paramasiwa ya namah.

Artinya: Ya Tuhan sebagai Siwa, Sadha Siwa dan Parama Siwa, Anugerahkanlah badan dan rohani ini air suci.

Doa Meraup(mencuci muka) Tirtha:

Om Om Sarira purna ya namah, Ang Ung Mang Gangga amrta ya namah, Sarira suddha parama teja ya namah, Om Ang sama sampurna ya namah.

Artinya: Ya Tuhan, sempurnakanlah badan ini, Ya Tuhan sebagai perwujudan Gangga amertha, anugerahkanlah diri kami kesucian, sinar yang maha suci, yang maha sempurna.

Doa Metirtha di Badan:

Om Atma raga sarira pari suddha ya namah.

Artinya: Ya Tuhan, sebagai badan atma yang suci sucikanlah badan ini.

Doa Masekar: Masumpang/mecunduk di Ciwadara(ubun-ubun):

Om Siwa Raditya ya namah swaha. Arti simbolisnya adalah agar kita tetap percaya terhadap Hyang Widhi Wasa.

Doa Mesekar: Mesumpang pada kedua telinga:

Om Dewa Sri Dewi ya namah swaha. Bunga di bagi menjadi dua bagian kedua tangan menyilang, tangan kanan memasang bunga pada telinga kiri, tangan kiri memasang bunga di telinga kanan.

Doa Mebija: Dilekatkan pada lelata(dahi tengah)

Om Criyam bhawantu. Artinya: Semoga kebahagiaan meliputi hamba.

Dilekatkan pada pangkal tenggorokan: 

Om Sukham bhawantu, Artinya: Semoga kesenangan selalu datang pada hamba.

Ditelan(tanpa dikunyah):

Om Purnam Bhawantu, Om Ksama sampurna ya namah swaha

Artinya: Semoga segala kesempurnaan menjadi bertambah sempurna.

————————————

Artikel terkait:

  1. Doa Sehari-hari dalam Hindu.
  2. Yadnya Sesa/Mesaiban/Ngejot.
  3. Doa Sarana Banten.

 

Tanda-tanda Zaman Kaliyuga


Zaman Kaliyuga merupakan zaman terakhir menurut Hindu, zaman kaliyuga juga disebut sebagai zaman kegelapan atau merosotnya nilai-nilai spiritual umat manusia. Kaliyuga dimulai tengah malam pada pukul 00.00 (atau 24.00), pada tanggal 18 Februari 3102 SM menurut perhitungan kalender Julian atau tanggal 23 Januari 3102 SM menurut perhitungan kalender Gregorian, yang mana pada saat tersebut diyakini oleh umat Hindu sebagai saat ketika Kresna meninggal dunia. Kaliyuga berlangsung selama 432.000 tahun.

Tanda-tanda zaman Kaliyuga Dalam kitab Wisnupurana dituturkan:

Pada masa Kaliyuga, ada banyak aturan yang saling bersaing satu sama lain. Mereka tidak akan punya tabiat. Kekerasan, kepalsuan, dan tindak kejahatan akan menjadi santapan sehari-hari. Kesucian dan tabiat baik perlahan-lahan akan merosot. Gairah dan nafsu menjadi pemuas hati di antara pria dan wanita. Wanita akan menjadi objek yang memikat nafsu birahi. Kebohongan akan digunakan untuk mencari nafkah. Orang-orang terpelajar kelihatan lucu dan aneh. Hanya orang-orang kaya yang akan berkuasa.

  • Pada zaman Kaliyuga, banyak perubahan tak diinginkan yang akan terjadi. Tangan kiri akan menjadi tangan kanan, dan tangan kanan menjadi tangan kiri. Orang yang kurang terpelajar akan mengajari kebenaran. Yang tua kurang sensitif terhadap yang muda, dan yang muda akan berani melawan yang tua.
  • Pada zaman Kaliyuga, orang-orang yang berbuat dosa akan bertambah berlipat-lipat, kebajikan akan meredup dan berhenti berkembang.
  • Pada zaman Kaliyuga, kehamilan di usia remaja bukanlah hal yang asing lagi. Penyebab utamanya kebanyakan karena dampak sosial dari pergaulan yang dijadikan salah satu kebutuhan utama dalam hidup.
  • Pada zaman tersebut, umat manusia menjadi semakin pendek, raganya melemah secara mental dan rohaniah.
  • Pada zaman Kaliyuga, para guru akan dilawan oleh para muridnya. Mereka perlahan-lahan kehilangan rasa hormat. Pelajarannya akan dicela dan Kama (nafsu) akan mengontrol semua keinginan manusia.
  • Semakin bertambahnya orang-orang berdosa, keadilan menjadi ternoda, dan kemarahan Tuhan akan mendera. Orang-orang berdosa akan dihukum melalui kejadian yang disebabkan oleh kuasa Tuhan, tetapi orang-orang yang masih hidup dan sempat menyaksikannya masih punya kesempatan untuk bertobat, atau tidak bertobat dan ikut dihukum bersama orang-orang berdosa yang lain.
  • Ketika pohon-pohon berhenti berbunga, dan pohon-pohon buah berhenti berbuah, maka pada saat itulah masa-masa menjelang akhirnya zaman Kaliyuga. Hujan akan turun bukan pada musimnya ketika akhir zaman Kaliyuga sudah mendekat.

Apakah sudah kita temui tanda-tanda tersebut diatas pada saat ini? Jika ya maka saat ini adalah zaman kaliyuga itu.

Artikel: Dari Berbagai sumber

Artikel terkait:

  1. Catur Yuga
  2. Kewajiban di Jaman Kaliyuga