Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Category Archives: Doa-doa

Bapak sudah berdoa?


Sore itu seperti biasa sebelum sampai dikontrakan saya mampir untuk membeli makanan untuk makan malam bersama anak istri. Dua bungkus nasi campur + 1 porsi sate ayam. Dwigana (anak laki-laki saya) senang sekali sate ayam terutama bumbu kacangnya yang paling dia suka.

Sesampainya dirumah setelah mencuci tangan, kaki kamipun bersiap-siap untuk makan, bungkusanpun dibuka satu per satu. Tangan saya memulai mengambil nasi untuk makan. Tiba-tiba si kecil nyeletuk:
Dwigana: Bapak sudah berdoa?
Saya: O, Ya. Bapak lupa. Gimana je Do’anya, dik?
Dwigana: Om anugyahe amthadi sanjiwani ya namah swahe(si kecil menjawab dengan gayanya yang masih belum jelas menyebut kata yang berisi hurup r, maklum umurnya baru 3,5 tahun)

Sayapun mengikutinya:

Om Anugraha amrthadi sanjiwani ya namah swaha.

Dwigana Adistanaya Arsana, image by: personnal collection

Dwigana Adistanaya Arsana, image by: personnal collection

Kita sering lupa untuk mengucapkan doa sebelum makan, kita juga sering lupa untuk mengucapkan doa sebelum melakukan aktifitas(bekerja). Tidak hanya doa-doa itu yang terlupakan, kalau kita boleh jujur seberapa banyak dari kita yang mengucapkan doa saat mengunjungi orang sakit? seberapa banyak dari kita yang ingat doa saat mendengar kematian atau melayat.

Beruntung anak-anak kita sudah diajari berdoa oleh guru-gurunya disekolah dengan begitu anak-anak kita mengajarkan adik-adiknya berdoa sebelum makan.

Mari membiasakan diri untuk berdoa sebelum melakukan sesuatu sebagai contoh bagi generasi Hindu yang akan datang. Hindu memiliki Doa sehari-hari untuk diucapkan agar kita dekat dengan Hyang Widdhi.

Advertisements

Doa-Doa Hindu


  • Doa Pembuka Rapat/Pertemuan :

Om Sam Gacchadwam Samwadadwam Sam Wo Manamsi Janatam Dewa Bhagam Yatha Purwe Samjanana Upasate
Om Samani Wa Akutih Samana Hrdayani Wah Samanam Astu Wo Mano Yatha Wah Susahasati
Om Ano Bhadrah Krattawoyantu Wistawah
Artinya :
Ya Tuhan, Hamba Berkumpul Di Tempat Ini Hendak Bicara Satu Dengan Yang Lain Untuk Menyatukan Pikiran Sebagaimana Halnya Para Dewa Selalu Bersatu. Ya Tuhan, Tuntunlah Kami Agar Sama Dalam Tujuan, Sama Dalam Hati, Bersatu Dalam Pikiran Hingga Dapat Hidup bersama Dalam Sejahtera Dan Bahagia. Ya Tuhan, Semoga Pikiran Yang Baik Datang Dari Segala Penjuru

  • Doa Menutup Rapat/Pertemuan :

Om Mantrahinam Kriyahinam Bhaktihinam Maheswara, Yad Pujitan Mahadewa Paripurnam Tad Astu Me
Ayuwrdhir Yasowridhih Wridhih Pradnyasukhasriyam Dharma Santana Wrdhisca Santu Te Sapta Wrdhayah
Om Dirghayur Nirwighna Sukha Wridhi Nugrahakam
Artinya :
Oh Iswara Yang Agung, Mantra Kami Tiada Sempurna, Perbuatan Kami Tiada Sempurna Pula. Karena Itu Kami Memujamu, Oh Iswara Yang Agung, Semoga Kami Dikaruniai Kesempurnaan (Di Dalam Melakukan Tugas)
Oh Sanghyang Widhi Wasa, Berkahilah Kami Dengan Tujuh Perpanjangan : Hidup Lama, Nama Harum, Ilmu Pengetahuan, Kebahagiaan, Kesejahteraan, Kepercayaan, Dan Putera-Putera Utama (Sebagai Generasi Perjuangan Bangsa)
Oh Sanghyang Widhi Wasa, Semoga Kami Sukses Tanpa Halangan Dan Memperoleh Kebahagiaan Atas Anugerahmu.

  • Doa Para Pedagang :

Om a Wiswani Amrta Saubhagani
Artinya :
Ya Tuhan, Semoga Engkau Menganugrahkan Segala Keberuntungan Yang Memberikan Kebahagiaan Kepada Kami.

  • Doa Saat Sakit / Mohon Perlindungan Menghilangkan Kegelisahan :

Om Trayam Bhakam Ya Jamahe Sughamdin Pusthi Wardhanam Uhrwaru Kham Iwa Bhandhanat Mrityor Mukhsya Mamritat
Artinya :
Oh Sanghyang Widhi Wasa, Yang Maha Mulia. Kami Memujamu, Hindarkanlah Kami Dari Keraguan Ini. Bebaskanlah Kami Dari Belenggu Dosa, Bagaikan Mentimun Lepas Dari Tangkainya, Sehingga Kami Dapat Bersatu Denganmu.

  • Doa Menghilangkan Rasa Takut :

Om Om Jaya Jiwat Sarira Raksan Dadasime
Om Mjum Sah Waosat Mrityun Jaya Namah Swaha
Artinya :
Oh Sanghyang Widhi Wasa Yang Maha Jaya Yang Mengatasi Segala Kematian Kami Memujamu. Lindungilah Kami Dari Marabahaya.

  • Doa Menghindari Malapetaka :

Om Sarwa Papa Winasini Sarwa Roga Wimocane Sarwa Klesa Winasanam Sarwa Bhogam Awapnuyat
Om Srikare Sapa Hut Kare Roga Dosa Winasanam Siwa Lokam Mahayaste Mantra Manah Papa Kelah
Artinya :
Oh Sanghyang Widhi Wasa, Terimalah Segala Persembahan Kami. Engkau Musnahkan Segala Malapetaka. Engkau Bebaskan Segala Derita, Dan Engkau Jauhkan Segala Penyakit
Oh Sanghyang Widhi Wasa, Engkau Yang Dipuja Sebagai Penguasa Alam Semesta, Engkau Menjiwai Inti Segala Mantra, Bebaskanlah Segala Dosa Dan Derita, Serta Tuntunlah Kami Ke Jalan Yang Benar.

  • Doa Resepsi Pengantin :

Om Iha Iwa Stam Ma Wi Yaus Tam Wiswam Ayur Wyasnutam Kridantau Putrair Naptrbhih Modamanau Swe Grhe
Artinya :
Ya Tuhan, Anugerahkanlah Kepada Pasangan Pengantin Ini Kebahagiaan, Keduanya Tiada Terpisahkan Dan Panjang Umur. Semoga Penganten Ini Dianugerahkan Putera Dan Cucu Yang Memberikan Penghiburan, Tinggal Di Rumah Yang Penuh Kegembiraan

  • Doa Mohon Ketenangan Rumah Tangga:

Om Wisowiso Wo Atithim Wajayantah Purupriyam Agnim Wo Duryam Wacah Stuse Susasya Manmabhih
Artinya :
Ya Tuhan, Engkau Adalah Tamu Yang Datang Pada Setiap Rumah. Engkau Amat Mencintai Umatmu. Engkau Adalah Sahabat Yang Maha Pemurah. Perkenankanlah Hamba Memujamu Dengan Penuh Kekuatan, Dalam Ucapan Maupun Tenaga Dan Dalam Lagu Pujian

  • Doa Kelahiran Bayi :

Om Brhatsumnah Prasawita
Om Brhatsumnah Prasawita Niwesano Jagatah Sthaturub Hayasya Yo Wasi Sano Dewah Sawita Sarma Yaccha Twasme Ksayaya Triwarutham Amhasah
Artinya :
Ya Tuhan Yang Maha Pengasih, Yang Memberi Kehidupan Pada Alam Dan Menegakkannya. Ia Mengatur Yang Bergerak Maupun Yang Tidak Bergerak Semoga Ia Memberi Rahmatnya Kepada Kami Untuk Ketentraman Hidup Dengan Kemampuan Untuk Menghindari Kekuatan Yang Jahat.

  • Doa Ulang Tahun Kelahiran :

Om Dirgayurastu Tad Astu Astu Swaha
Artinya :
Oh Sanghyang Widhi Wasa Semoga Bahagia Dan Panjang Umur Atas Karuniamu

  • Doa agar terhindar dari bahaya :

Om Om Asta Maha BayayaOm Sarwa Dewa, Sarwa Sanjata, Sarwa Warna Ya Namah,Om Atma Raksaya, Sarwa Satru, Winasaya Namah Swaha.

Artinya :Oh Sanghyang Widhi Wasa Penakluk Segala Macam Bahaya Dari Segala Penjuru, Hamba Memujamu Dalam Wujud Sinar Suci Dengan Beraneka Warna Dan Senjata Yang Ampuh. Oh Sanghyang Widhi Wasa Lindungilah Jiwa Kami. Semoga Semua Musuh Binasa

  • Doa Sebelum Tidur :

Om Asato Ma Sat Gamaya, Tamaso Ma Jyotir Gamaya Mrityor Mamritan Gamaya
Artinya :
Oh Sanghyang Widhi Wasa, Tuntunlah Kami Dari Jalan Sesat Ke Jalan Yang Benar, Dari Jalan Gelap Ke Jalan Yang Terang Hindarkan Kami Dari Kematian Menuju Kehidupan Sejati

Mrtyunjaya Mantram


Dalam sebuah teks lokal bernama Usana Bali terdapat kisah yang menyebutkan seorang raja di Bali bernama Sri Aji Jaya Kasunu. Namun ia tidak bereinginan menduduki tahtanya itu, mengingat raja-raja yang menduduki tahta sebelumnya selalu berumur pendek atau segera mati setelah dinobatkan. Kegelisahan ini membuatnya pergi melakukan sadhana yang dilakukan setiap tengah malam di setra gandhamayu (kuburan). Dengan memuja Dewi Durgha, Jaya Kasunu mohon anugerah agar kemalangan yang menderita raja-raja Bali dapat berakhir. Dia memuja Dewi Durgha karena merupakan dewa yang berkuasa untuk melenyapkan segala penyakit, bencana dan kemalangan lainnya.

Singkat cerita, pada suatu waktu, Dewi Durgha berkenan memperlihatkan dirinya di hadapan Jaya Kasunu dan menganugerahkan mantra kemenangan Mrtyunjaya. Selain itu Dewi Durgha juga mengamanatkan, agar penguasa Bali dan masyarakatnya merayakan Galungan. Dengan anugerah Dewi Durgha inilah Sri Aji Jaya Kasunu akhirnya dapat memerintah Bali dengan tenang dan dibebaskan dari wabah penyakit yang membahayakan. Ada pun mantra Mrtyunjaya anugerah Dewi Durgha itu adalah sebagai beriut:

Ong mrtyunjaya aya dewa sya
Yona mamyaman kirtaye
Dirgghayusa mawa pnotih
Sanggrame wijayam bhawet

Ong hayu werdhi yaso werddhi
Werddhi prajna suka sriya
Dharma santana werddhisca
Santute sapta werddhi syat.

Artinya:
Om, siapa pun yang mengucapkan pujaan kepada Mrtyunjaya (Tuhan yang jaya atas kematian), akan memperoleh umur yang panjang dan dalam perselisihan akan memenangkannya.

Om, hidup bahagia, berjasa, bijaksana, senang dan mulia, semua anak keturunan dalam aturan abadi, itu adalah bagian yang dapat kau peroleh. (sumber: Usana Bali Usana Jawa, halaman 28 dan 92).

Menurut Ida Bagus Putu Adriana, Mrtyunjaya menunjuk kepada aspek Siwa sebagai penguasa yang mengatasi kematian. Mrtyu artinya mati sedangkan jaya artinya menang. Jadi, mrtyunjaya artinya jaya atau menang atas kematian. Penekun lontar dan pembina di Yayasan Bukit Pengajaran ini melanjutkan, bahwa pemujaan terhadap Siwa dengan nama-nama berbeda memang banyak dijumpai di Bali. Ini berhubungan dengan kepentingan si penyembah dalam menempatkan dewa pujaannya sebagai fungsi tertentu. Misalnya, di dalam menuntun umatnya di dunia, Siwa dipuja dengan nama Rare Angon (penggembala anak-anak). Beliau juga dipuja sebagai Sangkara ketika menciptakan dam memberikan kehidupan pada tumbuh-tumbuhan. Ia juga disebut dengan nama Pasupati, yaitu yang memberikan kehidupan.

Penyebutan nama-nama Tuhan yang banyak dalam Hindu dihubungkan dengan penciptaan yang dilakukan oleh Tuhan di dalam menjalankan lila-nya (permainan). Karena itu, Tuhan yang absolut mengejawantah dalam berbagai-bagai bentuk maupun fungsi dalam rangka menyelenggarakan ciptaanNya. Dari yang absolut atau mutlak yang bersifat Maha Sempurna, Maha Segalanya, tercipta sesuatu yang bersifat terbatas, yaitu ciptaan berupa makhluk hidup maupun benda mati. Sifat-sifat yang terbatas yang ada pada diri manusia manakala ingin bersentuhan kembali dengan Pusat Kesempurnaan (Tuhan), maka terjadilah situasi kerinduang spiritual dalam situasi dan kondisi tertentu yang sifatnya terbatas atau dibatasi oleh sifat-sifat penciptaan itu, sehingga pemujaan terhadap Tuhan dihubungkan dengan ruang dan waktu di mana manusia itu berada. Demikianlah misalnya, ketika manusia menderita sakit berat, dilanda wabah dan sebagainya, maka ia memuja Tuhan sebagai figur yang mengatasi kematian dan pemberi kesembuhan. Pada situasi itulah Tuhan (Siwa-dalam Siwaisme) dipanggil dengan gelar kebesaran Mrtyunjaya. Namun, pada saat petani merindukan Yang Maha Kuasa memberikan kesuburan pada pohon-pohon dan tanaman lainnya, maka dipujalah Tuhan sebagai Sangkara yang berkuasa atas tumbuh-tumbuhan.

Masih menurut Ida Bagus Putu Adriana, mantra Mrtyunjaya di Bali digunakan dalam berbagai prosesi penyucian (penglukatan) oleh sulinggih. Dan yang perlu dicatat, meskipun mantra ini disebutkan sebagai anugerah dari Dewi Durgha, namun untuk memperoleh hasil seperti yang diharapkan, maka seorang pelantun mantra ini mestilah memiliki sidhi supaya mantra yang diucapkannya dapat bertuah atau siddhi mantra. Di sinilah hukum-hukum spiritual senantiasa berlaku pada siapa saja, bahwa siddhi mantra ini hanya dapat diperoleh dengan usaha menaati perintah-perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya. Dalam ajaran yoga dua langkah ini disebut yama dan niyama. Moralitas luhur adalah fondasi bangunan spiritual untuk menuju kesucian diri. Setelah memperbaiki moralitas, usaha berikutnya adalah melakukan perenungan dan mengingat Ida Sang Hyang Widhi terus menerus untuk menyelaraskan kembali ketidakterbatasan kita menuju sumber yang tak terbatas. Hanya dengan usaha yang tekun, sabar, tekad yang kuat, kesucian itu terbangun tahap demi setahap dan kemampuan siddhi mantra akan diperoleh. Siddhi mantra dalam konteks ini adalah dalam makna spiritual, bukan sidhhi dalam tataran wisesa atau sakti dalam ngelmu gaib atau pelajaran supranatural. Karena itu, menurut pembina Ajaran Ghanta Yoga ini, spiritual bukanlah sesuatu yang instan, melainkan evolusi bertahap di dalam mendewasakan batin untuk semakin memahami hakikat sang diri untuk kemudian menuju hakikat Sang Pencipta.

Uraian tersebut memberikan gambaran, bahwa mantra Mrtyunjaya akan memiliki tuah dan pengaruh berbeda pada setiap orang tergantung tingkat kesucian rohaninya. Karena itu mantra bukanlah jalan pintas memecahkan solusi, kecuali ada usaha kuat terlebih dahulu di dalam menguatkan mental dan tekad untuk maju, sebagaimana yang ditempuh Sri Aji Jaya Kasunu yang bertekad untuk tidak menjadi raja sebelum menerima karunia dari Yang Kuasa.

Mrtyunjaya stava dalam versi Bali sedikit berbeda dengan Maha Mrtjunjaya mantra versi India, namun sama-sama memuja Dewa Siwa dalam fungsinya sebagai pemusnah berbagai penyakit dan yang mengalahkan kematian. Dalam fungsinya seperti itu, di Bali ia dipuja sebagai Sang Hyang Mrtyunjaya, sedangkan di India Ia dipanggil sebagai Trayambhaka. Adapun bunyi mantra trayambakam adalah sebagai berikut:

Om trayambakam yaja mahe
Sugandhim pusthi vardhanam
Urvarukamiva bandanan
Mrityor mukshiya mamritat

Artinya:
Kami memujamu, wahai Siwa yang bermata tiga, yang memberikan keharuman dan memelihara segala makhluk, semoga Dia membebaskanku dari kematian menuju keabadian, seperti mentimun yang lepas dari tangkainya.

Menurut Svami Sivananda, mantra ini menjauhkan dari kematian karena gigitan ular, sambaran petir, kecelakaan, kebakaran, angin topan, air bah dan lain-lain. Di samping itu mantra ini dapat memberi efek penyembuhan. Mantra ini juga merupakan mantra mosa (mantra Siva). Ia menganugerahkan kesehatan (arogya), umur panjang (dirgha ayus), kedamaian (santih), kesejahteraan (aisvarya), kekayaan (pusti), kepuasan (tusti) dan kesempurnaan (moksa).

Trayambhaka adalah sebutan lain untuk Rudra, bentuk Dewa Siwa saat melebur alam semesta ini. Nama lain dari Rudra adalah Kapardin karena itu mantra ini juga disebut Rudra Mantra. Dalam Yajurveda dan Atharvaveda yang banyak menyebut Rudra, melukiskan sebagai sosok laki-laki bertubuh besar, perutnya berwarna biru dan punggungnya berwarna merah. Kepalanya berwarna biru (Nilagriwa) dan lehernya berwarna putih (Sitikantha), kulitnya berwarna coklat kemerah-merahan.

Ia tinggal di pegunungan, merupakan dewa yang sangat pengasih, seperti seorang ayah yang menyayangi putranya. Ia juga merupakan dewa yang memberikan kesembuhan kepada setiap makhluk dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Di dalam Rgveda, Rudra diidentikkan dengan Dewa Agni, namun didalam Yajurveda, Rudra diidentikkan dengan Sarva dan Bhava. Kata Rudra berarti menakutkan yang berasal dari urat kata rud yang artinya mengaum.

Di Bali, umat Hindu secara umum memang tidak banyak yang mengerti mantra Mrtjunjaya yang dianugerahkan Dewi Durgha untuk Raja Sri Aji Jaya Kasunu yang juga sebagai pelindung jagat Bali. Namun, hasrat untuk mengusir mara bahaya, wabah penyakit dan sejenisnya itu terwujud dalam bentuk praktik tradisi merayakan Galungan yang disertai dengan pemasangan penjor didepan rumah penduduk. Sehari sebelumnya, yaitu pada Selasa, Wage, Dungulan, diamanatkan untuk melaksanakan upacara abeyakala disertai dengan bersenang-senang makan dan minum dengan terlebih dahulu mempersembahkan sesajen di pura masing-masing. Itu semua titah Bhatari Durgha dan rakyat Bali hingga kini patuh untuk melaksanakannya, karena dengan memasang penjor mereka yakin telah melakukan usaha untuk memenangkan dirinya terhadap berbagai halangan.

Sumber: Majalah Raditya