Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Tag Archives: mebija

Makna dan Cara Mabija Yang Benar


Tahap terakhir persembahyang selain nunas tirtha kita juga nunas bija (mebija atau mewija). Bija atau wija didalam bahasa Sansekerta disebut gandaksata yang berasal dari kata ganda dan aksata yang artinya biji padi-padian yang utuh serta berbau wangi.

Image by: Koleksi Pribadi. Besakih 08 April 2018.

Wija atau bija biasanya dibuat dari biji beras yang dicuci dengan air bersih atau air cendana. Kadangkala juga dicampur kunyit (Curcuma Domestica VAL) sehingga berwarna kuning, maka disebutlah bija kuning.Wija atau bija adalah lambang kumara, yaitu putra atau wija Bhatara Siwa. Pada hakekatnya yang dimaksud dengan Kumara adalah benih ke-Siwa-an/Kedewataan yang bersemayam dalam diri setiap orang. Mawija mengandung makna menumbuh- kembangkan benih ke-Siwa-an itu dalam diri orang. Sehingga disarankan agar dapat menggunakan beras galih yaitu beras yang utuh, tidak patah (aksata). Alasan ilmiahnya, beras yang pecah atau terpotong tidak akan bisa tumbuh.

Cara Menempatkan Bija
Dalam menumbuh kembangkan benih ke-Siwa-an / Kedewataan dalam tubuh, tentu meletakkannya juga tidak sembarangan. Ibaratnya menumbuh kembangkan tananam buah kita tidak bisa menamamnya sembarangan haruslah di tanah yang subur. Maka dari itu menaruh bija di badan manusia ada aturannya, agar dapat menumbuh kembangkan sifat kedewataan /ke-Siwa-an dalam diri.

Hendaknya bija diletakan pada titik-titik yang peka terhadap sifat dari kedewataan /ke-Siwa-an. Dan titik-titik dalam tubuh tersebut ada lima yang disebut Panca Adisesa. Yaitu sebagai berikut:

  1. Di pusar yang disebut titik manipura cakra.
  2. Di hulu hati (padma hrdaya) zat ketuhanan diyakini paling terkonsentrasi di dalam bagian padma hrdaya ini (hati berbentuk bunga tunjung atau padma). Titik kedewataan ini disebut Hana hatta cakra.
  3. Di leher, diluar kerongkongan atau tenggorokan yang disebut wisuda cakra.
  4. Di dalam mulut atau langit-langit.
  5. Di antara dua alis mata yang disebut anjacakra.sebenarnya letaknya yang lebih tepat, sedikit diatas, diantara dua alis mata itu.

Pada umumnya dikarenakan ketika persembahyangan dalam sarana pakaian lengkap tentu tidak semua titik-titik tersebut dapat dengan mudah diletakkan bija. Maka cukup difokuskan pada 3 titik yaitu :

  1. Pada Anja Cakra, sedikit diatas, diantara dua alis. Tempat ini dianggap sebagai tempat mata ketiga (cudamani). Penempatan bija di sini diharapkan menumbuhkan dan memberi sinar-sinar kebijaksanaan kepada orang yang bersangkutan.
  2. Pada Wisuda Cakra, Di leher, diluar kerongkongan atau tenggorokan. Sebagai simbol penyucian dengan harapan agar mendapatkan kebahagiaan.
  3. Di mulut, langsung ditelan jangan digigit atau dikunyah. Alasannya seperti tadi kalau dikunyah beras itu akan patah dan akhirnya tak tumbuh berkembang sifat kedewataan manusia.Sebagai simbol untuk menemukan kesucian rohani dengan harapan agar memperoleh kesempurnaan hidup.

Kenyataannya hingga dewasa ini dalam masyarakat Hindu, selain pada titik-titik diatas. Ada juga yang meletakkan pada titik-titik yang lain. Misalnya ditaruh diatas pelipis, sebelah luar atas alis kanan dan kiri. Ada juga yang menaruh pada pangkal di telingah bagian luar.

Bisa dikatakan kurang tepat menaruh bija selain pada 3 titik-titik yang telah disebutkan diatas. Karena titik-titik yang lain dalam tubuh kurang peka terhadap sifat kedewataan atau Tuhan yang ada dalam diri manusia. Sehingga cukup sulit menumbuh kembangkan sifat Kedewataan dalam diri.

Jadi dapat disimpulkan bahwa makna dari penggunaan Bija dalam persembahyangan ialah untuk menumbuh kembangkan sifat Kedewataan/Ke-Siwa-aan/sifat Tuhan dalam diri. Seperti yang disebutkan dalam Upanisad bahwa Tuhan memenuhi alam semesta tanpa wujud tertentu tidak berada di surga atau di dunia tertinggi melainkan ada pada setiap ciptaan-Nya.

artikel lain:

  1. Doa Metirtha, Mesekar dan Mebija
Advertisements

Doa Metirtha, Mesekar dan Mebija


Setiap kali kita melakukan persembahyangan, pasti kita akan menerima tirtha sebagai anugerah Hyang Widhi. Sudah sangat lajim kedua tangan tengadah, kemudian kedua tangan ditumpuk telapak tangan kanan diatas telapak tangan kiri, selanjutnya para pemangku atau pengayah akan memercikkan tirtha ke ubun-ubun tiga kali, diminum tiga kali kemudian diraupkan tiga kali. Tujuan pemercikan tirtha ini adalah untuk menyucikan pikiran, perkataan dan perbuatan.

Doa pada saat memercikkan tirtha para pemangku/sulinggih/pinandita mengucapkan mantram:

Om Pratamacuddha, dwitiyacuddha, tritiyacuddha cuddhamam wariastu.

Artinya: Pertama suci, kedua suci, ketiga suci, suci suci, Semoga suci dengan tirtha ini.

Dan bagi kita yang menerima tirtha dari para pemangku/sulinggih/pinandita juga perlu mengucapkan mantram sesuai dengan peristiwa. Bisa dilakukan dalam hati atau dengan suara pelan:

Om Ang Brahma amrta ya namah, Om Ung Wisnu ya namah, Om Mang Iswara ya namah.

Artinya: Ya Tuhan dalam wujud Brahma, Ya Tuhan dalam wujud Wisnu, Ya Tuhan dalam wujud Iswara, Anugerahkanlah hamba air suci.

Doa Minum Tirtha: (dilakukan sesaat akan minum)

Om Om sarira ya namah, Om Om sada Siwa ya namah, Om Om Paramasiwa ya namah.

Artinya: Ya Tuhan sebagai Siwa, Sadha Siwa dan Parama Siwa, Anugerahkanlah badan dan rohani ini air suci.

Doa Meraup(mencuci muka) Tirtha:

Om Om Sarira purna ya namah, Ang Ung Mang Gangga amrta ya namah, Sarira suddha parama teja ya namah, Om Ang sama sampurna ya namah.

Artinya: Ya Tuhan, sempurnakanlah badan ini, Ya Tuhan sebagai perwujudan Gangga amertha, anugerahkanlah diri kami kesucian, sinar yang maha suci, yang maha sempurna.

Doa Metirtha di Badan:

Om Atma raga sarira pari suddha ya namah.

Artinya: Ya Tuhan, sebagai badan atma yang suci sucikanlah badan ini.

Doa Masekar: Masumpang/mecunduk di Ciwadara(ubun-ubun):

Om Siwa Raditya ya namah swaha. Arti simbolisnya adalah agar kita tetap percaya terhadap Hyang Widhi Wasa.

Doa Mesekar: Mesumpang pada kedua telinga:

Om Dewa Sri Dewi ya namah swaha. Bunga di bagi menjadi dua bagian kedua tangan menyilang, tangan kanan memasang bunga pada telinga kiri, tangan kiri memasang bunga di telinga kanan.

Doa Mebija: Dilekatkan pada lelata(dahi tengah)

Om Criyam bhawantu. Artinya: Semoga kebahagiaan meliputi hamba.

Dilekatkan pada pangkal tenggorokan: 

Om Sukham bhawantu, Artinya: Semoga kesenangan selalu datang pada hamba.

Ditelan(tanpa dikunyah):

Om Purnam Bhawantu, Om Ksama sampurna ya namah swaha

Artinya: Semoga segala kesempurnaan menjadi bertambah sempurna.

————————————

Artikel terkait:

  1. Doa Sehari-hari dalam Hindu.
  2. Yadnya Sesa/Mesaiban/Ngejot.
  3. Doa Sarana Banten.

 

%d bloggers like this: