Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Seksologi ala Kamasutra


Kamasutra adalah karya seni seorang maharsi atau pertapa bernama Vatsya, yang memiliki Guruparampara (the line teachers), yang menulis karya yang sangat terkenal bernama Vatsyayanasutra, Kamasastra atau Kamasutra (ilmu percintaan) (Mani, 1989:840). Di samping itu ia juga menganjurkan untuk mempelajari 64 cabang seni bagi seorang wanita yang ingin sempurna .

Kamasutra dimasukkan ke dalam kelompok Upaveda, yakni bagian dari Gandharvaveda (ilmu tentang seni) yang merupakan buku referensi dari kitab suci Veda. Kitab ini (Spellman,1997:IX-XII) terdiri dari 7 bagian dan pada masing-masing bagian terdapat sub-sub bagian. Bagian pertama (terdiri dari 4 bab) berisi uraian tentang pencarian Purusartha yang di Bali lebih populer dengan istilah Catur Purusa Artha yang berarti empat tujuan hidup manusia, yakni:

  1. Terwujudnya ajaran Dharma dalam kehidupan.
  2. Diperolehnya Artha (meteri atau harta benda pendukung hidup yang diperoleh dengan jalan yang benar/Dharma).
  3. Kama (kenikmatan atau terpenuhinya dorongan nafsu yang tidak melanggar hukum/Dharma).
  4. Moksa (tujuan tertinggi dalam kehidupan adalah untuk mencapai kebebasan berupa kebahagiaan yang abadi.

Di samping itu juga kajian terhadap 64 cabang seni ketrampilan. Tentang penataan rumah dan peralatan rumah tangga, tentang kehidupan sehari-haris seorang warga, kenalan, hiburan dan lain-lain. Juga tentang penggolongan wanita yang layak dan tidak layak bergaul dengan warga, dengan teman-temannya dan para pembawa pesan (kurir).

Bagian kedua terdiri dari 10 bab. Menjelaskan tentang hubungan seksual, jenis-jenis hubungan seks, kekuatan keinginan dan waktu, dan tentang jenis-jenis cinta kasih yang berbeda-beda. Tentang pelukan (rangkulan), ciuman, remasan atau isyarat dengan menggunakan kuku, pagutan dan cari bercinta yang diterapkan secara berbeda-beda dari dari negeri yang berbeda-beda pula, berbagai cara berbaring dan berbagai macam hubungan badan. Berbagai cara menyerang dan suara-suara yang cocok untuk mereka. Tentang wanita yang berperan sebagai laki-laki, tentang mengulum linggam (phalus) di mulut. Cara memulai dan mengakhiri hubungan badan dan rintihannya.

Bagian ketiga terdiri dari 4 bab menguraikan tentang pencarian seorang istri, pengamatan tentang pacaran dan perkawinan, penciptaan kepercayaan kepada gadis-gadis. Hal-hal yang boleh dilakukan laki-laki dalam pencarian gadis dan sebaliknya apa yang boleh dilakukan seorang gadis untuk mendekati pria dan menundukkannya, juga tentang bentuk-bentuk perkawinan tertentu.

Bagian keempat terdiri dari 2 bab yang menguraikan istri seseorang, cara hidup wanita bijak, kebiasaanya selama suaminya tidak di rumah, Tentang prilaku istri tertua terhadap istri-istri lain dari suaminya dan tentang sikap istri yang lebih muda terhadap yang lebih tua. Sikap seorang janda perawan yang kawin lagi, seorang wanita yang tidak disukai suaminya, dan seorang suami yang memiliki lebih dari seorang istri.

Bagian kelima terdiri dari 6 bab menguraikan tentang istri-istri orang lain. Ciri-ciri pria dan wanita serta alasan mengapa wanita menolak sikap pria. Tentang pria yang berhasil dengan wanita dan tentang wanita yang gampangan. Tentang Perkenalan dengan wanita dan usaha untuk mendapatkannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: