Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Seks dan pengendalian diri


Pada artikel sebelumnya telah dikutipkan tentang pentingnya pengendalian diri terhadap adanya dorongan nafsu seks yang sering menjerumuskan umat manusia. Berdasarkan kutipan tersebut maka penyaluran dorongan seksual hanya dibenarkan melalui lembaga perkawinan (vivaha) dan lembaga perkawinan dianggap sah bila dilakukan dengan Vivahasamskara.

Perkawinan adalah sebuah upacara Yajna, demikian dikatakan dalam kitab Taittriya Brahmana (II.2.2.6) (Pandey, 1991:153). Bila terjadi hubungan seksual tanpa pelaksanaan upacara Vivahasamskara, maka hal itu tidak dianggap sebagai perkawinan yang sah. Lebih jauh tentang seks dan perkawinan diamanatkan didalam Veda dan Susastra Hindu sebagai berikut:

Sam jaspatyam suyamam astu devah (RV. X.85.23).
Artinya: Ya, para dewata, semoga kehidupan perkawinan kami berbahagia dan tentram

Asthuri no garhapapatyani santu (RV. VI.15. 19).
Artinya: Hendaknyalah hubungan suami-istri kami tidak bisa putus berlangsung abadi

Sam anjantu visvedevah, samapohrdayaninau (RV X.85.42)
Artinya: Semoga para dewata dan apah mempersatukan hati kami,suami-istr

Ihaiva stam ma vi yaustam, visvam ayur vyasnutam.
Kridantau putrair naptrbhih, modamanau sve grhe (RV. X.85. 42).

Artinya: Ya, pasangan suami-istri, semoga anda tetap disini dan tidak pernah terpisahkan. Semoga anda berdua mencapai kehidupan yang penuh kebahagiaan. Semoga anda, bermain dengan anak-anak lakimu dan cucu-cucu lakimu, tinggal di rumah ini dengan gembira.

Sloka terakhir (RV. 85. 42) tersebut di atas dapat kita jumpai kembali di dalam kitab AV. XIV. 1.22 yang menyiratkan tentang makna perkawinan untuk menwujudkan kehidupan dan kebahagiaan bersama dengan putra-putri dan cucu-cucu yang lahir dari perkawinan mempelai diamanatkan untuk bergembira dan tinggal di rumah sendiri yang menunjukkan kepada kita seseorang yang telah siap memasuki masa Grihastha (hidup berumah tangga) hendaknya dapat menyiapkan rumah sendiri, tidak tergantung kepada orang lain. Jadi sebelum memasuki Grihasthasrama, seorang Brahmacari (pemuda/layang) secara matang harus mandiri untuk nantinya dapat mewujudkan perkawinan ideal sebagai diamanatkan dalam mantra Veda di atas. Untuk itu seseorang dituntut berkerja keras sesuai dengan Dharma.

Lebih jauh tentang makna atau prinsip dasar tentang tujuan perkawinan di tegaskan dalam kitab-kitab Dharmasastra (Kantawala, 1989:89) adalah untuk mewujudkan 3 hal, yaitu:

  1. Dharamasampatti, kedua mempelai secara bersama-sama melaksanakan Dharma yang meliputi semua aktivitas dan kewajiban agama seperti melaksanakan Yajna, sebab di dalam Grhastalah Yajna dapat dilaksanakan secara sempurna.
  2. Praja, kedua mempelai mampu melahirkan keturunan (putra-putri) yang akan melanjutkan amanat dan kewajiban kepada leluhur. Melalui Yajna dan lahirnya putra yang suputra (Berbudhi perkerti luhur) seorang anak akan dapat melunasi hutang jasa kepada leluhur (Pitrarna), kepada Tuhan Yang Maha Esa (Devarna) dan kepada para guru (Rsirna).
  3. Rati, kedua mempelai dapat menikmati kepuasan seksual dan kepuasan-kepuasan lainnya (Artha dan Kama ) yang tidak bertentangan Dharma

Berdasarkan kutipan tersebut di atas, maka perkawinan menurut kitab suci Veda dan Susastra Hindu lainnya adalah untuk mewujudkan kebahagiaan bersama lahir dan batin termasuk pula dalam pengertian memperoleh keturunan yang suputra (anak-anak dan cucu-cucu) sebagai penerus kehidupan keluarga. Lebih jauh kitab suci Veda menyatakan bahwa suami-istri itu satu jiwa dalam dua badan.Aksyau nau madhusamkasenau samanjanam,

Antah krnusva mam hrdi mana innausahasati (AV. VII.36.1).

Artinya: Hendaknya manis bagaikan madu cinta kasih dan pandangan antara suami dan istri penuh keindahan. Semogalah senantiasa hidup bersama dalam suasana bahagia tanpa kedengkian (diantara mereka).Semoga satu jiwa bagi semuanya.

Terhadap terjemahan Sloka ini, Devi Chand (1982:299) menjelaskan: hendaknya saling mengusahakan kebahagiaan bersama seperti halnya para dokter meneliti tumbuh-tumbuhan untuk memperoleh manfaat dari tumbuh-tumbuhan itu (sebagai orang yang berguna). Demikianlah antara seorang suami dan istri senantiasa berusaha untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan sesuai Brata-Brata Vivaha (kewajiban dan pantangan-pantangan ) dalam perkawinan.

Suami dan istri hendaknya tidak jemu-jemu mengusahakan dan mewujudkan kerukunan serta kebahagiaan dalam rumah tangga diamanatkan pula dalam

Manavadharmasastra sebagai berikut.
Tatha nityam yateyatam stripumsau tu krtakriyau,
Ytatha nabhicaratemTau tau viyukta vitateratam.
(Mdhs. IX.102).

Artinya: Hendaknya lak-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan, mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya agar mereka tidak bercerai, mewujudkan antara satu dengan yang lain.

Anyonyasyavy abgicaro bhaved amaranantikah,
Esa dharmah samasena jneyah stri pumsayoh parah.
(Mdhs. IX.101).

Artinya: Hendaknya hubungan yang setia berlangsung sampai mati, singkatnya, hal ini harus dianggap hukum yang tertinggi bagi suami istri.

Samtusto bharyaya bharta bhartra bharya tathaiva ca,
Yasminn eva kule nityam kalyanam tatra vai dhruvam.
(Mdhs. III.60).

Artinya: Keluarga di mana suami berbahagia dengan istrinya dan demikian pula sang istri terhadap suaminya, kebahagian pasti kekal dan abadi.

Suami dan istri diamanatkan untuk senantiasa melaksanakan kewajiban dan jalan yang benar (mengikuti hukum yang berlaku) dan memperoleh putra yang perwira, membangun rumah sediri dan hidup didalamnya:

Syonadyoneraghi budhyamanau sahamudau hasamudau
mahasa modamanau sugu suputrau suguhrau tar-thau jivabusaso vibhatih (AV. XIV.2.43).

Artinya: Wahai suami dan istri, hendaknya kamu berbudi pekerti yang luhur, penuh kasih sayang dan kemesraan diantara kamu. Lakukanlah tugas dan kewajibanmu dengan baik dan patuh kepada hukum yang berlaku. Turunkanlah putra-putri yang perwira, bangunlah rumahmu sendiri dan hiduplah bersuka cita di dalamnya.

Berdasarkan uraian di atas maka pengendaliaan diri terhadap dorongan seks sangat diperlukan oleh setiap orang, terlebih lagi bagi mereka yang sedang menempuh kehidupan Brahmacarya (masa belajar) seperti diamanatkan dalam Mahabarata (Adiparva I. 170 .71): ‘brahmacaryam paro dharmah’ , chastify is the highest virtue or the highest law ( Meyer, 1989:258 ).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: