Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Monthly Archives: September 2012

Tri Sandhya Bukan Karangan


Tri Sandhya, tepatnya bukan “dikarang” tetapi “disusun”. Menurut Svami Sathya Narayana, guru kerohanian Weda di India, Trisandhya adalah persembahyangan tiga kali sehari yaitu pagi hari disaat matahari terbit disebut “Brahma Muhurta” bertujuan menguatkan “guna Sattvam” menempuh kehidupan dari pagi hingga siang hari. Siang hari sebelum jam 12 sembahyang bertujuan untuk mengendalikan “guna Rajas” agar tidak menjurus ke hal-hal negatif. Sore hari sebelum matahari tenggelam sembahyang bertujuan untuk mengendalikan “guna Tamas” yaitu sifat-sifat bodoh dan malas. Jadi Puja Trisandhya adalah persembahyangan pada saat pergantian waktu (pagi-siang-malam) yang bertujuan untuk menghilangkan aspek-aspek negatif yang ada pada manusia.
Puja Trisandhya terdiri dari enam bait. Bait pertama atau sebagai Sandya Vandanam (awal) diambil dari Gayatri atau Savitri Mantram (Rg Veda, Sama Veda dan Yayur Veda).
Gayatri Mantram terdiri dari tiga unsur mantram yaitu :
Pranawa (OM), Vyahrti (BHUR BHUVAH SVAH), dan Tripada (TAT SAVITUR VARENYAM, BHARGO DEVASYA DIMAHI, DHYO YONAH PRACODAYAT).
Pranama mantra adalah lambang kesucian dan kemahakuasaan Hyang Widhi. Vyahrti mantra untuk pencerahan lahir-bathin, dimana pengucapan “Bhur” bermakna sebagai Anna Sakti memproses sari-sari makanan bagi kekuatan tubuh. Pengucapan “Bhuvah” bermakna sebagai Prana Sakti yaitu menggunakan kekuatan tubuh bagi kesehatan jasmani dan rohani. Pengucapan “Svah” atau “Svaha” bermakna sebagai Jnana Sakti yaitu memberikan kecerahan pada pikiran dan pengetahuan menjadi cemerlang. Berjapa dengan mengucapkan “Svaha” akan bermanfaat menghilangkan “avidya” (kegelapan) menuju kepada “vidya” yaitu kesadaran pada hakekat kesucian dan kemahakuasaan Hyang Widhi.
Bait kedua diambil dari Narayana Upanisad (Sruti) bertujuan untuk memuja Narayana, manifestasi Hyang Widhi, agar manusia senantiasa dibimbing menuju pada Dharma.
Bait ketiga diambil dari Siva Stava (Smrti) yang melukiskan Tuhan dengan berbagai sebutan : Siva, Mahadeva, Isvara, Paramesvara, Brahma, Wisnu, Rudra, Purusa.
Bait keempat, kelima dan keenam diambil dari Veda Parikrama berisi pernyataan bahwa keadaan manusia di bumi disebabkan oleh kepapaan, dan kehinaan dari sudut pandang spiritual. Oleh karena itu maka manusia wajib mohon maaf dan mohon agar terhindar dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan trikaya parisudha.

Ucapan OM – Santi – Santi – Santi – OM
bermakna sebagai berikut :Santi yang pertama, memohon agar manusia terhindar dari sifat/sikap tidak bijaksana (Avidya). Santi yang kedua memohon agar manusia terhindar dari bencana yang berasal dari mahluk ciptaan Hyang Widhi : manusia, binatang, tetumbuhan (Adi Bhautika). Santi yang ketiga memohon agar manusia terhindar dari bencana alam (Adi Dhaivika)
Sumber; Bhagawan Dwija|Hindu-indonesia.

 

 

 

Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat ring Pura Tuluk Biyu Batur


PURA Tuluk Biyu Batur Parahyangan Agung Pucak Gunung Abang sané magenah ring Désa Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupatén Bangli. Pacang ngamargiang Karya Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat Warsa 2012. Dudonan karya ring Pura Tuluk Biyu Batur kamargiang ngawit tanggal 16 Septémber 2012 nepet rahina Redité Pon Medangsia kantos tanggal 8 Oktober 2012 rahina Soma Kliwon Klurut.

Mapaiketan sareng dudonan karya punika pengemong miwah prawartaka karya matur piuning majeng Ida Dané Umat Hindu Se-Dharma sareng sami turmaning ngaptiang mangda prasida pedek tangkil sajeroning upacara punika. Ngeninin indik éédan karya sané pacang kamargiang makadi ring sor puniki.

Ring rahina Anggara Paing Pujut tanggal 25 Septémber 2012, Pacang kamargiang pula-pali Rsi Gana Mapiuning Karya, Nuhur Tirta ring Pucak Gunung Abang, Tirta Sapuh Jagat, Tirta Segara Danu, Ngunggahang Sanghyang Raré Anggon, Nanceb Sunari, Sanggar Tawang.

Raris rahina Sukra Kliwon Pujut tanggal 28 Septémber 2012, éédan sané kamargiang inggih punika Ngadegang Bagia Pula Kerti. Bénjangné ring rahina Saniscara Umanis Pujut tanggal 29 Septémber 2012, kamargiang Mapepada Wewalungan, Ida Bhatara-Bhatari Katuran Bhakti Pengodal lan Pesucian.

Salanturnyané tanggal 30 Septémber 2012 nepet rahina Redité Paing Pahang, kamargiang Puncak Karya Mapepada Agung, Pujawali Ngusaba Sasih Kapat. Bénjangné rahina Soma Pon Pahang tanggal 1 Oktober 2012 kamargiang pula-pali Wayon Ageng Walikota Dénpasar miwah Pémkab Karangasem.

Tanggal 2 Oktober 2012 rahina Anggara Wagé Pahang kamargiang Wayon Alit, Bhakti Penganyar Kabupatén Gianyar, miwah Tabanan. Raris rahina Buda Kliwon Pahang tanggal 3 Oktober 2012, kamargiang Bhakti Penganyar Pemkab Bangli.

Salanturnyané rahina Wraspati Umanis Pahang tanggal 4 Oktober 2012 kalaksanayang Bhakti Penganyar Pemkab Klungkung. Bénjangné tanggal 5 Oktober 2012 nepet rahina Sukra Paing Pahang kamargiang Bhakti Penganyar Pemkab Buléléng.

Yéning Bhakti Penganyar Pemkab Jembrana kamargiang ring tanggal 6 Oktober 2012 nepet rahina Saniscara Pon Pahang. Salanturnyané tanggal 7 Oktober 2012 rahina Redité Wagé Klurut kamargiang Bhakti Penganyar Pemkab Badung. Rahina Soma Kliwon Klurut tanggal 8 Oktober 2012, kamargiang Bhakti Pepranian, Ngelantur Ida Bhatara Katuran Bhakti Pengeluhur.

Punika indik dudonan karya sané pacang kamargiang ring Pura Tuluk Biyu Batur, gumanti prasida kapiarsayang sareng sami olih Umat Hindu/Umat Se-Dharma. Dumogi Pujawali sané pacang kamargiang nemoning labda karya, tur paripurna sida sidaning don.

Artikel Olih : Orti Bali | Bali Post, 23 September 2012

 

 

 

Bagaimana Mencapai Moksa


Sebenarnya sulit untuk menjelaskan moksha dalam kata-kata, akan tetapi ada penjelasan yang hampir MENDEKATI. Penjelasan yang hampir MENDEKATI ini termuat dalam banyak sekali teks-teks India seperti Yoga Sutra, Yoga Vasistha, Astavakara Gita, dsb-nya, maupun dalam teks-teks kuno warisan leluhur kita seperti lontar Dharma Sunia, lontar Wrhaspati Tattwa, dsb-nya.

Dalam penjelasan yang hampir mendekati, moksha atau mukti atau bebas, adalah moment ketika :

1. DI DALAM.
Keadaan “di dalam” atau kondisi yang muncul di dalam bathin kita :

– Ketenangan dan keseimbangan bathin yang sempurna. Apapun yang terjadi diluar, apapun yang kita hadapi, baik-buruk, salah-benar, bahagia-sengsara, suci-kotor, bathin kita tetap tenang, sejuk dan damai. Bathin yang kokoh dan setenang batu.

– Lenyapnya segala bentuk penilaian. Apapun yang terjadi diluar, apapun yang kita hadapi, baik-buruk, salah-benar, bahagia-sengsara, suci-kotor, bathin kita tanpa penilaian. Tanpa kata-kata, tanpa analisa, tanpa penghakiman, tanpa pembandingan. Hanya melihat semuanya apa adanya. Dalam bahasa yang lebih mudah dimengerti yaitu tidak ada sedikitpun prasangka buruk dan pikiran yang negatif. Bathin yang polos dan seputih kertas.

– Lenyapnya segala bentuk kegelapan bathin. Apapun yang terjadi diluar, apapun yang kita hadapi, baik-buruk, salah-benar, bahagia-sengsara, suci-kotor, tidak ada iri hati, tidak ada kemarahan, tidak ada dendam, tidak ada benci, tidak ada hawa nafsu, tidak ada keinginan, tidak ada keserakahan, tidak ada kesombongan, tidak ada kebingungan, tidak ada rasa jengah atau malu, tidak ada rasa sedih dan tidak ada rasa takut. Bathin yang telanjang dan sehening pohon.

– Lenyapnya rasa ke-aku-an dan identifikasi diri. Tidak ada ini aku, ini milikku, ini rumahku, ini agamaku, ini keluarga-ku, ini kelompok-ku, ini etnisku, ini bangsaku, ini badan fisik-ku, ini pendapatku, ini perasaanku, ini harga diriku, dsb-nya. Bathin yang seluas samudera tak bertepi.

2. KELUAR
Sikap bathin “keluar” atau sikap bathin kita kepada semua orang, semua mahluk dan alam semesta, yang ada hanya welas asih, kebaikan dan penuh pengertian yang tidak terbatas dan tanpa syarat.

Inilah ukuran bagaimana cara kita tahu kalau kita sudah mengalami moksha, dalam penjelasan yang hampir mendekati.

Kalau dalam keseharian kita selalu tekun melaksanakan dharma, sekali-sekali dalam hidup ini sangat mungkin kita bisa “sadar” dan mengalami moment BEBAS ini, walaupun secara sangat sementara.

Mungkin saat saat kita lebur dalam kedalaman meditasi, saat sembahyang di sebuah pura kuno, saat duduk tenang di puncak gunung atau di tengah hutan, atau bahkan mungkin saja bisa terjadi saat kita sedang duduk di depan komputer. Kalau ini terjadi kita bisa langsung menitikkan air mata. Bukan air mata kesedihan atau kebahagiaan. Melainkan seperti pulang ke rumah yang sudah sangat lama kita tinggalkan. Karena kita bersentuhan dengan atman, sadar akan hakikat realitas diri yang sejati yang sudah sangat lama kita lupakan.

Sesungguhnya kita sudah dan selalu bebas, hanya saja kita lupa, kita tidak menyadarinya. Kita lupakan karena kita terbelenggu oleh pikiran dan terbelenggu oleh badan fisik. Ketika belenggu ini lenyap, kita ingat, kita sadar.

Dan sesungguhnya belenggu pikiran dan belenggu badan fisik inipun tidak ada. Belenggu ini seolah ada karena kita tunduk dan terseret arus ahamkara [ke-aku-an]. Dan sesungguhnya ahamkara [ke-aku-an] inipun tidak ada, karena “kamu adalah tat” [tat tvam asi].

Inilah pentingnya dalam keseharian kita selalu tekun melaksanakan dharma. Karena dharma yang sudah dilaksanakan tidak saja adalah pelindung abadi kita dalam roda samsara , juga menjadi gerbang depan untuk memasuki dunia spiritual yang mendalam dan sekaligus [kalau tiba putaran waktunya] sangat mungkin kita bisa “sadar” dan mengalami moment BEBAS ini, walaupun secara sangat sementara. Dimana hal ini dapat membuka wawasan dan memberi kita banyak pemahaman akan tujuan hidup dan hakikat realitas diri yang sejati yang sudah sangat lama kita lupakan.

Itu adalah jawaban dari pertanyaan saudara kita tersebut.

MOKSHA [PEMBEBASAN SEMPURNA] / ATMA JNANA [KESADARAN SEMPURNA]

Bedanya antara kita dengan seorang jivan-mukta [orang yang telah bebas, moksha], kalau kita selalu tekun melaksanakan dharma sehingga sekali-sekali dalam hidup ini sangat mungkin kita bisa “sadar” dan mengalami moment BEBAS secara sangat sementara, sedangkan pada seorang jivan-mukta moment BEBAS ini sifatnya permanen.

Karena itu seorang sadhaka yang serius, selain selalu tekun melaksanakan dharma, dia juga tekun melaksanakan sadhana-nya. Ada yang berkelana naik-turun gunung, ada yang puluhan ribu jam melakukan meditasi, ada yang menjadi pertapa telanjang, ada yang bertahun-tahun melakukan upavasa [puasa] dan mona brata [puasa bicara], dsb-nya, ada banyak sekali metode-nya. Semua itu tujuannya hanya satu, membuat moment BEBAS ini menjadi permanen.

Moksha atau mukti dalam penjelasan tetua kita disebut “suka tan pawali duka”, kondisi bathin yang telah kembali pada kesempurnaan, yang tidak akan pernah kembali lagi pada kegelapan atau kesengsaraan. Ketika moment BEBAS ini menjadi permanen, “suka tan pawali duka”, bathin kita mengalami penyatuan kosmik dengan keseluruhan alam semesta.

Sumber: Rumah Dharma-Hindu Indonesia