Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Tag Archives: moksa

Surga, Neraka dan Moksa


Surga/sorga itu menyenangkan, konon didalamnya ada puluhan bidadari cantik yang melayani para penghuni pria, surga dihuni oleh satu agama, dan tidak bagi agama yang lainnya. Tidak ada ruang surga bagi agama lain kalaupun ada ruang itu bukanlah surga melainkan neraka. Neraka itu konon mengerikan, disini penghuni akan disiksa, dibakar dll. Itulah gambaran surga/sorga dan neraka yang mungkin semua umat manusia pernah mendengar ceritanya atau melihat tayangan televisi dalam bentuk sinetron, dll. Bagaimana surga dan neraka dalam Hindu?

Upanisad juga bicara tentang Sorga dan Neraka. Sorga berasal kata SVAR yang artinya cahaya dan GA (GO dalam bahasa Inggris ) berarti pergi, jadi Sorga (Swarga) berarti pergi ke tempat cahaya. Berikut ini ada salah satu teks mantra yang menjelaskan Sorga:
“Kepada seorang yang melintasi jembatan itu, malam menjadi seperti siang ; karena di dalam dunia-dunia jiwa ada suatu cahaya yang abadi”

Sorga dalam konsep Hindu bukanlah tempat untuk memuaskan keinginan-keinginan atau nafsu-nafsu tubuh atau tempat hiburan dimana manusia (laki-laki) dapat memuaskan nafsu badaninya. Sorga adalah dunia cahaya. Jiwa adalah cahaya. Tubuh yang menjadi sumber nafsu dan penderitaan tidak ada di Sorga.

Neraka digambarkan dengan cara yang sangat menahan diri. Pustaka Suci Hindu tidak mengajarkan kenikmatan dari penderitaan orang lain. Dari hampir 25.000 mantra Veda hanya ada tiga mantra yang menjelaskan tentang Neraka. Dari seluruh Upanisad hanya ada satu teks tentang neraka:
“Ada Dunia-dunia yang dihuni raksasa, wilayah kegelapan yang pekat. Siapapun dalam hidupnya menolak jiwa jatuh dalam kegelapan”

Bandingkan dengan kitab suci agama Semitik. Ada yang secara khusus dan rinci melukiskan ancaman neraka yang sadis dan mengerikan. Dan dalam kitab lain paling sedikit ada 1000 kali ancaman neraka disebutkan. Jadi dalam setiap enam ayat ada satu ancaman neraka, hukuman sangat berat atau siksa yang pedih. Manusia dijadikan bahan bakar bagi api neraka. Setiap badannya yang hangus terbakar, mereka akan diberikan badan baru lagi agar dapat merasakan siksa neraka yang mengerikan itu secara abadi. Yang dimasukan ke neraka adalah orang-orang yang berkeyakinan lain. Ayat-ayat semacam ini menimbulkan keyakinan yang berbahaya bagi dunia. Tindakan kekejaman dan kekerasan yang dilakukan terhadap agama lain hanyalah partisipasi saleh dalam kehendak Tuhan. Keyakinan seperti ini telah mengakibatkan banjir darah dan perang agama yang mengerikan sepanjang sejarah.

Dalam Pustaka suci Hindu, neraka hanya digambarkan sebagai tempat kegelapan, yang dihuni orang-orang yang tidak setia, yang berbuat asubha karma (berbuat jahat), dan para penyihir. Neraka seperti juga halnya sorga, bukan tujuan akhir, bukan tempat yang final dan tertutup. Dari keduanya terdapat pintu dan jalan dari mana jiwa dapat menuju ke tujuan lain, apakah lahir kembali(Reinkarnasi) untuk dapat melanjutkan serta menyempurnakan Evolusi Jiwa hingga sampai mencapai moksa atau dalam istilah Jawa “Manunggaling Kawula Gusti”.

Juga tidak ada ancaman hari kiamat. Alam semesta lahir dari kebahagiaan dan kembali ke dalam kebahagiaan. Penderitaan bukanlah retributif (bersifat menghukum), atau balas dendam, tapi bersifat rekonstruktif, untuk membangun karakter. Seperti tanah liat yang digiling, dibentuk dan dibakar untuk menjadi cangkir porselin yang indah. Moksa adalah Tujuan akhir dari perjalanan jiwa. Ia digambarkan sebagai persatuan Jiwatman dengan Brahman, Seperti sungai-sungai yang mengalir menuju Samudra luas, ia hilang nama dan bentuk , dan yang ada hanya samudra luas.
“Seperti sungai yang mengalir lenyap dalam samudra luas, membuang bentuk dan nama. Demikianlah halnya yang mengetahui dibebaskan dari nama dan bentuk , mencapai Yang maha Suci, lebih tinggi dari yang tertinggi”.

Terima kasih: Upanisad Himalaya Jiwa, Juan Mascaro & Swami Harshananda)

Advertisements

Nitidharma dalam Mahabharata


Sakamadharma dan Niskamadharma berkorelasi dengan triwarga dan berakhir pada moksa yang merupakan capaian tertinggi bagi setiap insan manusia. Kemudian melahirkan siklus nilai relatif yang disebut catur purusartha yang terdiri dari: Dharma, artha, kama dan moksa. Yudhistira pernah menanyakan kedudukan dharma,artha dan kama sebagai penyangga kehidupan manusia sehari-hari. Bila triwarga itu demikian penting, maka diantara ketiganya yang mana yang lebih tinggi kedudukannya?? demikian Yudhistira kepada Vidura. Vidura menjawab bahwa belajar, meditasi(tapasya),kerendahan hati, kesederhanaan, keramahtamahan, kebenaran dan pengendalian diri merupakan elemen-elemen dharma tertinggi. Artha, menempati posisi lebih rendah dari Dharma. Sedangkan Kama lebih rendah kedudukannya dari keduanya.

Arjuna, Sang Mahartha menimpali bahwa artha memiliki nilai utama membantu realisasi kama. Perburuan kama direalisasikan dalam kehidupan melalui bekerja dengan tekun, seperti bertani, beternak, sehingga menghasilkan artha. Dengan artha seseorang dapat menikmati kesenangan di dunia ini, terutama dapat melaksanakan anjuran dharma, yaitu melaksanakan Yadnya.

Bhimasena, Sang Susastya angkat bicara, bahwa kama atau keinginan merupakan daya kekuatan penggerak dalam kehidupan religius, pengendalian diri, tapa, para seniman melakukan kreatifitas, para petani tekun bekerja, para pedagang tekun berdagang, Dharma dan artha tiada bernilai tanpa kehadiran Kama.

Nakula dan Sahadewa, Sang Aswin menyatakan bahwa dharma dan artha harus digerakkan secara bersamaan. Manusia wajib memegang teguh dharma dan menghasilkan artha tanpa melanggarnya. Keduannya menyublim bagaikan tirtha amrta bercampur dengan madu. Dharma dan artha ditangan seseorang merengkuh kenikmatana hidup dalam keadaan ekstase.

Terkahir Yudhistira menyatakan bahwa moksa merupakan nilai tertinggi yang harus diusahakan. Setiap insan manusia harus melaksanakan kewajibannya tanpa disertai motif pribadi. Dharma harus dilaksakan dengan kegigihan sikap sama terhadap penolakan dosa dan memegang teguh kebenaran, mencari kekayaan dan menyirnakan kemelaratan, memburu kenikmatan dan meniadakan penderitaan. Kegiatan tersebut disebut niskama dharma yang mampu memutus lingkaran kelahiran dan kematian, mengantarkan menuju tercapainya yang absolut(moksa, brahmaprapti).

Kakek Bhisma mengatakan bahwa moksa merupakan nilai tertinggi yang harus dicapai(parama purusartha). Baik penderitaan maupun kenikmatan sifatnya sementara, yang satu mengikuti yang lainnya dalam siklus kausal yang dikendalikan oleh keinginan(kama). Diantara keduanya, kama lebih disukai karena membebaskan manusia dari siklus kebahagiaan dan penderitaan. Dimana didalamnya terimplisit doktrin “kebahagiaan diperoleh dengan upaya pengendalian keinginan dan kebahagiaan diperoleh dengan meninggalkan keinginan”.

Ajaran yang terkandung dalam doktrin tersebut adalah, seseorang dapat mengikuti niskama dharma pada samnyasa (penolakan kenikmatan dunia) dan melaksanakan yoga. Atau seseorang dapat merengkuh niskama dharma pada seorang grhi(orang yang hidup berumah tangga) yang diterapkan oleh Vidura.

Yang tertinggi adalah dharma dalam artian menerapkan sakama dharma dan niskama dharma. Ajaran tersebut merupakan ajaran kepemimpinan dalam Hindu kepada Yudhistira agar menjadi penguasa ideal. Ajaran ini merupakan ajaran yang fundamental bahwa seorang raja diikat oleh dharma. Segala titahnya harus sesuai dengan landasan aturan hukum(dharma)seorang pemimpin harus mengusahakan:

  1. Kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat.
  2. mengamankan negara dari serangan musuh.
  3. menjaga rakyat agar senantiasa menjalankan kewajibannya.
  4. memutuskan dengan hati-hati kebijakan perang atau damai.
  5. mengusahakan bala tentara, polisi dan intelegen yang terlatih dan profesional.

Mahabharata juga mengajarkan bahwa seseorang pemimpin negara wajib melaksanakan ajaran triwarga yang dikendalikan oleh dharma, bukan oleh kama seperti yang dinyatakan oleh Bhimasena. Karena doktrin yang dipegang oleh Bhimasena ialah doktrin kepala keluarga yang ideal.

Mahaguru Bhisma kemudian menyarankan agar seorang pemimpin menghindari sifat-sifat sebagai berikut:

  1. mendapatkan kekayaan dengan kekejaman
  2. keberanian yang membual
  3. berderma kepada orang-orang rakus
  4. mempercayai orang berhati jahat
  5. pemenuhan nafsu seksual yang salah
  6. berpura-pura bersahabat dengan musuh yang kuat, kemudian pada saat yang sama secara rahasia mempersiapkan perang pada saat yang tepat terhadap musuh.

Kepada Yudhistira, Mahaguru Bhisma memberi nasehat nithidharma agar seorang raja:

  1. menolak kemarahan
  2. setia kepada kebenaran
  3. membagi artha dengan tepat
  4. rendah hati
  5. mempunyai anak dari istri sendiri
  6. menjaga kesucian pikiran dan tindakan
  7. tidak melakukan kekerasan
  8. senantiasa hidup sederhana
  9. memperhatikan orang yang lemah.

Nitidharma yang wajib dilaksanakan seorang pemimpin adalah melaksanakan kewajiban tanpa didorong oleh motif pribadi dan tidak mengikatkan diri pada hasil kerja. Bila niskama dharma dilakukan dengan tekun dan intens oleh pemimpin, akan mengantarkannya menuju moksa atau menjandikannya brhamaprapti, Nitidharma sebuah ajaran yang wajib bagi pemimpin, menjaga diri untuk menghindari sifat-sifat terlarang, seperti nasehat Bhisma kepada Yudhistira Sang Dharmaraja. Dan pemimpin menurut kepemimpinan Hindu adalah Dharmaraja.

**dari berbagai sumber

artikel terkait:

  1. Spirit Kepemimpinan dari serat mahabharata
  2. Kepemimpinan dalam Hindu

Bagaimana Mencapai Moksa


Sebenarnya sulit untuk menjelaskan moksha dalam kata-kata, akan tetapi ada penjelasan yang hampir MENDEKATI. Penjelasan yang hampir MENDEKATI ini termuat dalam banyak sekali teks-teks India seperti Yoga Sutra, Yoga Vasistha, Astavakara Gita, dsb-nya, maupun dalam teks-teks kuno warisan leluhur kita seperti lontar Dharma Sunia, lontar Wrhaspati Tattwa, dsb-nya.

Dalam penjelasan yang hampir mendekati, moksha atau mukti atau bebas, adalah moment ketika :

1. DI DALAM.
Keadaan “di dalam” atau kondisi yang muncul di dalam bathin kita :

– Ketenangan dan keseimbangan bathin yang sempurna. Apapun yang terjadi diluar, apapun yang kita hadapi, baik-buruk, salah-benar, bahagia-sengsara, suci-kotor, bathin kita tetap tenang, sejuk dan damai. Bathin yang kokoh dan setenang batu.

– Lenyapnya segala bentuk penilaian. Apapun yang terjadi diluar, apapun yang kita hadapi, baik-buruk, salah-benar, bahagia-sengsara, suci-kotor, bathin kita tanpa penilaian. Tanpa kata-kata, tanpa analisa, tanpa penghakiman, tanpa pembandingan. Hanya melihat semuanya apa adanya. Dalam bahasa yang lebih mudah dimengerti yaitu tidak ada sedikitpun prasangka buruk dan pikiran yang negatif. Bathin yang polos dan seputih kertas.

– Lenyapnya segala bentuk kegelapan bathin. Apapun yang terjadi diluar, apapun yang kita hadapi, baik-buruk, salah-benar, bahagia-sengsara, suci-kotor, tidak ada iri hati, tidak ada kemarahan, tidak ada dendam, tidak ada benci, tidak ada hawa nafsu, tidak ada keinginan, tidak ada keserakahan, tidak ada kesombongan, tidak ada kebingungan, tidak ada rasa jengah atau malu, tidak ada rasa sedih dan tidak ada rasa takut. Bathin yang telanjang dan sehening pohon.

– Lenyapnya rasa ke-aku-an dan identifikasi diri. Tidak ada ini aku, ini milikku, ini rumahku, ini agamaku, ini keluarga-ku, ini kelompok-ku, ini etnisku, ini bangsaku, ini badan fisik-ku, ini pendapatku, ini perasaanku, ini harga diriku, dsb-nya. Bathin yang seluas samudera tak bertepi.

2. KELUAR
Sikap bathin “keluar” atau sikap bathin kita kepada semua orang, semua mahluk dan alam semesta, yang ada hanya welas asih, kebaikan dan penuh pengertian yang tidak terbatas dan tanpa syarat.

Inilah ukuran bagaimana cara kita tahu kalau kita sudah mengalami moksha, dalam penjelasan yang hampir mendekati.

Kalau dalam keseharian kita selalu tekun melaksanakan dharma, sekali-sekali dalam hidup ini sangat mungkin kita bisa “sadar” dan mengalami moment BEBAS ini, walaupun secara sangat sementara.

Mungkin saat saat kita lebur dalam kedalaman meditasi, saat sembahyang di sebuah pura kuno, saat duduk tenang di puncak gunung atau di tengah hutan, atau bahkan mungkin saja bisa terjadi saat kita sedang duduk di depan komputer. Kalau ini terjadi kita bisa langsung menitikkan air mata. Bukan air mata kesedihan atau kebahagiaan. Melainkan seperti pulang ke rumah yang sudah sangat lama kita tinggalkan. Karena kita bersentuhan dengan atman, sadar akan hakikat realitas diri yang sejati yang sudah sangat lama kita lupakan.

Sesungguhnya kita sudah dan selalu bebas, hanya saja kita lupa, kita tidak menyadarinya. Kita lupakan karena kita terbelenggu oleh pikiran dan terbelenggu oleh badan fisik. Ketika belenggu ini lenyap, kita ingat, kita sadar.

Dan sesungguhnya belenggu pikiran dan belenggu badan fisik inipun tidak ada. Belenggu ini seolah ada karena kita tunduk dan terseret arus ahamkara [ke-aku-an]. Dan sesungguhnya ahamkara [ke-aku-an] inipun tidak ada, karena “kamu adalah tat” [tat tvam asi].

Inilah pentingnya dalam keseharian kita selalu tekun melaksanakan dharma. Karena dharma yang sudah dilaksanakan tidak saja adalah pelindung abadi kita dalam roda samsara , juga menjadi gerbang depan untuk memasuki dunia spiritual yang mendalam dan sekaligus [kalau tiba putaran waktunya] sangat mungkin kita bisa “sadar” dan mengalami moment BEBAS ini, walaupun secara sangat sementara. Dimana hal ini dapat membuka wawasan dan memberi kita banyak pemahaman akan tujuan hidup dan hakikat realitas diri yang sejati yang sudah sangat lama kita lupakan.

Itu adalah jawaban dari pertanyaan saudara kita tersebut.

MOKSHA [PEMBEBASAN SEMPURNA] / ATMA JNANA [KESADARAN SEMPURNA]

Bedanya antara kita dengan seorang jivan-mukta [orang yang telah bebas, moksha], kalau kita selalu tekun melaksanakan dharma sehingga sekali-sekali dalam hidup ini sangat mungkin kita bisa “sadar” dan mengalami moment BEBAS secara sangat sementara, sedangkan pada seorang jivan-mukta moment BEBAS ini sifatnya permanen.

Karena itu seorang sadhaka yang serius, selain selalu tekun melaksanakan dharma, dia juga tekun melaksanakan sadhana-nya. Ada yang berkelana naik-turun gunung, ada yang puluhan ribu jam melakukan meditasi, ada yang menjadi pertapa telanjang, ada yang bertahun-tahun melakukan upavasa [puasa] dan mona brata [puasa bicara], dsb-nya, ada banyak sekali metode-nya. Semua itu tujuannya hanya satu, membuat moment BEBAS ini menjadi permanen.

Moksha atau mukti dalam penjelasan tetua kita disebut “suka tan pawali duka”, kondisi bathin yang telah kembali pada kesempurnaan, yang tidak akan pernah kembali lagi pada kegelapan atau kesengsaraan. Ketika moment BEBAS ini menjadi permanen, “suka tan pawali duka”, bathin kita mengalami penyatuan kosmik dengan keseluruhan alam semesta.

Sumber: Rumah Dharma-Hindu Indonesia