Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Monthly Archives: August 2012

Arti Sanggah atau Pemerajan


Disetiap keluarga Hindu sering kita jumpai beberapa pelinggih yang dikelilingi pagar tembok, biasanya letaknya lebih tinggi dan berada pada sisi hulu rumah tinggal. Tempat itu merupakan tempat dilakukan persembahyangan atau upacara bagi keluarga yang bersangkutan. Tempat tersebut dinamakan Sanggah dan didalam sanggah terdapat minimal terdapat:

  1. Kemulan Rong Tiga, sebagai pelinggih Tri Murti/Leluhur.
  2. Linggih Sedahan Pengelurah.
  3. Gedong Linggih Taksu.

Fungsi Sanggah atau Pemerajan:

  1. Sebagai tempat suci untuk memuja: Hyang Widhi dan Leluhur/Kawitan.
  2. Sebagai tempat berkumpul sanak keluarga.
  3. Sebagai tempat kegiatan sosial

 

Pelinggih Rong Tiga


Pelinggih Rong Tiga merupakan Kahyangan Tiga yang berada dalam lingkungan keluarga atau dilingkungan masyarakat terkecil. Maksud dari pembangunan pelinggih Rong Tiga dalam lingkungan keluarga adalah agar kita selalu ingat akan kebesaran Tuhan dalam kaitannya dengan hutang kita yang disebut Tri Rnam.

Tri Rnam terdiri dari:

  1. Kepada Sanghyang Widhi Wasa, sebagai pencipta yang telah memberikan kesehatan dan keselamatan dengan segala kebutuhan hidup.
  2. Hutang kepada leluhur, terumata kepada bapak/ibu yang telah melahirkan,merawat dan membesarkan kita.
  3. Hutang kepada Rsi, yang telah berjasa mengajarkan kepada kita mengenai Agama, Kebudayaan dll

Dengan adanya pelinggih Rong Tiga, baik secara langsung maupun tidak langsung, kita telah diajarkan agar kita selalu melakukan Yadnya yang paling kecil, tujuan Yadnya adalah untuk menanamkan rasa suci dan iman, selain sebagai melebur dosa kita.

Setiap pembangunan pelinggih harus berisi pedagingan dalam tingkatan nista, madya maupun utama yang merupakan lambang kekuatan/kesucian jiwa.

Hal ini tersurat dalam lonta Dewa Tattwa: “Muwah yan ana angwangun Kahyangan, yan nora mapadagingan nista, madya, utama salwir ikang wewangunane maharan astaning Dewa, dudu Kahyangan Dewa, dadi umahing detia kubanda, tan pegatan andang wiadi sang madrawe Kahyangan, sama mangguh kagringan pamati-mati dadi salah ton, kerangsukan ring buta pisaca”.

Terjemahan bebasnya: Jika ada seseorang yang membangun Kahyangan tidak berisi pedangingan nista, madya, utama semua bangunan tersebut bukan stananya Hyang Widhi Wasa, bukan Kahyangan Dewa(Hyang Widhi) tetapi menjadi temoatnya detia kudanda, tidak putus-putusnya menderita yang memiliki Kahyangan itu. Sesuai dengan dengan isi lontar tersebut diatas makan upacara mendem pedangingan merupakan suatu ritual yang bermakna utpati dan stiti agar palinggih tersebut menjadi suci dan berfungsi sebagai lingga Dewa maupun Bhatara sebagai sinar suciNya Hyang Widhi.

Kahyangan Tiga


Kahyangan Tiga yang kita kenal saat ini merupakan hasil keputusan rapat segi tiga(samuan tiga) yang diselenggarakan di Bedulu, Gianyar dibawah pimpinan Mpu Kuturan, dimana dalam keputusan rapat itu diharuskan agar dalam lingkungan masyarakat Desa dibangun Kahyangan Tiga, yang berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja Tri Murthi yaitu: Brahma, Wisnu dan Siwa yang merupakan manifestasi  Hyang Widhi Wasa.

Yang dimaksud dengan Kahyangan Tiga adalah:

  1. Pura Desa, tempat memuja Dewa Brahma(Dewa Pencipta); Pura Desa biasanya dibangun ditengah-tengah Desa dan pada tempat yang baik.
  2. Pura Puseh, tempat memuja Dewa Wisnu(Dewa Pelindung/Pemelihara); Pura Puseh dibangun dengan lokasi yang berdekatan dengan pantai dan pada tempat yang dianggap baik.
  3. Pura Dalem, tempat memuja Dewa Siwa(Dewa Pelebur/Pemralina).; Pura Dalem dibangun dihulun Setra(Pemakaman).

Didalam membangun Pura, Desa Pekraman dan Setra yang merupakan simbol dari Bhuwana Agung diatur berdasarkan Tri Angga yaitu: Utama Angga, Madya Angga dan Nista Angga.

Pada umumnya di Bali, apabila akan membangun suatu perumahan keluarga terlebih dahulu akan diadakan pembuatan denah berdasarkan Tri Mandala, Yaitu:

  1. Utama Mandala, merupakan tempat dibangun Merajan/Sanggah. Biasanya posisinya ada disisi Timur atau Utara dari pekarangan rumah.
  2. Madya Mandala, merupakan tempat dibangun rumah keluarga.
  3. Nista Mandala, merupakan tempat dibangun kandang, terletak dibagian belakang dari pekarangan rumah.

Tujuan didirikannya Pura Kahyangan Tiga adalah agar semua anggota Desa Adat dalam kehidupan sehari-hari selalu mendekatkan diri dengan Ida Hyang Widhi Wasa, dengan melakukan persembahyangan, upacara yadna dll.