Advertisements

Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Tag Archives: budaya

Tajen Dalam Perspektif Homo Esparans dan Homo Ludens


Kenikmatan seseorang matajen, selain terletak pada pemenuhan kebutuhan budaya (hiburan), terkait pula dengan bertaruh (matoh). Bertaruh merupakan aspek paling penting atau bahkan merupakan ideologinya tajen. Artinya, bertaruh tidak sekadar memindahkan uang dari tangan penjudi yang kalah ke yang menang sebagai aspek ikutan dari kalah-menangnya ayam yang berlaga di arena tajen (kalangan), melainkan — meminjam gagasan Terry Eagleton (1991) tentang berbagai pengertian mengenai ideologi — menyangkut pula ide-ide dasar yang dianut oleh sekelompok orang (petajen, bebotoh), baik sebagai pendorong maupun pelegitimasi kemunculan tajen.

Taruhan (-isme) sebagai ideologi tajen tidak turun dari dunia hampa, melainkan terkait dengan hakikat manusia sebagai homo esparans dan homo ludens. Dengan mengacu kepada Edgar Morin (2005) manusia adalah homo complexus. Salah satu dimensi dari kekompleksitasannya adalah sebagai homo esparans, yakni manusia sebagai makhluk yang selalu berharap (Eric Fromm, 1996). Ada dua hal yang selalu diharapkan oleh manusia, seperti dikemukakan Eric Fromm (1987), yakni berharap untuk memiliki dan menjadi. Pada masyarakat yang telah mengenal sistem ekonomi pasar, harapan memiliki dan menjadi terfokus pada memiliki uang guna membeli aneka benda dan sekaligus sebagai penanda menjadi kaya — seseorang disebut kaya adalah banyak memiliki uang.

Dalam rangka memiliki uang atau menjadi kaya manusia harus bekerja sehingga manusia disebut pula homo faber (manusia sebagai pekerja). Namun, kenyataannya manusia tidaklah bekerja secara terus-menerus, melainkan harus pula melakukan hal yang sebaliknya, yakni bermain sehingga manusia disebut pula homo ludens (manusia sebagai pemain). Pendek kata, manusia sebagai homo complexus yang berarti manusia berdimensi kompleks, mencakup dua dimensi penting yakni homo esparans dan homo ludens.

Homo esparans (manusia makhluk selalu berharap) sangat kental pada tajen. Bahkan tajen pada dasarnya tidak hanya sebagai arena untuk menyalurkan hakikat manusia sebagai homo esparans, tetapi sekaligus mempermainan harapan ke arah yang lebih tinggi dalam konteks kepemilikan uang (menjadi kaya). Gejala ini jelas terlihat pada uang yang dipertaruhkan, yakni terikat pada harapan untuk menang sebanyak-banyaknya dalam konteks memiliki uang banyak yang sekaligus berarti menjadi kaya. Harapan ini mengakibatkan penjudi tidak pernah berhenti bermain judi, karena ideolgi yang ada di dalam pikirannya hanya berwujud harapan untuk menang yang lebih banyak lagi melalui taruhan.

Jika penjudi kalah pada hari ini, maka hakikat manusia sebagai homo esparans mendorongnya untuk terus berjudi, dengan pemikiran bahwa masih ada harapan untuk menang pada hari berikutnya. Jadi, orang yang memang bukannya berhenti berjudi, melainkan terus berjudi dengan harapan, melalui taruhan mereka menang sebanyak-banyaknya.

Sebaliknya, penjudi yang kalah, bahkan bisa berlanjut dengan menjual barang-barang berharga — bandingkan dengan kisah Mahabharata, bukannya kapok berjudi, melainkan terus berjudi dengan harapan bisa menebus kekalahannya lewat taruhan.

Permainan harapan tidak terlepas dari hakikat manusia sebagai homo ludens. Sebab, di balik permainan harapan untuk menang dalam konteks memiliki uang dan menjadi kaya, ada aspek permainan dalam tajen, yakni ayam yang bertarung. Ayam yang berlaga tidak sekadar adu binatang, tetapi merepresentasikan diri atau ego si petajen.

Begitu pula pada saat orang bertaruh tampak tingkah laku para penjudi berbentuk ujaran dan bahasa tubuh yang tidak kalah menariknya untuk dinikmati. Permaian mencapai klimaks pada saat ayam bertarung dengan seru, lalu menurun, bahkan mereda ketika ayam yang satu kalah (tumbang). Sebaliknya, ayam lainnya menang, yang sekaligus berarti diikuti oleh perpindahan uang dari tangan penjudi yang kalah ke yang memang. Kesemuanya ini menampilkan suatu permainan yang sangat mengasyikkan sekaligus berarti memberikan kenikmatan bermain yang luar biasa dalam konteks homo ludens dan homo esparans.

Oleh: Nengah Bawa Atmadja, Diterbitkan oleh: Bali Post

Advertisements

Tips Memilih Pekarangan Rumah


Ajaran agama Hindu dengan konsep alam semestanya senantiasa menekankan betapa perlu dan pentingnya diciptakan suatu kondisi harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan lingkungannya. Kondisi harmonis itulah yang akan mengantarkan umat Hindu untuk mencapai tujuan Hidupnya yaitu Jagadhita dan Moksha. Untuk itulah pemilihan sebuah pekarangan untuk dibangun rumah/tempat tinggal(palemahan/pekarangan) hendaknya memperhatikan hal-hal yang diyakini akan turut berperan menciptakan kondisi yang harmonis.

Didalam Lontar Ira Bhagawan Wiswakarma disebutkan tentang pekarangan atau tanah yang baik dan yang perlu dihindari untuk dibangun baik sebagai perumahan, perkantoran, sekolah, tempat suci dan lain-lain. Pekarangan yang baik menurut lontar tersebut antara lain:

  1. Ditimur: (pascima) manemu labha(penghuninya akan mendapatkan keberutungan).
  2. Diutara: paribhoga werdhi(sejahtera dan bahagia)
  3. Palemahan asah: sedang-sedang saja.
  4. Palemahan inang: ceria dan asri serta berisi manik,
  5. Palemahan mambu: sihin(dikasihani sabahat).

Sedangkan pekarangan yang harus dihindari atau dalam bahasa Bali sering disebut dengan “Karang Panes” biasanya ditandai dengan adanya kejadian/musibah yang menimpa anggota keluarga, misal: sering sakit, marah-marah tidak karuan, mengalami kebingungan(linglung), mudah bertengkar dan lain-lain.

Karang Panes atau pekarangan yang tidak baik untuk dijadikan tempat tinggal, antara lain:

  1. Karang Karubuhan, pekarangan yang berhadap-hadapan atau berpapasan dengan perempatan atau pertigaan atau persimpangan jalan.
  2. Karang Sandanglawe, pekarangan yang pintu masuknya berpapasan dengan pekarangan milik orang lain.
  3. Karang Kuta Kabanda, pekarangan yang diapit oleh 2(dua) ruas jalan.
  4. Karang Sula Nyupi, pekarangan yang berpapasan dengan jalan raya atau numbak marga atau numbak rurung.
  5. Karang Gerah, pekarangan yang terletak dihulu Pura/Parahyangan.
  6. Karang Tenget, pekarangan bekas pekuburan, bekas pura atau bekas pertapaan.
  7. Karang Buta Salah Wetu, pekarangan dimana pernah terjadi kejadian aneh misal: kelahiran babi berkepala gajah, pohon kelapa bercabang, pisang berbuah melalui batangnya. dll
  8. Karang Boros Wong, pekarangan yang memiliki 2(dua) pintu masuk sama tinggi dan sejajar.
  9. Suduk Angga, pekarangan yang dibatasi oleh pagar hidup(tanaman) dimana akar-akarnya atau tunasnya masuk ke pekarangan orang lain.

Setiap pekarangan apapun kondisinya bisa saja digunakan sebagai tempat tinggal, namun hendaknya berkonsultasi dengan orang yang paham mengenai pekarangan yang baik. Bagaimanapun pekarangan rumah harus senantiasa harmonis secara sekala dan niskala demi tercapainya kebahagiaan hidup bagi seluruh anggota keluarga. Lakukan upacara pecaruan terhadap karang panes untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dan ini hal yang wajar bagi kita umat Hindu untuk senantiasa menjaga kerharmonisan dengan konsep Tri Hita Karana.

Omed-omedan,Tradisi vs Porno Aksi ?


Siapa yang tidak tau omed-omedan atau med-medan? tradisi sakral dari Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar ini rutin diadakan sehari setelah perayaan Hari Raya Nyepi. Banyak awak media baik lokal maupun asing meliput tradisi turun temurun, tidak ayal Tradisi Unik ini terkenal seantero jagat, banyak media yang memberikan sisi culture/budayanya tapi tidak sedikit media yang lebih menampilkan sisi adegan yang dilakukan dalam tradisi omed-omedan.

Ada yang berkomentar positif tidak sedikit pula yang berkomentar buruk. Setiap orang memang berhak untuk menilai tradisi budaya, ingat tradisi budaya, bukan agama. Dilihat dari sudut budaya, Omed-omedan tidak lebih dari sebuah ritual sakral yang dilakukan secara turun temurun namun dilihat dari sisi pornografi adegan ciuman dalam omed-omedan tidak pantas dilakukan. Terlepas pantas atau tidak pantas saya berpendapat omedan-omedan adalah sebuah warisan tradisi leluhur warga Banjar Kaja, Sesetan yang memang harus dipertahankan. Tradisi Omed-omedan tidak dilakukan oleh semua usia, hanya yang berusia diatas 17 tahun dan masih lajang yang diperbolehkan menjadi pesertanya. Ritual ini juga tidak bertujuan untuk having fun, ada persembahyangan yang dilakukan sebelum melakukan “tarik-menarik” secara beramai-ramai ini.
Omed-omedan adalah Tradisi budaya yang hanya diselenggarakan di Banjar Kaja Sesetan, Denpasar. Konon ritual ini dilakukan untuk mencegah wabah penyakit yang pernah menimpa seluruh warga banjar dulu kala.

Ada banyak pertanyaan mengenai tradisi omed-omedan, pada sebuah media lokal kelian banjar kaja sesetan memberikan penjelasan mengenai tradisi budaya ini.

Penjelasan Mengenai Tradisi ”Med-medan”

  1. Masyarakat Banjar Kaja Sesetan melakukan tradisi omed-omedan/med-medan ini demi mencapai kenyamanannya dalam menapak kehidupan yang lebih harmonis, setidaknya pada tatanan keluarga, banjar, dan desa. Tradisi ini dilakukan sehari setelah Nyepi (Ngembak Geni). Kalau toh orang luar ikut berperan serta, itu ada aturan prosesi yang harus diikuti karena kegiatan ini mengandung nilai spiritual magis, dan hanya bisa dirasakan oleh pelakunya.
  2. Med-medan dilakukan bukan secara paksa. Pelakunya semua merasakan itu adalah kewajiban yang harus dilakukan dan prosesinya harus melakukan persembahyangan bersama terlebih dulu.
  3. Pandangan kami terhadap tradisi itu adalah yang di Bali disebut dresta, yang juga berupa aturan di masyarakat Desa Sesetan yang disebut dengan Catur Dresta: Purwa Dresta (aturan-aturan masa permulaan), Desa Dresta (aturan menurut keadaan desa setempat), Sastra Dresta (aturan menurut ajaran yang tersebut di dalam kitab), Loka Dresta (aturan menurut keadaan zaman). Alasan lainnya, konsekuensi praktis dari agama sejati adalah kehidupan yang diabadikan untuk memenuhi kehendak Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang terimplementasi pada ajaran Catur Guru.
  4. Mengenai warga negara asing (Taiwan, bukan Jepang) yang ikut dalam prosesi, dia itu adalah seorang artis. Memang dia sendirilah yang memohon supaya diizinkan untuk ikut dan dia mau mengikuti sesuai dengan aturan prosesinya.
  5. Mengenai tujuan komersial buat turis-turis asing, sampai saat ini dari pihak-pihak penyelenggara praktik ke arah itu tidak ada. Kegiatan itu merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh warga Teruna-Teruni Satya Dharma Kerti, Banjar Kaja, Desa Sesetan, untuk menangkal hal-hal negatif yang mungkin akan bisa menimpa warganya bila prosesi itu tidak dilaksanakan.
  6. Mengenai tidak diperbolehkannya melakukan adegan seperti itu menurut ajaran agama, kami lebih tepat tidak berkomentar. Alasannya, kita hidup dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang Bhineka Tunggal Ika yang berbeda-beda agama dan suku. Sedangkan dalam satu agama pun tumbuh perbedaan penafsiran. Kami harapkan hal ini bisa dimaklumi.
  7. Tradisi ini sudah diangkat dan dikaji dalam sebuah tesis oleh I Made Munggah, 2007, pada Program Studi Magister (S2) Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Udayana, telah diuji dan disetujui selanjutnya mendapat pengesahan sesuai dengan tata tertib sebuah karya ilmiah.
  8. Mengenai kesucian hari Nyepi, pada hari penyepian, warga kami, sebagaimana umat Hindu lainnya juga melaksanakan Catur Brata Penyepian (empat pengendalian diri pada saat Nyepi): amati karya (tidak melakukan pekerjaan), amati geni (tidak menyalakan api), amati lelanguan (tidak bersenang-senang), amati lelungan (tidak melakukan perjalanan).

Pakula Warga Sesetan
Bendesa Desa Pakraman Sesetan,
Ir. I Wayan Megananda, Ms.Ars.
Klian Adat Banjar Kaja Sesetan,
I Wayan Sunarya
Kepala Lingkungan Banjar Kaja Sesetan,
I Gede Semara, S.E.

Selanjutnya, apa yang anda pikirkan dengan tradisi warisan leluhur ini? terserah anda. faktanya tradisi sakral ini tidak berakibat meningkatnya tindakan kejahatan di Bali. semua kembali kepada pikiran kita masing-masing. santhi (–peace)

Artikel lainnya:

  1. Mengenal Tradisi Mekotek
  2. Tradisi Upacara Neteg Pulu
  3. Tradisi Perang Tipat Desa Yeh Apit, Karangasem
  4. Tradisi Lukat Geni Desa Sampalan
  5. Tradisi Megoak-goakan Desa Panji
  6. Tradisi Nikah Massal Desa Pekraman Pengotan Bangli
  7. Tradisi Masuryak Desa Bongan
%d bloggers like this: