Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Melenyapkan Penghalang Karma (Karma Avarana)


Hambatan, rintangan, kerumitan, serta kegagalan dalam segala bidang dan aspek kehidupan kita [duniawi, materi, spiritual, dsb-nya] semata disebabkan oleh akumulasi karma kita sendiri. Ini disebut karma avarana [penghalang karma].

Sehingga, terutama bagi mereka yang punya keinginan untuk dapat mengalami kemajuan dan perubahan berarti, penghalang yang pertama kali harus diselesaikan adalah penghalang karma. Jalan keluarnya adalah dengan melakukan kedua hal ini, yang disebut : samvara [penghentian karma] dan nirjara [penghapusan karma].

Samvara [penghentian karma]

Untuk orang biasa ini bisa dilakukan dengan :

  1. AHIMSA, berhenti menyakiti. Orang yang sadar akan hakikat hukum karma, akan berupaya “memotong” sebab utama yang menjadi sumber karma buruk yaitu MENYAKITI. Memang sangat sulit dalam hidup ini kita bisa 100% tidak menyakiti, tapi kita juga harus berusaha sebisa mungkin untuk tidak menyakiti. Baik melalui pikiran, perkataan dan perbuatan. Kita bisa banyak-banyak menguranginya dengan kesadaran sepanjang waktu, tekad kuat dan disiplin untuk merubah diri untuk berhenti menyakiti. Termasuk tidak balas menyakiti ketika kita disakiti.
  2. Menjadi seorang KARMA-GYANI [orang yang mengalir dengan karma-nya]. Apapun yang terjadi dalam kehidupan, seorang karma gyani berani mengatakan ke diri sendiri : ini karma saya dan saya akan menyatu dengan karma saya ini. Semuanya dijalanin saja. Termasuk ketika dia disakiti, dihina, ditipu, ketemu orang jahat, ketemu orang yang memperlakukan dengan tidak baik, sakit keras, dll, dia berkata ke diri sendiri : saya sedang membayar hutang karma. Dan bagi dia tidak usah menciptakan karma buruk yang baru dengan cara marah-marah atau protes. Dengan kata lain “memotong” sebab yang menjadi sumber utama karma buruk yaitu MENYAKITI.
  3. Menjadi seorang yang PREMA-HRDAYA [berhati penuh welas asih]. Sering menolong, memberi dan berbagi kepada mahluk lain. Sering membuat orang lain merasa lebih bahagia atau senang. Dengan kata lain banyak-banyak melakukan kebaikan. Karena karma baik akan sangat membantu meringankan beban karma buruk kita.

Sedangkan bagi yogi yang serius punya dua tugas tambahan, yaitu :

  1. INDRIYA-PRATYAHARA, yaitu melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu dan bersikap upeksha [tenang-seimbang] saat berhadapan dengan obyek-obyek yang merangsang indriya-indriya, seperti : makanan enak, seksualitas, dsb-nya. Maupun sebaliknya, melatih diri untuk bersikap upeksha [tenang-seimbang] saat berhadapan dengan obyek-obyek yang mengganggu indriya-indriya, seperti : bau busuk, makanan tidak enak, pemandangan yang menjijikkan, dsb-nya.
  2. Memurnikan SAMSKARA [kesan-kesan pikiran] melalui praktek meditasi yang rutin.

Nirjara [penghapusan karma]

Sesungguhnya ini adalah ajaran yang pingit, tenget [sakral], sangat rahasia. Tidak boleh diajarkan kepada umum, diajarkan hanya turun-temurun dari guru ke murid, itupun hanya boleh kepada murid-murid yang sudah siap. Sehingga bagian ajaran ini mungkin tidak banyak diketahui oleh umum.

Kita sesungguhnya kita bisa melakukan penghapusan karma melalui metode-metode nirjara. Dengan catatan bahwa nirjara [penghapusan karma] tidak akan bekerja efektif tanpa didahului dengan samvara [penghentian karma] sebagai pondasi dasar. Artinya kita harus melaksanakan samvara terlebih dahulu, baru memasuki nirjara.

Ada tiga macam metode untuk penghapusan karma, yaitu :

  1. Dengan melukat di pura pathirtan atau beji [mata air suci] yang energi airnya sangat bagus, yang secara spiritual tempat suci tersebut sangat kaya [ada sekian tingkatan alam malinggih disana, mulai dari alam-alam bawah sampai dengan alam kamoksan], serta [ini bagian yang paling pingit, tenget] di pura beji atau pathirtan tersebut ada dresta [mewajibkan] untuk melukat disana tanpa busana sehelai benangpun. Dresta yang pingit, tenget, ini dapat dipastikan datang langsung dari Ida Btara-Btari. Sebabnya di tempat seperti itu ada energi-energi pembersihan yang hidup [aktif], yang jalan masuknya melalui seluruh lapisan kulit, lalu terserap ke dalam 11 unsur yang terikat karma di dalam diri kita, yaitu panca jnana indriya [lima indra perasa : kulit, kuping, mata, lidah, hidung], panca karma indriya [lima indra tindakan : kaki, tangan, organ suara, kelamin, anus] dan manas [pikiran]. Perlu diingat : sepanjang perjalanan spiritual rumah dharma, satu pura pathirtan atau beji seperti ini adalah di Pura Telaga Waja, Br. Kapitu, Desa Kenderan, Tegalalang. Dengan catatan ini adalah pengetahuan meditatif admin rumah dharma, boleh setuju dan boleh tidak. Dan menurut petunjuk ida btara yang malingga disana kepada kakak pesraman admin rumah dharma, melukatlah di semua pancoran yang ada [11 pancoran]. Mulai dari kelompok selatan, melukat dari pancoran paling utara ke selatan. Lalu lanjut ke kelompok utara dan juga melukat dari pancoran paling utara ke selatan. Lakukan sebanyak 11 kesempatan [11 rahina atau hari baik, seperti pada purnama, tilem, kajeng kliwon, dsb-nya] untuk memperoleh hasil pembersihan.
  2. Dengan rajin dan rutin men-japakan atau memeditasikan mantra-mantra penghapusan karma. Seperti misalnya mantra “Om Makaral Shiwa Ya Namah”. Pada jaman dahulu mantra-mantra seperti ini bersifat rahasia. Akan tetapi karena jaman sekarang ada yang sudah membuka, maka penulis juga berani menuliskannya.
  3. Dengan mempraktekkan metode-metode meditasi atau yoga tertentu. Tapi metode meditasi dan yoga seperti ini tidak bisa dipaparkan dalam sebuah tulisan. Selain bahasannya panjang, juga ada hal-hal yang spesifik dan otentik. Jadi untuk mengetahuinya kita harus belajar langsung dari guru.

Dengan tekun dan rutin melakukan salah satu atau sekaligus ketiga metode nirjara diatas, kita akan dapat mengalami percepatan penghapusan karma, sekaligus melapangkan dan membuka banyak jalan bagi kita dalam segala bidang dan aspek kehidupan kita [duniawi, materi, spiritual, dsb-nya].

Ini adalah pengetahuan penting sebagai bekal atau sebagai titik berangkat bagi kita untuk dapat menempuh kehidupan yang baik dan terang, serta mengalami pencerahan. Tapi ini adalah pengetahuan yang pingit, tenget [sakral], sehingga sikapi dan gunakanlah pengetahuan ini secara bijaksana.

Sumber: Rumah Dharma-Hindu Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: