Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Tag Archives: bali

Tips Memilih Pekarangan Rumah


Ajaran agama Hindu dengan konsep alam semestanya senantiasa menekankan betapa perlu dan pentingnya diciptakan suatu kondisi harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan lingkungannya. Kondisi harmonis itulah yang akan mengantarkan umat Hindu untuk mencapai tujuan Hidupnya yaitu Jagadhita dan Moksha. Untuk itulah pemilihan sebuah pekarangan untuk dibangun rumah/tempat tinggal(palemahan/pekarangan) hendaknya memperhatikan hal-hal yang diyakini akan turut berperan menciptakan kondisi yang harmonis.

Didalam Lontar Ira Bhagawan Wiswakarma disebutkan tentang pekarangan atau tanah yang baik dan yang perlu dihindari untuk dibangun baik sebagai perumahan, perkantoran, sekolah, tempat suci dan lain-lain. Pekarangan yang baik menurut lontar tersebut antara lain:

  1. Ditimur: (pascima) manemu labha(penghuninya akan mendapatkan keberutungan).
  2. Diutara: paribhoga werdhi(sejahtera dan bahagia)
  3. Palemahan asah: sedang-sedang saja.
  4. Palemahan inang: ceria dan asri serta berisi manik,
  5. Palemahan mambu: sihin(dikasihani sabahat).

Sedangkan pekarangan yang harus dihindari atau dalam bahasa Bali sering disebut dengan “Karang Panes” biasanya ditandai dengan adanya kejadian/musibah yang menimpa anggota keluarga, misal: sering sakit, marah-marah tidak karuan, mengalami kebingungan(linglung), mudah bertengkar dan lain-lain.

Karang Panes atau pekarangan yang tidak baik untuk dijadikan tempat tinggal, antara lain:

  1. Karang Karubuhan, pekarangan yang berhadap-hadapan atau berpapasan dengan perempatan atau pertigaan atau persimpangan jalan.
  2. Karang Sandanglawe, pekarangan yang pintu masuknya berpapasan dengan pekarangan milik orang lain.
  3. Karang Kuta Kabanda, pekarangan yang diapit oleh 2(dua) ruas jalan.
  4. Karang Sula Nyupi, pekarangan yang berpapasan dengan jalan raya atau numbak marga atau numbak rurung.
  5. Karang Gerah, pekarangan yang terletak dihulu Pura/Parahyangan.
  6. Karang Tenget, pekarangan bekas pekuburan, bekas pura atau bekas pertapaan.
  7. Karang Buta Salah Wetu, pekarangan dimana pernah terjadi kejadian aneh misal: kelahiran babi berkepala gajah, pohon kelapa bercabang, pisang berbuah melalui batangnya. dll
  8. Karang Boros Wong, pekarangan yang memiliki 2(dua) pintu masuk sama tinggi dan sejajar.
  9. Suduk Angga, pekarangan yang dibatasi oleh pagar hidup(tanaman) dimana akar-akarnya atau tunasnya masuk ke pekarangan orang lain.

Setiap pekarangan apapun kondisinya bisa saja digunakan sebagai tempat tinggal, namun hendaknya berkonsultasi dengan orang yang paham mengenai pekarangan yang baik. Bagaimanapun pekarangan rumah harus senantiasa harmonis secara sekala dan niskala demi tercapainya kebahagiaan hidup bagi seluruh anggota keluarga. Lakukan upacara pecaruan terhadap karang panes untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dan ini hal yang wajar bagi kita umat Hindu untuk senantiasa menjaga kerharmonisan dengan konsep Tri Hita Karana.

Tuhan Pada Sebatang Pohon


Ketika umat Hindu melaksanakan ritual di bawah pohon, apa pandangan kita mengenai hal ini. Dan ketika kita melihat sebuah pelinggih atau altar di bawah pohon. Berbagai pernyataan akan muncul. Namun banyak pula yang memiliki anggapan bahwa pemujaan atau persembahyangan yang dilakukan di bawah pohon adalah suatu bentuk kepercayaan kuno, primitif, tidak memiliki pengetahuan bahkan tidak mengetahui Tuhan yang sejati, memuja roh-roh jahat yang menghuni. Adalah lebih baik jika pemujaan tersebut dilakukan diruangan tertutup dan bangunan yang berkubah atau tertutup. Namun tidak demikian menurut Vaidika Dharma.

Dalam ajaran Hindu, pemujaan atau persembah-yangan yang dilakukan d itempat terbuka lebih baik, karena menyatukan hubungan dengan alam sekitar yang merupakan satu-kesatuan. Begitu juga pemujaan di bawah pohon memiliki makna harmonisasi dengan alam dan penghormatan kepada ciptaan Tuhan yang meliputi segalanya. Vaidika Dharma atau Hinduisme memerlukan sebuah pohon untuk melengkapi suatu sarana sesaji dalam pemujaan. Ada beberapa pohon yang dianggap suci menurut Hinduisme seperti, pippala atau kalpavrksa (beringin), tulasi dan bilwa. Pohon tidak lebih dari tempat-tempat alam lainnya. Penghormatan Veda terhadap pohon adalah dengan memperhatikan beberapa hal. Pohon adalah makhluk hidup, maksudnya memiliki atma atau jiwa. Pohon adalah suatu pribadi yang memberikan arti penting dan memberikan kehidupan bagi makhluk lainnya, apalagi semakin besar pohon tersebut maka semakin banyak makhluk yang tidak dapat dilihat oleh mata jasmani berdiam di sana. Pohon juga sebagai simbolisasi, dia dapat mengingatkan kita pada Tuhan penguasa sejati seluruh alam semesta ini.

 

Pohon adalah salah satu elemen alam. Tidak ada satu tempatpun di seluruh manifestasi kosmis ini yang tidak diresapi oleh kehadiran Tuhan. Tuhan sebagai Paramatma bahkan berada di dalam atom-atom kecil. Jadi tidak salah bila umat Hindu atau seseorang melakukan pemujaan atau persembahyangan di hadapan pohon, mereka merasa kedekatan dengan alam justru menemukan kehadiran Tuhan. Dalam pemahaman ini apa bedanya sebatang pohon dengan dinding beton? tentu tidak ada. Ini hanyalah suatu tempat bagaimana kita bisa mencurahkan rasa bhakti kita terhadap Tuhan. Bila kita ke Bali, India, Jawa, Kamboja, Thailand dan Nepal yang masih memegang tradisi Veda Dharma, kita akan melihat suatu bangunan pelinggih atau altar-altar kecil di bawah pohon-pohon besar. Orang awam memiliki pandangan bahwa pohon tersebut adalah angker dan ada hantunya maka itu harus diberi sesaji. Tetapi sesungguhnya ada banyak bentuk kehidupan yang berdiam di sebuah pohon tersebut. Pada jaman dahulu apabila orang membuat desa, biasanya merabas hutan. Pohon beringin besar disisakan atau sengaja ditanam di tengah-tengah desa. Desa-desa di India dan setahu saya di Bali juga memiliki pola yang sama. Lalu pohon beringin ini menjadi pusat desa, selain Pura. Disana penduduk memberikan sesaji atau persembahan makanan. Mengapa seperti ini? Kita yakin bahwa begitu banyak makhluk-makhluk yang berdiam di sana dan untuk menjaga keharmonisan dan keseimbangan maka hal tersebut dilakukan. Begitu juga ketika kita memakai sebagai sarana sesaji atau banten seperti pemakaian pada banten saraswati dan pada waktu upacara atmavedana. Ketika kita menebang untuk keperluan tersebut dengan memperhatikan efeknya pada lingkungan baik sekala dan niskala.

Dalam Veda ada penghormatan terhadap pohon-pohon seperti halnya pohon kalpavrksa, yang biasa dilakukan oleh umat Hindu alukta, memberikan suatu persembahan di bawah pohon. Juga bahwa pohon kalpavrksa adalah suatu pohon yang berasal dari surganya para dewa yang dianggap memberikan keberuntungan. Lalu pohon bilwa yang merupakan tumbuhan yang sangat disukai oleh Dewa Siva sehingga dalam pemujaan archanam, tumbuhan bilwa sangat penting untuk upacara abhiseka dan prana pratistha archa Siva. Begitu juga dengan pohon Tulasi yang dipuja oleh para Vaishnava yang merupakan manifestasi dari Vrinda Devi. Tulasi salah satu tumbuhan yang disayangi oleh Tuhan Narayana. Setiap bagian tumbuhan ini diperlukan dalam segala bentuk pemujaan kepada Sriman Narayana. Daunnya dan bunganya digunakan sebagai garlan atau untaian yang dipersembahkan kepada Tuhan. Kayunya ada dalam kapas tercelup minyak yang digunakan untuk persembahan pelita atau dipam kepada Tuhan Narayana. Selain itu bila digiling menjadi pasta, dapat digunakan sebagai penyejuk yang dipersembahkan juga pada proses archanam. Dalam upacara homa atau agni hotra menggunakan kayu tulasi bahkan dalam upacara kematian juga digunakan, dipercaya sang atma dapat mencapai pembebasan dan berada di Vaikuntha Loka. Setiap yajna dan puja tidak akan sempurna tanpa kehadirannya. Tulasi menyatakan ideal seorang bhakta yang mencintai Tuhan dengan segenap raganya. Setiap bagian dari pohon Tulasi adalah persembahan pada Tuhan. Mungkinkah kita mendapatkan teladan lain sebaik pohon Tulasi dalam memuja Tuhan? Bahkan hanya dengan melihat dan berada didekatnya maka segera diingatkan akan Tuhan pujaannya. Karena itulah setiap keluarga umat Hindu tradisional biasanya dapat ditemukannya pohon suci Tulasi tersebut dan memujanya setiap hari. Tulasi juga disebut sebagai Tandiya. Istilah ini digunakan untuk menyatakan segala benda yang berhubungan dengan Tuhan.Semua tradisi bhakti dalam Hindu menyatakan bahwa Tandiya harus dipuja, karena pemujaan tersebut akan menganugerahkan bhakti yang semakin dalam kepada Tuhan. Oleh karena itu kita mengenal alat-alat yang digunakan untuk melakukan pemujaan seperti, kumbhan, vattil, vastram, genta, tripada, dan sebagainya. Karena itu alat-alat tersebut memiliki hubungan terhadap kehadiran Tuhan di suatu pemujaan. Pohon juga merupakan simbolisasi Tuhan, bahkan citra Tuhan sendiri. Citra Tuhan dapat diwujudkan dengan salagram sila, lekhya (yantra mandala), juga sebagai Daru Brahman. Tuhan dalam kayu disebutkan dalam upanishad “adau yaddaro plavate sindho pare apaurusam tada ravasva durdano tena yahi parasparam”, citra Tuhan ini, adalah kebenaran mutlak dalam sebatang kayu, yang tiada berbentuk oleh tangan makhluk fana, mengapung di atas samudra. Dengan memuja-Nya, kediaman tertinggi dan kesempurnaan yang paling akhir dicapai. Kebenaran mutlak dalam sebatang kayu ini dijelaskan didalam purana dan itihasa sebagai Daru Brahman, yang kita yakini dipuja di Jaganatha Puri Orissa, India Timur. Daru Brahman hadir dalam tiga wujud yang dikenal sebagi Jaganatha, Balabadra dan Subhadra. Para Vedanti memahaminya sebagai pengejawantahan Ananda (kebahagiaan), Cit (kesadaran tertinggi) dan Sat ( Kenyataan Tertinggi atau kekekalan) mereka adalah Trimurti Hindu, Vishnu, Rudra dan Brahma, sekaligus sebagai Adi-Parashakti. Para Tantrika memuja-Nya sebagai Adi Bhairava, Uttara Sadhaka dan Uttara Sadhika. Bagi Vaishnava dinyatakan sebagai Paravasudeva dengan berbagai shaktinya. Bagi Jaina sebagai Sang Jinam,dan bagi Buddhisme Vjrayana adalah Tri Ratna, sebagai yang tercantum dalam jnanasiddhi dari Indrabuthi tantra. Para Adivasi (orang pribumi) memujanya sebagai pohon jagant-kitung atau ada pula yang menyebutnya dengan nama Jakeri Penu, Murabi Penu dan Murabi Penu, dalam wujud pilar kayu. Orang Hindu jawa menyebut pohon Kalpa Vraksa sebagai ringin yang dianggap sebagi pohon yang memberikan keberuntungan dan menjaga desa mereka dan orang Hindu Alukta mengatakan bahwa pohon tertentu sebagai stana dari Puang Matua atau Dewata—Tuhan Yang Maha Esa.Persembahyangan di pohon memang ada dalam Hindu dan ini bukan keyakinan primitiv atau kuno bahkan kesesatan yang menjauhkan dari Tuhan Sejati. Umat Hindu dilatih dan diajarkan melihat kehadiran Tuhan yang universal, yang berada dimana-mana. Kita diajarkan untuk menghormati ciptaan Tuhan dan menggunakan kekuatan alam untuk kebaikan semua makhluk. Bahkan Tuhan telah mewujudkan Diri-Nya sebagai Daru Brahman, kebenaran mutlak pada sebatang kayu. Yang oleh cinta kasih-Nya kepada segenap ciptaan-Nya, terutama bagi mereka yang juga menyayangi ciptaan-Nya.

Artikel: By Halfian (Mahasiswa STAH DN Jakarta)

Omed-omedan,Tradisi vs Porno Aksi ?


Siapa yang tidak tau omed-omedan atau med-medan? tradisi sakral dari Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar ini rutin diadakan sehari setelah perayaan Hari Raya Nyepi. Banyak awak media baik lokal maupun asing meliput tradisi turun temurun, tidak ayal Tradisi Unik ini terkenal seantero jagat, banyak media yang memberikan sisi culture/budayanya tapi tidak sedikit media yang lebih menampilkan sisi adegan yang dilakukan dalam tradisi omed-omedan.

Ada yang berkomentar positif tidak sedikit pula yang berkomentar buruk. Setiap orang memang berhak untuk menilai tradisi budaya, ingat tradisi budaya, bukan agama. Dilihat dari sudut budaya, Omed-omedan tidak lebih dari sebuah ritual sakral yang dilakukan secara turun temurun namun dilihat dari sisi pornografi adegan ciuman dalam omed-omedan tidak pantas dilakukan. Terlepas pantas atau tidak pantas saya berpendapat omedan-omedan adalah sebuah warisan tradisi leluhur warga Banjar Kaja, Sesetan yang memang harus dipertahankan. Tradisi Omed-omedan tidak dilakukan oleh semua usia, hanya yang berusia diatas 17 tahun dan masih lajang yang diperbolehkan menjadi pesertanya. Ritual ini juga tidak bertujuan untuk having fun, ada persembahyangan yang dilakukan sebelum melakukan “tarik-menarik” secara beramai-ramai ini.
Omed-omedan adalah Tradisi budaya yang hanya diselenggarakan di Banjar Kaja Sesetan, Denpasar. Konon ritual ini dilakukan untuk mencegah wabah penyakit yang pernah menimpa seluruh warga banjar dulu kala.

Ada banyak pertanyaan mengenai tradisi omed-omedan, pada sebuah media lokal kelian banjar kaja sesetan memberikan penjelasan mengenai tradisi budaya ini.

Penjelasan Mengenai Tradisi ”Med-medan”

  1. Masyarakat Banjar Kaja Sesetan melakukan tradisi omed-omedan/med-medan ini demi mencapai kenyamanannya dalam menapak kehidupan yang lebih harmonis, setidaknya pada tatanan keluarga, banjar, dan desa. Tradisi ini dilakukan sehari setelah Nyepi (Ngembak Geni). Kalau toh orang luar ikut berperan serta, itu ada aturan prosesi yang harus diikuti karena kegiatan ini mengandung nilai spiritual magis, dan hanya bisa dirasakan oleh pelakunya.
  2. Med-medan dilakukan bukan secara paksa. Pelakunya semua merasakan itu adalah kewajiban yang harus dilakukan dan prosesinya harus melakukan persembahyangan bersama terlebih dulu.
  3. Pandangan kami terhadap tradisi itu adalah yang di Bali disebut dresta, yang juga berupa aturan di masyarakat Desa Sesetan yang disebut dengan Catur Dresta: Purwa Dresta (aturan-aturan masa permulaan), Desa Dresta (aturan menurut keadaan desa setempat), Sastra Dresta (aturan menurut ajaran yang tersebut di dalam kitab), Loka Dresta (aturan menurut keadaan zaman). Alasan lainnya, konsekuensi praktis dari agama sejati adalah kehidupan yang diabadikan untuk memenuhi kehendak Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang terimplementasi pada ajaran Catur Guru.
  4. Mengenai warga negara asing (Taiwan, bukan Jepang) yang ikut dalam prosesi, dia itu adalah seorang artis. Memang dia sendirilah yang memohon supaya diizinkan untuk ikut dan dia mau mengikuti sesuai dengan aturan prosesinya.
  5. Mengenai tujuan komersial buat turis-turis asing, sampai saat ini dari pihak-pihak penyelenggara praktik ke arah itu tidak ada. Kegiatan itu merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh warga Teruna-Teruni Satya Dharma Kerti, Banjar Kaja, Desa Sesetan, untuk menangkal hal-hal negatif yang mungkin akan bisa menimpa warganya bila prosesi itu tidak dilaksanakan.
  6. Mengenai tidak diperbolehkannya melakukan adegan seperti itu menurut ajaran agama, kami lebih tepat tidak berkomentar. Alasannya, kita hidup dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang Bhineka Tunggal Ika yang berbeda-beda agama dan suku. Sedangkan dalam satu agama pun tumbuh perbedaan penafsiran. Kami harapkan hal ini bisa dimaklumi.
  7. Tradisi ini sudah diangkat dan dikaji dalam sebuah tesis oleh I Made Munggah, 2007, pada Program Studi Magister (S2) Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Udayana, telah diuji dan disetujui selanjutnya mendapat pengesahan sesuai dengan tata tertib sebuah karya ilmiah.
  8. Mengenai kesucian hari Nyepi, pada hari penyepian, warga kami, sebagaimana umat Hindu lainnya juga melaksanakan Catur Brata Penyepian (empat pengendalian diri pada saat Nyepi): amati karya (tidak melakukan pekerjaan), amati geni (tidak menyalakan api), amati lelanguan (tidak bersenang-senang), amati lelungan (tidak melakukan perjalanan).

Pakula Warga Sesetan
Bendesa Desa Pakraman Sesetan,
Ir. I Wayan Megananda, Ms.Ars.
Klian Adat Banjar Kaja Sesetan,
I Wayan Sunarya
Kepala Lingkungan Banjar Kaja Sesetan,
I Gede Semara, S.E.

Selanjutnya, apa yang anda pikirkan dengan tradisi warisan leluhur ini? terserah anda. faktanya tradisi sakral ini tidak berakibat meningkatnya tindakan kejahatan di Bali. semua kembali kepada pikiran kita masing-masing. santhi (–peace)

Artikel lainnya:

  1. Mengenal Tradisi Mekotek
  2. Tradisi Upacara Neteg Pulu
  3. Tradisi Perang Tipat Desa Yeh Apit, Karangasem
  4. Tradisi Lukat Geni Desa Sampalan
  5. Tradisi Megoak-goakan Desa Panji
  6. Tradisi Nikah Massal Desa Pekraman Pengotan Bangli
  7. Tradisi Masuryak Desa Bongan