Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Monthly Archives: June 2018

Cara Belajar Nge-Leak


Seperti yang kita ketahui pada artikel sebelumnya ilmu pengeleakan dapat diwariskan melalui tiga cara atau proses yaitu: berdasarkan keturuan/genetik, dengan proses belajar dan membeli. Bagi yang secara genetik tidak memiliki keturunan ngeleak, maka pilihannya ada 2 yaitu belajar atau membeli. Bagi yang memiliki keturunan ngeleak pilihannya adalah ngelakoni(menjalankan) atau hanya sebatas nyungsung saja.

Sebelum seseorang belajar Ilmu pengelaeakan terlebih dahulu harus diketahui otonan orang tersebut (hari lahir versi Bali) hal ini sangat penting, agar murid tidak celaka oleh ilmu itu sendiri.

Image by: Bali Wisdom

Setelah diketahui barulah proses belajar Ngeleak dimulai. Dimana, pertama-tama murid harus mewinten Brahma Widya, dalam bahasa lontar Ngerangsukang Kawisesan dan hari baikpun tentunya dipilih oleh sang nabe (guru).

Tahap dasar murid diperkenalkan dengan Aksara Wayah (Modre), dalam hal ini aksara tersebut tidak bisa dieja karena merupakan aksara baku. Selajutnya murid di-rajah pada seluruh tubuh dari atas sampai bawah oleh sang guru, hal ini dilakukan di Setra(kuburan) pada saat hari Kajeng Kliwon Enyitan.

Pertama murid diajarkan untuk “nyungsang idep” yaitu membalikan pikiran, semua hal yang tidak baik harus dipikirkan menjadi suatu yang baik, begitu juga sebaliknya, biasanya ritual ini dilakukan dengan mencolek kotoran ayam dan menghirup baunya, ritual ini dikenal dengan istilah “nyolek-nyolek tain belek”, bila bau kotoran ayam tersebut lama-kelamaan menjadi harum bagi pelaku, maka ia sudah lulus tingkat pertama. Proses lainnya adalah menjilati “bungut pawon”/ tungku perapianan dan sebagainya.

Selesai dari proses ini, barulah sang murid sah menjadi Leak bagi sang guru dan ia akan melakukan ritual di Setra(kuburan) dengan sarana sanggah cucuk dan beberapa sesajen.

Ada 5 sumpah yang harus ditaati dalam belajar Ngeleak, ialah :

  1. Hormat dan taat dengan ajaran yang diberikan oleh guru.
  2. Selalu melakukan ajapa-ajapa untuk menyembah Siwa dan Dhurga dalam bentuk Ilmu Kawisesan (Sakti).
  3. Tidak boleh pamer kalau tidak kepepet dan selalu menjalankan Dharma (kebaikan).
  4. Tidak boleh makan daging kaki empat, tidak boleh berhubungan intim dengan orang selain pasangan alias berzinah.
  5. Tidak boleh menyakiti atau dengan cara apapun melalui ilmu yang dipelajari.

Mungkin karena peraturani Nomor 4 ini yang paling ditakuti, maka dahulu dikatakan kebanyakan ilmu leak dipelajari oleh kaum perempuan, sebab kaum perempuan biasanya lebih kuat menahan nafsunya.

Artikel direpost dari: @calonarangtaksu @art_taksu #art_taksu

Artikel lain:

  1. Ilmu Leak dapat diwariskan
  2. Leak dan Kuburan
  3. Leak itu menyakiti?

Tatacara Mebanten dan Mantramnya


Menghaturkan banten/canang adalah wujud bhakti kita kepada Hyang Widhi dan manifestasiNya. Bila banten/canang dihaturkan sesuai dengan pengider-ideran Panca Dewata yang tepat, canang merupakan segel suci niskala yang memiliki kekuatan kerja-nya sendiri. Tapi kekuatan-nya akan menjadi lebih aktif jika disertai dengan kekuatan mantra-mantra suci, tirtha atau air suci, dupa dan kekuatan sredaning manah atau kemurnian pikiran. Sehingga turunlah karunia kekuatan suci semua Ista Dewata, yang memberikan kebaikan bagi alam sekitar dan semua mahluk.

Image by: Sastra Bali

Berikut adalah urutan tata cara mebanten atau ngaturang canang beserta mantramnya:

Sebelum mulai Mebanten/Menghaturkan Persembahan, sebaiknya diawali dengan menyucikan/memurnikan persembahan(Banten/canang), sebagai berikut:

Menyucikan Persembahan

Sikap: Cakupkan tangan di dahi ucapkan mantra: 
OM AWIGNAM ASTU NAMO SIDDHAM
OM SIDDHIRASTU TAT ASTU ASTU SWAHA.

Ambil sekuntum bunga, Apit bunga dengan membentuk mudra amusti-karana/mudra saat trisandya di dada ucapkan,
OM PUSPA DANTA YA NAMAH SWAHA,
OMKARA MURCYATE PRAS PRAS PRANAMYA YA NAMAH SWAHA.

Setelah selesai mengucapkan mantra, bunga kita lempar atau buang ke arah persembahan, Selanjutnya memurnikan sarana persembahan dengan tirtha.

Siratkan tirtha ke Canang ucapkan mantra,
OM PRATAMA SUDHA, DWITYA SUDHA, TRITYA SUDHA, CATURTHI SUDHA, PANCAMINI SUDHA,
OM SUDHA SUDHA WARIASTU,
OM PUSPHAM SAMARPAYAMI,
OM DUPHAM SAMARPAYAMI,
OM TOYAM SAMARPAYAMI,
OM SARWA BAKTYAM SAMARPAYAMI.

Dengan demikian semua sarana persembahan telah tersucikan dan siap untuk kita haturkan. Setelah proses pemurnian selesai, selanjutnya menghaturkan persembahan canang maupun pejati.

Menghaturkan Persembahan/Mebanten

Unggah/taruh canang ucapkan mantra.
OM TA MOLAH PANCA UPACARA GURU PADUKA YA NAMAH SWAHA.

Unggah/taruk dupa ucapkan mantra.
ONG ANG DUPA DIPA ASTRAYA NAMAH SWAHA.

Sirat/ketis tirtha ke canang ucapkan mantra,
ONG MANG PARAMASHIWA AMERTHA YA NAMAH SWAHA.

Ngayab dupa ucapkan mantra,
OM AGNIR-AGNIR JYOTIR-JYOTIR SWAHA
ONG DUPHAM SAMARPAYAMI SWAHA

Ngayab canang ucapkan mantra,
OM DEWA-DEWI AMUKTI SUKHAM BHAWANTU NAMO NAMAH SWAHA,
OM SHANTI SHANTI SHANTI OM.

Tata cara mebanten tersebut diatas bersifat dasar dan universal, Jika terdapat perbedaan dengan kebiasaan atau adat ditempat dimana anda berada kita kembalikan pada konsep desa, kala dan patra.

Artikel diolah dari berbagai sumber:

Artikel lainnya:

  1. Yadnya yang Efektik dan Efisien, praktis dan satwika 
  2. Yadnya yang benar
  3. Apa susahnya Ngejokt/Mesaiban

Tradisi Masuryak Desa Bongan


Jika warga Desa Munggu, Mengwi Badung mempunyai Tradisi Mekotek saat Hari Raya Kuningan maka warga Desa Bongan, Tabanan memiliki Tradisi Masuryak. Seperti halnya tradisi budaya bali lainnya, tradisi masuryak dilaksanakan turun temurun oleh warga Banjar Bongan Gede, Desa Bongan Kecamatan Tabanan Kabupaten Tabanan Bali. Masuryak berarti berteriak, Tradisi Masuryak merupakan tradisi yang melambangkan kegembiraan, suka cita. Diawali dengan persembahyangan di merajan keluarga masing-masing, lalu menghaturkan bebantenan didepan pintu rumah. Tradisi Masuryak dilakukan pada pagi hari secara bergilir dari rumah ke rumah diikuti semua usia, mereka melempar uang pecahan seribuan hingga seratus ribu ke udara kemudian warga lainnya akan berebut uang-uang tersebut sambil masuryak(berteriak). Bisa dibayangkan betapa serunya Tradisi Masuryak tersebut.

Tradisi Masuryak. Image By: FB Paguyuban Masyarakat Tabanan

Menurut kepercayaan warga setempat, tradisi masuryak merupakan wujud rasa kegembiraan warga setelah melaksanakan hari raya Galungan dan Kuningan. Warga percaya selama hari raya, para leluhur mereka pulang ke rumah selama sepuluh hari sejak hari raya Galungan. Masuryak merupakan bagian dari ritual melepas leluhur agar mereka kembali ke tempatnya yakni swarga loka dengan bahagia. Uang tersebut menurut warga sebagai bekal para leluhur dalam perjalanan mereka ke nirwana.

Tradisi masuryak juga merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas rezeki yang dilimpahkan. Meski warga harus berebutan uang dan saling berhimpitan dan dapat terluka karenanya, namun warga dengan suka cita merayakan tradisi masuryak ini.

Dulunya tradisi masuryak menggunakan pecahan uang kepeng. Seiring perkembangan zaman, tradisi ini berubah memakai lembaran rupiah. Karena itu, tradasi ini selalu ditunggu warga untuk mengais rezeki. Meski ada yang terluka karena terjatuh, warga tetap bersemangat mengikuti masuryak. Warga yang berebut uang biasanya mendapatkan hasil lumayan. Mereka bisa mengumpulkan lembaran uang hingga Rp 200.000. Uang hasil masuryak biasanya digunakan makan bersama. Selain warga setempat, masuryak juga menarik warga dari luar daerah. Namun, mereka hanya menonton ritual unik tersebut. Dari sebelas Banjar di Desa Bongan, kemeriahan masuryak paling terasa di Banjar Bongan Gede.

Artikel diolah dari berbagai sumber.

Artikel lainnya:

  1. Mengenal Tradisi Mekotek
  2. Tradisi Upacara Neteg Pulu
  3. Tradisi Perang Tipat Desa Yeh Apit, Karangasem
  4. Tradisi Lukat Geni Desa Sampalan
  5. Tradisi Megoak-goakan Desa Panji
  6. Tradisi Nikah Massal Desa Pekraman Pengotan Bangli