Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Daily Archives: June 7, 2018

Mengenal Tradisi Mekotek


Bertepatan dengan Hari Raya Kuningan, Tradisi Mekotek digelar di Desa Munggu Kecamatan Mengwi Badung. Tradisi yang juga dikenal dengan Gerebek Mekotek ini dilakukan turun temurun oleh generasi penerus dari leluhur warga desa Munggu khususnya umat Hindu dan yang pasti Tradisi Mekotek hanya ada di Desa Munggu, Mengwi Badung. Tradisi Mekotek merupakan atraksi budaya yang telah menjadi ikon pariwisata yang ditunggu-tunggu tidak saja dari wisatawan lokal tapi juga mancanegara.

Tradisi Mekotek, Munggu. Image by: Munggu Tourism Board

Bagi Warga desa munggu selain persiapan untuk perayaan hari raya kuningan mereka juga biasanya mempersiapkan peralatan yang akan digunakan untuk Gerebek Mekotek. Peralatan yang dimaksud hanyalah tongkat kayu sepanjang 2 sampai dengan 2,5 meter yang telah dibersihkan(dikelupas) kulitnya.Tradisi Mekotek diikuti warga Desa Munggu, pria usia 12 sampai 60 tahun. Peserta tradisi mekotek dibagi dalam beberapa kelompok, setiap kelompoknya terdiri sekitar 50 orang, tongkat kayu yang mereka bawa diadu/dibenturkan. Benturan puluhan tongkat kayu tersebut menimbulkan bunyi tek..tek..tek..tek saat tongkat kayu tersebut disatukan membentuk seperti sebuah piramid salah seorang peserta akan naik. Semarak pastinya. Inilah mengapa Tradisi unik ini disebut Tradisi Mekotek.

Sejarah Tradisi Mekotek

Konon Tradisi Mekotek ini awalnya digelar oleh warga desa untuk menyambut kedatangan para prajurit dari pasukan kerajaan Mengwi dimana saat ini memiliki peninggalan pura kerajaan Pura Taman Ayun, sambutan warga pada saat itu konon sebagai perayaan kemenangan pasukan kerajaan Mengwi atas pertempuran melawan kerajaan Blambangan yang ada di pulau Jawa. Perkiraan tahun 1915 Tradisi Mekotek sempat dihentikan oleh kolonial Belanda karena takut menimbulkan pemberontakan mengingat tradisi ini mampu memantik semangat perjuangan dan kerjasama(gotong royong) rakyat saat itu, akibatnya konon terjadilah wabah penyakit.

Dulunya Tradisi Mekotek menggunakan tongkat besi, untuk menghindari bahaya terluka pada tahun 1948 Tradisi Mekotek menggunakan tongkat dari kayu pulet dimana kulit kayu sudah dikelupas dan dihaluskan, Panjang kayu yang dipakai tidak lebih dari 4 meter. Tombak asli yang dipakai tradisi mekotek jaman dahulu konon disimpan di Pura Desa setempat. Warga peserta tradisi mekotek wajib menggunakan pakaian adat madya dan berkumpul di Pura Dalem Munggu.

Seperti halnya Tradisi Budaya Bali lainnya, sebelum dilakukan Tradisi Mekotek dimulai warga melakukan persembahyangan di Pura Dalem desa munggu dilanjutkan dengan pawai diiringi gamelan baleganjur menuju sumber mata air.

Tradisi Mekotek Desa Munggu ini tidak hanya membangkitkan semangat perjuangan seperti yang ditakuti pemerintah kolonial belanda pada jamannya namun juga memberikan pelajaran tentang solidaritas, kerjasama team(gotong royong) dan semangat persatuan! Hingga kini Tradisi Mekotek menjadi warisan budaya leluhur dan terus dilakukan turun temurun setiap Hari Raya Kuningan.

Artikel ini diolah dari berbagai sumber. Jika ada kesalahan dalam penulisan mohon dikoreksi nggih semeton.

Artikel lainnya:

  1. Tradisi Upacara Neteg Pulu
  2. Tradisi Perang Tipat Desa Yeh Apit, Karangasem
  3. Tradisi Lukat Geni Desa Sampalan
  4. Tradisi Megoak-goakan Desa Panji
  5. Tradisi Nikah Massal Desa Pekraman Pengotan Bangli
Advertisements

Makna dan Banten Hari Raya Kuningan


Sepuluh hari setelah Hari Raya Galungan, Umat Hindu Merayakan Hari Raya Kuningan. Hari Raya Kuningan merupakan hari suci Umat Hindu yang jatuh setiap 210 hari atau 6 bulan tepatnya pada Saniscara (Baca: Sabtu) Kliwon Wuku Kuningan dalam sistem kalender Bali. Pada Hari Raya Kuningan para luluhur dan para dewa turun ke dunia memberikan berkah kesejahteraan bagi seluruh makhluk hidup, diyakini pelaksanaan upacara hari raya kuningan hendaknya sebelum tengah hari karena pada tengah hari waktunya para Dewa kembali ke surga. Pada Dasarnya Upacara Hari Raya Kuningan dilakukan sebelum jam 12 siang dikarenakan energi alam semesta (panca mahabhuta : pertiwi, apah, bayu, teja, akasa) bangkit dari pagi hingga mencapai klimaksnya di bajeg surya (tengah hari). Setelah lewat bajeg surya disebut masa pralina (pengembalian ke asalnya) atau juga dapat dikatakan pada masa itu energi alam semesta akan menurun dan pada saat sanghyang surya mesineb (malam hari) adalah saatnya beristirahat (tamasika kala).

Tamiang dan Endongan Image by: https://www.facebook.com/jun.mabagus

Banten Hari Raya Kuningan disetiap desa tentu disesuaikan dengan adat setempat (desa, kala dan patra) namun pada umumnya pada Hari Raya Kuningan Umat Hindu membuat nasi kuning pelengkap banten(sesajen) yang akan dipersembahkan. Persembahan ini merupakan simbol rasa syukur telah menerima anugerah dari Hyang Widhi. Selain itu banten Hari Raya Kuningan berisi Tamiang, terbuat dari janur berbentuk bulat seperti perisai dirajut dengan indah yang merupakan simbol perlindungan dan perputaran roda(alam) kehidupan.

Selain Tamiang, Endongan juga umumnya terdapat pada banten Hari Raya Kuningan maknanya perbekalan, berbentuk seperti tas pinggang atau kompek. Endongan sebagai simbol bekal bagi leluhur dan juga bagi kita yang masih hidup, bekal paling utama dalam mengarungi kehidupan adalah ilmu pengetahuan dan bhakti (jnana). Sementara senjata yang paling ampuh adalah ketenangan pikiran. Sarana lainnya, yakni ter dan sampian gantung. Ter adalah simbol panah (senjata) karena bentuknya memang menyerupai panah. Sementara sampian gantung sebagai simbol penolak bala.

Bertepatan dengan Hari Raya Kuningan ada tradisi unik yang dilakukan seperti Tradisi Mekotekan di Desa Munggu, Mengwi Badung dan Tradisi Masuryak di Desa Bongan, Tabanan. Pada intinya Hari Raya Kuningan kita hendaknya uning dan eling(mengerti/memahami dan sadar), bahwa dalam kehidupan kita selalu berusaha untuk berada pada jalan Dharma.

Artikel diolah dari berbagai sumber.

%d bloggers like this: