Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Tag Archives: yadnya sesa

Yadnya Yang Efektif, Efisien, Praktis dan Sattwika


Umat Hindu tidak dapat dipisahkan dengan Yadnya, sadar atau tidak setiap hari roda kehidupan berputar seiring Yadnya kepada Hyang Widhi. Banyak diantara kita yang melakukan yadnya tapi tidak memahami bagaimana yadnya yang benar-benar Yadnya. Andai kita mau jujur Yadnya yang kita lakukan mungkin hanya sebatas rutinitas ritual yang miskin akan makna dan filosofisnya. Artikel dibawah ini akan menjelaskan kepada kita bagaimana melakukan yadnya yang sebenar-benarnya.

“ Kramanya sang kuningkin akarya sanista, madya, uttama. Manah lega dadi ayu, aywa ngalem druwenya. Mwang kemagutan kaliliraning wwang atuha, away mengambekang krodha mwang ujar gangsul, ujar menak juga kawedar denira. Mangkana kramaning sang ngarepang karya away simpanging budhi mwang krodha”
artinya:
Tata cara bagi mereka yang bersiap-siap akan melaksanakan upacara kanista, madya atau uttama. Pikiran yang tenang dan ikhlaslah yang menjadikanya baik. Janganlah tidak ikhlas atau terlalu menyayangi harta benda yang diperlukan untuk yajna. Janganlah menentang petunjuk orang tua (orang yang dituakan), janganlah berprilaku marah dan mengeluarkan kata-kata yang sumbang dan kasar. Kata-kata yang baik dan enak didengar itu juga hendaknya diucapkan. Demikianlah tata-caranya orang yang akan melaksanakan yajna. Jangan menyimpang dari budhi baik dan jangan menampilkan kemarahan. (Sumber: Lontar Dewa Tattwa)

Yadnya dalam bahasa Sanskerta adalah suatu bentuk persembahan yang didasarkan atas keikhlasan dan kesucian hati. Persembahan tersebut dapat berupa material dan non-material. Ketika manusia mempersembahkan sesuatu tentunya membutuhkan pengorbanan, seperti waktu, finansial, pemikiran,dan benda atau harta yang lainnya. Itulah sebabnya mengapa Yadnya sering dikatakan sebgai pengorbanan yang suci dan tulus ikhlas. Persembahan yang berwujud dapat berupa benda-benda material dan kegiatan, sedangkan persembahan yang tidak berwujud dapat berupa doa, tapa, dhyana, atau pengekangan indria dan pengendalian diri agar tetap berada pada jalur Dharma. Persembahan dikatakan suci karena mengandung pengertian dan keterkaitan dengan Brahman.

Dalam Rgveda disebutkan bahwa “Sang Maha Purusa (Brahman) menciptakan semesta ini dengan mengorbankan diriNya sendiri. Inilah yang merupakan permulaan tumbuhnya pengertian bahwa Yajna yang dilakukan oleh manusia adalah dengan mengorbankan dirinya sendiri”. Sehingga setiap aktivitas yang dilakukan oleh manusia baik melalui pikiran, ucapan dan perbuatan semestinya ditujukan semata-mata hanya untuk Brahman, karena sesungguhnya apa yang ada ini adalah milikNya.

Dalam Bhagavadgita XVII.11
Apalakanksibir yajno viddhi dresto ya ijyate
Yastavyam eveti manah samdhaya sa sattvikah

Artinya: Yadnya yang dipersembahkan sesuai dengan aturan kitab suci oleh mereka yang tidak mengharapkan ganjaran, dan sangat percaya bahwa itu adalah merupakan kewajiban yang harus dilakukan, merupakan yadnya yang sadwikah

Dalam Bhagawadgita XVII.12.
Abhisandhaya tu phalam dambhartham api caiva yat
Ijyate bharata –srestha tam yadjanam viddhi rajas am.

Artinya: Tetapi yang dipersembahkan mengharapkan ganjaran atau hanya untuk pamer saja, ketahuilah wahai Arjuna bahwa yadjna yang demikian bersifat rajasa.

Dalam Bhagawadgita XVII.13
Viddhi-hinam aerstanam mantra-hinam adaksinam
Sraddha-virahitam yajnam tamasam paricaksate.

Artinya: Yadnya yang tidak mengikuti aturan, dimana tak ada makanan yang dibagikan, tak ada mantram yang diucapkan dan tanpa pemberian amal sedekah dan tanpa keyakinan, dinyatakan sebagai yadnya yang tamasika
-13, disebutkan bahwa untuk dapat mewujudkan sebuah Yajna yang memiliki kwalitas yang sattvika, maka perlu diperhatikan bererepa hal yaitu:

  1. Sraddha: yajna harus dilakukan dengan penuh keyakinan
  2. Aphala: Tanpa ada motif untuk mengharapakan hasil dari pelaksanaan yajna yang dilakukan karena tugas manusia hanya mempersembahkan dan dalam setiap yajna yang dilakukan sesungguhnya sudah terkandung hasilnya.
  3. Gita: ada lagu-lagu kerohanian yang dilantunkan dalam kegiatan yajna tersebut.
  4. Mantra: pengucapan doa-doa pujian kepada Brahman.
  5. Daksina: penghormatan kepada pemimpin upacara berupa Rsi yajna
  6. Lascarya: yajna yang dilakukan harus bersifat tulus ikhlas
  7. Nasmita: tidak ada unsure pamer atau jor-joran dalam yajna tersebut.
  8. Annaseva : ada jamuan makan – minum kepada tamu yang datang pada saat yajna dilangsungkan, berupa Prasadam/lungsuran, karena tamu adalah perwujudan Brahman itu sendiri ) “Matr deva bhava Pitr deva bhava, athiti deva bhava daridra deva bhava artinya; Ibu adalah perwujudan Tuhan, Ayah adalah perwujudan Tuhan, Tamu adalah perwujudan tuhan dan orang miskin adalah perwujudan Tuhan.
  9. Sastra: setiap yajna yang dilakukan harus berdasarkan kepada sastra atau sumber sumber yang jelas, baik yang terdapat dalam Sruti maupun Smrti.

Disamping sumber di atas, dalam Manavadharmasatra VII.10 juga disebutkan bahwa setiap aktivitas spiritual termasuk yajna hendaknya dilakukan dengan mengikuti;

  • Iksa: yajna yang dilakukan dipahami maksud dan tujuannya
  • Sakti: disesuaikan dengan tingkat kemampuan baik dana maupun tingkat pemahaman kita terhadap yajna yang dilakukan sehingga tidak ada kesan pemborosan dalam yajna tersebut.
  • Desa: memperhatikan situasi dimana yajna tersebut dilakukan termasuk sumber daya alam atau potensi yang dimiliki oleh wilayah tersebut.
  • Kala: kondisi suatu tempat juga harus dipertimbangkan baik kondisi alam, maupun umat bersangkutan.
  • Tattva: dasar sastra yang dipakai sebagai acuan untuk melaksanakan yajna tersebut, dalam Manavadharmasastra II.6 ada lima sumber hukum hindu yang dapat dijadikan dasar pelaksanaan yajna, yaitu: Sruti, Smrti, Sila, Acara, dan Atmanastusti.

Jadi beryadnya tidak harus besar dan megah, apalah artinya kemegahan dengan menghabiskan banyak dhana tapi tidak dilandasi oleh prinsip yajna yang telah tetuang pada susastra Veda. Kecil, sederhana dan segar, bila dilandasi oleh kemurnian; yajna seperti inilah yang harus dilakukan dan disosialisasikan terus. Beryajna tidak mesti membuat upakara / sesajen, sesuai dengan pesan Shri Krshna dalam Bhagavadgita IV.28
Dravya-yadjnas tapo-yajnayoga-yajnas tathapare
Svadhyaya-jnana-yadjnas ca yatayah samsita-vratah
Ditegaskan bahwa beryajna dapat dilakukan dengan: Beryajna harta milik/kekayaan (drveya), dengan mengendalikan seluruh indria (tapa), dengan pengetahuan (brahma/jnana), dengan doa-doa dan bimbingan kerohanian (yoga), dan dengan menggunakan tubuh ini sebagai arena pemujaan dan pelayanan (svadhyaya) serta memeberikan perlindungan kepada mahluk yang lebih lemah (abhaya).
Jika prinsip-prinsip yajna ini dapat dilakukan tentunya yajna tersebut akan mendatangkan manfaat yang besar bagi manusia dan mahluk yang lainnya, baik kaitannya dengan kehidupan jasmani maupun peningkatan kwalitas rohani umat yang Dharmika.

Terima kasih: Jero Mangku Sudiada

Artikel Terkait:

  1. Yadnya Dalam Hindu(Panca Yadnya)
  2. Yadnya Yang Benar
  3. Ngawi Keharmonisan antuk Yadnya Sesa
Advertisements

Apa Susahnya Ngejot/Mesaiban.


Setiap hari selesai memasak apapun itu, sudah sepatutnya kita ngejot/mesaiban atau melakukan Yadnya Sesa. Makanan yang kita dapatkan dari membelipun tidak ada salahkan untuk melakukan yadnya terkecil dalam Hindu tersebut. Apa itu Ngejot/mesaiban atau Yadnya Sesa? dan bagaimana melakukannya? Dan apa pula dasarnya dilakukan Yadnya Sesa ini?

Pengertian:
Yadnya Sesa merupakan salah satu yadnya yang dilakukan setiap hari atau disebut juga dengan Nitya Karma. Yadnya Sesa dilakukan setelah selesai memasak nasi atau sebelum menikmati makanan. Maksud dan Tujuannya tentu merupakan wujud syukur atas apa yang di berikan Hyang Widhi kepada kita. Sebagaimana diketahui bahwa yadnya sebagai sarana untuk menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa untuk memperoleh kesucian jiwa. Tidak saja kita menghubungkan diri dengan Tuhan, juga dengan manifestasi-Nya dan makhluk ciptaan-Nya termasuk alam beserta dengan isinya. Dengan demikian yadnya merupakan persembahan dan pengabdian yang tulus iklas tanpa adanya harapan untuk medapatkan imbalan-imbalan.

Cara melakukan Yadnya Sesa:

  1. Ambil Daun/kertas minyak lalu potong membentuk persegi empat dengan ukuran 3 x 3 cm(disesuaikan), kemudian letakkan berjejer pada nampan.
  2. Ambil nasi kemudian letakkan diatas daun-daun/kertas tersebut, tambahkan lauknya sedikit.
  3. Nyalakan Dupa.
  4. Kemudian letakkan di 5(lima) tempat sebagai simbol Panca Maha Bhuta, antara lain :
  • Pertiwi(tanah),biasanya ditempatkan pada pintu keluar rumah atau pintu halaman.
  • Apah(Air), ditempatkan pada sumur atau tempat air.
  • Teja(Api), ditempatkan di dapur, pada tempat memasak(tungku) atau kompor.
  • Bayu, ditempatkan pada beras,bisa juga ditempat nasi.
  • Akasa, ditempatkan pada tempat sembahyang(pelangkiran,pelinggih dll).

Doa-doa dalam Yadnnya Sesa:

Yadnya Sesa yang ditujukan kepada Hyang Widhi melalui Istadewata(ditempat air,dapur,beras/tempat nasi dan pelinggih/pelangkiran doanya adalah:

OM ATMA TAT TWATMA SUDHAMAM SWAHA, SWASTI SWASTI SARWA DEWA SUKHA PRADHANA YA NAMAH SWAHA. Artinya: Om Hyang Widhi, sebagai paramatma daripada atma semoga berbahagia semua ciptaan-Mu yang berwujud Dewa.

Yadnya Sesa yang ditujukan kepada simbol-simbol Hyang Widhi yang bersifat bhuta, Yaitu Yadnya Sesa yang ditempatkan pada pertiwi/tanah doanya:

OM ATMA TAT TWATMA SUDHAMAM SWAHA, SWASTI SWASTI SARWA BHUTA,KALA,DURGHA SUKHA PRADANA YA NAMAH SWAHA. Artinya: Om Sang Hyang Widhi, Engkaulah paramatma daripada atma, semoga berbahagia semua ciptaan-Mu yang berwujud bhuta,kala dan durgha.

Landasan Dasar Yadnya Sesa:
Yadnya sesa atau mebanten nasi seusai masak juga merupakan penerapan dari ajaran kesusilaan Hindu, yang menuntut umat untuk selalu bersikap anersangsya yaitu tidak mementingkan diri sendiri dan ambeg para mertha yaitu mendahulukan kepentingan di luar diri. Pelaksanaan yadnya sesa juga bermakna bahwa manusia setelah selesai memasak wajib memberikan persembahan berupa makanan, karena makanan merupakan sumber kehidupan di dunia ini. Di dalam  Bhagawad Gita III, 13 yang berbunyi :

Yadjna sistasinah santo, Mucuante sarwa kilbisaih, Bunjate te twagham papa, Ye pacanty atma karanat.

Yang artinya: ia yang memakan sisa yadnya akan terlepas dari segala dosa, tetapi ia yang memasak makanan hanya bagi dirinya sendiri, sesungguhnya makan dosanya sendiri :

Penggambaran dari sloka tadi berarti bahwa sebelum menikmati sesuatu persembahkanlah terlebih dahulu sebagai cetusan Angayubagia atas Waranugrahanya. Mempersembahkan makanan yang dimiliki juga termasuk persembahan yang mulia dan dapat menentramkan hidup ini.

Manawa Dharmasastra.III.69

Tesam kramena sarvasam
Niskrtyastham maha resibhih
Panca kripta maha yadnyah
Pratyahan grhamedhinam. 

Artinya: Untuk menebus dosa yang ditimbulkan pemakaian lima alat penyemblihan itu, para Maha Resi telah menggariskan untuk para kepala keluarga agar setiap harinya melakukan Panca Yadnya.

Di dalam Manawa Dharmasastra III.68 Juga dinyatakan bahwa penggunaan lima tempat penyemblihan oleh kepala keluarga seperti tempat memasak, batu pengasah, sapu lesung dengan alunya dan tempat air. Pemakaian semuanya itu menimbulkan dosa. Hal inilah yang menyebabkan sloka Manawa Dharmasastra III.69 yang dikutip di atas menganjurkan agar setiap kepala keluarga melakukan Panca Yadnya setiap harinya. Bentuknya itu dibuat dari makanan yang mampu dimasak hari itu seperti nasi dengan lauk pauknya yang ada. Banten saiban itu bukanlah banten segehan dengan nasi dan bawang jahe sebagai perlengkapannya, tapi nasi dengan lauk pauk yang dimasak hari itu sebagai wujud Panca Yadnya terkecil.

Manawa Dharma Sastra III.117 menyatakan bahwa keluarga akan makan setelah mempersembahkan makanan itu pada para dewa, para leluhur (Dewa Pitara), pada para resi dan pada para dewa penjaga rumah. Dalam sloka selanjutnya dinyatakan keluarga yang makan tanpa persembahan dinyatakan ia makan dosa. Orang bijaksana memakan sisa dari yang dipersembahkan itu. Karena itu disebut Yadnya Sesa. Sejalan dengan konsep Yadnya Sesa yang dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra III.118

Dalam Manawa Dharmasastra III.104 dinyatakan bahwa mereka yang mendapatkan makanan dengan mengambil hak orang lain secara tidak benar, kelak ia akan menjelma menjadi binatang ternak peliharan orang yang diambil haknya itu. Memperhatikan berbagai ketentuan pustaka suci Hindu tersebut dapat disimpulkan bahwa upacara mesaiban itu adalah wujud Panca Yadnya terkecil yang seyogianya dilakukan setiap hari oleh setiap keluarga selesai ia masak. Mereka boleh makan setelah upacara mesaiban itu selesai dilakukan. Ritual keagamaan Hindu di Bali yang disebut mesaiban ini sepertinya amat sederhana dilihat dari tata cara penyelenggaraannya. Namun di balik kesederhanaan tersebut terdapat nilai-nilai falsafah kehidupan yang amat dalam yang seyogianya kita maknai lebih lanjut dalam meningkatkan kwalitas hidup kita di bumi ini.

Artikel Terkait:  Yadna Sesa

Ngawi Keharmonisan Antuk Yadnya Sesa


KAHURIPAN krama Hindu Bali tan prasida kalepasang saking sané kawastanin yadnya sekala. Yadiastun sajeroning garis besarnyané yadnya punika kaepah dados lelima sané lumrah kabaos panca yadnya. Majeng krama Bali, yadnya punika sajabaning katah wentuknyané palaksananyané taler katah. Lianan ring panca yadnya punika wénten wentuk yadnya sané kalaksanayang krama Bali ring pasarahina. Yadnya sésa utawi ngejot silih sinunggil yadnya sané satata kalaksanayang krama Hindu.

Yadnya sésa utawi ngejot manut sinunggil pamangku dadia Jro Mangku I Komang Nurata (3/1) maosang, agama Hindu yakti satata ngajahin tur metuéling manusa mangda nyujuh kahuripan sané harmonis sareng alam lan sadaging jagaté taler nyujuh kasukertan. Sajeroning nyujuh paindikan punika, yadnya sésa utawi ngejot dados papilihan. Ngejot wantah wentuk yadnya sané marupa saiban, jotan sané lumrah katurang ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

“Ngejot wantah wentuk yadnya sané pinih dangan kalaksanayang nénten muatang prabéa ageng, sakéwanten mesti kalaksanayang sarahina. Yéning kahuripan iraga sampun sukerta patut iraga ngwaliang sareng alam duaning alam sané ngicén iraga kasukertan,” baosnyané.

Yadnya sésa utawi ngejot sakadi sané sering kekantenang ring krama lumrahnyané ri kala kantun rahina semeng sésampun para istri puput ngratengan raris makarya akéh labaan sané madaging nasi, tasik miwah jangan-janganan mawadah takir (don biyu sané matekor) inggih punika ring pamerajan, tugu (panunggun karang), plangkiran, ring natah palemahan, kantos ring margi. Nika sané kabaos anak ngejot utawi yadnya sésa. Samaliha mangkin nginutin jaman sané sayan nglimbak sakancan sané kaduénang taler kaicén jotan sakadi sepéda motor utawi mobil. Yéning asapunika kawéntenannyané boya ja alam manten sané ngicén kasukertan taler sakancan piranti ngawinang manusa nyujuh kasukertan.

Makna ngaturang labaan, boya majeng alam, miwah Hyang Widhi kémanten. Manut Jro Mangku Nurata, yéning sampun maosang alam otomatis sakancan jagat miwah sadagingnyané sampun keni rumasuk sakancan maniféstasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Tegesnyané ngaturang labaan majeng alam artinné taler ngicén labaan majeng sakancan buta-buti sané satata ngawi paindikan kaon.

Umpaminipun ngejot ring duur artinné iraga ngaturang bakti ring Sang Hyang Aditya, yéning ngejot kagenahang ring sor utawi tanah artinné iraga ngaturang labaan majeng buta-buti sané sering ngrubéda.

“Ngejot utawi yadnya sésa artinné iraga ngawi keharmonisan sareng sakancan daging bhuana agung puniki. Napi sané tan wénten ring jagaté puniki, sakancan unsur sané ngawi iraga manggih kasukadukan wénten, sané mangkin manut iraga sané ngawi keharmonisan inucap, ” baosnyané ngwewehin.

Dané mapiteket sapatutnyané yadnya sésa puniki satata katerapang ring sarahina, majeng krama sané durung ngalaksanayang sabeciknyané ngawitin ngejot puniki. Dané nyelehin rasaéling krama kantun andap ring yadnya sésa puniki samaliha paindikan sané kirang kauratiang sakadi ngejot puniki prasida ngawi pikobet ageng ring kahuripan.

**Bali Post | 06 Januari 2013