Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Monthly Archives: March 2018

Tradisi Nikah Massal Desa Pakraman Pengotan Bangli


Image By: Anggara Mahendra

Dilansir dari NusaBali – Tradisi menikah massal kembali digelar Desa Pakraman Pengotan, Kecamatan Bangli pada hari ini Kamis 22 Maret 2018 atau Wraspati Umanis Sinta, Prosesi menikah massal kali ini akan diikuti 21 pasangan calon suami istri (pengantin), 5 pasangan di antaranya melibatkan perempuan dari Desa Pengotan yang menikah keluar.Tradisi ritual menikah massal ini dilaksanakan Desa Pakraman Pengotan dua kali dalam setahun, yakni pada Sasih Kapat (bulan keempat sistem penanggalan Bali) dan Sasih Kadasa (bulan ke-10 sistem penanggalan Bali). Tradisi yang diwarisi secara turun temurun dan diyakini sudah ada sejak berdirinya Desa Pengotan ini digelar sebagai bagian upaya meringankan beban keluarga calon pengantin.

Menurut Bendesa Pakraman Pengotan, Jro Wayan Kopok, dalam prosesi nikah massal ini, pasangan pengantin hanya dikenakan uang tunai masing-masing Rp 450.000, selain juga beberapa kewajiban lainnya. Jika menikah secara mandiri sebagaimana layaknya di Bali, bisa menghabiskan biaya puluhan juta rupiah. “Kalau di sini (Desa Pengotan) belum pernah ada nikah sendiri-sendiri. Selalu dilangsungkan nikah secara massal,” jelas Jro Wqayan Kopok kepada NusaBali di Desa Pengotan, Rabu (21/3).

Menurut Jro Wayan Kopok, tradisi nikah massal rutin digelar dua kali dalam setahun. Hanya sajatradisi nikah massal sempat tidak digelar selama 2 tahun terakhir, karena masih ada pembangunan di Pura Penataran Agung, Desa Pakraman Pengotan. “Tradisi ini masih kami pertahankan. Selain untuk mengaja hubungan nyama braya, juga buat meringankan beban krama dalam melangsungkan perkawinan. Dari segi biaya tentu akan lebih murah,” katanya.

Tradisi nikah massal ini, kata Jro Wayan Kopok, sudah tertuang dalam awig (aturan adat). Karenanya, tradisi ini ditaati betul. Sekalipun dari keluarga kaya raya, tetap saja harus menikah secara massal. Pernikahan massal diikuti baik laki-laki yang notabene menetap di Desa Pengotan maupun perempuan yang menikah keluar.

“Bagi perempuan yang menikah keluar, mereka tetap mengikuti rangkaian perkawinan massal di Desa Pengotan. Setelah nikah massal, selanjutnya mereka mengikuti sang suami,” beber Jro Wayan Kopok.

Pasangan calon suami istri berjumlah 21 pasang yang akan menikah massal hari ini, berasal dari selurtuh 8 banjar di Desa Pengotan, yakni Banjar Padpadan, Banjar Penyebeh, Banjar Besenge, Banjar Yoh, Banjar Delod Umah, Banjar Tiying Desa, Banjar Dajan Umah, dan Banjar Sunting. Terbanyak dari Banjar Padpadan, yakni 9 pasangan pengantin.

Jro Wayan Kopok menjelaskan, rangkaian tradisi pernikahan massal ini diawali dengan melaksanakan Sangkepan Nganten di jaba Pura Penataran Agung, Desa Pakraman Pengotan. Setelah sangkepan tersebut, dilajutkan dengan penyampaian hasil pesangkepan kepada seluruh krama. “Hasilnya disampaikan kepada krama, seperti siapa-siapa saja pasangan yang akan mengikuti upacara perkawinan massal,” katanya.

Acara selanjutnya adalah mempersiapakan sarana upacara, termasuk nampah (menyembelih) sapi yang dibeli dari urunan para calon pengantin. “Berapa pun harga sapinya, dibagi seluruh pasangan calon pengantin. Sapi yang digunakan tidak harus besar, yang terpenting kondisinya sehat dan tidak cacat,” kata Jro Wayan Kopok.

Setelah daging sapi diolah, selanjutnya munggah (ditelatakan) di Bale Agung. Selain urunan beli sapi, para pasangan calon pengantin juga wajib membawa nasi empat rontong atau setara 10 kilogram. “Dibuatkan kawisan, sesuai jumlah krama dengan 206 kepala keluarga (KK) pengarep,” terangnya.

Begitu segala persiapan rampung, barulah pasangan calon pengantin dipanggil untuk mengikuti acara pokok, yakni menikah massal. Mereka harus berbaris menuju Pura Penataran Agung untuk mengikuti rangkaian prosesi mulai dari Nista Mandala Pura. Terakhir, pasangan calon pengantin duduk di Bale Nganten, Pura Penataran Agung.

Menurut Jro Wayan Kopok, semua duduk berjejer dalam dua baris, di mana pasangan canlon dalam posisi saling berhadapan. “Duduknya dipisah antara laki-laki dan perempuan. Mereka nginang (makan sirih) bersama sebagai pertanda sudah memasuki usai lebih tua, dengan tanggun jawab yang lebih besar. Kemudian, mempelai perempuan ngunggahan damar kurung, yang dimaksudkan untuk memohon tuntunan dari Ida Sang Hyang Widhi, agar pasangan baru ini mampu menjalani kehidupan berumah tangga. Diharapkan, rumah tangga berjalan harmonis.”

Terakhir, pasangan mempelai mepamit di Sanggar Agung, sebagai tanda berakhirnya rangkaian prosesi upacara nikah massal. Selanjutnya, pasangan mempelai kembali ke rumah masing-masing. Terkait acara resepsi pernikahan, itu sepenuhnya diserahkan kepada keluarga masing-masing.

Jro Wayan Kopok menjelaskan, ada pantangan bagi pasangan mempelai yang baru mengikuti prosesi nikah massal. Mereka selama tiga hari tidak boleh melewati rurung adat (jalan adat). Bila rumahnya berada di sebelah barat rurung adat, mereka tidak boleh ke sebelah timur, demikian pula sebaliknya. Seteleh tiga hari, mereka dibolehkan keluar dan dilanjutkan dengan prosesi membawa tipat bantal dari rumah purusa (laki-laki) ke rumah pradana (perempuan).

Bagaimana pantangan untuk perempuan yang menikah ke luar desa? Menurut Jro Wayan Kopok, mereka tidak terkena pantangan melintasi rurung adat selama 3 hari. Sebab, seusai upacara nikah massal di Pura Penataran Agung, mereka langsung mengikuti suaminya ke desa masing-masing.

Terima kasih: Nusa Bali

Artikel lainnya:

  1. Mengenal Tradisi Mekotek
  2. Tradisi Upacara Neteg Pulu
  3. Tradisi Perang Tipat Desa Yeh Apit, Karangasem
  4. Tradisi Lukat Geni Desa Sampalan
  5. Tradisi Megoak-goakan Desa Panji
  6. Tradisi Nikah Massal Desa Pekraman Pengotan Bangli
  7. Tradisi Masuryak Desa Bongan

Memahami Makna Doa Menjelang Tidur


Menjelang tidur putri kecil kami selalu mengucapkan mantram ini. Dengan bahasa dan kalimatnya yang lucu membuat kami tersenyum sambil mengikuti(mengamini) mantram tersebut sembari tidur dengan bahagia.

Mantram ini juga sering digunakan untuk memohon bimbingan dan inspirasi kepada Hyang Widhi.

Apa sebenarnya makna mantram yang diambil dari Brhad Aranyaka Upanisad 1-3.28 ini? Artikel dibawah ini disunting dari Gazez Bali. Semoga bermanfaat untuk semuanya.

Image by: PHDI

Asato ma sad-gamaya
tamaso ma jyotir-gamaya
mrtyor ma amrtam gamaya,
Om santih santih santih
(Brhad Aranyaka Upanisad 1-3.28)

Asato ma, ya Tuhan… mohon jangan dibiarkan hamba berada dalam ketidakbenaran. Sad gamaya, mohon bawalah hamba kepada kebenaran.

Tamaso ma, mohon janganlah hamba dibiarkan berada dalam kegelapan.

Jyotir gamaya, tuntunlah hamba ke jalan terang. Mrtyor ma, janganlah biarkan hamba berada di dalam (perputaran tanpa akhir) kematian. Amrtam gamaya, bawalah hamba pada kekekalan.

Mantra ini menjadi penting karena memiliki pesan yang sangat indah, tinggi, dan mendalam, yang ia adalah bukan sekadar doa, tetapi sekaligus perenungan spiritual, sekaligus meditasi, yaitu bermeditasi pada tujuan hidup seperti yang disebutkan di dalam kitab Upanisad ini. Juga, sekaligus perenungan spiritual karena ia merupakan perenungan “mulat sarira”, yaitu “perjalanan spiritual” memasuki gudang harta karun sang diri sejati.

Tentu saja masih banyak yang memakai mantra ini hanya sebagai formalitas pelengkap doa setelah sembahyang sehari-hari yang dilakukannya. Formalitas hafalan mantra Veda seperti itu bukanlah perenungan, ia bukan pula meditasi, melainkan hanya dan hanya formalitas “ramah tamah” dengan Tuhan.

Mereka yang mencari “sejatining urip”, mereka yang mencari “sangkan paraning dumadhi”, mereka yang mencari sang diri sejati, maka mereka akan menjauhkan dirinya dari “penyalahgunaan mantra-mantra Veda dan Upanisad” dalam bentuk hanya untuk formalitas “beramah tamah dengan Tuhan”. Tentu saja para Maharesi menuliskan mantra-mantra Veda tersebut bukanlah demi melihat umatnya berformalitas dengan Tuhan secara lebih baik, melainkan agar umatnya dapat bermeditasi dengan Tuhannya dengan cara lebih baik dan lebih mantap.

Asato ma; ya Tuhan, janganlah hamba dibiarkan berada di dalam jalan yang tidak benar (a=tidak, sat=kebenaran). Janganlah hamba tidak dilindungi dari bahaya kenikmatan berada di dalam hidup yang bergelimangan ketidakbenaran. Itulah doa, itulah perenungan spiritual, dan itulah meditasi.

Penulisan asato ma dan bukan asato na sangat bermakna. Ma berarti janganlah sedangkan na berarti tidak, atau bukan. Ia menjadi doa permohonan yang “memerintah”. Di sini sang bhakta (orang yang berbhakti), abdi Tuhan yang tulus, “memerintah” Tuhan melalui doa permohonan agar dirinya tidak dibiarkan berada di dalam jalan dan hidup yang diarahkan oleh ketidakbenaran. Walaupun seringkah ketidakbenaran tersebut merayu dalam keindahan serta kenikmatan yang memukau, membuat orang gelap mata, namun seorang abdi Tuhan melihatnya sebagai jalan yang penuh dengan keterpurukan dan kesengsaraan. Abdi Tuhan dengan memelas “memerintah” Tuhannya agar menjaga dirinya dari asatah: a (tidak)+ sat (kebenaran), asatah berarti (agar diselamatkan) dari ketidakbenaran serta dituntun kepada Sat atau Kebenaran Sejati.

Perlu dicatat oleh kita semua, bahwa kata kebenaran dalam bahasa Indonesia, atau truth dalam bahasa Inggris, atau bahasa dunia apa pun di atas muka bumi ini untuk menerjemahkan kata Sat, semua tidaklah mewakili arti dan makna yang tersimpan di dalam kata Sat. Kebenaran di dunia ini semua di dalam “frame” atau bingkai rapi desa (tempat, daerah), kala (waktu), dan patra (orang, individu, atau masyarakatnya). Apa yang benar di Jawa belum tentu benar di Bali. Apa yang benar pada zaman dahulu, banyak yang menjadi tidak benar di zaman sekarang, dan apa yang dianggap benar oleh Si A, atau masyarakat A, belum tentu diterima benar oleh Si B atau masyarakat B.

Perlu pula dicatat di sini bahwa masih banyak yang menerjemahkan kata patra dengan “keadaan”. Patra bukan keadaan melainkan orangnya, patra artinya wadah. Seberapa dan sebagaimana wadah, sebegitu dan seperti itu pula orang akan mendapatkan pemahaman.

Selanjutnya, sang bhakta memohon kepada Tuhan agar mengarahkan hidupnya pada jalan kebenaran, (sad-gamaya). Tuhan, bawalah, arahkanlah, tuntunlah hamba agar jalan hidup yang hamba tempuh adalah jalan pasti di dalam kebenaran. Izinkanlah hamba meniti jalan kebenaran di dalam hidup ini sebab selain jalan kebenaran, jalan bypass, atau jalan tol seindah apapun pastilah jalan yang mengarahkan hamba kepada kehancuran dan kesengsaraan.

Oleh karena itu, Tuhan, sat gamaya, bawalah hamba pada jalan kebenaran Sat, bukan kebenaran dunia, bukan kebenaran waktu, dan bukan pula pada kebenaran individu atau kelompok. Biarlah hamba meniti jalan indah kebenaran Sat. Karena hanya jalan kebenaran Sat saja yang akan mengantarkan hamba pada destinasi sejati, yaitu asal muasal hidup, Sangkan Paraning Dumadhi.

Tamaso ma, ya Tuhan, janganlah biarkan hamba hidup di dalam kegelapan dan kebodohan, Jyotir gamaya, bawalah hamba pada jalan terang. Kata tamasah menunjukkan bukan hanya kegelapan, melainkan yang lebih ditekanlah lagi adalah kebodohan akibat ketidakberadaan pengetahuan vidya dan pengetahuan suci jnana. Kata jyotir juga tidak menunjukkan hanya sinar biasa. Melainkan sinar vidya dan pengetahuan suci jnana. Ilmu pengetahuan vidya memberikan pembentukan karakter sempurna, agar orang menjadi manusia sempurna di masyarakatnya, dan pengetahuan suci jnana memberikan pencerahan spiritual kepada setiap orang.

Jyotir-gamaya berarti seorang bhakta memohon kepada Tuhannya agar membebaskan dirinya dari kegelapan akibat ketidak beradaan lampu penerang rohani dan juga kegelapan akibat dari musuh-musuh di dalam diri berupa indria-indria yang tidak terkendalikan, akibat pikiran yang tidak terkontrol, tidak dibersihkan dan disucikan, dan kegelapan akibat Dasa Mala (sepuluh jenis kotoran, keburukan) serta Sapta Timira (7 jenis kegelapan batin) lalu memohon dijauhkan dari kegelapan akibat tidak adanya pengetahuan vidya dan jnana. Hidup manusia tidak akan terangkat dari level binatang tanpa vidya dan jnana. Oleh karena itulah seorang bhakta memohon berkah tamaso ma jyotir gamaya.

Selanjutnya mrtyor ma amrtam gamaya, sang bhakta memohon agar dirinya dijauhkan dan dibebaskan dari perputaran tanpa henti kelahiran dan kematian. Sang bhakta juga memohon agar diizinkan memasuki alam kekekalan, alam langgeng yang tidak ada susulan penderitaan dan kecemasan (sukha tanpa wali dukha). Itulah tujuan hidup sejati, dan itulah tujuan sesungguhnya dari hidup manusia kita. Itulah kurang lebih perenungan arti dan makna dari doa tersebut. Sarve sukhinah bhavantu, semoga semua makhluk berbahagia.

DUDONAN TAWUR TABUH GENTUH DAN KARYA IDA BHATARA TURUN KABEH PURNAMA KEDASA 2018 DI PURA AGUNG BESAKIH


DUDONAN TAWUR TABUH GENTUH DAN KARYA IDA BHATARA TURUN KABEH PURNAMA KEDASA 2018
DI PURA AGUNG BESAKIH

Image By: Leak Bali

*1*. Buda Umanis Dukut,
Rabu 7 Maret 2018, Pkl 15.00 wita :
– Ngaturang Pemiut
– Negtegang
– Ngunggahang Sunari
– Pengrajeg Lan Pengemit Karya
(Panitia Besakih)

*2*. Anggara Paing Watugunung,
Selasa 13 Maret 2018, Pkl 10.00 wita :
– Piuning
(Panitia Besakih)

*3*. Wrespati Wage Watu gunung,
Kamis 15 Maret 2018, Pkl 10.00 wita-19.00 wita :
– Mepepada Lan Bhumi Sudha
– Memben
(Panitia Besakih)

*4*. Sukra Kliwon Watu gunung,
Jumat 16 Maret 2018, Pkl 09.00 wita :
– Tawur Tabuh Gentuh
(Panitia Besakih)

*5*. Soma Pon Sinta,
Senin 19 Maret 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penglemek Tawur Tabuh Gentuh
(Panitia Besakih)

*6*. Buda Paing Landep,
Rabu 28 Maret 2018, Pkl 08.00 wita-15.00 wita :
– Nuwur Tirta
– Nedunang Ida Bhatara

*7*. Wrespati Pon Landep,
Kamis 29 Maret 2018, Pkl 10.00 wita :
– Melasti Tegal Suci
(Panitia Besakih)

*8*. Sukra Wage Landep,
Jumat 30 Maret 2018, Pkl 09.00 wita-19.00 wita :
– Mepepada
– Memben
(Panitia Besakih)

*9*. Saniscara Kliwon Landep,
Sabtu 31 Maret 2018, Pkl 09.00 wita :
– Puncak Karya Ida Bhatara Turun Kabeh
(Panitia Besakih)

*10*. Redita Manis Ukir,
Minggu 1 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*11*. Soma Paing Ukir,
Senin 2 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*12*. Anggara Pon Ukir,
Selasa 3 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar Lan Pengelemek
(Panitia Besakih)

*13*. Budha Wage Ukir,
Rabu 4 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

Image by: Leak Bali

*14*. Wrespati Kliwon Ukir,
Kamis 5 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*15*. Sukra Umanis Ukir,
Jumat 6 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Karangasem)

*16*. Saniscara Paing Ukir,
Sabtu 7 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Jembrana)

*17*. Redita Pon Kulantir,
Minggu 8 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*18*. Soma Wage Kulantir,
Senin 9 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Gianyar)

*19*. Anggara Kliwon Kulantir,
Selasa 10 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Kota Denpasar)

*20*. Buda Umanis Kulantir,
Rabu 11 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Bangli)

*21*. Wrespati Paing Kulantir,
Kamis 12 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*22*. Sukra Pon Kulantir,
Jumat 13 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*23*. Saniscara Wage Kulantir,
Sabtu 14 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*24*. Redite Kliwon Tulu,
Minggu 15 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Tabanan)

*25*. Soma Umanis Tulu,
Senin 16 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Badung)

*26*. Anggara Paing Tulu,
Selasa 17 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Buleleng)

*27*. Buda Pon Tulu,
Rabu 18 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Klungkung)

*28*. Wrespati Wage Tulu,
Kamis 19 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*29*. Sukra Kliwon Tulu,
Jumat 20 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*30*. Saniscara Umanis Tulu,
Sabtu 21 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
– Penyineban
(Panitia Besakih).

Ngiring dumugi prasida tangkil ngaturan pangubakti..🙏🙏