Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Daily Archives: March 21, 2018

Memahami Makna Doa Menjelang Tidur


Menjelang tidur putri kecil kami selalu mengucapkan mantram ini. Dengan bahasa dan kalimatnya yang lucu membuat kami tersenyum sambil mengikuti(mengamini) mantram tersebut sembari tidur dengan bahagia.

Mantram ini juga sering digunakan untuk memohon bimbingan dan inspirasi kepada Hyang Widhi.

Apa sebenarnya makna mantram yang diambil dari Brhad Aranyaka Upanisad 1-3.28 ini? Artikel dibawah ini disunting dari Gazez Bali. Semoga bermanfaat untuk semuanya.

Image by: PHDI

Asato ma sad-gamaya
tamaso ma jyotir-gamaya
mrtyor ma amrtam gamaya,
Om santih santih santih
(Brhad Aranyaka Upanisad 1-3.28)

Asato ma, ya Tuhan… mohon jangan dibiarkan hamba berada dalam ketidakbenaran. Sad gamaya, mohon bawalah hamba kepada kebenaran.

Tamaso ma, mohon janganlah hamba dibiarkan berada dalam kegelapan.

Jyotir gamaya, tuntunlah hamba ke jalan terang. Mrtyor ma, janganlah biarkan hamba berada di dalam (perputaran tanpa akhir) kematian. Amrtam gamaya, bawalah hamba pada kekekalan.

Mantra ini menjadi penting karena memiliki pesan yang sangat indah, tinggi, dan mendalam, yang ia adalah bukan sekadar doa, tetapi sekaligus perenungan spiritual, sekaligus meditasi, yaitu bermeditasi pada tujuan hidup seperti yang disebutkan di dalam kitab Upanisad ini. Juga, sekaligus perenungan spiritual karena ia merupakan perenungan “mulat sarira”, yaitu “perjalanan spiritual” memasuki gudang harta karun sang diri sejati.

Tentu saja masih banyak yang memakai mantra ini hanya sebagai formalitas pelengkap doa setelah sembahyang sehari-hari yang dilakukannya. Formalitas hafalan mantra Veda seperti itu bukanlah perenungan, ia bukan pula meditasi, melainkan hanya dan hanya formalitas “ramah tamah” dengan Tuhan.

Mereka yang mencari “sejatining urip”, mereka yang mencari “sangkan paraning dumadhi”, mereka yang mencari sang diri sejati, maka mereka akan menjauhkan dirinya dari “penyalahgunaan mantra-mantra Veda dan Upanisad” dalam bentuk hanya untuk formalitas “beramah tamah dengan Tuhan”. Tentu saja para Maharesi menuliskan mantra-mantra Veda tersebut bukanlah demi melihat umatnya berformalitas dengan Tuhan secara lebih baik, melainkan agar umatnya dapat bermeditasi dengan Tuhannya dengan cara lebih baik dan lebih mantap.

Asato ma; ya Tuhan, janganlah hamba dibiarkan berada di dalam jalan yang tidak benar (a=tidak, sat=kebenaran). Janganlah hamba tidak dilindungi dari bahaya kenikmatan berada di dalam hidup yang bergelimangan ketidakbenaran. Itulah doa, itulah perenungan spiritual, dan itulah meditasi.

Penulisan asato ma dan bukan asato na sangat bermakna. Ma berarti janganlah sedangkan na berarti tidak, atau bukan. Ia menjadi doa permohonan yang “memerintah”. Di sini sang bhakta (orang yang berbhakti), abdi Tuhan yang tulus, “memerintah” Tuhan melalui doa permohonan agar dirinya tidak dibiarkan berada di dalam jalan dan hidup yang diarahkan oleh ketidakbenaran. Walaupun seringkah ketidakbenaran tersebut merayu dalam keindahan serta kenikmatan yang memukau, membuat orang gelap mata, namun seorang abdi Tuhan melihatnya sebagai jalan yang penuh dengan keterpurukan dan kesengsaraan. Abdi Tuhan dengan memelas “memerintah” Tuhannya agar menjaga dirinya dari asatah: a (tidak)+ sat (kebenaran), asatah berarti (agar diselamatkan) dari ketidakbenaran serta dituntun kepada Sat atau Kebenaran Sejati.

Perlu dicatat oleh kita semua, bahwa kata kebenaran dalam bahasa Indonesia, atau truth dalam bahasa Inggris, atau bahasa dunia apa pun di atas muka bumi ini untuk menerjemahkan kata Sat, semua tidaklah mewakili arti dan makna yang tersimpan di dalam kata Sat. Kebenaran di dunia ini semua di dalam “frame” atau bingkai rapi desa (tempat, daerah), kala (waktu), dan patra (orang, individu, atau masyarakatnya). Apa yang benar di Jawa belum tentu benar di Bali. Apa yang benar pada zaman dahulu, banyak yang menjadi tidak benar di zaman sekarang, dan apa yang dianggap benar oleh Si A, atau masyarakat A, belum tentu diterima benar oleh Si B atau masyarakat B.

Perlu pula dicatat di sini bahwa masih banyak yang menerjemahkan kata patra dengan “keadaan”. Patra bukan keadaan melainkan orangnya, patra artinya wadah. Seberapa dan sebagaimana wadah, sebegitu dan seperti itu pula orang akan mendapatkan pemahaman.

Selanjutnya, sang bhakta memohon kepada Tuhan agar mengarahkan hidupnya pada jalan kebenaran, (sad-gamaya). Tuhan, bawalah, arahkanlah, tuntunlah hamba agar jalan hidup yang hamba tempuh adalah jalan pasti di dalam kebenaran. Izinkanlah hamba meniti jalan kebenaran di dalam hidup ini sebab selain jalan kebenaran, jalan bypass, atau jalan tol seindah apapun pastilah jalan yang mengarahkan hamba kepada kehancuran dan kesengsaraan.

Oleh karena itu, Tuhan, sat gamaya, bawalah hamba pada jalan kebenaran Sat, bukan kebenaran dunia, bukan kebenaran waktu, dan bukan pula pada kebenaran individu atau kelompok. Biarlah hamba meniti jalan indah kebenaran Sat. Karena hanya jalan kebenaran Sat saja yang akan mengantarkan hamba pada destinasi sejati, yaitu asal muasal hidup, Sangkan Paraning Dumadhi.

Tamaso ma, ya Tuhan, janganlah biarkan hamba hidup di dalam kegelapan dan kebodohan, Jyotir gamaya, bawalah hamba pada jalan terang. Kata tamasah menunjukkan bukan hanya kegelapan, melainkan yang lebih ditekanlah lagi adalah kebodohan akibat ketidakberadaan pengetahuan vidya dan pengetahuan suci jnana. Kata jyotir juga tidak menunjukkan hanya sinar biasa. Melainkan sinar vidya dan pengetahuan suci jnana. Ilmu pengetahuan vidya memberikan pembentukan karakter sempurna, agar orang menjadi manusia sempurna di masyarakatnya, dan pengetahuan suci jnana memberikan pencerahan spiritual kepada setiap orang.

Jyotir-gamaya berarti seorang bhakta memohon kepada Tuhannya agar membebaskan dirinya dari kegelapan akibat ketidak beradaan lampu penerang rohani dan juga kegelapan akibat dari musuh-musuh di dalam diri berupa indria-indria yang tidak terkendalikan, akibat pikiran yang tidak terkontrol, tidak dibersihkan dan disucikan, dan kegelapan akibat Dasa Mala (sepuluh jenis kotoran, keburukan) serta Sapta Timira (7 jenis kegelapan batin) lalu memohon dijauhkan dari kegelapan akibat tidak adanya pengetahuan vidya dan jnana. Hidup manusia tidak akan terangkat dari level binatang tanpa vidya dan jnana. Oleh karena itulah seorang bhakta memohon berkah tamaso ma jyotir gamaya.

Selanjutnya mrtyor ma amrtam gamaya, sang bhakta memohon agar dirinya dijauhkan dan dibebaskan dari perputaran tanpa henti kelahiran dan kematian. Sang bhakta juga memohon agar diizinkan memasuki alam kekekalan, alam langgeng yang tidak ada susulan penderitaan dan kecemasan (sukha tanpa wali dukha). Itulah tujuan hidup sejati, dan itulah tujuan sesungguhnya dari hidup manusia kita. Itulah kurang lebih perenungan arti dan makna dari doa tersebut. Sarve sukhinah bhavantu, semoga semua makhluk berbahagia.

Advertisements

DUDONAN TAWUR TABUH GENTUH DAN KARYA IDA BHATARA TURUN KABEH PURNAMA KEDASA 2018 DI PURA AGUNG BESAKIH


DUDONAN TAWUR TABUH GENTUH DAN KARYA IDA BHATARA TURUN KABEH PURNAMA KEDASA 2018
DI PURA AGUNG BESAKIH

Image By: Leak Bali

*1*. Buda Umanis Dukut,
Rabu 7 Maret 2018, Pkl 15.00 wita :
– Ngaturang Pemiut
– Negtegang
– Ngunggahang Sunari
– Pengrajeg Lan Pengemit Karya
(Panitia Besakih)

*2*. Anggara Paing Watugunung,
Selasa 13 Maret 2018, Pkl 10.00 wita :
– Piuning
(Panitia Besakih)

*3*. Wrespati Wage Watu gunung,
Kamis 15 Maret 2018, Pkl 10.00 wita-19.00 wita :
– Mepepada Lan Bhumi Sudha
– Memben
(Panitia Besakih)

*4*. Sukra Kliwon Watu gunung,
Jumat 16 Maret 2018, Pkl 09.00 wita :
– Tawur Tabuh Gentuh
(Panitia Besakih)

*5*. Soma Pon Sinta,
Senin 19 Maret 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penglemek Tawur Tabuh Gentuh
(Panitia Besakih)

*6*. Buda Paing Landep,
Rabu 28 Maret 2018, Pkl 08.00 wita-15.00 wita :
– Nuwur Tirta
– Nedunang Ida Bhatara

*7*. Wrespati Pon Landep,
Kamis 29 Maret 2018, Pkl 10.00 wita :
– Melasti Tegal Suci
(Panitia Besakih)

*8*. Sukra Wage Landep,
Jumat 30 Maret 2018, Pkl 09.00 wita-19.00 wita :
– Mepepada
– Memben
(Panitia Besakih)

*9*. Saniscara Kliwon Landep,
Sabtu 31 Maret 2018, Pkl 09.00 wita :
– Puncak Karya Ida Bhatara Turun Kabeh
(Panitia Besakih)

*10*. Redita Manis Ukir,
Minggu 1 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*11*. Soma Paing Ukir,
Senin 2 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*12*. Anggara Pon Ukir,
Selasa 3 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar Lan Pengelemek
(Panitia Besakih)

*13*. Budha Wage Ukir,
Rabu 4 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

Image by: Leak Bali

*14*. Wrespati Kliwon Ukir,
Kamis 5 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*15*. Sukra Umanis Ukir,
Jumat 6 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Karangasem)

*16*. Saniscara Paing Ukir,
Sabtu 7 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Jembrana)

*17*. Redita Pon Kulantir,
Minggu 8 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*18*. Soma Wage Kulantir,
Senin 9 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Gianyar)

*19*. Anggara Kliwon Kulantir,
Selasa 10 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Kota Denpasar)

*20*. Buda Umanis Kulantir,
Rabu 11 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Bangli)

*21*. Wrespati Paing Kulantir,
Kamis 12 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*22*. Sukra Pon Kulantir,
Jumat 13 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*23*. Saniscara Wage Kulantir,
Sabtu 14 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*24*. Redite Kliwon Tulu,
Minggu 15 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Tabanan)

*25*. Soma Umanis Tulu,
Senin 16 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Badung)

*26*. Anggara Paing Tulu,
Selasa 17 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Buleleng)

*27*. Buda Pon Tulu,
Rabu 18 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Klungkung)

*28*. Wrespati Wage Tulu,
Kamis 19 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*29*. Sukra Kliwon Tulu,
Jumat 20 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
(Panitia Besakih)

*30*. Saniscara Umanis Tulu,
Sabtu 21 April 2018, Pkl 10.00 wita :
– Penganyar
– Penyineban
(Panitia Besakih).

Ngiring dumugi prasida tangkil ngaturan pangubakti..🙏🙏

Sejarah Pura Pajenengan Panji Sakti


Pura Pajenengan dulunya merupakan puri (tempat istrihat) Panji Sakti yang dilengkapi dengan pamerajan,dan setelah Panji Sakti wafat dengan cara moksa, maka puri beliau dirubah menjadi sebuah pura yang dinamakan Pura Pajenengan. Nama Pajenengan ini berarti “tempat penyimpanan benda-benda pusaka”, karena didalam pura tersebut yang dulu merupakan bekas puri Panji Sakti,jadi banyak terdapat benda-benda pusaka termasuk keris, tombak, dan benda pecah belah dari China. Sebelum dirubah menjadi pura yang menerapakan konsep Tri Mandala yaitu jabe sisi, jabe tengah, dan jeroan, puri ini hanya menerapkan konsep Dwi Mandala yaitu jabe sisi yang merupakan area yang tidak suci, dan jeroan merupakan area yang paling suci (pamerajan Panji Sakti). Pembuatan Pura Pajenengan ini disungsung oleh keluarga puri yang merasa menjadi pengikut Panji Sakti maupun keluarga beliau.

Pura Pajenengan ini dibuat karena berbagai alasan yaitu:

  1. Alasan historis atau monumen untuk mengenang sejarah berupa pamereman (tempat istirahat) Panji Sakti, karena pameraman tersebut merupakan bukti keberadaan beliau, demikian dengan menyelamatkan jejak sejarah Panji Sakti.
  2. Adanya suatu kepercayaan Hindu Bali terkait dengan pemujaan roh leluhur yang menganggap bahwa masyarakat Desa Panji memuja leluhurnya yaitu Panji Sakti, Ki Pungakan Gendis, dan keluarga besar Ni Luh Pasek (dalam Babad Buleleng).
  3. Mengenang kebesaran tokoh legendaris Panji Sakti yang dipercaya bahwa seorang raja yang sangat sakti dan bijaksana dari golongan anak selir (Dalem Segening dan ibunya Ni Luh Pasek, Gobleg (Babad Buleleng)).
  4. Sebagai pemersatu keluarga besar Panji Sakti yang tersebar kemana-mana, mengingat setelah peristiwa perang dan Dinasti Panji Sakti diganti oleh Karangasem.
  5. Alasan emosional agar dapat kesempatan memuja Panji Sakti, selain untuk memohon keselamatan juga untuk mendapatkan restu sebagai seorang pemimpin layaknya seorang Panji Sakti.

Pura Pajenengan ini dirubah pada tahun 1967 yang dilakukan sedikit renovasi mengingat dulu pernah terjadi bencana alam, sehingga merusak pelinggih-pelinggih di area pura tersebut. Menurut hasil wawancara baik itu terhadap pemangku maupun masyarakat di Desa Panji bahwa Pura Pajenegan ini merupakan Pura Kahyangan yang dijadikan tempat persembahyangan oleh masyarakat baik itu di Buleleng sampai diluar kabupaten maupun provinsi, akan tetapi secara formal belum dikatakan sebagai Pura Kahyangan Jagat.

Selain itu setiap hari suci baik itu hari purnama, tilem maupun hari raya suci lainnya banyak masyarakat yang sembahyang terutama Bupati Buleleng yang rutin sembahyang atau ngaturang bhakti di Pura Pajenengan tersebut. kemudian banyak juga masyarakat yang sembhyang di Pura Pajenengan ini terutama di pamereman Panji Sakti untuk memohon doa restu dan kesehatan.

Upacara yang dilaksanakan di Pura Pajenengan (odalan) yaitu pada Tumpek Landep, bahan upacaranya sama dengan halnya upacara biasa dan dibantu oleh masyarakat yang bergotong royong membuat bahan upacara yang akan digunakan.

Segi Peninggalan (Bangunan dan Benda)

Pura Pajenengan memiliki nilai historis yang tinggi, selain dilihat dari segi historis bisa juga dilihat dari segi peninggalan yang ditemukan di pura tersebut. adapun peninggalan-peninggalan yang ditemukan sperti tempat istirahat (pemereman) Panji Sakti yang berada di madya mandala , dan terdapat juga benda-benda peninggalan, mengingat dulu Panji Sakti dapat menolong saudagar Cina di Pantai Penimbangan, yaitu berupa peninggalan piring-piring, mangkok yang berasal dari China serta keris dan tombak.

%d bloggers like this: