Advertisements

Paduarsana

Berbagi tentang: Hindu, Bali dan Budayanya.

Memahami Makna Doa Menjelang Tidur


Menjelang tidur putri kecil kami selalu mengucapkan mantram ini. Dengan bahasa dan kalimatnya yang lucu membuat kami tersenyum sambil mengikuti(mengamini) mantram tersebut sembari tidur dengan bahagia.

Mantram ini juga sering digunakan untuk memohon bimbingan dan inspirasi kepada Hyang Widhi.

Apa sebenarnya makna mantram yang diambil dari Brhad Aranyaka Upanisad 1-3.28 ini? Artikel dibawah ini disunting dari Gazez Bali. Semoga bermanfaat untuk semuanya.

Image by: PHDI

Asato ma sad-gamaya
tamaso ma jyotir-gamaya
mrtyor ma amrtam gamaya,
Om santih santih santih
(Brhad Aranyaka Upanisad 1-3.28)

Asato ma, ya Tuhan… mohon jangan dibiarkan hamba berada dalam ketidakbenaran. Sad gamaya, mohon bawalah hamba kepada kebenaran.

Tamaso ma, mohon janganlah hamba dibiarkan berada dalam kegelapan.

Jyotir gamaya, tuntunlah hamba ke jalan terang. Mrtyor ma, janganlah biarkan hamba berada di dalam (perputaran tanpa akhir) kematian. Amrtam gamaya, bawalah hamba pada kekekalan.

Mantra ini menjadi penting karena memiliki pesan yang sangat indah, tinggi, dan mendalam, yang ia adalah bukan sekadar doa, tetapi sekaligus perenungan spiritual, sekaligus meditasi, yaitu bermeditasi pada tujuan hidup seperti yang disebutkan di dalam kitab Upanisad ini. Juga, sekaligus perenungan spiritual karena ia merupakan perenungan “mulat sarira”, yaitu “perjalanan spiritual” memasuki gudang harta karun sang diri sejati.

Tentu saja masih banyak yang memakai mantra ini hanya sebagai formalitas pelengkap doa setelah sembahyang sehari-hari yang dilakukannya. Formalitas hafalan mantra Veda seperti itu bukanlah perenungan, ia bukan pula meditasi, melainkan hanya dan hanya formalitas “ramah tamah” dengan Tuhan.

Mereka yang mencari “sejatining urip”, mereka yang mencari “sangkan paraning dumadhi”, mereka yang mencari sang diri sejati, maka mereka akan menjauhkan dirinya dari “penyalahgunaan mantra-mantra Veda dan Upanisad” dalam bentuk hanya untuk formalitas “beramah tamah dengan Tuhan”. Tentu saja para Maharesi menuliskan mantra-mantra Veda tersebut bukanlah demi melihat umatnya berformalitas dengan Tuhan secara lebih baik, melainkan agar umatnya dapat bermeditasi dengan Tuhannya dengan cara lebih baik dan lebih mantap.

Asato ma; ya Tuhan, janganlah hamba dibiarkan berada di dalam jalan yang tidak benar (a=tidak, sat=kebenaran). Janganlah hamba tidak dilindungi dari bahaya kenikmatan berada di dalam hidup yang bergelimangan ketidakbenaran. Itulah doa, itulah perenungan spiritual, dan itulah meditasi.

Penulisan asato ma dan bukan asato na sangat bermakna. Ma berarti janganlah sedangkan na berarti tidak, atau bukan. Ia menjadi doa permohonan yang “memerintah”. Di sini sang bhakta (orang yang berbhakti), abdi Tuhan yang tulus, “memerintah” Tuhan melalui doa permohonan agar dirinya tidak dibiarkan berada di dalam jalan dan hidup yang diarahkan oleh ketidakbenaran. Walaupun seringkah ketidakbenaran tersebut merayu dalam keindahan serta kenikmatan yang memukau, membuat orang gelap mata, namun seorang abdi Tuhan melihatnya sebagai jalan yang penuh dengan keterpurukan dan kesengsaraan. Abdi Tuhan dengan memelas “memerintah” Tuhannya agar menjaga dirinya dari asatah: a (tidak)+ sat (kebenaran), asatah berarti (agar diselamatkan) dari ketidakbenaran serta dituntun kepada Sat atau Kebenaran Sejati.

Perlu dicatat oleh kita semua, bahwa kata kebenaran dalam bahasa Indonesia, atau truth dalam bahasa Inggris, atau bahasa dunia apa pun di atas muka bumi ini untuk menerjemahkan kata Sat, semua tidaklah mewakili arti dan makna yang tersimpan di dalam kata Sat. Kebenaran di dunia ini semua di dalam “frame” atau bingkai rapi desa (tempat, daerah), kala (waktu), dan patra (orang, individu, atau masyarakatnya). Apa yang benar di Jawa belum tentu benar di Bali. Apa yang benar pada zaman dahulu, banyak yang menjadi tidak benar di zaman sekarang, dan apa yang dianggap benar oleh Si A, atau masyarakat A, belum tentu diterima benar oleh Si B atau masyarakat B.

Perlu pula dicatat di sini bahwa masih banyak yang menerjemahkan kata patra dengan “keadaan”. Patra bukan keadaan melainkan orangnya, patra artinya wadah. Seberapa dan sebagaimana wadah, sebegitu dan seperti itu pula orang akan mendapatkan pemahaman.

Selanjutnya, sang bhakta memohon kepada Tuhan agar mengarahkan hidupnya pada jalan kebenaran, (sad-gamaya). Tuhan, bawalah, arahkanlah, tuntunlah hamba agar jalan hidup yang hamba tempuh adalah jalan pasti di dalam kebenaran. Izinkanlah hamba meniti jalan kebenaran di dalam hidup ini sebab selain jalan kebenaran, jalan bypass, atau jalan tol seindah apapun pastilah jalan yang mengarahkan hamba kepada kehancuran dan kesengsaraan.

Oleh karena itu, Tuhan, sat gamaya, bawalah hamba pada jalan kebenaran Sat, bukan kebenaran dunia, bukan kebenaran waktu, dan bukan pula pada kebenaran individu atau kelompok. Biarlah hamba meniti jalan indah kebenaran Sat. Karena hanya jalan kebenaran Sat saja yang akan mengantarkan hamba pada destinasi sejati, yaitu asal muasal hidup, Sangkan Paraning Dumadhi.

Tamaso ma, ya Tuhan, janganlah biarkan hamba hidup di dalam kegelapan dan kebodohan, Jyotir gamaya, bawalah hamba pada jalan terang. Kata tamasah menunjukkan bukan hanya kegelapan, melainkan yang lebih ditekanlah lagi adalah kebodohan akibat ketidakberadaan pengetahuan vidya dan pengetahuan suci jnana. Kata jyotir juga tidak menunjukkan hanya sinar biasa. Melainkan sinar vidya dan pengetahuan suci jnana. Ilmu pengetahuan vidya memberikan pembentukan karakter sempurna, agar orang menjadi manusia sempurna di masyarakatnya, dan pengetahuan suci jnana memberikan pencerahan spiritual kepada setiap orang.

Jyotir-gamaya berarti seorang bhakta memohon kepada Tuhannya agar membebaskan dirinya dari kegelapan akibat ketidak beradaan lampu penerang rohani dan juga kegelapan akibat dari musuh-musuh di dalam diri berupa indria-indria yang tidak terkendalikan, akibat pikiran yang tidak terkontrol, tidak dibersihkan dan disucikan, dan kegelapan akibat Dasa Mala (sepuluh jenis kotoran, keburukan) serta Sapta Timira (7 jenis kegelapan batin) lalu memohon dijauhkan dari kegelapan akibat tidak adanya pengetahuan vidya dan jnana. Hidup manusia tidak akan terangkat dari level binatang tanpa vidya dan jnana. Oleh karena itulah seorang bhakta memohon berkah tamaso ma jyotir gamaya.

Selanjutnya mrtyor ma amrtam gamaya, sang bhakta memohon agar dirinya dijauhkan dan dibebaskan dari perputaran tanpa henti kelahiran dan kematian. Sang bhakta juga memohon agar diizinkan memasuki alam kekekalan, alam langgeng yang tidak ada susulan penderitaan dan kecemasan (sukha tanpa wali dukha). Itulah tujuan hidup sejati, dan itulah tujuan sesungguhnya dari hidup manusia kita. Itulah kurang lebih perenungan arti dan makna dari doa tersebut. Sarve sukhinah bhavantu, semoga semua makhluk berbahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: