Paduarsana

Berbagi Tentang Semua Hal

Monthly Archives: March 2018

Sejarah Pura Pajenengan Panji Sakti


Pura Pajenengan dulunya merupakan puri (tempat istrihat) Panji Sakti yang dilengkapi dengan pamerajan,dan setelah Panji Sakti wafat dengan cara moksa, maka puri beliau dirubah menjadi sebuah pura yang dinamakan Pura Pajenengan. Nama Pajenengan ini berarti “tempat penyimpanan benda-benda pusaka”, karena didalam pura tersebut yang dulu merupakan bekas puri Panji Sakti,jadi banyak terdapat benda-benda pusaka termasuk keris, tombak, dan benda pecah belah dari China. Sebelum dirubah menjadi pura yang menerapakan konsep Tri Mandala yaitu jabe sisi, jabe tengah, dan jeroan, puri ini hanya menerapkan konsep Dwi Mandala yaitu jabe sisi yang merupakan area yang tidak suci, dan jeroan merupakan area yang paling suci (pamerajan Panji Sakti). Pembuatan Pura Pajenengan ini disungsung oleh keluarga puri yang merasa menjadi pengikut Panji Sakti maupun keluarga beliau.

Pura Pajenengan ini dibuat karena berbagai alasan yaitu:

  1. Alasan historis atau monumen untuk mengenang sejarah berupa pamereman (tempat istirahat) Panji Sakti, karena pameraman tersebut merupakan bukti keberadaan beliau, demikian dengan menyelamatkan jejak sejarah Panji Sakti.
  2. Adanya suatu kepercayaan Hindu Bali terkait dengan pemujaan roh leluhur yang menganggap bahwa masyarakat Desa Panji memuja leluhurnya yaitu Panji Sakti, Ki Pungakan Gendis, dan keluarga besar Ni Luh Pasek (dalam Babad Buleleng).
  3. Mengenang kebesaran tokoh legendaris Panji Sakti yang dipercaya bahwa seorang raja yang sangat sakti dan bijaksana dari golongan anak selir (Dalem Segening dan ibunya Ni Luh Pasek, Gobleg (Babad Buleleng)).
  4. Sebagai pemersatu keluarga besar Panji Sakti yang tersebar kemana-mana, mengingat setelah peristiwa perang dan Dinasti Panji Sakti diganti oleh Karangasem.
  5. Alasan emosional agar dapat kesempatan memuja Panji Sakti, selain untuk memohon keselamatan juga untuk mendapatkan restu sebagai seorang pemimpin layaknya seorang Panji Sakti.

Pura Pajenengan ini dirubah pada tahun 1967 yang dilakukan sedikit renovasi mengingat dulu pernah terjadi bencana alam, sehingga merusak pelinggih-pelinggih di area pura tersebut. Menurut hasil wawancara baik itu terhadap pemangku maupun masyarakat di Desa Panji bahwa Pura Pajenegan ini merupakan Pura Kahyangan yang dijadikan tempat persembahyangan oleh masyarakat baik itu di Buleleng sampai diluar kabupaten maupun provinsi, akan tetapi secara formal belum dikatakan sebagai Pura Kahyangan Jagat.

Selain itu setiap hari suci baik itu hari purnama, tilem maupun hari raya suci lainnya banyak masyarakat yang sembahyang terutama Bupati Buleleng yang rutin sembahyang atau ngaturang bhakti di Pura Pajenengan tersebut. kemudian banyak juga masyarakat yang sembhyang di Pura Pajenengan ini terutama di pamereman Panji Sakti untuk memohon doa restu dan kesehatan.

Upacara yang dilaksanakan di Pura Pajenengan (odalan) yaitu pada Tumpek Landep, bahan upacaranya sama dengan halnya upacara biasa dan dibantu oleh masyarakat yang bergotong royong membuat bahan upacara yang akan digunakan.

Segi Peninggalan (Bangunan dan Benda)

Pura Pajenengan memiliki nilai historis yang tinggi, selain dilihat dari segi historis bisa juga dilihat dari segi peninggalan yang ditemukan di pura tersebut. adapun peninggalan-peninggalan yang ditemukan sperti tempat istirahat (pemereman) Panji Sakti yang berada di madya mandala , dan terdapat juga benda-benda peninggalan, mengingat dulu Panji Sakti dapat menolong saudagar Cina di Pantai Penimbangan, yaitu berupa peninggalan piring-piring, mangkok yang berasal dari China serta keris dan tombak.

Filosopi dan Makna Hari Raya Pagerwesi


Sehari setelah Hari Suci Sabuh Mas umat Hindu Bali merayakan Hari Raya Pagerwesi yang jatuh setiap 210 hari sekali atau setiap 6 bulan dalam kalender Hindu, tepatnya hari Budha (rabu) Kliwon Wuku Shinta. Pagerwesi berasal dari kata dasar Pagar dan Besi yang artinya pagar yang terbuat dari besi. Pagerwesi memberi makna bahwa segala sesuatu yang dipagar akan tetap kokoh dan kuat. Sehingga manusia harus melakukanya karena diri adalah suatu barang yang sangat berharga, sehingga harus dilindungi dengan melakukan upacaya perayaan hari raya Pagerwesi. Sanghyang Pramesti Guru yang menjadi tujuan utama dilakonkannya upacara Pagerwesi ini ialah manifestasi Tuhan yang dipercaya merupakan gurunya manusia dan alam semesta. Pada saat itu umat hendaklah ayoga semadhi, yakni menenangkan hati serta menunjukkan sembah bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi. Juga pada hari ini diadakan widhi widhana seperlunya, dihaturkan dihadapan Sanggar Kemimitan disertai sekedar korban untuk Sang Panca Maha Butha.

Pagerwesi juga termasuk rerainan gumi, artinya hari raya untuk semua masyarakat, baik pendeta maupun umat walaka. Pelaksanaan Hari raya pagerwesi dilaksanakan di tengah malam buta. Sebab saat ini diyakini Ida Sang Hyang Widhi, Hyang Pramesti Guru beserta Panca Dewata (Sanghyang Içwara berkedudukan di Timur, Sanghyang Brahma berkedudukan di Selatan, Sanghyang Mahadewa berkedudukan di Barat, Sanghyang Wisnu berkedudukan di Utara, dan Sanghyang Çiwa berkedudukan di tengah) sedang melakukan yoga.

Makna Hari Raya Pagerwesi Dalam lontar Sundarigama Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Hal ini mengandung makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati. Makna yang lebih dalam terkandung pada kemahakuasaan Sanghyang Widhi sebagai pencipta, pemelihara, dan pemusnah, atau dikenal dengan Uttpti, Stiti, dan Pralina atau dalam aksara suci disebut: Ang, Ung, Mang. Pagerwesi diyakini merupakan salah satu hari yang paling baik untuk mendekatkan diri kepada Dewata sebab Dialah guru sejati sebenarnya. Karena sesunggunya pengetahuan dari Beliau itulah yang disebut Pagerwesi sebenarnya. Seseorang yang memiliki pengetahuan tentang Tuhan akan memperoleh kebahagian di dunia dan akhirat. Untuk itulah kita melaksanakan pagerwesi sebagai pemujaan terhadap Tuhan sebagai guru yang sejati. Memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji dan memusatkan diri. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat mengisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati.

Seperti kita ketahui Pagerwesi merupakan bagian dari rangkaian perayaan hari Saraswati yang jatuh pada hari terakhir dari wuku terakhir diperingati dan dirayakan sebagai anugerah Sanghyang Widhi kepada umat manusia dalam bentuk ilmu pengetahuan dan teknologi, diartikan sebagai pembekalan yang tak ternilai harganya bagi umat manusia untuk kehidupan baru pada era berikutnya yang dimulai pada wuku Sinta.

Catatan: Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun, dengan adanya guru kita bisa mengetahui mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, tanpa guru kita bisa kehilangan arah dari tujuan semula sehingga tindakan bisa jadi salah arah.

**dari berbagai sumber

Artikel lainnya:

  1. Hari Pagerwesi
  2. Banten dan Upacara Hari Raya Pagerwesi

Mengenal Tradisi Mamapas Hindu Kaharingan


Di kota Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng).Sehari sebelum Hari Raya Nyepi, Umat Hindu Kaharingan melakukan Upacara Ritual Mamapas.

Semuanya Berpakaian warna warni dengan ikat kepala khas, kaum pria tampak sibuk mempersiapkan pelaksanaan ritual.

Sejumlah sesaji seperti kepala kerbau yang dibalut kain putih, ayam, bunga, dan tak lupa sebilah mandau atau pedang khas Suku Dayak tertata rapi.

Sebuah lubang berukuran sedang sekitar 50 cm x 50 cm sudah dipersiapkan yang nantinya akan digunakan sebagai tempat menanam kepala kerbau. Para balian (semacam pendeta) Hindu Kaharingan pun melantunkan ayat-ayat suci. Tak ketinggalan ratusan pemeluk Hindu Dharma juga berbaur.

Secara harfiah kegiatan tersebut dapat diartikan sebagai upacara untuk membersihkan diri dan lingkungan dari hal-hal buruk dan jahat. Kegiatan ini memang selalu diperingati setiap tahun dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi.

Artinya di Tahun Baru (Saka) di sambut dengan antusias dan berubah menjadi baru, sementara yang tak baik kita tinggalkan

Setiap menjelang hari raya Nyepi upacara Memapas Lewu ini diadakan.

Selain itu tujuannya adalah memberikan persembahan kepada roh leluhur seperti ogoh-ogoh, gambaran hal-hal yang tidak baik dihilangkan.

Terima kasih: Indra Maheswara